Profesionalisme adalah…

………

………

“Masa gak ada gambar dekor, gambar suasana resepsinya?” tanyaku harap-harap cemas L

“Pengantinnya kan nggak pesan, Mas”, jawab suara dari seberang telepon.

“Yahh…, kan standar foto manten mulai dari masuk gedung, suasana resepsi, dll, nanti kalo sudah jadi tinggal rembugan mana yang mau dicetak”, protesku.

“Itu kan kalo foto hobi. Kalo profesional harus memperhitungkan depresiasi alat. Kemarin cuma pesan 3 paket, kalo saya harus moto yang lain akan lebih banyak lagi paketnya. Takutnya nanti tidak dicetak”.

“Bagaimana dengan service? Seharusnya itu kan dimasukkan ke dalam service ke pelanggan”.

Agak ada jeda sebentar.

“Berarti aku salah orang”, kalimat terakhirku mengakhiri perdebatan dengan tukang foto manten yang sangat profesional itu.

“Ya”, jawabnya singkat. Mungkin kesal juga malam-malam dikomplain.

 

Sudah lewat. Semuanya.

Yang ada tinggal garuk-garuk kepala nggak ngerti kenapa bisa dapat studio foto yang sangat “profesional”. Tahu begini aku menyetujui usulan teteh untuk memakai fotografer amatir teman adiknya. Sistemnya bisa keroyokan. Ada fotografer utamanya, fotografer candid, ada yang tongkrongan petita petiti dengan nyangking kamera dengan lensa yang super wide.

Kemarin yang kami dapat adalah studio foto profesional dengan konsep foto manten adalah foto yang ada gambar mantennya.

Yang kami dapat adalah foto studio tanpa jiwa, tanpa improvisasi.

Yang kami dapat adalah gambar diriku yang culun di setiap cetakan foto. Sampai empet melihat diri sendiri karena saking banyaknya.

 

Seandainya saja aku membawa kamera poket sajalah, mungkin aku sudah turun dari panggung untuk mengabadikan dekorasi pesta kebun yang hampir semua undangan mengacungkan dua jempolnya untuk suasana resepsi yang lain dari yang lain. Tapi bagaimana mungkin, melangkahkan kaki saja sulit, mengingat tamunya mbanyu mili untuk salaman.

 

Heran.

Di era globalisasi zaman persaingan bisnis tambah berat, yang mengharuskan pelakunya bermain cantik di celah sempit, masih ada beberapa pelaku yang menerjemahkan keprofesionalitasnya dengan, menurutku, salah. Seperti contoh di atas, studio foto yang kami pesan menekankan profesionalitas adalah dengan perhitungan biaya produksi dibandingkan dengan hasil (income) yang didapat. Ini terbukti dengan alasan depresiasi alat yang terjadi jika memaksimalkan pekerjaannya.

Teori prinsip ekonomi yang aku dapat di kelas 1 SMP, dengan gurunya waktu itu Pak Heru, dengan modal sekecil-kecilnya memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Meskipun ada kontradiksi dengan ilmu agama yang mengajarkan tidak boleh mengambil keuntungan yang berlipat-lipat kecuali untuk barang yang bersifat unik, misalnya lukisan, tanah, dll. Cmiiw.

Prinsip ekonomi itu secara telanjang diterapkan oleh studio foto itu dalam menjalankan bisnisnya, meskipun perkembangan ilmu bisnis sudah sedemikian maju. Foto studio merupakan bisnis campuran antara barang dan jasa. Barang dalam bentuk hasil cetakan. Jasa dalam bentuk pelayanan pada saat acara dan hasil kemampuan mengambil gambar (yang tentunya subjektif menurut klien).

 

Dalam kasus ini, bentuk barangnya sudah OK-lah menurutku, meskipun aku harus menuruti kemauannya mencetak 5 paket dari sebetulnya cuma 3 paket foto. Ini sebetulnya juga menunjukkan ketidakprofesionalitasannya.

Hasil dari jasa inilah yang menurutku sangat tidak memuaskan.

Kenapa aku bisa bilang tidak memuaskan?

Ya, karena kliennya, yaitu aku, memang tidak puas.

Kenapa bisa tidak puas?

Ya, karena prinsip foto mantennya dia ternyata foto yang ada mantennya.

Kenapa bisa terjadi hanya foto yang ada mantennya saja?

Karena dia terlalu profesional, dengan mengacu biaya produksi dibanding income.

Kenapa? Apakah profesional tidak bagus?

Profesionalisme yang kaku dan kebablasan, hanya mempertimbangkan sisi klien dari duit dan duit saja. Berapa klien mau bayar dia. Sama sekali tidak menyentuh sisi rasa yang memang lebih irrasional. Salah besar untuk bisnis jasa seperti ini, bisnis yang berorientasi kepada kepuasan klien. Bisnis yang bisa tumbuh besar karena networking dari klien.

Jadi maumu apa sih?

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada studio foto yang pernah berhubungan secara “profesional” dengan kami, aku hanya tidak ingin orang lain mengalami kejadian yang sama denganku, dengan menginformasikan nama studio foto ini.

Apa namanya?

ARTCHA Photography di Yogyakarta

Ada kesimpulannya, ndak?

Ya, aku cuma menjustifikasi argumenku tentang service untuk klien di bisnis jasa ini, bahwa bisnis jasa tidak semata-mata berbasis prinsip ekonomi.

Terbukti nama ARTCHA Photography muncul di internet, diblog-ku, dengan status TIDAK DIREKOMENDASIKAN.

 

Demikian, bisa jadi tulisan ini banyak sekali mengandung unsur subjektivitasnya karena baru beberapa menit yang lalu aku berdebat masalah ini. Jika dalam beberapa waktu ke depan pikiran objektifku menyatakan tulisan ini salah, aku akan menghapusnya. Untuk ARTCHA Photography, kritik ini semoga bisa menambah referensi untuk lebih baik lagi di masa datang.

 

Salam kecewa…

Explore posts in the same categories: MyMerit

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

5 Komentar pada “Profesionalisme adalah…”


  1. […] mungkin saja bisa terlewatkan oleh panitia manten. Jangan sampai ada kejadian seperti topik foto studio profesional […]

  2. malmos Says:

    woooo…. bedhes nying-nying kuwi!!!

    swetuju, mending kemarin kroyokan saja om.
    balkurawa kan juga siyap membantu. ada boim, nonong, dkk. kbetulan mereka juga punya kamera yg memadai…

    siyal!! ikut prihatin dan bisa merasakan apa yg kau rasakan teman…

  3. delenger Says:

    haturnuhun empatinya
    sayang waktu ga bisa kembali. seandainya bisa, pengen mbalik pas SD wae…
    tanpo beban, maling pithik yo ra popo.

  4. Den Mas Says:

    Woh, berarti perkiraanku nggak meleset, dan betul-betul betul😀

    Aku sempat kepikiran untuk minta tolong temen2 di fotografer.net, yang masih pemula, tapi punya ‘bakat’ yang terlihat dari karya2nya. Pertimbangannya, kalau pemula kan masih butuh portofolio untuk karya2nya, jadi negonya bisa lebih sadis😀
    (paling hanya ngasih akomodasi saja)

    • ~noe~ Says:

      itulah, di FN diriku tidak terlalu aktif. padahal kan base campnya di jogja.
      pertimbangan logika bahwa profesional pasti lebih bagus dibanding amatir menjadi sesuatu yang utama. tapi yang sudah terjadi, terjadilah😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: