Refleksi Pilpres

Juli 9, 2009 - 48 Responses

Dalam situasi chaos yang tidak menentu, misalnya perang, sering terjadi keharusan terhadap penduduk sekitar lokasi untuk terpaksa mengungsi. Tujuan pengungsian bisa di mana saja. Rumah sanak saudara, hotel, tenda dan tikar, atau mungkin rumah seorang kawan blogger. :-)

Sering terjadi pengungsi menunggu sampai dengan bertahun-tahun bahkan belasan tahun untuk menunggu situasi kampung halamannya tenang kembali. Mereka masih tetap yakin sebentar lagi perang akan selesai.

Pengungsi seperti menjadi tahanan kenangan mereka yang idealis tentang asal-usul dan kampung halaman. Mereka duduk bersama narapidana masa lampau untuk ngobrol tentang negeri asal, makan penganan tradisional, iringan musik tradisional. Mereka berkhayal dan akan terus menjauhi kenyataan, membayangkan skenario alternatif, semakin jauh lagi dari sejarah yang nyata.

Read the rest of this entry »

SKS

Juli 7, 2009 - 46 Responses

Nanti.
Sebentar lagi.
Dan sebentar lagi.
Hingga jarum pendek jam dinding sudah bergerak melintasi batas waktu bergantinya hari.
Hari di mana jadwal ujian akan berlangsung.

Begitu dan begitu seterusnya saat diriku menghadapi ujian apapun. Ulangan, ujian semester, tes masuk suatu institusi, atau apapun yang berbau ujian kepintaran akademis.

Bisa jadi pembentukan mentalku itu karena hasil contoh para pendahulu kita yang sekarang terbukti di depan mata.

Perhelatan terbesar dalam alam demokrasi negeri ini pun pada akhirnya harus diselesaikan secara marathon dengan sistem kebut semalam (SKS). Ini satu hal yang membantu menghilangkan rasa bersalah atas ketidakdisiplinanku dahulu. :-)

Rasa bangga dari masing-masing tim sukses capres dengan sistem kebut semalam ini seolah-olah menghapus liur lapar yang keluar dari ceracauan mulut-mulut bau kekuasaan.

Kata-kata bahwa ini adalah ’kemenangan demokrasi’ dihembuskan, seolah-olah menempatkan diri dan komunitasnya pada tataran pahlawan yang menyelamatkan nasib rakyat.

Dan memvonis yang lain sebagai pecundang, dengan tetap meneteskan liurnya. Mangap njeplak menyemprotkan jigongnya.

Aku terdiam di sini, makan mie instan full vetsin. Namun tiada rasa sedap yang terkecap. Melainkan hanya rasa mual yang teramat sangat melihat tingkah polah para calon pengatur negeri ini.

Yang riya’ terhadap sumbangsihnya.
Dan yang telah kehilangan sifat kuznudzon kepada saudara sebangsa sendiri.

home, 20090706
lgliatTVOne

Berapa Kata

Juli 2, 2009 - 56 Responses

“Emang kamu siapa? Andrea Hirata atau JK Rowling?
Tulisanmu kaya sepur mundur, jenggleng-jenggleng. Panjang nggak ada habisnya. Yakin deh cuma sebagian kecil blogger yang mampir di delenger yang akan membaca sampai habis.”

Begitulah pesan pendek yang aku terima dari seorang sobat, sehubungan dengan postingku yang cenderung panjang mengikuti apa kata hati tanpa mengindahkan sempitnya waktu blogwalking para blogger. Khususnya posting terakhir BJ and the President.

Ada dua prinsip yang harus disatukan di sini, yaitu tentang tema blogku yang mencoba berisi orisinalitas tulisanku sendiri tentang kahanan ing ndonya (ini mengasyikkan sekali hingga lupa panjang x lebarnya) dan tentang para tamu yang mempunyai latar belakang berbeda-beda. Persamaannya mungkin adalah waktu blogwalking yang sangat sempit. Aku tahu dan aku merasakan sendiri. Sayang sekali jika tulisan yang panjang lebar menjadi tidak terbaca karena kelelahan pembacanya.

Dan sebagai tindak lanjut dari masukan sobatku ini, aku butuh masukan juga dari kawan-kawan blogger, berapa banyak kata dalam satu artikel yang bisa dibaca sampai tuntas dengan nyaman?

Aku biasa posting artikel yang berisi sekitar 800 sampai dengan 2000 kata.

Mohon masukan,
artikel Anda, berapa kata?

20090702
teriring ucapan tararengkyu atas kripiknya
nyam-nyam

BJ and the President

Juli 1, 2009 - 27 Responses

Kenalkan dia. BJ. Nama kawan sebangku pada saat SMP hampir dua dekade lalu. Dia murid baru pada saat masuk di kelas ini. Kami memanggilnya BJ dengan mengambil dari singkatan huruf depan nama depan dan nama tengahnya. Diklop-klopkan dengan film BJ and the Bear di TVRI pada dekade sebelumnya.

Jangan membayangkan penampakannya seperti BJ dalam BJ and the Bear dalam film. Sangat jauh. Bahkan sangat kontras. BJ kawanku ini berkulit hitam tidak manis, berambut jabrik, bergigi putih, dan bertinggi sedang. Logat bicaranya sangat kental aksen ndeso, satu hal yang menyebabkan kawan-kawan sekelas under estimate terhadap dia. Pada saat perkenalan terlihat sekali rasa mindernya dengan bahasa tubuh yang lendat-lendot atau klular-klulur. Mencangklong tas ala Lupus yang sudah dekil.

Jika ingin membayangkan sosoknya, coba tengok tayangan reality show yang tengah booming sekarang ini dan layangkan pandangan anda kepada orang-orang yang tongkrong di pinggir jalan, atau halte bus, atau tukang becak dan tukang ojek yang sedang menunggu penumpang. Orang-orang yang penuh keingintahuan atas urusan orang lain tetapi hanya bisa menatap dari kejauhan. Syukur-syukur bisa lalu lalang di background kejadian untuk bisa masuk tipi dan sedikit awe-awe.

Orang-orang yang jika ditanyakan sesuatu hal kepada dia, hanya akan keluar jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’ saja. Sambil mengangguk atau menggeleng dengan raut muka yang nampak tidak puas karena ketidakmampuannya mengeluarkan pendapat, sehingga bersyukur atas si penanya karena mengajukan pertanyaan tertutup.

Read the rest of this entry »

Pengadilan Delenger

Juni 26, 2009 - 44 Responses

Panas dan agak pengap tersodor di salah satu panca inderaku di dalam ruangan besar tak bersahabat ini. Jaket hitam bermodel jas yang aku kenakan rupanya tidak sinkron dengan hawa sumpek ruang sidang pengadilan negeri ini. Udara seakan berhenti bergerak selain hanya di sekitaran mulut hakim ketua yang sedang mengajukan pertanyaan kepada tiga orang terdakwa di bangku pesakitan.

Ini satu siang yang terik setelah tiga hari lebih ditinggalkan hujan. Matahari mengisyaratkan tepat di ubun-ubun manakala suara adzan mengiringi derap interogasi hakim dan alunan suara melo dari para pesakitan yang -aku yakin- mencoba memberi kesan positif terhadap hakim dan pengunjung sidang, khususnya diriku. Levelnya sudah setaraf tim sukses capres yang mengandalkan kampanye rasa teraniaya demi meraih simpati.

Aku di sini, duduk bergeming di bangku terdepan pengunjung, tepekur, menjadi makmum udara dalam diam, untuk bersiap memberikan pernyataan beberapa hal yang kurasa penting dari perkara ini -jika dibutuhkan. Juga pernyataan kepada pers yang terlihat santai di sudut ruang ini. Beberapa lagi terlihat udat-udut di teras pengadilan, menunggu catatan steno kawannya yang khusuk di dalam ruang sidang, untuk nanti dicopy paste. Salah satu bukti budaya serapan dari negeri jiran malingsia sudah merasuk di bangsa ini meskipun dalam skala kecil.

Read the rest of this entry »