Sarap
“Tapi saya bukan caleg gagal, lho, Dok,” aku mengelak untuk analisis dokter ini.
“Maksud saya, neurolog. Betul. Neurolog. Bukan spesialis syaraf,” ralat dokter ini sambil tersenyum, sekedar menyenangkanku.
Aku ikut tersenyum seraya mengambil resep dan rujukan ke neurolog sekaligus ctscan + MRI di kepala.
Sudah dua bulan terakhir ini sakit kepalaku tidak juga tersembuhkan. Ratusan pil, kapsul, dan berbagai jenis obat yang sudah membuat lambung dan ginjalku bekerja keras ternyata tidak mampu juga menyingkirkan rasa sakit kepala ini. Hingga pada akhirnya dokter umum ini merujukku ke spesialis syaraf. Eh, bukan. Neurolog.
Sayangnya prosedur rumah sakit yang sudah sederhana ini mengalami bottle neck akibat dari antrian pencari kesehatan yang begitu bejibunnya. Akibatnya hampir sore hari hari aku baru sempat ke neurolog dan menyelesaikan urusan administrasinya (baca: bayar lunas di kasir), tanpa bisa menuntaskan ctscannya. Hingga kuputuskan untuk menelantarkan keharusan ctsan karena aku harus bali ndeso lagi.
Di ndeso ini, dokterku tersenyum simpul waktu kutunjukkan resep dan rujukan ctscan.
“Terlalu berlebihan kalo harus ctsan, apalagi MRI,” katanya.
Syukurlah. Biaya MRI sebesar 1 juta lebih bisa diselamatkan.
Sambil memperbaiki posisi duduknya, dia melanjutkan,” Kalo obat-obatan yang diminum ini bisa menghilangkan pusing, artinya ini murni syaraf yang terganggu. 80% kemungkinannya tidak ditemukan apa-apa kalo MRI. Ini adalah obat penenang buat syaraf. Membuat rileks simpul syaraf dan pembuluh darahnya. Obat yang paling manjur adalah olahraga teratur supaya peredaran darah lancar. Dan terutama, semua masalah jangan terlalu dipikirkan.”
Secara tersirat, dokter ini mengisyaratkan agar aku jangan pernah kembali lagi dengan keluhan yang sama jika belum merealisasikan olah raga teratur.
Terlepas dokter mana yang paling sakti, aku jadi tersenyum kecut mendengar penuturan dia. Betapa tidak, belum lama berselang aku menulis tentang caleg stress dan punggawa negara yang kurang waras, eh… lha kok diriku sendiri terkena penyakit syaraf…
Pfff… gedhek-gedhek… thenger-thenger…
Jadi, sodara-sodara sekalian, jangan berkecil hati dan merasa rugi jika sudah kadung membaca tulisanku pada masa kena sarap ini. Mudah-mudahan semua cepat berlalu, dan ndobos ngomyangku bisa kembali seperti sedia kala.
Salam sarap untuk semua…
Ini mungkin juga menjelaskan kenapa gaya tulisanku menjadi tidak terpola akhir-akhir ini, sehingga menyebabkan beberapa pertanyaan dari fans beratku
![]()
Tags: neurolog, sarap, stress, syaraf
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Juni 1, 2009 at 1:55 pm
Pasti sembuuh…Yakiiin…
Mul rjin olahraga,rileks,sabar & trus brdoa
Luph u
Juni 1, 2009 at 5:44 pm
Hahaha…my bro kena sarap…emang tanda2ne wis kit mbiyen mula.
Sorry bro aq menanggapinya dgn guyon spy kamu ga tambah parah sakit sarape.
Btw moga2 cepet sembuh ya bro…Mulai hidup pola hidup sehat sekarang juga…
Juni 1, 2009 at 5:58 pm
pertama salam sarap dulu, dab!
loh bukannya gaya tulisan orang lagi kena sarap malah makin mendalam ulasannya, ngedab-ngedabi gitu.
Juni 1, 2009 at 7:35 pm
memang tuh kang…
kadang kita terlalu memporsir tenaga dan pikiran untuk kerjaan,sedangkan olahraga dibaikan…
padahal olahraga sangan penting lho…
bisa membuat kita relaxs n fresh…
cepet sembuh ya kang…
tak tunggu kabar selanjutnya yah
Juni 1, 2009 at 8:32 pm
jadi itu sebabnya kenapa ndelenger… baru ngeh…
jiyahahahahaha…
Juni 2, 2009 at 10:00 am
Ooo ala… pantes…
pas…. wkwkwkwkwk
Juni 1, 2009 at 10:10 pm
salam kenal, nice blog mampir deh ke blog saya, dijamin gakkan kecewa deh…hehe..
Juni 2, 2009 at 10:02 am
Hmmm… kudu hati-hati nich agar tidak terjangkit…

Semoga cepat sadar…
salam superhangat
Juni 2, 2009 at 6:36 pm
uduk stress ngendon to WKAKAKAKKAKAKAK
Juni 3, 2009 at 11:02 am
Wakakakakak Stressssss…
Ngakak sambil guling2
Juni 3, 2009 at 2:27 pm
bro & sist sekalian

tks utk komennya, utk doanya, dan utk guling2nya
sejujurnya orang sarap tidak merasa dirinya sarap. jadi tidak tertutup kemungkinan dirimu sekalian terinkubasi sarap juga
waspadalah waspadalah…
Juni 8, 2009 at 9:24 pm
hehehe… mendingan penyakit syaraf… daripada sayaaa.. kena gigit zombieeeee… hehehe…
Salam Sayang
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/04/zombie-mayat-hidup/
Juni 9, 2009 at 1:35 am
salurkan mumetmu lewat ngeblog aja, biar kita semua ketularan… bwahaha…
Juni 9, 2009 at 8:05 am
[...] Terlalu banyak yang terlintas dalam pikiran yang membuatku jadi sarap ini. [...]