Evolusi Generasi
“Macam-macam, Mas. Banyak pilihan. Ada yang 30 lubang, 60 lubang. Tergantung mau beli yang mana,” jawab Pak Mus mengkonfirmasi pertanyaanku tentang tanah sawah yang ditawarkan kepadaku. Satu lubang sekitar 10 meter persegi.
“Sebaiknya secepatnya saja, karena sekarang sedang dibuka pendaftaran pulisi. Harga sawahnya bisa sampai dengan setengah harga pasaran,” lanjut Pak Mus. (pulisi:polisi-red)
Aku hanya manggut-manggut, mencoba menghubungkan penjualan tanah sawah dengan pendaftaran pulisi itu.
Persepsi baikku mengatakan bahwa telah terjadi transformasi mata pencaharian penduduk lokal di sini dari petani menjadi aparat pemerintah, sehingga otomatis mereka tidak membutuhkan lahan sawah lagi.
Sementara persepsi jelekku mengatakan hal yang sama dengan yang sampeyan pikirkan. ![]()
Pak Mus adalah salah satu petani yang berhasil di kampung ini. Bukan dalam hal swasembada beras, melainkan dalam mentransformasikan kelas hidup generasi penerusnya dari seorang petani menjadi pulisi. Setidaknya itu dari kacamata penduduk sini. Dua dari tiga anaknya sudah menjadi pulisi, sementara anak pertama juga sudah mentas menjadi orang.
Tentu saja transformasi ini diikuti pula dengan proses peralihan lahan miliknya menjadi sebuah bangunan entah milik siapa. Terakhir beliau “menginvestasikan” sawah sepetak dengan nilai 14 juta saja. Padahal awalnya ditawarkan 28 juta, namun mengingat waktu yang sudah mepet, setengah harga pun akhirnya dilepas.
“Bukan, yang kemarin bukan untuk memasukkan anak saya tapi untuk menggenapi pada saat ndaftar dulu. Untuk pendidikan pulisi. Kalo ndak berani begini, kemungkinan untuk bisa ikut pendidikan jadi susah.”
Terus terang sampai di sini aku kebingungan untuk meneruskan arah cerita ini. Ada dua percabangan yang aku dapat, yaitu perubahan peruntukan lahan yang semakin menggila dan instansi pemerintahan yang tetap menggila dalam hal korupsi sejak sedari dulu, khususnya dalam perekrutan anggota barunya.
Mengingat instansi kepolisian dari jaman cindil abang sampai werok lemu ginuk-ginuk sudah terbukti masuk dalam daftar lembaga terkorup di negeri ini, aku pikir terlalu banyak membuang energi dan waktu untuk mengulang pembahasannya lagi. Tapi sebenarnya -tentu saja- karena kecetekan ilmuku tentang perkorupsian, selain hanya bisa menyumpah dan menyundalkan pelakunya.
Sedangkan ini hanyalah masalah sepele. Masalah tetangga Pak Mus yang akan menjual sawah karena butuh duit. Memaksa ratusan meter persegi lahan persawahan menjadi setumpuk uang demi sebuah obsesi dari wong ndeso. Wong ndeso yang hanya mempunyai kekuatan dari lembeknya pematang sawah, rimbunnya padi yang siap panen, atau sekedar menautkan pandangan ke pesona hamparan sawah subur hak miliknya. Wong ndeso yang berjalan tanpa sandaran pengetahuan hukum dan normatif manusia beradab yang selalu pragmatis.
“Saya sudah lulus,” kata Pak Mus dengan mata berbinar.
Generasi penerusnya telah menjadi manusia beradab dengan menumbalkan kejayaan profesi petaninya.
“Saya jadi tukang batu saja. Itu sudah cukup. Wong semua sawah sudah habis untuk memasukkan si anu ke sana dan si ini ke sini. Kalo mereka sudah jadi orang, otomatis cucu-cucu saya mempunyai peluang besar untuk menjadi orang juga. Semoga.”
Evolusi generasi dalam keluarga Pak Mus mempunyai dampak ikutan yang tidak pernah jarang dipikirkan oleh orang-orang umum. Apalagi hanya wong ndeso semacam Pak Mus ini.
“Di sini masih ada kunang-kunang, Pak?” tanyaku basa-basi ke beliau.
“Wah, sudah beberapa tahun terakhir saya ndak pernah lihat konang (kunang-kunang-red),” jawabnya.
Lenyapnya lahan sawah menjadi bangunan beton menghilangkan seluruh elemen penyusun sistem habitat sawah. Aku tidak tahu letak kunang-kunang di mata rantai makanan. Juga fungsi mereka dalam sistem habitat sawah. Namun ketiadaan hewan ini cukup menimbulkan tanya buatku.
Pertanyaan yang sama kutujukan untuk keberadaan hewan lain. Tikus sawah, cacing tanah, keong mas, manuk blekok, kebo, burung emprit, dan semua elemen penyusun sistem di habitat sawah ini. Jika manusianya bisa ber-evolusi profesi, kira-kira mereka -binatang-binatang yang terhormat itu- ber-evolusi jadi apa?.
Evolusi segelintir manusia ini juga menyeret elemen peri kehidupan manusia yang lain. Petani penggarap, yaitu petani yang tidak punya lahan sawah, mungkin salah satu yang terkena dampak langsungnya. Memaksa mereka melakukan lompatan besar dalam bidang kerjanya, dari spesialis padi menjadi apa saja. Tukang batu, tukang kebun, tukang kayu, sopir, pembantu, dan lain-lain. Semoga tidak ada yang bertransformasi menjadi ulat sutra atau pencopet di pasar malam.
Efek domino seperti halnya teori kepakan sayap seekor kupu-kupu yang hinggap di pematang ini yang bisa menimbulkan badai angin puyuh di benua lain, gelombang anginnya menyeberang samudera dan pulau-pulau, tidak pernah dapat dibayangkan di benak setiap ilmuwan, apalagi diprediksikan. Bahkan belum tentu jelas andaikata akibat dari rentetan terputusnya mata rantai itu sudah terjadi dan mempengaruhi hidup kita secara langsung. Semua serba semu dan nisbi. Menjadikan tidak ada seseorang pun yang mutlak bertanggung jawab terhadap sesuatu hal dalam transformasi lahan sawah ini. Apatah pemerintah sekalipun.
Terlalu banyak yang terlintas dalam pikiran yang membuatku jadi sarap ini.
“Sepetak yang ini luasnya 600-an lebih, ya?” tanyaku pada Pak Mus, “kalo saya jadi ambil yang sepetak ini, nanti siapa yang akan mengelola sawahnya? Apa pemilik yang lama masih mau bertani?”
“Wah, saya ndak tahu. Tapi nanti bisa saya tanyakan orang yang bisa nggarap sawah ini. Tapi kenapa ndak langsung diurug saja?” Pak Mus balik bertanya.
Aku tidak tahu jawabannya. Juga tidak tahu tentang arah pertanyaanku sendiri.
Karena, hanya sepetak. Hanya 600 meter persegi lebih sedikit, dengan panjang 70-an meter. Seperti satu pixel di layar CGA berwallpaper hamparan hijau sawah.
Apa itu mampu menahan laju tranformasi peruntukan lahan sawah di sini?
Mataku nanar mengukur panjang pematang yang sejajar dengan aspal. Berapa kilometerkah? Berapa pula lebarnya?
“Begini, Pak Mus, saya ingin membeli semua petak yang ada di pinggir aspal sini. Juga di pinggir jalan aspal sebelah sana dan sana. Jadi hamparan sawah di sini dikelilingi sawah saya. Tidak ada akses jalan ke tengah selain lewat pematang sawah saya. Kira-kira semua ada berapa ribu meter persegi? Berapa hektar? Tidak untuk diurug atau dibangun. Melainkan tetap digarap, syukur-syukur bisa bagi hasil.”
Sayang pertanyaan itu tidak pernah terlontarkan keluar dari tenggorokan. Tercekat di lipatan dompet tipisku.
Ahh.. barangkali aku terlalu idealis. Terlalu memikirkan Pak Mus dan Pak Mus lainnya dan para binatang dan para famili rerumputan di hamparan ini, yang sudah digariskan untuk ber-evolusi pada tatanan generasi berikutnya.
.
.
.
mbantul, medio mei 09
Tags: lahan, sawah, transformasi
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Juni 8, 2009 at 8:00 pm
oalah mas.. cerita sampean jadi ngelengkan saya sama bapak..
bapak ku sudah habis-habisan mencongkel tanah untuk membiayai sekolah saya, ya untung mas gak sampek habis beneran alias gak sampek mengevolusi profesi dan tanduran-tanduran yang lain..
salam kenal mas,
Juni 8, 2009 at 9:04 pm
Ruaaaaaaar biasaaaaaaa… keadaaan yang telah terjadi dinegeri menyedihkan… enjomplang buangeeeet…
Salam Sayang
Juni 9, 2009 at 12:29 am
Hhmm…Pemikiran Kang Boed bener2 salut dech, saya senang dengan orang yang idealis untuk membela kebenaran Kang…
Salam hangat selalu dari Bocahbancar….
Juni 9, 2009 at 1:45 am
isu pendidikan dan profesi sangat menidurkan, sawah dan semua harta diinvestasikan untuk itu, rela iklas, kasian kata saya, manusia masih bisa mati, kalo sawah ladang masih bisa menjadi asuransi, memang gara-gara pemerintah yang terlalu bermain dalam paradigma hak warganegara yang salah kaprah kabeh…, anak pinter kan hak warganegara bukannya harus juwal harta…
Juni 9, 2009 at 6:43 am
Hmmm… apa pun akan dijual demi kemajuan anak cucu.
Saat ini ikut apa ajah pasti bayar, Kang, meskipun baru daftar.
Sudah menjadi kebiasaan tidak mengunakan kompetensi sebagai alat persaingan.
salam superhangat.
Juni 9, 2009 at 11:40 am
@kucrit
wah sampeyan ternyata wong ndeso juga to. oalah…
@kangboed
selalu setia melambungkan motivasi…
tks kang
@bocahbancar
salam hangat juga dari kangboed (loh?)
@suryaden
karena kekuatan yang dimilikinya cuma itu, om. tidak lebih. ini satu bentuk perjudian juga mengingat masa depan adalah hal yang tidak bisa diprediksikan.
@cenya
justru karena mau mencari kompetensi makanya harus ada modal yang harus dikeluarkan. dalam hal ini harta warisan dll. hehe…
Juni 16, 2009 at 8:13 pm
satu kenyataan nyang terjadi saat ini.. yang kaya menjadi makin kayaaaa… yang miskin menjadi sangat miskin.. terus golongan menengah kemana… mereka sebentar lagi menjadi golongan miskin… sapa yang sebentar lagi sekolahin anaknya jika universitas negeri saja melambung tinggi harganya.. ngeri yaaa..
Salam Sayang
Juni 9, 2009 at 12:00 pm
Menggadaikan atau menjual tanah tumpah darah dengan harga yg sangat murah demi untuk perbaikan nasib sungguh membuat hati ini miris. Perbaikan nasib dengan menjadi pamong praja..bahkan pangreh praja suatu cara berevolusi dengan cara instant.
Contoh paling nyata di seputar saya (saya sekarang tinggal di wilayah yg disebut lumbung padi-nya jawa barat), banyak kalangan berpendapat begini : mengeluarkan uang 30-40 juta anakku langsung jd pulisi, bulan pertama dapat gaji, kalo nasibnya baik ikut pendidikan kenaikan pangkat, dari pada uang segitu untuk biaya kuliah (mungkin malah nggak cukup, ada bbrp universitas pasang uang pangkal puluhan juta), blm tentu nanti selesai kuliah dapat kerja.
Ironis, sawah ladang membentang luas… hari ke hari makin menciut, dan konyolnya.. fakultas pertanian sepi peminat.
Masih cukup waktu apa nggak ya, saya ingin mengajak mas ~noe~ ngumpulkan duit, untuk membeli semua petak sawah yg ada di pinggiran aspal itu…
Juni 9, 2009 at 5:29 pm
itu yang terlihat kasat mata, gus.
kalo punya indra keenam, mungkin kita bisa tahu carut marutnya pengelolaan sumber daya alam di negeri ini. khusus petani, tidak ada perlindungan menyeluruh terhadap diri manusia dan lahan pertaniannya agar bisa bertahan sebagai salah satu pondasi pembangunan ekonomi.
btw, untuk tawaran itu…
mmm… sik sik…
kan sudah kubilang dompetku tipis…
hwakaka…
minimal ajakan ini membangkitkan motivasi untuk aktivitasku tetap go green ke depan.
thanks berat, gus
Juni 10, 2009 at 9:06 am
Artikel yang sangat menarik
Juni 10, 2009 at 10:13 am
Mungkin karna bertani bukan profesi yang menjamin. Gimana kalau para petani makmur? tentu lain critanya
Juni 10, 2009 at 11:06 am
@yep
tks apresiasinya, yep
@cakwin
ke mana aja, cak. ga pernah nongol di sini
sekedar tahu saja, profesi petani di negara maju sudah sangat diproteksi oleh pemerintah. profesi petani menjadi salah satu profesi yang dicemburui profesi lain karena posisi anak emasnya di kebijakan pemerintah.
Juni 10, 2009 at 12:23 pm
mo beli sawah aja ribet ya mas?
Juni 10, 2009 at 12:29 pm
Kunjungan balik…
Wah iya, sekarang jarang liat kunang2.. Kira2 populasinya uda turun drastis berapa persen y?
Juni 10, 2009 at 12:51 pm
ternyata jadi pulisi , perlu jual sawah ya mas? trus bar dadi pulisi golek pulihan ta?
Juni 10, 2009 at 3:32 pm
hehehe… semakin parah… akankah harus ada kehancuran dulu… unruk membuat mata melihat.. dan tercengang… berbalik mencari DIA
Salam Sayang
Juni 10, 2009 at 4:05 pm
@julie
belinya sih gampang. mbayarnya yang susyah
@nA
aku baru lihat kunang2 cuma sekali lho. suwerrr…
@mastrie
lha ditanya baen ke pulisinya. mau golek pulihan atawa ndak…
hehe…
@kangboed
ya ampun sudah balik maning nang kene. cepet nemen…
Juni 16, 2009 at 8:15 pm
ooo.. enda kelihatan… baru baca.. *malu muka merah*… kabuuuuuuuur… *tutup muka*…
Salam Sayang
Juni 10, 2009 at 6:29 pm
makasih sharingnya.. saya malah benar2 mengalami hal ini, ada tawaran utnuk beli sawah tetangga kampung, ternyata dia pengin masukin anaknya jadi Pulisi, katanya sekitar 120 jt hanya utk masuknya saja. banyak juga sawah dikampung yg dah berubah jadi perumahan dan pabrik… sedih, masa’ kita besok gak bisa makan nasi beras.
Juni 10, 2009 at 8:50 pm
sayangnya orangtua sekarang memandang kesuksesan hanya dengan pangkat dan jabatan, sampai tanah yang gunanya sangat besar sekali dijual hanya untuk itu.
Juni 10, 2009 at 11:03 pm
sebuah narasi kenyataan sosial yang pahit, mas. banyak orang yang rela menjual tanahnya demi mengejar pangkat dan jabatan, baik utk kepentingan sendiri maupun keturunannya. semoga saja pak mus tak punya niatan utk ikut2an membuat negeri ini jadi republik korupsi, hehe …
Juni 11, 2009 at 2:01 am
walah sawah bapakku dulu juga dijual untuk biaya sekolah waktu saya sma
Juni 11, 2009 at 1:47 pm
ironis… melihat cara pandang pak Mus…
tapi salut dengan tindakan anda menyelamatkan persawahan…
ada yg bisa dibantu?
Juni 11, 2009 at 3:43 pm
@zefka
sampai 120 juta. mahal sekali transformasinya. yah, semoga sistem kita ke depan bisa menjadi lebih baik tanpa mengorbankan bidang lain yang tidak ada hubungannya langsung.
@jaya
kalo memang benar2 sukses bagi mereka sangat bagus karena bisa menjadi modal untuk mengembalikan modal awal yang terjual. bukan begitu, om…
@sawali tuhusetya
tks sempat mampir di sini
niatan beliau tidak ada, om. yang terpikirkan hanyalah satu langkah ke depan, bagaimana masalah sekarang bisa langsung disolusikan. tapi justru di situ masalahnya, yaitu golongan beliau2 ini tidak bisa membedakan mana yang sesuai prosedur mana yang tidak. semua berangkat dari adab kebiasaan saja yang sudah dibudayakan oleh lembaga pemerintah yang tidak bersih.
@endar
dirimu berarti wong ndeso juga
@mahendra
yang bisa dibantu ?
banyakkk…
bisa nggak bantu aku dan guskar membeli lahan sawah yang terancam peralihan ini, dengan duit tentunya
Juni 12, 2009 at 2:41 pm
masnya mbantul juga? tahu daerah jowilayan? sekarang juga sudah banyak dibangun bangunan. anehnya bangunannya dah jadi tapi gak ada listrik. karena gardunya dah over kuota, jadi harus buat gardu baru. 25 juta bro. kekekke
Juni 12, 2009 at 2:58 pm
bukan mbak. bukan wong mbantul. bukan pula tinggal di mbantul. cuma kebetulan ada tawaran sawah di sana.
jadinya saya ndak tau itu daerah jowilayan.
btw, info yg terakhir ini menarik juga. tks berat. berarti kalo mo bangun rumah mesti memperhitungkan PLNnya dulu ya.
tapi jangan2 kalo lewat jalur khusus, gardunya ga jadi overkuota. bisa jadi to…
Juni 15, 2009 at 2:35 pm
Ceritanya asyik yah, tapi, hayio dung dihapdet mas.