Komunikasi & Egaliterian dalam Komunitas Modern

Pernahkah terjadi terhadap individu dalam komunitas kita?

Kita merasa telah menjadi bagian penting dari suatu komunitas, namun pada suatu waktu tertentu, ternyata kita bukanlah siapa-siapa di komunitas itu.

Perasaan terabaikan, meskipun sesaat, bisa saja terakumulasi menjadi sebuah tindakan yang berorientasi kepada pencariannya tentang kebutuhan dasarnya di dalam komunitas.

Era komunitas modern, dalam hal ini komunitas dengan dasar kerelaan individu untuk bergabung, eksistensi komunitas dapat dinilai dari lamanya komunitas tersebut hidup beraktivitas di tengah lingkungannya. Kita sebut saja komunitas otomotif, pecinta alam, olahraga, hobi, dan lain-lain.

Sangat penting bagi komunitas itu untuk mengevaluasi hal-hal kecil mengenai perasaan terabaikan ini.

Seberapa sering anggota komunitas itu mengeluh bahwa dia terlupakan pada saat ada kegiatan tertentu.

Seberapa banyak anggota yang harus kesulitan mengingat-ingat kepada siapa informasi getok-tular (dari mulut ke mulut– jawa) akan disampaikan.

Tentunya juga seberapa jauh punggawa komunitas ini mengerti tujuan anggota untuk bergabung di komunitas. Kebutuhan akan berkomunitas secara sukarela bisa jadi ada di area abu-abu dalam hirarki kebutuhan dasar Maslow, yaitu hirarki 3 kebutuhan sosial, 4 kebutuhan penghargaan, dan 5 kebutuhan aktualisasi diri.

Akan menjadi hal yang sangat besar manakala masalah kecil komunikasi ini menimpa anggota komunitas yang tergolong mencari kebutuhan paling tinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri, dan dia merasa terabaikan. Ketiadaan ikatan yuridis akan memudahkan ikatan indvidu itu lepas dari komunitasnya.

Sebentar, ya.

Kata Om Wiki, Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”.

Media hubungan yang dipakai oleh komunitas ini tentu saja komunikasi, baik verbal maupun nonverbal. Komunikasi bisa sesama individu atau dari satu individu ke komunitas.

Komunikasi antarindividu dari zaman baheula sampai dengan sekarang tidak berubah esensinya, hanya medianya saja yang mengalami kemajuan. Seolah-olah baru saja kita hanya bisa berbicara dengan bertatap muka, tak lama kemudian adanya telepon kabel membuat jarak bukanlah kendala. Terakhir hadirnya telepon seluler dengan fitur sms dan mmsnya membuat komunikasi menjadi semakin interaktif. Di lain itu, perkembangan internet membuat adanya media komunikasi yang baru, antara lain chattingemail, dan video conference.

Lain lagi dengan komunikasi dari individu ke suatu komunitas. Bayangkan zaman dahulu, seorang raja, adipati, atau pejabat pada masanya harus mengumpulkan banyak orang di alun-alun hanya untuk mendengarkan pengumuman yang akan disampaikannya. Dengan membawa bende, para punggawa berkeliling kerajaan, membawa TOA tradisional serta diiringi mulut berbusa-busa, hanya untuk mengumumkan acara ini. Sangat berbeda jauh dengan sekarang dengan hadirnya media massa baik cetak maupun elektronik.

Berat… berat… berat…

Tapek dehhh…

Bentuk komunikasi dalam komunitas modern sekarang ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan dengan cara meng-kolaborasikan berbagai jenis media komunikasi yang ada. Selain copy darat, telepon kabel, seluler, sms, mms, mailing list (milis), chatting room, hampir semua sudah mempunyai situs khusus di internet. Sekali lagi tujuannya hanya satu : bagaimana komunitas ini bisa eksis di tengah lingkungan.

Cukup?

Relatif. Masalahnya adalah seberapa cepat informasi itu sampai ke seluruh anggotanya. Seberapa kokoh media informasi ini membuat pagar untuk anggotanya, agar ikatan emosionalnya tetap terjaga.

Selain chatting dan milis, semua media komunikasi tersebut di atas masih mempunyai hirarki bertingkat-tingkat untuk mencapai seluruh anggota.

Ada dua kendala di sini,

Yang pertama, chatting dan milis harus dilakukan dengan media internet. OK-lah jika seluruh anggota memiliki ponsel yang support internet.

Sedangkan kendala yang kedua, adalah semangat dibangunnya suatu komunitas modern mempunyai ciri penghilangan sifat feodal di organisasinya. Sementara komunikasi yang mempunyai hirarki bertingkat-tingkat sangat beraroma feodal. Ada satu kontradiksi di sini.

Sudah banyak komunitas yang cukup tanggap dan kreatif mengatasi kesenjangan semangat pendirian komunitas ini dengan menggunakan media komunikasi yang bisa mengakomodasikan kepentingan komunitas tersebut. Kolaborasi antara kecepatan informasi, ikatan emosional antaranggota, dan sifat egaliter yang menjadi semangat dasar komunitas modern.

Ada satu produk yang menarik untuk dipertimbangkan dalam kegiatan berkomunitas. FlexiMILIS. Produk layanan Telkom yang satu ini terkesan malu-malu untuk dipublikasikan jika dibandingkan dengan saudaranya, Flexi dan Speedy. Bisa jadi karena produk ini bersifat content dan ditujukan ke komunitas yang lebih melek (terbuka mata — jawa) teknologi. Melek di sini diartikan bahwa suatu komunitas modern, dengan karakteristik masing-masing dinilai sudah mampu mengeksplorasi dan memilih sendiri suatu layanan yang bisa mendukung aktivitasnya.

FlexiMILIS, bisa jadi berawal dari ide mailing list, hanya dengan media sms, seseorang bisa mem-broadcast informasi langsung kesemua anggota milis itu. Hirarki hanya terjadi antara pengirim pertama dan penerima. Masing-masing anggota bisa membalas langsung sms tersebut, dan diterima oleh semua anggota pada saat itu juga. Komunikasi model ini akan sangat efektif untuk mendukung kegiatan komunitas khususnya pada saat komunitas tersebut mengadakan suatu event.

Beberapa hal yang bisa diperoleh suatu komunitas ketika memanfaatkan FlexiMILIS ini adalah tidak adanya sekat, pilih kasih penerima informasi, dan feodalisme antara anggota satu dengan anggota lain. Sifat egaliter ini yang akan membuat ikatan emosional antaranggota komunitas lebih kuat lagi.

Sebenarnya tidak hanya komunitas modern ini yang bisa memakai produk ini, organisasi-organisasi resmi pun bisa memanfaatkan kemudahan komunikasi dari produk ini. Pemda, misalnya. Alangkah bahagianya seorang staf rendahan di kantor menerima sms, ucapan selamat lebaran misalnya, langsung dari juragan besarnya di kantor dia. Sementara dari sisi juragan besar, dia hanya mengirim satu sms, dan abrakadabra…, seluruh bawahannya mendapatkan informasi pada saat itu juga.

Pikiran tentang keterabaian, tentang keterpinggiran anggota komunitas, kemunduran bioenergi komunitas karena kendala komunikasi langsung, semoga saja tidak akan terjadi lagi di masa depan salah satunya cukup hanya dengan mencoba produk inovatif ini.

 

Salam…

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment pada “Komunikasi & Egaliterian dalam Komunitas Modern”

  1. komandane Says:

    Jangan lupa, penasehat-penasehat didaftarkan jadi anggota :
    1. Sabdo Wiryono
    2. Windu Joyo Endo
    Dan mereka jangan boleh pangsion dulu.
    Eh, kowe wis ra neng Jogja ding.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: