paktua

hari itu aku bertemu dia

wujud rentanya yang masih bergulat dengan cita-cita

raut mukanya menampakkan penuh dengan kerangka obsesi di benaknya

dus sesekali meluncur lugas sebuah epik dari bibirnya

meskipun hanya bisa dimengerti sebagai fabel tentang manusia di kupingku

wujudnya hanya beranalogikan ketika perutku kosong yang memicu asam lambung, membuat tekanan hidrolis dari ulu hati sampai ke leher. sendawa berkolaborasi dengan mual. sesuatu yang sangat tidak beradab di lingkungan biadab ini, menolak proses alami dari metabolisme tubuh.

dongeng tentang korsa segera muncul

hanya ketika dengan sedikit kerat roti kami berbagi

tentang community, tentang persamaan

melebar ngrasani individu

ada pih bung

ada che

castro

 

 

hari itu aku bertemu dia

masih dalam posisi bergeming menantang alam

dua kali sudah dia merasakan euforia merdeka

aku tidak tahu makna posisi itu

apakah cerminan kebanggaan buat dia atas apa yang telah dia sumbangsihkan bagi negeri ini

yang jelas bahwa dia mengerti betul apa yang sudah ditempuh dan diperjuangkan

bagaimana dia harus merakit bedil, meracik mesiu

harus blusukan, berargumen terhadap perut yang terabaikan berminggu-minggu

harus mengikat nadi agar darah bisa berhenti, sementara pelor dicungkil dengan sebelah tangan

waktu itu saya tahu tentang detil yang harus saya kerjakan, katanya

dua kali dia merasakan euforia kemerdekaan

saya ingin sekali lagi, tukasnya, kamu katakan bagaimana caranya.

aku membisu

hening

 …

 

dahinya mengernyit

kamu hanyalah budak manja, sama dengan barudak lain

tumbuh di lingkungan kapitalis yang liberal

demokrasi tanpa batas

dua hal yang tidak konvergen namun masih bisa dipadupadankan oleh berbagai kepentingan

menyelip marhaen dan pih bung di antara celotehnya

sungguh celakanya atau mungkin beruntungnya aku bukan orang yang suka dengan sejarah, politik, ideologi, dan konco-konconya

aku lebih suka menyodorkan 234 kretek dan air mineral gelas kepadanya

daripada ikut berpikir

tidak ada signifikansinya untuk membantunya berpikir

apa sih yang bisa diubah tentang sejarah, sedetik yang lalu saja kita tidak bisa kembali

 

kamu budak kepala batu

saya ada perasaan menyesal telah memerdekakan kamu

dari londo, dari orang kate, dari ningrat

 

dia

memicingkan mata

bukan menyesal karena kamu sudah merdeka, melainkan keterpurukan kamu di ketiak para kolonialis modern tanpa kamu dan generasi kamu sadar

ideologi untuk pegangan saja tidak tahu, bahkan definisi yang paling dasar sekalipun

[terpuruk? ah masak, guwa kan hidup bebas sekarang…]

[tidak ada londo yang nagih pajak jembatan, tidak ada jam malam, tidak ada semua itu]

itu cukup?

setengah ragu aku mengiyakan

dia tercenung sejenak, menatapku nanar

kamu bukan buruh, bukan proletar, sedikit di atas rakyat kebanyakan

namun tidak ada dari kamu yang menjadi mulia melainkan para kapitalis itu

cobalah kamu tundukkan kepalamu menatap arti kemerdekaan dari community di bawahmu

sebab saya yakin suatu saat ada yang akan memikirkan nasibmu yang mengenaskan ini

seperti halnya marhaen

siklus sejarah akan berputar dengan seting yang berbeda

[aku nggak mudheng, ribet banget]

[…]

hari ini aku bertemu dia

hanya ada raga tanpa jiwa, terbang mengalun bersama awan kemerdekaan yang hakiki

keinginan sekali lagi tentang euforia itu, aku yakin telah tercapai dalam damainya

meninggalkan teka-teki keterjajahan berpikirku di sini

di belantara kemerdekaan

 

repotnasi, prapatan lima

rest in peace

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Puishit..., Satire

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

9 Komentar pada “paktua”

  1. Denok Says:

    hhhfffff….baca aja udah ribet, palagi denger langsung ya????
    tp memang, qt cm merdeka di atas kertas ketikane mbah sayuti melik yg dibacakan oleh mbah karno.. blm bisa dikatakan merdeka dlm arti bebas sepenuhnya. Cuma merdekanya terlihat dari ga ada wong londo yang jedar-jeder nembaki wong pribumi thok.
    Di segala bidang, negara kita ini masih menggantungkan diri kepada negara2 lain/organisasi di dunia. Bidang ekonomi amat-sangat erat kaitannya sm politik. Begitu masalah politik dalam negeri muncul maka Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia memberikan peringatan agar reformasi dilanjutkan atau bantuan dihentikan. Misalnya, ketika Indonesia dianggap tidak bisa mengendalikan keamanan di Timor Leste pasca jajak pendapat, IMF langsung menghentikan perundingan pemberian bantuan. Demikian pula Amerika Serikat menghentikan kerja sama di bidang militer. Ini makin jelas ketergantungannya negara kita kepada negara atau organisasi di dunia.
    Selain itu, masyarakat kita masih belum lepas dari yang namanya makhluk kebodohan dan kemiskinan, yg merupakan dampak dari ulah pemerintah kita dlm mengambil kebijakan.
    Wah ribet ngomongin kemerdekaan..
    Btw, merdekanya Timor Timur, trus adanya Gerakan Aceh Merdeka, adanya Organisasi Papua Merdeka, apakah itu mengindikasikan bhw Indonesia menjajah daerahnya sendiri??? hambuh….

  2. delenger Says:

    Wah kok jeru komentare. padahal maksudku ga sampai situ.
    cuma explain sedikit wejangan dari paktua yg aku dewe gak nangkep maksude.
    Paling inget pas dicontohkan, misale klo mau beli barang, klo ada produk dlm negeri maka belilah, seburuk apa pun kualitasnya itu produksi bangsa kita. beli jeruk cari yg lokal. Klo di tiap orang Indonesia ada rasa ini, woww… ga kebayang besarnya negeri ini.
    padahal rasa ini baru sepersekian bagian dari nasionalisme.
    Tks berat udah mampir n ngacak2 :-p

  3. Denok Says:

    hakakakaka… maap2… cz masih melekat isu2 politik yang kubaca seblum test deplu kmrn, jd masih kebawa pikpol (pikiran politik)-ku. Jadi ada aja yg relate kesitu ya…keluarlah koment yg gak mutu kayak gitu…
    Woke, sorry, brow, dah ngacak2…

    Peace..😛

  4. Denok Says:

    oiya, cz ak sedikit tergelitik oleh kalimatmu, “[terpuruk? ah masak, guwa kan hidup bebas sekarang…]

    [tidak ada londo yang nagih pajak jembatan, tidak ada jam malam, tidak ada semua itu]”. Jadi seakan qta memang bener2 ga terjajah, bener2 bebas, bener2 merdeka, padahal qta masih…bla..bla..bla.. yah spt komentku sebelumnya..

    Thx

  5. delenger Says:

    itu artinya ilmu fisipnya sudah mendarah daging tinggal ngasih bumbu rendangnya :-p
    its ok. jujur sebetulnya aku mo nulis apa2 yg dirimu komen, tapi apa daya masih cetek. jadine pating ga nyambung blocking kalimatnya. tenin wis…
    nuwun sis…

  6. komandane Says:

    Om, kalo saya menangkap maksude pak tua itu (perasaan saya lho). “Penyesalan” sebuah generasi terhadap perjuangannya yg diingatnya sebagai sesuatu yg sangat heroik, tohpati & maksimal, tapi kenyataan berikutnya jauh dari utopia kemerdekaan itu sendiri. Dan, hal itu sepertinya selalu menjadi perulangan di tanah air ini. Suatu generasi pernah berharap dgn fragmen 45, dgn 66, dgn 78, dgn lalu 98. Dan berikutnya si pejuang selalu merasakan kekecewaan atas apa yg kemudian ditemuinya.
    Trus kalo kita pengen EGP juga boleh, itu soal sensi-nya orang yg beda2. Mau garam semuanya dikontrol SIngapore yo EGP, wong kita masih tetap bisa beli, kalau lalu petani garam lokal kemudian kalah bersaing, ah.. saya kan bukan petani garam.
    Mau “definisi HAM” ngikut definisi-nya londo juga boleh, toh saya bukan aktivis HAM atau counter part-nya.
    Mau sharing-nya Batubara, Minyak, Gas, Emas dominan di londo yo ben, lha wong kita masih bisa beli minyak olahan itu, gaji kita masih cukup. EGP.
    Mau singapore ngimpor terus pasir baik yg legal maupun illegal yo luweh, wong nanti batas negara yg kena gesar-geser kan di Riau Kepulauan sana, dr Yogjo? Adoh, ra sah dibahas.
    Mau wong di nusatenggara timur sana kelaparan yo luweh, lha neng kene panganan lengkap.
    Pokoke, mau terus semua sektor ekonomi dikuasai londo yo ben, lha aku sik iso kerjo kok, malah enak ora usah mikir sing abot2, sing setrategis wis ono sing mikir.
    Tapi yo, mikir rodo ngeden sithik yo oleh mesthine, gimana biar kita punya pasukan punya etos kerja yg tinggi, punya produktifitas tinggi, keuntungan perusahaan moga2 terus naik, terus iso gajian, agak ilmiahnya moga2 dividen & pajaknya makin besar diterima negara. Yo boleh juga mikir yg kayak gitu.
    He he tergantung mood om. Kalo moodnya lagi hewes2 yg diomongin hal yg lain mestinya ya?

  7. paijo Says:

    Kok pak komandan masih mikir jogja ya padahal kan sudah di RIau

  8. delenger Says:

    @ kumendan & paijo
    bicara jogja, kita kan pernah meninggalkan kenangan. (kenangan=rumah KPR–red)
    jadi sampai ke awang-awang pun, bahasan apa aja masih bisa terkait di jogja🙂
    benar juga kata om kumendan, simpulannya simpel : kuciwa berat. makin dipikir makin kecewa. makanya jangan pernah berpikir tentang kahananing ndonya. tetapi tetap ga boleh meninggalkan memori perjuangan paktua meski ga tau maknanya. setidak-tidaknya kita bisa menjadi perawi bagi yang lain secara harfiah aja. begitu. mumet ya.

    o ya mr kumendan, aku pinjem kosa kata ‘kerat’ di In the heart of Sumatra.
    kesannya syahdu, begitu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: