Memori Kanak-Kanak

Teman-temaaannn, sebelum kita pulang

Marilah kita berdoa

Agar selamat di jalan

Berdoa mulai

Kami ucapkan

Dan terimakasih

Kepada Tuhan

Atas keselamatan yang telah kami terima

Ayah ibu kakak adik

Dan teman-teman kami semua

Aaamiinnn…..

 

Doa yang diucapkan sebelum bubaran kelas pada waktu aku duduk di DPR Taman Kanak-Kanak tahun 1979-1980. TK Nol Besar. Seorang anak akan memimpin doa ini di depan kelas dengan sistem bergilir setiap harinya.

Kemarin, keponakanku meminta diajari doa, yang bersifat general tentunya, dan spontan saja terlontar doa pada saat aku masih TK itu.

Begitu bait terakhir selesai, aku tertegun sendiri sepersekian detik. Heran saja. Entah, memori seperti ini muncul begitu saja.

 

Kucoba mengingat-ingat apa saja yang masih aku ingat ketika informasi itu aku terima pada masa lampau. Merunut kembali kenangan masa silam sekaligus mencoba menggali kembali pondasi yang tidak sengaja aku buat ketika masih kecil.

 

Benar atau tidak, menurut ingatanku sendiri, informasi, baik yang bersifat ilmu pengetahuan atau segala sesuatunya, tertanam cukup dalam pada saat usiaku belum dewasa.

Banyak hal pondasi ilmu pengetahuan masa itu yang masih sering aku pakai hingga saat ini. Sebut saja : nama dan bentuk bendera negara, mata uang di dunia, hapalan surat Quran, GBHN, nama menteri pada masa itu, hasil tambang di Nusantara, letak negara, dll. Sebagian besar aku masih ingat, meskipun tidak seratus persen. Bandingkan jika sekarang aku harus mengingat hal-hal tersebut pada saat ini. Pyuhhh… lusa akan hilang lagi, kecuali setiap saat memori itu aku pakai.

 

Jual bayam pembeli tali

Tali hilang di atas atap

Sejak ayam menjadi polisi

Banyak elang yang tertangkap

(Pantun jenaka kelas 2 eSDe-1981).

 

Atau struktur makhluk hidup : divisio, kelas, ordo, familia,genus, spesies. (kelas 1SMP-1986)

 

SMA, mungkin karena jamannya abg, kontaminasi pergaulan jelek dan masa pubertas sudah mulai memfilter informasi yang masuk. Memfilter dalam arti suka atau terpaksa dalam menerima informasi itu. Memfilter dalam arti bagaimana kondisi psikisku pada saat informasi itu masuk.

 

Bisa jadi benar kata orang-orang pintar bahwa otak seorang anak ibarat kertas kosong yang dia menerima apa adanya informasi yang masuk tanpa memilah-milah dan tertanam cukup lama karena medianya yang masih bersih.

 

Seperti biasa, dengan kecetekan ilmu otakku, aku tidak bisa menuntaskan pembahasan ini. Namun ada beberapa sisi yang bisa dijadikan pelajaran ke depan tentang bagaimana kita mempelakukan anak cucu kita terkait dengan informasi yang akan masuk ke dalam benak mereka. Tentang bagaimana kita yang harus memfilter sekaligus membentengi otak-otak bersih itu untuk menyiapkan pondasi yang kokoh bagi kehidupan mereka kelak.

 

Seandainya juga tulisan ini aku buat pada saat otakku masih bersih, bisa jadi kerangkanya tidak akan kacau begini. Beberapa butir paragraf yang terlintas beberapa menit yang lalu sekarang sudah terlupa.

Yahh… mungkin next time kalo sudah teringat lagi akan aku lanjutkan.

 

Salam….

Explore posts in the same categories: Ngomyang

2 Komentar pada “Memori Kanak-Kanak”

  1. Arie Says:

    Kowe TK…. aq durung lair yoooo….:P

  2. delenger Says:

    Iyo nduk. lagi digawe mungkin yo :-p
    begitulah adanya… wis tuwir🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: