Mempertimbangkan Idealisme

Dehem, batuk, lantas hoek-hoek sedikit. Agak terasa gatal di tenggorokan.

Barangkali gara-gara kurang minum waktu sahur tadi pagi. Teh kental manis khas daerah sini memang tidak harus dalam jumlah banyak untuk menyerap nikmatnya. Sedikit cairan untuk menenangkan lambung dan ginjal seharian rasanya terlalu berlebihan harap.

Dari beberapa sudut, agak berisik orang-orang menyiapkan segala sesuatu untuk sebuah acara. Gemelitik dan gemerisik alat-alat dan kertas-kertas yang disiapkan mengiris gendang telingaku. Sensitif sekali aku ini. Hampir saja aku ke belakang untuk ngecek something kalo saja tidak ingat aku laki-laki. Kupikir lagi dapet saja mengingat secara fisik dan psikis aku menjadi sangat sensi.🙂

 

Pada waktunya aku berjalan dengan langkah pelan tetapi pasti menuju ke suatu tempat yang sudah disediakan. Dengan pikiran yang tertatih aku berharap semoga tidak terlihat limbung karena pengaruh dari hoek-hoek tadi dan perasaan vertigo di kepala.

Kesepian mendadak mengiringi jejak kakiku. Hanya sayup-sayup aku dengar celoteh kecil di seberang depan. Lantas agak senyap, sampai-sampai suara kaki kuda di seberang tembok terdengar bertalu-talu menyeret roda-roda peyot yang menyangga delman.

Kuhentikan langkah di suatu tempat, melihat sekeliling. Bertatapan dengan puluhan pasang mata dengan berbagai pengertiannya masing-masing. Mematut-matut diriku di cermin puluhan tubuh tegak tanpa gerak. Suasana aneh segera menjalar di sekujur tubuhku terbalut dalam resonansi suara dari sound system. Detik demi detik menginjak menit terasa sangat dingin. Ketidakikhlasan untuk berposisi seperti ini membuat tungkaiku terasa ngilu.

.

..

….

…..

 

Kepada… pembina upacara, hormaaat… grakk !!!

Satu kalimat seru segera membangunkanku  dari kesunyian pagi.

Hups ya… aku ingat. Saatnya sudah tiba.

Aku, yang sementara masih menggelandang, hari ini jadi pembina upacara di suatu hari besar. Sesuatu yang sangat tidak aku harapkan tentang segala formalitas dan seremoninya. Sesuatu yang lebih dari sekedar komandan.😛

Ironisnya sekarang aku menjadi titik sentralnya.

Mengerikan.

Terbayangkan sebelumnya bagaimana senangnya aku jika kantor mengadakan upacara karena dengan adanya acara ini aku bisa molor lebih panjang untuk berangkat lebih siang satu jam. Ancaman wajib absensi pun tidak mampu mengalahkan perasaan ideal mengenai sebuah fragmen yang sia-sia yang harus dilaksanakan. Fragmen yang dimulai dengan pengumpulan banyak sumber energi yang disatukan ke dalam ritual esemelekete, dihabiskan sia-sia dalam posisi berhala. Keberhasilan dihitung dari animo saja karena susah sekali membandingkan keluaran yang didapat setelahnya jika ada atau tanpa prolog esemelekete ini.

Satu dua petuah dariku kupikir sudah cukup untuk segera mengakhiri ritual ini.

Hmmm… sayang sekali. Mungkin satu lagi. Dan satu lagi aja deh. Kok. Ternyata asyik ya.

Sebentar sekali selesainya.

Satu suasana yang baru yang pernah kurasakan. Perasaan akan kebersamaan, kewenangan lebih, kekuasaan, muncul sekaligus saat ini. Barangkali aku tidak bisa hanya cukup berpikir di dua sisi untuk ndobos, melainkan juga harus mengalami dua sisi itu. Seperti para pahlawan-pahlawan sejarah yang gagah berani bisa menempatkan diri di dua peran sekaligus, meskipun itu bukan kompetensinya. Tinggal bagaimana pangucapnya saja.

Begitulah mungkin idealisme yang sesungguhnya. Mungkin lho…

Demikian.

 

packing pra mudik
mudik pra saur

Explore posts in the same categories: Ndobos

One Comment pada “Mempertimbangkan Idealisme”

  1. komandane Says:

    Ha ha ha, kalo jadi pembina upacara hari peringatan2 belum pernah, pernah juga pembina apel. Kalo hari peringatan2 hampir pasti kebagiannya pemimpin upacara : siap, istirahat, lapor, hormat, bubarkan… He he. Repote nek nyandang TKD, tentara karepe dhewe.

    —————–

    lha kok malah kebagian terus. komennya ambigu nih. langganan pemimpin tapi TKD, wis ra cocik markicok tenan😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: