Asumsi-isme

Kecepatan mobilku yang dikemudikan kawanku mungkin di kisaran 100kmpj pada subuh itu. Tepat sebelum melintas jembatan, dari arah depan ada Carry mencoba menyalip Kijang. Di belakang Carry ini ada sebuah motor yang berjalan dengan kecepatan sama dengan Carry tadi. Mungkin karena mengantuk atau karena terkejut, kawanku langsung mengerem habis dengan membanting ke kiri ke luar bahu jalan. Akibatnya mobil tidak bisa dikendalikan dan setelah tiga kendaraan bermotor dari arah depan tadi dihajar satu per satu, mobilku sukses nyungsep di tonggak jembatan. Tiga hari dua malam menginap di polres cukuplah untuk tenger-tenger (kondisi pengembalian kesadaran setelah terkejut–jawa) tentang kejadian ini.

Manusia hidup dan berbuat tidak terlepas dari asumsi yang dibuatnya sendiri bersamaan dengan pengalaman hidup yang pernah ditempuh. Asumsi-asumsi ini seolah-olah menjadi peraturan tak tertulis, bahkan terkadang mengalahkan peraturan yang sudah baku. Jalan raya, dalam hal ini lalu lintasnya, cukup untuk bisa dijadikan model tentang asumsi ini.

Di negara maju, atau negara dengan konsistensi penegakan peraturan bagus, asumsi masyarakat sudah lebih banyak diwadahi dalam bentuk aturan-aturan yang mengikat secara hukum. Hal ini dengan asumsi juga bahwa negara yang sudah maju itu mempunyai kelas masyarakat yang lebih berkemanusiaan yang adil dan beradab.

Menurut ilmu perasumsian yang saya dapat dari siluet asap a-mild saat pranala laku tiap pagi di kamar belakang, asumsi terbagi menjadi 2 jenis atau ukuran, yaitu :

1. asumsi publik, yaitu kesamaan asumsi tentang suatu hal yang telah menjadi kesepakatan tidak tertulis di masyarakat. Kesepakatan ini timbul karena belum ada aturan resminya, sehingga demi kelancaran kemaslahatan umum, masyarakat membuat asumsi sendiri. Jika aturan yang resmi telah dibuat, aturan asumsi itu tidak serta merta hilang, melainkan pelan-pelan seiring dengan konsistensi penegakan peraturan itu terutama oleh pak pulisi ndut. Di awalnya terjadi resistensi asumsi lama terhadap aturan resmi yang baru.

Cukup banyak contoh point 1 di atas. Lampu lalu lintas, rambu-rambu, marka jalan, dlsb yang sering dilanggar oleh masyarakat. Kita tidak bisa serta merta memvonis salah terhadap pelanggaran masyarakat terhadap rambu-rambu itu pada saat itu, melainkan harus melihat histori yang terjadi di sekitar rambu-rambu tersebut. Memang di satu sisi dapat terlihat kelas masyarakat kita, namun di sisi lain ini bisa menjadi pembelajaran bagi aparat dan masyarakat sendiri mengenai pentingnya sebuah aturan dibuat untuk mewadahi asumsi.

Masa transisi ini tentu saja merupakan masa-masa aparat hanya bisa manyun, namun di sisi lain bisa sebaliknya yaitu menjadi lahan basah buat pak pulisi ndut.

2. asumsi pribadi atau individu, yaitu kebalikan dari asumsi publik. Individu yang mempunyai asumsi ini bisa jadi seorang yang egois atau setidaknya dia mempunyai karakter kuat.

Kejadian yang menimpa kami di atas bisa dijelaskan dengan adanya asumsi individu yang berbeda. Tidak ada aturan tertulis yang menyebutkan, jika kendaraan anda berkecepatan sekian kmpj dan kendaraan di depan berkecepatan sekian kmpj, rem kendaraan dalam kondisi prima, pedal gas kondisi mulus, maka bla… bla… bla… diperbolehkan menyalip. Yang ada di sini hanyalah asumsi jika dirasa aman, salip saja. Kondisi ‘aman’ ini bersifat relatif. Waktu yang dibutuhkan individu untuk bereaksi terhadap kondisi tertentu berbeda-beda.

Kawanku berasumsi bahwa dengan isyarat lampu sorot dan bel sudah cukup untuk membuat kendaraan di depan yang berlawanan arah bisa mengalah untuk tidak menyalip duluan, sementara dari arah depan berasumsi bahwa mobilku masih ada cukup waktu untuk memperlambat kendaraan sementara dia menyalip.

Hasilnya sudah aku ceritakan di atas😦 .

Tentu saja kehidupan tidak melulu hanya di jalan raya. Banyak dari aktivitas kita yang berlandaskan asumsi yang kita buat sendiri.

OK, coba kita runut aktivitas rutin kita satu harian dengan target presentasi laporan di kantor atau sekolah besok pagi.

1. Bangun tidur kuterus mandi. Asumsinya : PAM tidak mati, pompa air tidak rusak, sabun mandi tidak digondol tikus, tidak ada tetangga yang pengin numpang mandi, tidak ada yang sakit perut sehingga harus berlama-lama di kaskus, dll.

2. Sarapan. Asumsinya : kompor tidak rusak, koki tidak sakit, dll

3. Persiapan ke kantor atau sekolah. Asumsinya : kendaraan bisa distarter, pas distarter tidak mledug, bagi yang naik kendaraan umum akan lebih banyak lagi ketergantungannya karena masuk dalam asumsi publik, misalnya tidak ada pemogokan angkot, sopir angkotnya tidak bangun kesiangan, mobil angkot tidak mogok.

4. Perjalanan ke kantor atau sekolah. Asumsinya : jalan tidak macet total, kendaraan baik-baik saja, tidak ditilang, dlsb.

4. dst silakan dilanjut sendiri… berapa banyak asumsi yang otomatis kita buat dan dijadikan pengambilan keputusan sampai pada tujuannya yaitu kita bisa mempresentasikan laporan kita di kantor atau sekolah.

Hal-hal di atas hanya contoh kecil dari hal sepele yang sudah rutin kita lakukan sehari-hari.

So, bagaimana kita menyikapi asumsi-asumsi yang telah menjadi teman hidup, bahkan ideologi terselubung yang sangat mempengaruhi jalan hidup ini?

Aku tidak memberikan solusi atau saran, karena ini hanya wacanaku saja, mungkin saja di ilmu psikologi atau filsafat sudah dibahas lebih detil. Hanya saja untuk asumsi individu, asumsi kita sendiri, yang belum berlaku secara umum, atau bahkan bertentangan dengan aturan baru, kita harus bisa melapangkan dada kita untuk memberi kesempatan kepada asumsi-asumsi individu lain yang berinteraksi dalam kehidupan kita, khususnya jika asumsi itu mempengaruhi kehidupan saat itu juga. Maksudnya Hidup atau Mati…

Waspadalah… waspadalah…

Explore posts in the same categories: Mula

Tag: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: