Balungan Kere

Suatu ritual rutin terjadi tiap akhir minggu semenjak kepindahanku dari Ngayogyakarta Hadiningrat ke sebuah kota kecil, dengan peradaban yang sedikit berbeda, di bagian barat Jawa Tengah. Mungkin juga sudah di luar jawa karena sebagian penduduk asli bilang kalo aku dari jawa. Weleh… Sementara ini tiap akhir pekan aku ikut meleburkan diri bersama kaum komuter di negeri ini untuk berpindah dari tempat merantau ke tempat asal.

Aktivitas pekerjaan yang harus berkesinambungan membuatku tidak ada waktu khusus untuk mencari tempat tinggal yang representatif. Aku harus bisa berbagi waktu seefisien mungkin. Berharap di kota kecamatan ini akan dengan mudah mendapatkan tempat tinggal dengan harga yang di bawah standar Jogja tapi dengan kualitas yang sama ternyata tidak sepenuhnya benar. Kondisi geografis yang terpencil justru membuat hukum dagang menjadi berlaku jurdil. Kondisi ini membuat harga properti hampir sama dengan kota besar, seperti Jogja. Padahal dari informasi lisan, harga properti Jogja nomer dua tertinggi setelah Jakarta, mengalahkan Botabek dan Surabaya sekalipun. Pun demikian halnya dengan penginapan. Satu-satunya penginapan di sini berbandrol sedikit di atas hotel melati di Jogja, tapi yang ini dengan kondisi yang lebih memprihatinkan. Bayangkan untuk kamar kelas atasnya bisa seharga sebuah cottage di kawasan Puncak. Ck…ck…ck…

Seminggu pertama dengan agak terpaksa aku menginap di hotel. Ehm… terpaksa karena sebetulnya aku sudah bawa tenda doom, sleeping bag, matras, kompor parafin, dan tetek bengeknya. Bukan sok backpacker atau naluri gelandangan, melainkan alat-alat itu jarang sekali aku gunakan. Sayang sekali kan, mahal-mahal dibeli jarang dipakai. Padahal depresiasi alat pasti ada, belum juga biaya penyimpanan karena belum zero stock. Tapi yang agak meringankan adalah harga kamar bisa aku tawar. Haha… baru kali ini cek in hotel tawar-tawaran dulu. Lumayan bisa turun 20%. Minus selimut😀

Tak terasa hampir dua minggu berlalu sudah. Tempat tinggal idealku belum dapat, sementara aku sudah tidak kerasan di hotel. Ini nih karena aku perfeksionis khayalis, mencoba berintuisi tanpa detil penyusunan realisasinya. Naluriku mengajakku mulai merapat ke masjid atau kantor. Sehari dua hari. Kurasakan nyaman juga tidur klekaran. Puas mengekspresikan diri meskipun dalam kondisi bobo’ sekalipun. Semoga bukan karena anti kemapanan atau emang balungan kere yang membuat diriku merasa nyaman di situ, sebab secara finansial, aku bisa saja hidup di hotel itu selama aku domisili di kota ini. Satpam kantor pun hanya manggut-manggut, mungkin iba (semoga tidak–red), melihat keputusan sementaraku ini. ‘Kau boleh acuhkan diriku…’ . Thanks to Once.

Hatta, hari ini, tepat di hari ulang tahunku, yang jumlah lilinnya saja tidak cukup untuk ditancapkan di roti tart standar, perusahaan mengadakan pertemuan rutin di kantor yang terletak di sebuah kota di tengah Pantura. Berhubung malamnya aku masih di Jogja, yang dengan perhitungan matematis tidak akan bisa tepat waktu jika berangkat setelah sahur, aku merapat ke ibukota provinsi untuk sekedar menginap, numpang sahur, sekaligus menunggu pagi menjelang. Setelah subuh, dengan kecepatan standar mobil kesayanganku, berangkatlah aku untuk pertemuan itu.

Tak terasa baru jam setengah tujuh sudah tiba di sana. Kantor masih sepi. Pintu-pintu ruangan masih belum dibuka.

“Cari siapa, Pak?”, seorang satpam menyapa.

“Masjid”, jawabku seraya bergegas menuju masjid kantor tanpa menunggu jawaban satpam tadi. Tadi malam hanya dua jam tidur, itupun harus melawan dedengkot nyamuk yang mati satu tumbuh seribu. Apalagi sekarang pintu masjid menyambut dengan mesranya. Dan… begitu masuk masjid, wahh… hawa kantuk sangat terasa. Tanpa menunggu waktu, sleeping beauty deh. Perhitunganku, satu jam cukup buat menghilangkan rasa kantuk akibat kurang tidur. Yup, sambil mencoba mengingat-ingat materi rapat nanti, kucoba memejamkan mata.

Namun baru sekitar 2 menitan,

“Pak… pak… Bapak-bapak yang lain sudah ada di ruangan…”, sebuah suara terdengar sayup.

Setengah melek kulihat satpam sedang berusaha membangunkanku. O… iya. Rapat bo’… Ternyata hampir 2 jam aku terlelap…

Thanks ya, Pak”, segera aku ke kamar mandi, lengkap dengan ransel laptop di punggung. Ngga ngapa-ngapain sih, cuma mencari nuansa ke-mandi-an saja. Cuma beberapa detik bengong doang di sana. Setelah itu, sambil kucek-kucek, dengan langkah limbung, masuklah aku ke forum tertinggi wilayah kerja Pantura. Wahh.. sudah lengkap. Dua belas pasang mata menatapku penuh arti. Positive thinking aja deh. Meski sudah setengah jam aku telat.

Dari protokol rapat terdengar, “Nah, berhubung sudah lengkap, kita mulai agenda … “.

Yeee…

Mbok yao nunggu diriku duduk dulu kek

——

c u t . . .

 

pantura, birthday 2008

my first meeting

Explore posts in the same categories: Ngomyang

3 Komentar pada “Balungan Kere”

  1. Arie Says:

    Hahaha…. ternyata critane wingi ngene tho…

    Btw Met ultah ya bro…
    Doanya wis koyo sing wingi wae.

    Kandani nang S… iki ndesit
    Makanya cepetan referensi-qu ditindaklanjuti.
    Sapa tau jd tetangga😛

  2. komandane Says:

    He he he, enak to dadi pemeran utama rapat. Ra iso turonan atau uthik2 upil trus ditemplekke neng ngisor kursi, pusat perhatian je. Asistene ndang dikondisikan dadi stuntman, “delegasi”. Dadi nek sewayah-wayah neng perjalanan nyetire ngantuk iso turu neng pom bensin opo neng ngisor uwit, nyamannn. Nyampai kantor sudah sampai tahap kesimpulan /pilihan2 alternatif buat diputuskan. Tinggal dipilih, nek salah, salah bareng. He he. Penak to🙂

  3. nunoe Says:

    @Arie
    Tks for advise. Tapi yo iku, diriku kan perfeksionis khayalis😀
    Opo-opo susyah klop-e. Sementara begini dulu apa adanya sambil menyelam jualan terus. Lagi seret ki, maklum basicnya bukan marketer.

    @Kumendan
    Sip banget sarannya. Bosku biyen yo begitu. Delegasi digilir ke subordinate. Besok habis satriot tak praktikkan wis. Wah, pantes dirimu bisa ngapel sampe Jogja ya. Ternyata pake catenaccio.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: