”6,8 SR, pusat gempa 200 kilometeran tenggara Wonosari. Marai kagol arep turu.”
Begitu bunyi sms dari teteh jam 23:24WIB semalam.
Semoga tidak berakibat parah karena trauma akibat kegempaan tahun 2006 lalu belum lagi hilang.
Gempa semalam mengingatkanku kembali kepada bencana gempa Tasikmalaya yang tanpa terasa hampir seminggu berjalan. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke mana saja asal dijauhkan dari tempat yang berpotensi bencana. Tiada yang lebih menyedihkan selain kehilangan tempat berteduh sekaligus sanak saudara. Barangkali hanya rasa dan tindakan kesetiakawanan saja yang masih bisa menjadi motivasi para korban untuk tetap bertahan hidup dan merintis kehidupan baru.
Di bencana kali ini, ada perasaan kehilangan pada diriku saat hanya bisa mendengar dan melihat sekaligus melewatkan momen untuk bisa mengikat diri dalam satu rasa dengan mereka; berinteraksi dan saling mengisi kekosongan hidup untuk menjadi hikayat yang penuh makna.
Setelah lebih dari dua minggu berkutat dengan buku terbaru karya Cak Nun ini, barulah diriku bisa nge-klik satu frekuensi dengan yang ditampilkannya. Sebenarnya hampir tidak ada beda dengan gaya tulisan Cak Nun pada umumnya, yang menggunakan kalimat baku dengan kandungan renungan yang tidak baku, lebih dari sekedar subjek predikat objek dalam kalimat berita.
Komentar Terakhir