Dalam situasi chaos yang tidak menentu, misalnya perang, sering terjadi keharusan terhadap penduduk sekitar lokasi untuk terpaksa mengungsi. Tujuan pengungsian bisa di mana saja. Rumah sanak saudara, hotel, tenda dan tikar, atau mungkin rumah seorang kawan blogger.
Sering terjadi pengungsi menunggu sampai dengan bertahun-tahun bahkan belasan tahun untuk menunggu situasi kampung halamannya tenang kembali. Mereka masih tetap yakin sebentar lagi perang akan selesai.
Pengungsi seperti menjadi tahanan kenangan mereka yang idealis tentang asal-usul dan kampung halaman. Mereka duduk bersama narapidana masa lampau untuk ngobrol tentang negeri asal, makan penganan tradisional, iringan musik tradisional. Mereka berkhayal dan akan terus menjauhi kenyataan, membayangkan skenario alternatif, semakin jauh lagi dari sejarah yang nyata.
Read the rest of this entry »
Categorized in Ngomyang
Tags: argumentasi, award, capres, debat, evaluasi, pilpres, refleksi
Nanti.
Sebentar lagi.
Dan sebentar lagi.
Hingga jarum pendek jam dinding sudah bergerak melintasi batas waktu bergantinya hari.
Hari di mana jadwal ujian akan berlangsung.
Begitu dan begitu seterusnya saat diriku menghadapi ujian apapun. Ulangan, ujian semester, tes masuk suatu institusi, atau apapun yang berbau ujian kepintaran akademis.
Bisa jadi pembentukan mentalku itu karena hasil contoh para pendahulu kita yang sekarang terbukti di depan mata.
Perhelatan terbesar dalam alam demokrasi negeri ini pun pada akhirnya harus diselesaikan secara marathon dengan sistem kebut semalam (SKS). Ini satu hal yang membantu menghilangkan rasa bersalah atas ketidakdisiplinanku dahulu.
Rasa bangga dari masing-masing tim sukses capres dengan sistem kebut semalam ini seolah-olah menghapus liur lapar yang keluar dari ceracauan mulut-mulut bau kekuasaan.
Kata-kata bahwa ini adalah ’kemenangan demokrasi’ dihembuskan, seolah-olah menempatkan diri dan komunitasnya pada tataran pahlawan yang menyelamatkan nasib rakyat.
Dan memvonis yang lain sebagai pecundang, dengan tetap meneteskan liurnya. Mangap njeplak menyemprotkan jigongnya.
Aku terdiam di sini, makan mie instan full vetsin. Namun tiada rasa sedap yang terkecap. Melainkan hanya rasa mual yang teramat sangat melihat tingkah polah para calon pengatur negeri ini.
Yang riya’ terhadap sumbangsihnya.
Dan yang telah kehilangan sifat kuznudzon kepada saudara sebangsa sendiri.
home, 20090706
lgliatTVOne
Categorized in Ngomyang
Tags: capres, debat, moral, pilpres
Kenalkan dia. BJ. Nama kawan sebangku pada saat SMP hampir dua dekade lalu. Dia murid baru pada saat masuk di kelas ini. Kami memanggilnya BJ dengan mengambil dari singkatan huruf depan nama depan dan nama tengahnya. Diklop-klopkan dengan film BJ and the Bear di TVRI pada dekade sebelumnya.
Jangan membayangkan penampakannya seperti BJ dalam BJ and the Bear dalam film. Sangat jauh. Bahkan sangat kontras. BJ kawanku ini berkulit hitam tidak manis, berambut jabrik, bergigi putih, dan bertinggi sedang. Logat bicaranya sangat kental aksen ndeso, satu hal yang menyebabkan kawan-kawan sekelas under estimate terhadap dia. Pada saat perkenalan terlihat sekali rasa mindernya dengan bahasa tubuh yang lendat-lendot atau klular-klulur. Mencangklong tas ala Lupus yang sudah dekil.
Jika ingin membayangkan sosoknya, coba tengok tayangan reality show yang tengah booming sekarang ini dan layangkan pandangan anda kepada orang-orang yang tongkrong di pinggir jalan, atau halte bus, atau tukang becak dan tukang ojek yang sedang menunggu penumpang. Orang-orang yang penuh keingintahuan atas urusan orang lain tetapi hanya bisa menatap dari kejauhan. Syukur-syukur bisa lalu lalang di background kejadian untuk bisa masuk tipi dan sedikit awe-awe.
Orang-orang yang jika ditanyakan sesuatu hal kepada dia, hanya akan keluar jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’ saja. Sambil mengangguk atau menggeleng dengan raut muka yang nampak tidak puas karena ketidakmampuannya mengeluarkan pendapat, sehingga bersyukur atas si penanya karena mengajukan pertanyaan tertutup.
Read the rest of this entry »
Categorized in Ndobos and Satire
Tags: bj and the bear, debat capres, elektabilitas, irrasional, jk-win, megawati, rasional, sby, tim sukses