Satu Jalan Menuju ke Rumah

Tahun 2004 aku membeli rumah di lokasi timur laut Jogja. Tepatnya sih pinjam bank untuk membayar rumah yang aku beli. Jatuhnya mahal karena tidak bisa masuk KPR melainkan Kredit Multi Guna. Tapi gpp lah. Yang penting dapat rumah yang bisa langsung ditempati. Nilai fungsi ini yang aku anggap masih lebih dibanding dengan harus menunggu rumah baru dibangun sekitar 6 bulan lagi plus pengurusan sertifikat.

Waktu itu daerah ini masih ada di pinggiran kota budaya ini. Eh, sekarang pun masih😀 . Yang namanya daerah pinggiran, tahu sendiri, akses jalan menuju ke rumah meskipun sudah beraspal dengan kategori jalan sekunder kolektor kelas III (tebakanku saja) namun sepanjang jalan ini masih belum ada lampu penerangan jalan. Dan parahnya, begitu banyak bulak (jalan yang diapit persawahan–jawa/jogja), sehingga jika terpaksa pulang setelah maghrib aku harus dag dig dug melewati jalan sepi nan gelap itu. Bukan takut dengan makhluk halus, justru makhluk kasarnya yang menyeramkan. Namun Alhamdulillah sampai sekarang tidak pernah terjadi apa-apa.

Jarak dari jalan aspal kelas III ke rumah sekitar 400 meteran. Pada waktu itu seingatku ada 3 toko di jalan 400 meteran ini. Dua toko kelontong, dan 1 toko pulsa.

Mungkin banyak yang tanya kenapa juga aku mesti mendeskripsikan jalur rumahku bahkan mengingat-ingat toko yang ada. Aku sendiri sebetulnya tidak terlalu perhatian dengan lingkunganku mengingat aku orang bukan tipe orang yang suka berorganisasi dan sosial. Eiittss… tapi jangan sebut diriku antisosial. Minimal aku sudah ikut iuran rutin RT Rp 10.000,- per bulan😀.

Satu hal yang membuat aku mengarsip topik ini karena perkembangan lingkungan jalan dalam 4 tahun terakhir ini yang sangat cepat. Terhitung sekitar 20-an toko baru ada di kanan kiri jalan ini. Tiga toko yang pertama tinggal sisa 1 yang berkembang menjadi toko kelontong. Dua lainnya tewas dengan suksesnya.  Sedangkan dari 20-an toko ini seingatku belum ada yang lewat satu tahun. Beberapa baru berjalan sekian bulan kemudian sudah berganti jenis toko. Begitu dan seterusnya.

Dulu pas masih memakai celana pendek merah dengan dasi tut wuri handayani, aku dengan takjubnya merasa sangat bangga ketika guru kelasku menerangkan sistem perekonomian kita yang Pancasila. Sangat berbeda dengan ekonomi liberal, sosialis, apalagi komunis, ekonomi Pancasila merupakan bentuk sistem perekonomian yang bisa menjadi jalan tengah antara sistem perekonomian yang telah disebutkan di atas. Well… rasanya bangga banget mempunyai pendahulu yang sangat cerdas dalam membuat ideologi meletakkan dasar  yang baru bersamaan dengan lahirnya bangsa dan negara yang baru. Indonesia.

Ekonomi Pancasila yang menganut ideologi ekonomi kerakyatan kalo tidak salah tangkap adalah ekonomi yang berbasis kepada kepentingan rakyat pengusaha kecil dan menengah. Berkebalikan dengan ekonomi pasar yang menyerahkan semua sistem ekonomi pada mekanisme pasar yang sedang berlangsung.

Kok jadi terlalu berat ya.

Begini, perkembangan ekonomi super mikro yang terjadi di lingkunganku dalam kurun waktu 4 tahun terakhir tidak mengarah kepada ekonomi kerakyatan maupun ekonomi pasar. Pelaku pasar di sini seolah-olah tidak mempunyai pegangan harus melangkah ke arah mana. Buka usaha baru, 3 bulan tutup, ganti usaha. Begitu seterusnya. Tidak ada orientasi harus diolah seperti apa modal yang mereka punya. Yang penting adalah modal itu tidak dipakai untuk kepentingan konsumtif. Biar habis asal berlangsung lambat, setidak-tidaknya cukup untuk satu periode meletakkan dasar ekonomi yang kokoh buat generasi berikutnya. (Kalo berhasil).

Dari hal-hal yang sederhana saja tentang bagaimana menyusun manajemen toko, mencatat aliran uang, mengatur barang, membina networking, pemahaman tentang supply dan demand, hingga kepada analisis dan evaluasi, mereka lakukan secara otodidak. Memang tidak ada survey resmi tentang hal ini apakah mereka sudah melakukannya dengan bagus sesuai dengan teori-teori kuliahan, tetapi dari para pelaku yang rata-rata orang rumahan tentu saja motivasi utama adalah bagaimana mereka bisa menggerakkan dana yang ada supaya tidak terpakai untuk kepentingan konsumtif.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk para pelaku ekonomi super mikro ini? Nothing. Meskipun banyak orang pintar pengamat bilang bahwa pada saat krisis ekonomi yang baru saja terjadi beberapa tahun lalu hingga sekarang, usaha kecil dan menengahlah yang terbukti bisa bertahan. Benarkah anggapan ini? Jangan-jangan isu ini sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Tidak diurusi saja bisa bertahan, jadi prioritasnya bisa dialihkan ke hal yang lain. Di bidang ekonomi jelas ekonomi makrolah yang berusaha dibangun kembali oleh pemerintah mengingat persentase keuangannya sangat besar mempengaruhi PDB atau indikator apalah istilahnya.

Dari semua yang deskripsi di atas, barangkali fenomena yang terjadi tentang bagaimana usaha kecil dan menengah bisa bertahan ya karena usaha besarnya sudah bangkrut, modal tinggal sedikit sehingga mau tidak mau skala usahanya menjadi semakin mengecil. Ya ngga sih? Tau ah, bingung…

Sayangnya basicku bukan ekonomi. Seandainya saja aku punya sedikit saja pengetahuan tentang ekonomi rasanya aku ingin berteriak : ada yang salah dengan urusan wong cilik kita. Apa itu? Entahlah.

Aku cuma bisa merasakan saja, tidak bisa mengungkapkan. Perasaan yang terasa mengganjal akan ketimpangan yang terjadi di depan mata. Perasaan yang terkekang oleh ketiadaan kuasa yang bisa melepaskannya.

Explore posts in the same categories: Mula

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Komentar pada “Satu Jalan Menuju ke Rumah”

  1. Den Mas Says:

    Bongkar-bongkar blog, akhirnya ketahuan juga kalau tinggalnya di Jogja😀

    *kayane iso entuk pertamax akeh kih😀

  2. ~noe~ Says:

    iki kompak banget sama bundo.
    lagi hobi bongkar-bongkar arsip🙂
    emang diriku ada rumah di jogja kok, den.
    cuma domisili masih di sepanjang pantura, wira wiri, hilir mudik🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: