Pengadilan Delenger
Panas dan agak pengap tersodor di salah satu panca inderaku di dalam ruangan besar tak bersahabat ini. Jaket hitam bermodel jas yang aku kenakan rupanya tidak sinkron dengan hawa sumpek ruang sidang pengadilan negeri ini. Udara seakan berhenti bergerak selain hanya di sekitaran mulut hakim ketua yang sedang mengajukan pertanyaan kepada tiga orang terdakwa di bangku pesakitan.
Ini satu siang yang terik setelah tiga hari lebih ditinggalkan hujan. Matahari mengisyaratkan tepat di ubun-ubun manakala suara adzan mengiringi derap interogasi hakim dan alunan suara melo dari para pesakitan yang -aku yakin- mencoba memberi kesan positif terhadap hakim dan pengunjung sidang, khususnya diriku. Levelnya sudah setaraf tim sukses capres yang mengandalkan kampanye rasa teraniaya demi meraih simpati.
Aku di sini, duduk bergeming di bangku terdepan pengunjung, tepekur, menjadi makmum udara dalam diam, untuk bersiap memberikan pernyataan beberapa hal yang kurasa penting dari perkara ini -jika dibutuhkan. Juga pernyataan kepada pers yang terlihat santai di sudut ruang ini. Beberapa lagi terlihat udat-udut di teras pengadilan, menunggu catatan steno kawannya yang khusuk di dalam ruang sidang, untuk nanti dicopy paste. Salah satu bukti budaya serapan dari negeri jiran malingsia sudah merasuk di bangsa ini meskipun dalam skala kecil.
Ini hanyalah satu episode dari padatnya jadwal pengadilan, menunggu berbaris kasus per kasus ala barisan terik tempe, dengan pesakitan kelas kethek kopyok dalam kasus kelas kutu kupret. Mengisahkan perjalanan kawanan garong perangkat milik negara dengan korban salah satu perusahaan milik negara dan sekelompok masyarakat yang menjadi pelanggannya. Tidak hanya sekali dua kali, melainkan sudah belasan kali para kethek kopyok itu beraksi dengan mengakibatkan kerugian materi versi negara hingga ratusan juta perak. Belum kerugian non-materi tentang kepercayaan masyarakat yang menurun terhadap layanan produk perusahaan ini.
Berangkat dari situ, tertangkapnya para kethek kopyok ini -setelah melalui perjalanan panjang siang dan malam, panas dan dingin, duka dan nestapa, hingga kelaparan dan dahaga dalam mengintai setiap gerak langkah para pencoleng itu-, membuat diriku sebagai saksi mempersiapkan segala sesuatunya demi satu tujuan yaitu untuk membenamkan mereka sedalam-dalamnya ke lembaga pemasyarakatan, karena mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat jika beredar di tengah masyarakat.
Satu fragmen penting dalam acara persidangan ini adalah tatkala hakim ketua menanyakan motif penggarongan ini.
Terdakwa pertama menjawab karena tidak punya uang, yang langsung ditukas oleh hakim dengan petuahnya bahwa tidak punya uang adalah seni dalam kehidupan. Hidup kadang di atas kadang di bawah. Demikian juga dengan kepemilikan uang. Jangan sampai hanya demi uang, kita mengorbankan harga diri dan keluarga untuk bertindak kufur.
Terdakwa tampak diam dan menundukkan kepala. Patuh. Bukan kepada petuah hakim, namun lebih kepada bagaimana proses ini bisa selesai secepatnya. Mengangguk dan mengiyakan adalah jalan terbaik, mengingat mereka bukan selebritis yang bisa menarik simpati massa. Petuah hakim pun aku rasa hanya masuk satu telinga untuk keluar ke telinga sebelahnya.
Pun terdakwa kedua masih dengan motif yang sama, yaitu mencari makan.
Sinisku terhadap jawaban para garong itu sudah memfosil di otak. Tak sabar ingin aku pampang akibat dari perbuatan mereka supaya hakim tidak terpengaruh pada keringanan-keringanan yang sifatnya subjektif. Keringanan yang berasal dari sifat lugu terdakwa, penampilan dan sikap, atau pernyataan yang berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Tidak sebanding dengan bagaimana kami mengais rupiah demi rupiah untuk bisa menegakkan kehidupan kami, menyumbang pajak sangat besar ke negara, atau konflik kami kepada ratusan klien karena hilangnya perangkat kami yang pasti menyebabkan kepercayaan menurun. Keadilan harus ditegakkan dan sebisa mungkin melindungi legalitas hak-hak orang kebanyakan. Kekufuran harus dimusnahkan dari muka bumi pertiwi ini.
Aku bersiap untuk memberi isyarat ke panitera apakah bisa memberi pernyataan setelah jawaban ketiga terdakwa selesai. Mengungkapkan sekaligus membenamkan mereka. Mataku menatap panitera, berharap dia menolehkan arah pandangannya ke aku, ketika latar belakang suara interogasi masih tertangkap di kupingku.
”Untuk biaya rumah sakit, Pak,” terdengar suara lirih dari terdakwa ketiga itu.
”Siapa yang sakit?” tanya hakim.
”Anak saya, Pak.”
”Sekarang sudah sembuh?”
Hening sejenak. Hakim menajamkan matanya, menegaskan jika dia butuh jawaban.
”Sudah meninggal, Pak.”
Aku terkesiap.
Ruang sidang bertambah senyap, paralel dengan selesainya iqamat.
Pandangan mataku refleks beralih kepada terdakwa ketiga. Dari belakang hanya tampak sosoknya memakai baju koko dan kopyah tengah menunduk. Segala sumbatan uneg-uneg yang siap aku gelontorkan untuk menjerakan mereka menjadi sirna seketika.
Meninggal?
Karena aku dan bala kurawaku menangkap dia, menggiringnya ke jeruji keberadaban, hingga anaknya yang sakit menjadi telantar dan akhirnya meninggal?
Jadi, siapakah aku hingga bisa mengubah jalan hidup atau mati seseorang?
Beragam jenis reality show dengan cerita paling busuk pun ternyata tidak mampu membentengi perasaanku terhadap masalah kecil ini. Sangat kecil jika dibandingkan dengan kasunyatan ing donya yang penuh dengan warna-warni kebiadaban dibungkus keberadaban.
Energi halusku menyuruhku beranjak dari bangku panjang penuh daki ini, menuju ke luar ruang sidang. Beberapa kuli flashdisk membuntutiku untuk mengorek keterangan. Nyanyian sumbang dari pertanyaan yang diajukan berdenging mengelilingi daun telingaku. Menjegrikkan ujung neuronku. Pantas saja mereka disebut nyamuk pers.
Satu dua tiga pertanyaan dengan jawaban kibasan tanganku mengiringi aku masuk mobil yang siap di halaman. Untuk kemudian melesat meninggalkan lokasi ini, lokasi pengatur lalu lintas peradaban yang sangat sumpek, untuk mencoba mengadili diri sendiri di keakuanku.
.
.
.
pengadilan negeri, 20090623
Juni 26, 2009 at 1:49 am
benarkah inspirasi tulisan ini dari pengadilan Negeri?
Juni 26, 2009 at 7:59 am
aku biasana gak bisa memahami tulisan yang dipuisikan
Juni 26, 2009 at 8:05 am
yah noe,,smoga pengadilan negri kita lebih baik lagi ya,,,hoho”..
Juni 26, 2009 at 9:12 am
non-fiksikah..???
lha di negeri nyata sana penjenengan berprofesi sbg ksatria penegak kebenarankah? (satria koq profesi.. hihi..maaf..!)
Juni 26, 2009 at 9:51 am
@rusa bawean
pengalaman pribadi, om
salam
@didta
sudah komen saja sudah cukup bagi diriku sebagai masukan yang apresiatif.
tks didta
@kir31
pengadilannya ndak pa pa kok.
cuma jalan ceritanya yang akan melenceng.
@wahyu
bukan penegak kebenaran, om.
hanya menjadi korban yang harus bertindak sendiri karena penegak kebenaran kita sangat minim dana operasionalnya. nangkep sendiri, nggebuki sendiri, sampai nganter ke kantor penegak hukum.
ini nonfiksi. hari selasa kemaren…
weleh-weleh…
eh, acaranya sudah kelar atau piye to. misterius banget ihh…
Juni 26, 2009 at 1:34 pm
waahh.. harusnya dibuat posting khusus membahas pergumulan sampeyan melawan para begundal bromocorah. pasti seruu..
acara dah rampung minggu kemaren. langsung sibuk boyongan ke gubuk baru. wuihh.. hal-hal tsb ternyata amat merepotkan om. daya dan waktu betul2 terkuras..
harap maklum kalo jarang silaturahim ke sini..
Juni 30, 2009 at 6:11 pm
@wahyu
om, kalo diceritakan proses penangkapannya sih malah jadi cupu.
soale pas lagi tidur ada sms dari yg patroli adanya indikasi garong mau bergerak.
baru ngolat ngolet, ada sms masuk lagi, kasih kabar kalo garongnya sudah ketangkep.
eh, belum sempat manasi kendaraan, kawan2 sudah membawanya ke polsek.
yaudah, ketemuan ma garong di polsek aja
Juni 26, 2009 at 2:23 pm
menyentuh banget cerita di atas, memang banyak cerita “busuk” di pengadilan kita, kita hanya bisa berdoa untuk para pengadil ataupun org2 yang berkecimpung di sana untuk tetap memakai hati nurani dalam bekerja…salam kenal sobat
Juni 26, 2009 at 2:42 pm
santai aja mas, kalo sudah takdir kita memang gak bisa ngapa-ngapain, meski kejadian itu berurutan…., dan kadang kita selalu merasa menjadi korban juga…
Juni 26, 2009 at 4:40 pm
Kasihan Pak Hakim harus benar-benar jeli dalam setiap persidangan karena pengadilan adalah salah satu tempat untuk unjuk kebolehan berteater.
salam superhangat.
Juni 30, 2009 at 6:30 pm
@iwan
tks sudah menyempatkan membaca. ini bukan masalah pengadilannya tetapi lebih ke masalah pribadi, om.
salam kenal juga
@suryaden
hehe
tengkyu, om
@cenya
yup aku setuju sekali dengan dirimu. kejelian dibutuhkan untuk mengikis subjektivitas.
salam hangat yang super juga
Juni 26, 2009 at 8:41 pm
Selamat malam delenger,….The life of Low has been, not logic, but experience…. Low will not be found by a mere examination of theoretical rules, concentration on those rules alone harms the legal profesion since it leads to the ignoring of the wider context which gives low its true social significance. Thanks 4 good writing.
Regards, agnes sekar
Juni 30, 2009 at 6:33 pm
@mbak sekar
kucoba translate pake mesin :
Hidup Rendah sudah, tak ada logika, tetapi experience…. Rendah tidak akan ditemukan oleh ujian belaka peraturan teoretis, konsentrasi atas peraturan itu kerugian sendiri yang hukum profesion karena menyebabkan pengabaian konteks yang lebih luas yang memberi rendah pertemuan silaturahmi sebenarnyanya arti. Makasih 4 tulisan baik
hehe…
intinya ketangkep.
satu pandangan yang bagus untuk menghilangkan rasa bersalahku
tks mbak
Juni 27, 2009 at 2:34 am
Memang macem-macem fenomena kehidupan di dunia ini. tapi alangkah baiknya kalo kita bisa mengambil yang baik…
ya.. semoga saja.. pak hakim nya gak bingung ngadepi setiap masalah yang datang silih berganti. sehingga keadilan bisa tetep ditegakkan..
Juni 27, 2009 at 8:56 am
OOT : Selamat Anda mendapatkan Award Silahkan lihat dan ambil Di Weblog saia / Klik Disini
Juni 27, 2009 at 1:48 pm
Nice post..tulisnnya kweren..Plok. . plok. . plok
Juni 30, 2009 at 6:35 pm
@kucrit
setuja
semoga pak hakim tetap lurus memandang keadilan dan memagari jalannya tetap lurus ke depan
@wasaka
wah…
tararengkyu ya om
@perajaromance
terimakasih
*manggut-manggut*
*ndingkluk-ndingkluk*
Juni 27, 2009 at 3:03 pm
hiks,
di satu sisi melakukan yang benar. di satu sisi melakukan hal yang terlalu kejam untuk ukuran hati yang terlalu lembut.
adakah rasa bersalah macam ini di hati aparat kita yang sering salah tangkap itu?
hiks, makin banyak saja yang perlu diprihatinkan darti bangsa kita…
Juni 27, 2009 at 6:37 pm
haduh… banyak yg diungkap neh dari cerita simplenya
c u…
mantapp… aku eja dulu satu2
Juni 27, 2009 at 6:43 pm
berkunjung
Juni 27, 2009 at 7:29 pm
setiap dari kita adalah korban…
korban dari carut marut dan kebobrokan sistem…
Juni 30, 2009 at 6:39 pm
@denyar
tahu juga kalo hatiku begitu lembut untuk ikut masuk dalam lingkaran kejadian ini
@faza
selamat mengeja
@soul
silakan liat-liat
tks kunjungannya
@mahendra
aku merasa jadi korban kesensitivitasan diriku sendiri. kalo sistem sih sudah menjadi rahasia umum, om
tks
Juni 27, 2009 at 8:34 pm
Stephen R. Covey dlm bukunya The 7 Habits of Highly Effective People : Saya ingat sebuah perubahan paradigma kecil yang saya alami pada suatu minggu pagi dalam kereta bawah tanah di New York. Orang-orang sedang duduk tenang, sebagian membaca koran, ada yang melamun dan sebagian lagi beristirahat dengan mata terpejam. Suasananya tenang dan damai. Lalu tiba-tiba, seorang pria dan anak-anaknya masuk ke dalam gerbong. Anak-anak tersebut begitu berisik dan ribut tidak terkendali sehingga segera saja keseluruhan suasana berubah.
Pria tersebut duduk di sebelah saya dan memejamkan matanya, agaknya tidak peduli akan situasi saat itu. Anak-anaknya berteriak-teriak, melemparkan barang-barang, bahkan merenggut koran yang sedang dibaca orang. Sangat mengganggu. Namun, pria yang duduk di sebelah saya ini tidak bebuat apapun. Sulit untuk tidak merasa jengkel. Saya tidak mengerti ia dapat begitu tenang membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun untuk mencegah mereka, sama sekali tidak bertanggung jawab. Sangat terlihat bagaimana semua orang lain di dalam gerbong juga merasa sangat terganggu.
Akhirnya dengan rasa sabar dan pengekangan diri yang luar biasa, saya menoleh ke arahnya dan berkata, “Tuan, anak-anak Anda benar-benar mengganggu banyak orang. Dapatkah Anda mengendalikan mereka sedikit?”
Orang itu mengangkat dagunya seolah baru tersadar akan situasi di sekitarnya lalu berkata dengan sedih, “Oh, Anda benar. Saya kira saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari rumah sakit di mana ibu mereka meninggal satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berpikir apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu harus bagaimana menghadapinya” Dapat Anda bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Paradigma saya berubah. Tiba-tiba saya melihat segalanya secara berbeda, dan karena saya melihat dengan cara yang berbeda, saya berpikir dengan cara yang berbeda, saya merasa dengan cara berbeda, saya berperilaku dengan cara berbeda. Kejengkelan saya seketika hilang. Saya tidak perlu lagi kuatir untuk mengendalikan sikap atau perilaku saya, hati saya dipenuhi dengan kedukaan yang dirasakan pria itu.
Tak ada yg abadi di negeri ini, kecuali keabadian sebuah kemiskinan.
Juni 30, 2009 at 6:42 pm
@guskar
terimakasih untuk cerita berbingkainya.
bahwa pengetahuan kita terhadap latar belakang masalah itu sangatlah penting sebelum bisa mengambil kesimpulan dan keputusan dalam bertindak.
tapi gus, kemiskinan yang abadi apa tidak terlalu berlebihan?
sebegitu skeptiskah kita menghadapinya?
Juni 28, 2009 at 6:20 pm
Hmm.. waaaah.. sehari enda berkunjung.. *IM2macetkomolewat*.. dah ada pengalamaaaan menarik sebagai pelajaran kita semua.. kalau maling ayam sakita yaaaa.. digebukin dibui masuk penjara.. tetapi kalau nyang intelek malah bagi bagi duit yaaa.. hihihi.. mengerikan sekali…
Dunia sudah terbalik.. kelas teri ciloko.. kelas kakap masih duduk nikmat.. yang besar tambah besar yang kecil terpuruk habis.. andai para petugas mengerti akan nilai AMANAH.. mereka tidak akan berani berbuat macam macam.. Andai para aparat penegak hukum.. apalagi para hakim dan Para JAKSA dibuka mata penglihatannya oleh TUHAN.. mereka akan mati mendadak.. terkejut melihat kawan kawannya.. tergambarkan VAMPIRE PENGISAP DARAH.. persis nampak diatas kepala mereka.. tetapi entahlaaaah.. sekali lagi entahlaaaaaah.. hanya lamunan…
KAMI MEMUTUSKAN BERDASARKAN KEADILAN DALAM NAMA TUHAN YANG MAHA ESA.. hiiiiiiiiiiiiiiiiiii.. andai mereka mengerti.. mereka menjadi perpanjangan tangan TUHAN.. andai ditukar keadilan TUHAN dengan RUPIAH.. tiada sanggup seorangpun menerima SIKSANYA YANG TERAMAT PEDIH..
sungguh negeri carut marut yang aneh dan RUAAARRR BIASA DAHSYAAAATTT.. kalangan bawah yang tertelan MIMPI dan ANGAN ANGAN dan yang di atas yang berkubang dengan KEBOHONGAN.. andai mereka mengerti dan ALLAH membuka matanya.. entahlaaaah..
Waaaaah.. Jadi ngelantur yaaaaaaaa.. KOMENGNYA kebanyakan.. kepanjangan.. mudah muahan mengobati kerinduan pada sahabatku.. Mas NOE yang baik
Salam Sayang
Salam RINDU untukmu
Juni 30, 2009 at 6:44 pm
@kangboed
satu penghargaan bagi diriku bahwa posting ini bisa memancing kangboed panjang lebar mengungkapkan ganjalannya.
tidak ada yang terlalu panjang untuk komen. diriku berterimakasih sekali untuk apresiasinya.
salam
Juli 1, 2009 at 11:38 am
hehehe.. bukan ganjalan mas.. hany sekedar pernah melihat dan memperhatikan.. JUBAH HAKIM.. wooow.. itu KERAMAT..
Salam Sayang
Juni 29, 2009 at 4:09 am
Wah, pengadilane si Delenger bener-bener mblenger, soale mung ngomnyang
Juni 29, 2009 at 3:56 pm
Semoga saja keadilan bisa selalu ditegakan.
Ruang pengadilan terasa sangat menakutkan untuk beberapa orang.
Juni 30, 2009 at 10:22 am
kok rasanya jd menyeramkan ya mengimajinasikannya..hehe
Juni 30, 2009 at 3:01 pm
itulah kasunyatan hidup mas
Juni 30, 2009 at 6:49 pm
@wandhi
bener ndelenger lan mblenger
hehe…
@tukangobat
aku sendiri juga keder kemaren. kayanya sudah punya pengalaman pribadi nih
@sarah
tidak terlalu menyeramkan kalo kita mengimajinasikan yang culun-culun dan kocak-kocak
@suwung
betul. kasunyatan yang soewoeng seperti dirimu
tks all…
Juni 30, 2009 at 3:31 pm
jadi begitu membingungkan antara tugas dan perasaan kemanusiaan
Juni 30, 2009 at 3:36 pm
Test test
Juni 30, 2009 at 3:37 pm
Kunjungan perdana bro,
Juni 30, 2009 at 4:45 pm
lha peranmu itu yang mana kang?
Juni 30, 2009 at 6:51 pm
@idana
itu yang terjadi kemaren di dalam pikiran dan perasaanku.
tks udah mampir
@ivan
tes diterima.
maturnuwun kunjungannya
@senoaji
peranku cuma sebagai korban yang ingin balas dendam tapi tidak punya daya, kang.
lama ga liat kang senoaji jalan2 lagi
tks all guys
Juni 30, 2009 at 5:37 pm
Noe, sesak ya rasanya.
Namun kesalahan tetaplah sebuah kesalahan. Kukira uang curian tidak akan membuat berkah pada apapun.
Be strong dear, manusia selalu hidup dengan pilihan-pilihannya. Dan pilihan mereka bukanlah tanggung jawabmu.
Juni 30, 2009 at 6:54 pm
@D
tidak berubah.
selalu saja dirimu bisa menampilkan sisi yang berbeda. seperti halnya motto kamu :menjadi bahagia adalah pilihan.
ternyata bisa diaplikasikan dalam konteks yang lebih luas.
tks, d
Juni 30, 2009 at 10:10 pm
hwaaaa …..
mantab banget noe, tulisanmu ….
jadi pengen ndlosor ke lantai ….
aku langganan blogmu yaaa!
makasih udah nulis mantab begini
Juni 30, 2009 at 11:01 pm
kalo perasaan hakimnya gimana lagi ya…
semua berawal dari kemiskinan, selain dekat dengan kejahatan, kemiskinan juga dapat membawa kekufuran…
Juni 30, 2009 at 11:39 pm
hhmmm… yayaya…
ngerti aku sekarang….
apapun alasannya, sebuah kejahatan harus di hukum dgn hukuman yg setimpal, yg jadi masalah, para praktisi hukumnya sudah mampu belum untuk melaksanakannya.
jangan sampe palu sang ketua cuma kenceng buat maling2 kelas teri yg mencuri demi keselamatan anaknya, tapi buat para penjahat kelas ‘PAUS’, dia bingung nyari palu yg dia sembunyiin di balik jubah itemnya
hehehe..
c u…
Juli 1, 2009 at 6:45 am
wah.. banyak istilah baru nih.. keren mas..
populerkan mas.. jangan kalah sama istilah impor yg begitu mudahnya kita terima bahkan mempertebal KBBI…
maaf kalO OOT nih…
_salam anget_
Juli 1, 2009 at 4:33 pm
hohoho seru juga ceritanya bro hehehe salam kenal
Juli 18, 2009 at 8:52 am
Alasan mengapa sebagian pengadilan islam modern meniadakan potong tangan adalah kasus khalifah umar. Beliau membatalkan kasus itu karena si maling melakukan itu makan.
Dalam kasus mas noe, kurasa jangan menyalahkan diri terlalu dalam, kenyataannya memang memilukan, namun mas melakukan itu, sejak awalnya adalah semangat menegakkan kebenaran. Yang bahaya, sekarang orang mencari kemenangan, gak peduli kenyataan. Bukti otentik yg mulanya gak ada, dengan adanya relasi kuat dan dukungan finansial, bisa jadi diada adakan. Makanya aku ga bisa ngarapin yg lain kecuali Dia.
Juli 23, 2009 at 9:43 am
kebenaran jadi absurd ..