Kontrol

  

Beberapa menit setelah melewati Pos 1 Wesewesen Lawu, hujan dari kabut yang tebal turun juga. Ini adalah fenomena pertama yang aku temui selama beberapa kali pendakian, yaitu hujan yang turun sangat-sangat lokal. Beberapa pendaki terhenti langkahnya tepat beberapa jengkal sebelum daerah yang kena hujan. Aku yang belum tahu jika ada hujan di depan, agak tertegun juga ketika satu kaki yang melangkah di depan terkena air hujan, sementara kaki kiri yang di belakang menginjak setapak yang masih kering. Segera kutarik kaki kananku ke belakang selangkah. Sekarang tempat aku berdiri masih kering, sementara hanya dua jengkal di depan hujan turun rintik-rintik. Kulihat ke atas tidak ada pohon atau sesuatu yang bisa menghalangi hujan di tempatku berdiri.

 

Beberapa menit aku terdiam di sana melihat hujan lokal ini. Unik juga, hujan lokal ini bertahan cukup lama sampai reda, tidak menyebar. Aku membuka ransel untuk mengambil mantel. Untuk jaga-jaga jika hujan turun lagi, mengingat aku paling tidak tahan dingin karena basah.

Sementara itu, dari kelompok pendaki lain terdengar suara-suara persiapan menghadapi hujan dengan memakai mantel.

“Kau bawa jas hujan, ngga?” sebuah suara terdengar.

“Bawa”, sebuah warna suara lain menyahut.

“Kamu?”

“Bawa”

“Bawa”

“Bawa”

“Kan sudah aku bilang harus bawa jas hujan yang ponco, bisa multifungsi”.

“Pake jaketku saja, antiair”.

Sebuah diskusi yang umum terjadi di beberapa pendakian gunung yang tidak terlalu berat medannya seperti Lawu ini.

 

Perencanaan sangat tergantung dari teori dan pengalaman. Tidak tertutup juga dipengaruhi hal subjektif, yaitu sifat manusia. Dalam hal ini, perencanaan pendakian di mana pun lokasinya, sebaiknya tetap mengikuti teori atau petunjuk kebutuhan perlengkapan pendakian. Kebutuhan akan perlengkapan pendakian sudah banyak tertulis di situs-situs internet. Tinggal googling, sim salabim, ribuan link langsung tersedia. Salah satunya ini. Thanks, Bro…

 

Beberapa penyebab utama yang terjadi terkait dengan kejadian di atas bisa disebabkan dua faktor, yaitu ketidaktahuan pendaki tentang peralatan yang dibutuhkan atau malah sebaliknya, yaitu kepercayaan diri yang berlebihan berdasarkan pengalaman pendakian sebelumnya.

 

Aku masih ingat sekitar 10 tahunan yang lalu, pada saat mendaki Gede Pangrango, sekelompok pendaki abg dari Jakarta “dihabisi” oleh para volunteer penjaga gunung karena memakai peralatan seadanya. Sandal jepit kamar mandi, celana pendek, tanpa jaket. Mereka benar-benar “dinolkan” oleh para volunteer itu, sebelum kemudian diberi bekal peralatan yang layak oleh volunteer.

“Kejam nian dirimu, kang”, sindirku pada saat setelah kejadian itu.

“Akan lebih kejam kalo kita membiarkan mereka meneruskan perjalanan dengan peralatan seadanya. Akan lebih banyak yang dipertaruhkan : nyawa mereka, nama baik gunung ini, nama baik pendaki lain, dan banyak lagi hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika terjadi apa-apa terhadap mereka”, jelasnya seraya bangkit dari tempat duduknya di Kandang Badak.

 

Lawu. Dan hampir semua gunung di Jawa Tengah, tidak mempunyai kontrol yang bagus terhadap para pendaki. Sistem kontrol ini menyangkut prosedur maupun orangnya. Pada saat pertama kali datang di sini, kesan pertama adalah area gunung ini adalah area wisata, jauh meninggalkan kesan sebagai suatu daerah liar dengan segala kemungkinannya. Bagus memang, karena hal ini akan membuat gambaran yang cukup bagus bagi para pendaki yang berlatar belakang tidak dari organisasi pecinta alam dan sejenisnya. Termasuk aku🙂

 

Kontrol tersebut bisa bertingkat-tingkat.

Yang pertama adalah kontrol dari diri sendiri, berlanjut ke kontrol dari kelompoknya, kemudian kontrol dari yang berwenang, dalam hal ini petugas penjaga gunung, dan terakhir kontrol dari alam.

 

1. Pikiran untuk mengedepankan pengalaman diri sebaiknya dihindari dulu, atau cukup dijadikan referensi untuk pendakian berikutnya. Text book, kata-kata yang lebih sering dipakai dalam kalimat yang menggambarkan tentang ketidakmampuan seseorang dalam berimprovisasi, dalam hal ini jauh lebih penting dari segudang pengalaman.

 

2. Sebaliknya jika kita berada pada posisi mengontrol kawan sekelompok pendakian kita, sebaiknya tidak usah ragu untuk memberikan masukan bahkan jika perlu menolak atau membatalkan pendakian jika ada anggota kelompok yang keukeuh tidak melengkapi peralatannya. Jangan pernah terpikir untuk memamerkan peralatan kita yang lebih lengkap, melainkan niatilah untuk memberikan contoh yang baik tentang perlengkapan. Beda niat; beda ibadahnya :-p

 

3. Di sisi petugas penjaga gunung, prosedur pendakian gunung sebaiknya sudah distandarisasi secara nasional tergantung tingkat kesulitan gunung. Minimal cek dan ricek personel, perlengkapan, ransum, baik pada saat berangkat maupun turun. Sekarang terkesan ada dilema antara menolak pendaki yang tanpa peralatan lengkap dengan pertimbangan faktor keamanan, atau memberi izin pendakian dengan tujuan pemasukan retribusi tempat wisata. Dua hal di atas tentunya masih bisa disolusikan dengan berbagai cara, sumbang pikiran, dan lain-lain.

 

4. Yang terakhir dari kontrol ini adalah kontrol dari alam. Teori seleksi alam akan berlaku mengiringi perjalanan pendakian. Makhluk hidup yang mempunyai kemampuan bertahan terhadap kondisi lingkungan akan mempunyai daya tahan hidup yang lebih baik dari yang tidak. Kata teori biologi pas SMP lho.

 

Untuk itu, marilah kawan-kawan, sobat-sobat sekalian, sebelum kontrol dari alam menyapa kita, alangkah lebih baiknya jika mulai dari diri kita sendiri yang mengontrol kemampuan kita untuk bisa menikmati indahnya proses pendakian.

 

Meminjam petuah dari Aa Gym:

Mulai dari yang kecil-kecil.

Mulai dari diri sendiri.

Mulai saat ini juga.

 

Salam…

 

 

 

Explore posts in the same categories: Blusukan

Tag: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Komentar pada “Kontrol”

  1. slamet Says:

    kulo nuwun
    ada cerita ke slamet g?
    hehehe….

  2. donyirawan Says:

    suka blusukan gunung ya. Kalo njlojor ke timur, ke magetan-madiun ada napak tilas saya disana.
    monggo mampir..

  3. delenger Says:

    wah, ya sekarang ndak lagi om. sudah tuwir ketiwir.
    menyesalnya aku ga pernah mampir jawa timur. pdhal katanya indah ya.
    magetan-madiun ono opo? Maospati ya😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: