Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan

ahlan wa sahlan ya Ramadhan

maafkan aku

hari pertama aku tidak kuasa menyambutmu

berkendara enam jam membuat pinggangku kaku

kubutuh asupan cairan pada saat itu juga

ahlan wa sahlan ya Ramadhan

fans beratmu

selalu memuliakanmu

dengan daya imajinasinya masing-masing

atas nama penghormatanmu

membersihkan kotoran-kotoran sosial yang dianggap mengganggu kedatanganmu

mendobrak kesepakatan yuridis atas nama ketertiban

merobek rasa kemanusiaan demi kesucianmu

bagaimana mungkin

orang-orang suci itu

bertutup mata tentang mata rantai duniawi yang di dalamnya telah lama berpegangan tangan

antara si suci dan si pendosa

antara yang terhormat dengan yang nista

 

manakah yang lebih mulia

dia yang bisa hidup atas nama kesucian

atau

dia yang terpaksa hidup dengan menjual kesucian

 

ahlan wa sahlan ya Ramadhan

tidakkah ini munafik

manakala kau bersiap untuk pergi

orang-orang suci itu

mempersiapkan juga sebuah kemenangan besar

kemenangan atas apa?

atas kepongahannya terhadap si pendosa yang terpenjara tanpa bisa mengertimu?

atas kesombongannya menaklukkan sistem duniawi yang telah mereka ikuti 11 bulan sebelumnya,

dan akan mereka ikuti lagi 11 bulan ke depan?

 

ahlan wa sahlan ya Ramadhan

begitupun kau tak tampak lagi

wujud asli tentang kehidupan duniawi ini muncul lagi

tentang kemenangan fans beratmu sehingga merasa sah kembali ke mata rantai itu

tentang kebangkitan si pendosa setelah terpuruk selama penampakanmu

 

apa yang yang kau lihat

tidaklah seindah laporanmu kepada Gustimu

di sini engkau hanya ditamsilkan sebagai pejabat

yang harus disambut dengan tergopoh-gopoh

 

manakah yang lebih indah

menyapamu dengan lingkungan compang-camping apa adanya

dengan konsekuensi dagu yang tertunduk

atau

dengan kesucian duniawi yang semu

yang cukup membuat kepala mendongak

 

maka

alangkah indahnya jika setiap bulan kau bisa menyapa

untuk mengikis kemunafikan itu

untuk mengharfiahkan makna kesucian itu

 

karena kesucian sejati itu

hanya Gustimu yang tahu

 

Kudaile, 04092008

yanglaginunggubedugmaghrib

Explore posts in the same categories: Puishit..., Satire

Tag: , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Komentar pada “Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan”

  1. denok Says:

    Mana yang lebih indah? Mana yang lebih mulia? Tiada yang lebih indah dan mulia tanpa ada kata ikhlas menyertai setiap kegiatan, perbuatan, amal, ibadah, dkk.
    Kebanyakan orang menyambut dan mengisi bulan ramadhan dengan sejumlah petasan di jalan, di pojok rumah, atau di tempat2 tak terduga,
    Sebagiannya mengisinya dengan mengurangi ‘kotoran sosial’ sementara,
    Sebagian mengisi dengan puasa satu bulan penuh dengan berbagai tujuan/latarbelakang,
    Sebagiannya lagi mengisinya dengan memperbanyak amal ibadah yang lain,
    Sebagian kecilnya lagi, mengisinya dengan hati yang ikhlas menunaikan ibadah puasa hanya karena Alloh semata (tentunya dengan dilengkapi dengan ibadah sunah lainnya).
    So, ikhlaskan hati, jadikan bulan ramadhan sbg ancang2 bagi qta untuk menjadikan qt lebih baik, sbg evaluasi, sbg pembelajaran, sbg “patokan” (utk mengikis rumor ‘alime mung ramadhan thok, 11 bulan kembali membejatkan diri’). Jadikan ramadhan selalu ada setiap bulan (baca:bagi dirimu) meski ada 11 bulan yang lain.

    Hehehehe….

  2. delenger Says:

    tumben bisa serius:-/
    tak tambahi ya, sebagian sangat kecil lagi cuma bisa sambat di blog…
    tks 4 comment, jadi ada tambahan referensi, trnyta yg taksajakke mung sebagiane tok ya…
    tiwas nggaya…

  3. Denok Says:

    mung sebagian we wis nggladrah duowone ra ngadubilah… kekekke…
    tapi apik kok..heheh piz, brow..🙂


  4. I’ve also been wondering about the identical matter myself recently. Happy to see an individual on the same wavelength! Nice article.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: