Dulu Aku Sempat

dulu aku sempat
punya pohon ilmu
yang bermetamorfosis dari sayur kangkung got
menjadi horison cakrawala yang pikirmu pun tidak sanggup
untuk merangkumnya di tangan

dulu aku sempat juga
memiliki tanaman rumah
sempurna
yang penampakan ranting dan batangnya sangat teduh
muncul dari biji dengan quality control terbaik
menutup horison cakrawala bak gerhana total

dulu aku juga sempat
bercengkerama dengan pohon pralambang
yang titi buihnya menyegarkan batin
mampu bersanding dengan ilmu dan keteduhan

dulu juga aku sempat
memelihara tunas
dengan segala peluhku
menjadi kilauan cahaya yang membutakanku
terhadap keteduhan, terhadap ilmu, terhadap pralambang
membuatku tersimpuh silap
ternyata cahaya pun bisa diterbangkan angin
karena karsa tanpa rasa adalah sia-sia
bahwa semburatnya masih tampak sempurna dari kejauhan
hanyalah satu cerita di kekinian

juga dulu aku sempat
mendapatkan bakal pohon
dengan ranting dan daunnya yang sudah rimbun
mencoba menutupi silauku terhadap cahaya
meski apapun daya upayanya
cahaya bisa berfraksi
di celah-celah rimbunnya ranting
harus kuberimprovisasi dengan malas
untuk menghindarinya

dulu aku sempatkan
menimang sebuah flora
yang cantik dan getas di dalam pot
yang setiap orang mencoba menilai
dari aroma dan bentuknya
membuatku tergagap ketika mencoba menyeruap
sekedar menyentuhnya
bisa melupakan silau
dan memangkas rimbun dedaunan

kini aku punya
pohon kehidupan
hampir tanpa dahan
dan daunnya hanya sekedarnya
yang teronggok di sudut
tertutupi ilmu, terabaikan keteduhan
tiada pralambang di sana
tanpa aroma
hanya kriteria abal-abal ketika kucoba memindahkan
dari sudut ke sentral
namun bahwasanya kedalaman akarnya jauh menghujam
membuktikan keikhlasan dahan dan daun
berguguran demi hayat
demi sebuah asa untuk tumbuh
berbarengan dengan dahan
ranting
rimbun dedaunan
hingga di celahnya terbangun rumah pohon
i hope

cease fire
pls

Explore posts in the same categories: Ndobos, Puishit...

Tag: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Komentar pada “Dulu Aku Sempat”

  1. komandane Says:

    wuih, kowe jebule puitis to? secangkir kopi pahit mungkin akan menetralisir kenyataan hidup yg pahit, lalu ampasnya menjadi pupuk buat rumah pohon itu.
    Intine, jebule kowe pulitis🙂

  2. Arie Says:

    Dalem banget….:)

  3. delenger Says:

    kenapa ya selalu diambil simpulan tentang kepahitan jalan hidup bukannya suatu keindahan?
    tidakkah terasa ada alunan energi yang beresonansi di tengkuk, berputar di uyeng-uyeng? yang semuanya berpadu pada sesuatu yang kudus. hehe…
    btw sdh update beberapa kata biar lebih harafiah.
    tks my pren…

  4. Ka Says:

    Ketika kita menerima sesuatu dg penuh ikhlas, pasti semua akan terasa indah, tiada lagi kepahitan. enjoy aja… kata LA lights🙂

    Btw, memang dualem buanget itu puishitnyah… top markotop.
    Pohon dakocannya mana? hehehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: