Angkot : Seleksi Alam vs Kutukan Masyarakat

Oooww… bedes…

Munyuk bin nying-nying!!!

Cuma kata itu yang terlintas dalam benakku. Tidak sampai keluar lewat bibir. Mohon maaf buat monyet dan keluarganya karena keteringatan terhadap kaum kalian hanya pada saat ingin mengeluarkan pikiran jelek nan kotor saja.

Sebuah bus ukuran 3/4 dari sisi kanan memotong ke kiri tepat di depanku. Langsung berhenti, entah itu menaikkan atau menurunkan penumpang. Dengan terpaksa aku menunggu sampai bus itu berjalan lagi, karena untuk memindahkan mobil ke lajur kanan sudah tidak mungkin, mengingat jarak dengan bemper belakang bus sialan itu terlalu mepet. Sesaat kemudian hanya dalam hitungan detik, asap hitam pekat keluar spontan menutupi ruang pandangku, bersamaan dengan bau asap knalpot yang masih bisa menyelinap ke ruang kabin mobilku, itu pertanda bus tadi sudah berjalan lagi.

Mungkin aku hanya satu di antara ribuan jiwa di perkotaan ini yang dengan tidak sengaja mendoakan supaya angkutan kota (angkot) dengan segala jenisnya segera berganti. Terserah akan berganti dengan yang lebih baik, atau berganti dari ada menjadi tidak ada. Yang terpenting adalah tahapan evolusi segera berjalan lagi, tidak dengan bentuk angkot yang sekarang. Baik bentuk fisik maupun jiwanya.

Doa itu,

Terucapkan dengan awalan sumpah serapah. Terciptakan dengan kondisi teraniaya sesaat. Terlontarkan dengan tulus karena reaksi spontan terhadap perlakuan yang diterima syaraf sensorik dan motorik. Terakumulasi dari setiap peristiwa yang hampir serupa, detik demi detik, hingga puluhan tahun untuk mencapai masa sekarang. Terbiaskan dari jiwa bermacam-macam peranan. Ada begundal macam aku, gelandangan, wong edan, pulisi ndut, wak haji, wak guru, dan masih banyak lagi. Bertambah lagi dengan peran majemuk seperti wak haji anak yatim, begundal edan, dll.

Semua berujung ke satu titik, hancurlah engkau angkot. Habislah perilaku yang tidak menghargai sesama. Yup, meskipun itu hanya terlintas sesaat.

Antipati dari satu sisi yang terakumulasi itu pelan-pelan mulai muncul menjadi realita yang mengerikan. Perlahan tetapi pasti, angkutan umum perkotaan mulai menemukan titik jenuhnya. Jenuh dalam satu siklus bisnis keseluruhan.

Orang-orang mengatakan bahwa angkutan umum sekarang kalah dengan sepeda motor. Uang muka ringan, cicilan pikir belakangan. Bisa nggaya, tidak ada ketergantungan waktu menunggu angkot, berdesak-desakan, resiko copet, dll. Tinggal putar kunci kontak, tekan electric starter, plintir gas, sudah siap ke mana saja termasuk mudik dengan jarak ratusan kilometer.

Sementara orang pintar mengatakan bahwa keterpurukan angkutan kota karena faktor-faktor yang sangat kompleks. Mulai dari penataan kota, subsidi bbm dan sparepart kepada angkot, budaya (baca : kelakuan) dari sopir angkot termasuk penumpangnya, dll.

Orang yang lebih pintar lagi bicara tentang ekonomi makro yang belum stabil. Aku ngga mudheng.

Sedangkan bagi begundal wong ndeso macam aku ini, ya seperti tulisan awal di atas, keterpurukan angkutan kota disebabkan hampir semua lapisan masyarakat pernah nyepatani (mengutuk–jawa) angkutan ini. Ke manakah pelaku bisnis angkot ini akan berlindung, jika individu tempat berlindungnya setidak-tidaknya pernah merasakan perlakuan semena-mena dari sopir angkot. Boleh dibaca : pernah ikut mengutuk.

Untung saja, meskipun rada irrasional tapi aku sempat makan sekolahan juga. Kesetimbangan itu adalah otomatis, sehingga opini yang berimbang antara irrasional dengan rasional menjadi suatu kewajiban.

Ada satu teori seleksi alam yang dicetuskan oleh penggagas teori evolusi yaitu Charles Darwin. Terlepas kebenaran teori evolusi yang sampai saat ini masih simpang siur karena sanggahan-sanggahan dari pro-penciptaan, seleksi alam ini masih masuk akal dengan kondisi angkot kita.

Seleksi alam yang dimaksud dalam teori evolusi adalah teori bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dan sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya. 

Angkot, analogikan saja sebagai sistem yang hidup bergerak di tengah perkembangan sosial yang dinamis. Syarat-syarat kehidupan bagi angkot ada banyak sekali, meliputi bahan bakar, spare part, penumpang (makanan), sistem jalan raya, dan hal-hal yang secara tidak langsung berhubungan dengan angkot, seperti gaya mengemudi sopir, perlakuan terhadap penumpang dan pemakai jalan lain, dan lain-lain. Syarat-syarat tersebut harus ada jika angkot ingin tetap eksis.

Lantas, bagaimanakah kondisi syarat-syarat tersebut pada saat ini?

Ada dan masih lengkap, hanya syarat utamanya yang punya kecenderungan tidak mau memanfaatkan jasa angkot. Syarat utama adalah penumpang. Sebaik apapun sistem transportasi, tanpa penumpang ia bukanlah alat transportasi. Hidup dengan subsidi masih bisa, hanya ia tidak menjalankan fungsinya dengan sebagaimana mestinya. Setinggi-tingginya biaya operasional, asalkan jumlah penumpang mencukupi untuk menutup biaya tersebut, sudah jelas angkot masih bisa eksis.

Penumpang, yang notabene manusia, adalah bagian dari sistem atau alam transportasi yang dinamis. Dalam beberapa tahun terakhir ini, perkembangan sistem transportasi berubah sangat cepat, alam sudah berubah. Manusia telah beradaptasi dengan alam transportasi yang telah berubah. Perubahan itu meliputi segmen kenyamanan, ketepatan waktu, keamanan, kemudahan. Dalam arti, manusia sudah menginginkan segmen tersebut disandang oleh angkot masa kini.

Di satu pihak, angkot dengan segala jenis pelaku bisnisnya ternyata hanya bergeming dalam menghadapi perubahan ini. Mereka terkesan keukeuh mempertahankan dirinya sendiri dengan menawarkan layanan sama seperti beberapa tahun silam. Euforia kejayaan masa lalu ternyata masih menjadi harapan akan terjadi lagi di masa depan. Tidakkah mereka melihat raksasa-raksasa bisnis bidang apa saja mulai banting-bantingan harga, menawarkan kemudahan, dengan segala caranya menarik respek pelanggan. Tidak anehkah mereka melihat kelakuan sopir yang sering melanggar aturan lalulintas, menempuh cara pintas dengan demo destruktif, mogok massal, membiarkan copet gerilya. Jika ada perusahaan angkot yang berani berinovasi akan mereka tolak karena dianggap mematikan sesama profesi. Semuanya hanya menambah akumulasi kutukan masyarakat saja.

Dua sisi tersebut sangat kontradiktif, mengingat perubahan keinginan dari penumpang berkembang ke arah masa depan, sedangkan keinginan pelaku bisnis angkot kembali ke masa silam. Kapan ketemunya kalo begini?

Orang-orang, orang pintar, orang yang lebih pintar, termasuk pemerintah di dalamnya silakan berinovasi dengan segala intelejensianya. Tapi waktu tidak pernah berhenti. Alam akan terus berputar, termasuk seleksi alam akan memakan makhluk yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya, salah satunya angkot.

Kepada yth. Angkot

Hilangkanlah kutukannya dulu

dan berubahlah ke depan…

 

Salam…

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Satire

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

10 Komentar pada “Angkot : Seleksi Alam vs Kutukan Masyarakat”

  1. komandane Says:

    Tapi mengapa sopir angkot seperti itu? Mengapa penumpang angkot nyegat sak enggon-enggon. Termasuk saya pernah menikmati nyegat angkot kalo jadi sopir angkot nggak minat. Mereka nggak mikir bahwa apa yang mereka lakukan menyusahkan orang lain atau sebenarnya sdh kepikir tapi EGP. Apakah “menyusahkan” orang lain monopoli supir angkot saja? Rupanya tidak, dari guru yg seharusnya idealis, dosen, petugas pajak, anggota DPR, pegawai negri, aparat, pokoknya semua golongan masyarakat di negeri agamis ini mempunyai record yg cukup sering dalam hal menyusahkan orang lain. Kalau ceuk sundana mah pernah pianjingeun (mhn maaf kepada golongan anjring & keluarganya), dan umpatan itu juga cuma di dalam hati. Apalagi diucapkan pas puasa bisa bikin batal.
    Lalu mengapa kita tidak cukup peka, bahwa apa2 yang kita lakukan menyusahkan orang lain atau mengundang umpatan?
    Konon kata orang pinter yang sekolahnya tinggi2 salah satunya krn masalah pendidikan. Lalu kita bertanya? Pendidikan seperti apakah yang mengakibatkan ini?
    Saya jadi inget tulisannya Rendra, dari Sajak Anak Muda :

    Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
    dan bukan ilmu latihan menguraikan.

    Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
    Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
    tidak bisa kita hubung-hubungkan.
    Kita marah pada diri sendiri
    Kita sebal terhadap masa depan.
    Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai.

    Mengapa harus kita terima hidup begini ?
    Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
    dianggap sebagai orang terpelajar,
    tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
    Dan bila ada ada tirani merajalela,
    ia diam tidak bicara,
    kerjanya cuma menyuntik saja.

    Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
    Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
    dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
    sementara hukum dikhianati berulang kali.

    Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
    dianggap bunga plastik,
    sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

    peace

  2. komandane Says:

    Tapi mengapa sopir angkot seperti itu? Mengapa penumpang angkot nyegat sak enggon-enggon. Termasuk saya pernah menikmati nyegat angkot kalo jadi sopir angkot nggak minat. Mereka nggak mikir bahwa apa yang mereka lakukan menyusahkan orang lain atau sebenarnya sdh kepikir tapi EGP. Apakah “menyusahkan” orang lain monopoli supir angkot saja? Rupanya tidak, dari guru yg seharusnya idealis, dosen, petugas pajak, anggota DPR, pegawai negri, aparat, pokoknya semua golongan masyarakat di negeri agamis ini mempunyai record yg cukup sering dalam hal menyusahkan orang lain. Kalau ceuk sundana mah pernah pianjingeun (mhn maaf kepada golongan anjring & keluarganya), dan umpatan itu juga cuma di dalam hati. Apalagi diucapkan pas puasa bisa bikin batal.
    Lalu mengapa kita tidak cukup peka, bahwa apa2 yang kita lakukan menyusahkan orang lain atau mengundang umpatan?
    Konon kata orang pinter yang sekolahnya tinggi2 salah satunya krn masalah pendidikan. Lalu kita bertanya? Pendidikan seperti apakah yang mengakibatkan ini?
    Saya jadi inget tulisannya Rendra :

    Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
    dan bukan ilmu latihan menguraikan.
    Dasar keadilan di dalam pergaulan,
    serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
    sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
    tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

    Mengapa harus kita terima hidup begini ?
    Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
    dianggap sebagai orang terpelajar,
    tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
    Dan bila ada ada tirani merajalela,
    ia diam tidak bicara,
    kerjanya cuma menyuntik saja.

    Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
    Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
    dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
    sementara hukum dikhianati berulang kali.

    Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
    dianggap bunga plastik,
    sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

    peace

  3. delenger Says:

    Komenmu kok sampai 3x lipat berturut. Dadi masuk spam.
    Tadinya suku kata “Rendra” ga kebaca, wah tiwas arep ngomentari puisine. keren banget nget…
    Betul om, memang objek kutukan tidak hanya angkot saja, melainkan banyak lakon dalam perannya masing-masing.
    Kutukan hanya sesuatu di satu sisi yang irrasional pada bahasan di sini selain masalah seleksi alam.
    Bisa jadi sama besar atau sama banyak jumlah sepatan ke kaum2 pendosa di atas, namun selama mereka masih mampu cemantel mengikuti perputaran rodaning ndonya, ostosmatis alam masih harus berjuang lagi dengan kriteria barunya untuk menyeleksi mereka supaya dissapear…
    Eh kok jadi “Mereka”, jadi secara tidak langsung aku menggolongkan diri bukan “mereka”.
    huauwauaha…

  4. Windi Says:

    Namanya aja sopir angkot, bagaimanapun juga dibahas mereka tidak bakalan berubah.

    Kecuali mereka mau baca blog ini, dan kemudian sadar kalo yg dilakukan byk merugikan org laen.

    Mungkin kalo kelak pengusaha angkutan memberlakukan peraturan pengemudi spt halnya pengemudi taksi BlueBird Jakarta :
    – Mahir berkendara
    – Min lulusan SMU & Sederajat
    – Mampu bhs inggris meski sedikit
    – Ngerti peraturan lalu lintas
    – wajib testdrive
    – apabila melanggar dipecat

    Nah tuuuh baru tu sopir bakalan bener dan ramah banget pada penumpangnya he.. he.. he..

    pusing-pusing, akhirnya si sopir angkot sekarang jadi pengusaha Bebek Peking Ha.. Ha… ha…

  5. Bebek Peking Says:

    Bantuin nawarin Bebek Peking dapat komisi
    http://bebek-peking.blogspot.com

  6. delenger Says:

    tengkyu om Windi.
    blognya lagi disusun ya.
    dulu aku sempet juga ternak bebek petelur udah ratusan, tapi tahu2 gak mau ngendog lagi… wulune brodol😦
    dijual afkiran deh.
    kalo sekarang terkendala hidup masih menggelandang, tapi blognya sudah add to favorit.
    tak tunggu artikele yo…

  7. Denok Says:

    angkot..oh…angkot… memang ceniningan kok sopire. Di manapun, karakteristik cara nyetirnya sama. Yak-yakan…
    Setuju, bikin bentuk baru dari angkot, tapi bukan hanya “ganti baju”. Yah, semoga ada pihak terkait yang menyoroti ttg hal ini. Krn juga menyangkut mslh tata kota. Sekalian bus-bus tua yang asapnya udah item itu didaur ulang aja.. kekekekek…. Bikin muka yang kena kayak dakocan.

    Peace…

  8. wahyu Says:

    sopir angkotz,, sopir bis, sopir taksi, sopir becak, sopir ojek, sampe calo preman, semua muanya pernah merugikan orang lain (saya) dan pernah saya nesuni, umpat-umpat, dan didoakan dengan nama penghuni kebun binatang (tapi hanya dalam hati, gak berani kalo sampe kedengeran..)
    Tapi tetep.. yang paling menyebalkan ya itu, sopir bajaj..

  9. delenger Says:

    hahaha
    jadi inget pas rutin naek bajaj dari prumpung ke kampung melayu. bisa menimbulkan efek bajaj-leg.
    om, komen di blognya harus punya blogger dulu ya?


  10. It’s perfect time to make some plans for the future and it’s time to be happy. I’ve read this post and if I could I desire to suggest you few interesting things or tips. Maybe you can write next articles referring to this article. I desire to read more things about it!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: