Non-mudiker

Menyongsong lebaran alangkah indahnya.
Terbayang nuansanya saja sudah cukup membuat mrenges-mrenges. Kumpulan komunitas yang terhubungkan dengan darah, mulai dari penyebab awal sampai dengan akibat terakhir, mulai dari penyemai bibit sampai dengan tunas yang masih melata.

Tidak ada tuntunan tertulis yang mewajibkan untuk ini.
Tapi jika konvensi pun ada di tingkat negara, apalah arti remeh temeh ini. Sebab jika penyebab awal sudah bersendiko dawuh, halangan apa pun bisa berubah menjadi tantangan.

Melipat dengan malas pakaian kotor untuk sekalian kubawa pulang. Malas, karena dalam beberapa ritual tahunan belakangan ini tidak seratus persen hatiku ikut pulang. Tentu saja karena masih ada yang tertinggal di tempatku mencari nafkah. Misalnya seperti apa kondisinya pada saat hari libur nasional, mengingat jenis pekerjaanku bersifat kontinu, yang tidak boleh terhenti barang sedetik pun.  Alhasil, ponsel pun harus siaga 24 jam.

Ada terbersit tebersit terbersit protes kecil untuk kondisi ini. Kenapa tidak sekalian saja semua aktivitas diberhentikan. Supaya tidak ada beban dalam menjalani ritual ini. Hehe… terlalu kekanak-kanakan ya.

Kita bisa menilai sesuatu jika ada pembandingnya. Itu kata ilmu pasti.

Belajarlah dari alam. Itu kata orang suci.

Enam jam perjalananku dari ndeso tempat mencari nafkah hingga pulang ke kota, home sweet home-ku.

Beberapa pasang mata di wajah-wajah yang ikhlas mengantarkanku keluar dari kompleks kantor. Mereka adalah manusia-manusia yang kebagian berjabat tangan dengan pekerjaan rutin bahkan di hari lebaran pun.

Hanya beberapa detik melewati pintu gerbang kantor yang ada di lingkungan pasar, berpuluh-puluh manusia nampak berinteraksi satu sama lain. Orang-orang yang sibuk menyiapkan acara hari H tentu saja tidak termasuk dalam perbandingan ketidakikhlasanku. Sisi lainnya adalah pedagang lapak yang mungkin lebih memprioritaskan laba dibanding dengan ngaso mawas diri di hari H. Ini mungkin terlalu subjektif, tapi aku baru bisa melihat dari sisi itu.

Para ya karim tampak sibuk mengintili para pembelanja di pasar itu.

Melaju pelan menyibak keramaian pasar hingga sekitar dua ratus meter aku tiba di perempatan.

Tampak pak pulisi ndut, eh yang ini masih pada langsing, dengan rompi strip hijau menyala dan tongkat lampu hazard duduk-duduk bersenda gurau antar-sesamanya. Mumpung masih sempat, karena beberapa saat lagi akan terlihat wajah capek beliau di tengah-tengah mayoritas muka berseri-seri kumpulan keluarga.

Dari arah depan yang giliran lampu hijau, nampak mobil PLN lengkap dengan tangganya melintas ke arah kanan. Yah, semoga lancar pak. Tidak ada gangguan di hari H.

Mendekati jalur utama, ada sepasang rel yang harus dilintasi. Sekilas tampak wajah lugu bapak penjaga pintu lintasan yang sedang duduk di teras pos dengan baju biru agak keputih-putihan. Jika ada kejadian -baca: kecelakaan- baju biru itu akan segera berubah menjadi hitam yang memaksa beliau untuk mengembik.😦

 

Kunyalakan radio untuk mengetahui gambaran jalur yang akan kulalui.

Dari udara terdengar celoteh ceria para penyiar. Dua puluh empat jam mereka akan menyapa pendengar, sekedar untuk menginformasikan kondisi ritual ini. Hal yang sama untuk para punggawa media cetak dan layar kaca.

Menyusup masuk jalur utama, terlihat pak tentara berdiri di tepi-tepi jalan di titik-titik tertentu. Ini mungkin salah satu hasil reposisi pasca reformasi. Jadi pembantu pak pulisi. Setelah beberapa kilometer berjalan, barulah kurasakan jika mereka, pak tentara itu, ditempatkan di titik rawan kemacetan. Salah satu yang paling banyak adalah di lokasi pelebaran jalan yang belum selesai.

Masih terlihat sekumpulan kang batu menyelesaikan pekerjaan pelebaran yang sudah pada tahap finishing. Rupanya pernyataan pejabat tentang kesiapan pantura yang dibilang sudah siap menjadikan mereka harus bekerja tidak mengenal hari dan cuaca. Padahal dari penilaianku sendiri yang hampir tiap saat wira-wiri di pantura, kondisi pelebaran jalan belum bisa dibilang siap untuk menampung lonjakan arus mudik. Tapi, ya begitulah, biasanya pejabat punya ilmu lebih dalam menaksir kesiapan jajarannya.

Jarum indikator fuel yang menunjuk setengah skala membuatku harus pelan-pelan supaya tidak terlewat jika ada SPBU. Hmm… ini juga. Masuk “Pasti Pas” dilayani dengan ramah para petugas SPBU. Mereka, termasuk para kaum non-mudiker, yang harus tetap bekerja pada hari H.

Setelah memastikan full tank, barulah aku putuskan untuk segera memacu kendaraan dan fokus ke jalan raya, sedikit sekali memperhatikan sekeliling. Hanya teman seperjalanan, yaitu angkutan umum yang masih berkutat dengan pekerjaannya.

Mereka, beliau-beliau yang masih harus menjalankan fungsi pekerjaannya di hari besar ini, tentunya mempunyai dasar yang lebih kuat, lebih berprioritas dibandingkan dengan sekedar anjangsana silaturahmi antarkeluarga.

Ada beberapa golongan orang-orang yang masih tetap bekerja di hari ini,

1. kata hati, segolongan manusia yang sudah mapan dan mampu meninggalkan rutinitasnya atas dasar keputusannya sendiri. Misalnya para pedagang yang menghentikan aktivitas perdagangannya khusus untuk menyambut hari-hari tertentu. Atau pegawai di suatu perusahaan yang sifatnya tidak berproduksi kontinu. Atau bahkan mungkin juga pegawai negeri bagian administrasi yang jumlahnya berlebih, sehingga bolos sebagian pun tidak terdeteksi performansinya. Jika mereka harus tidak bisa merayakan hari raya dengan keluarga, kemungkinan besar hanya karena kata hati saja.

2. instruksi, golongan orang yang rasionya harus digali lebih dalam untuk mengalahkan perasaannya. Perasaan untuk merayakan kemenangan di hari fitri pun harus ditahan dulu demi suatu tugas yang notabene adalah instruksi legal sebagai bagian dari organisasi perusahaannya. Misalnya pulisi, tentara, penjaga pintu KA, dan masih banyak lagi golongan ini.

3. opportunis, adalah sekelompok manusia yang jika menghentikan aktivitas pun bisa tetap hidup untuk merayakan hari H tetapi atas dasar jiwa enterpreneur masih menjalankan fungsinya dengan tujuan menambah penghasilan lebih. Kita bisa lihat dari sekian deret toko yang tutup, ada saja satu dua yang masih buka. Atau seorang copet yang masih saja beraksi sementara rekan seprofesinya insyaf temporer satu hari khusus hari H ini. Atau para peminta sedekah pun bisa masuk golongan ini.

4. tuntutan hidup, ini yang paling mengenaskan. Mereka adalah segolongan orang yang tidak bisa makan jika satu hari saja terlewatkan mencari nafkah. Anda tahu sendirilah.

Aku yakin masih ada golongan lain, tapi aku belum menemukan sepanjang jalur mudikku.

Dan aku yakin jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan para pemudik.

Seandainya saja media mengekspos pemudik dengan non-mudiker sama besar porsinya, tentunya akan sangat membantu meringankan beban pikiran para non-mudiker di tengah-tengah pekerjaannya.

Anda termasuk yang mana?

 

jadigaringtapiwiskadung

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Komentar pada “Non-mudiker”

  1. komandane Says:

    Aku termasuk golongan non-mudiker, untuk lebaran kali ini. Sebabe : 1. poso wingi wis ktemu si mbok neng mBandung 2. males juga sih uyel2an berebut akses untuk jalan, SPBU buat kencing & isi bengsin, mushola buat ngluruske geger, dan untunge si mbok dapat dipersuasi untuk memahami itu semua 3. Lha biar cutine ora dipotong cuti bersama terpaksa 2 hari sebelum lebaran dan hari jum’at absensi online (eviden) , nah piket ke-kantornya bisa naik tril, nganyari plat nomer mutasi ke Palembang.
    Nah mbuh kuwi golongan yg mana.
    Selamat Iedul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir bathin. Ngomong2 soal angka2 tahun hijriah, jadi inget dulu SD sekitar 140X H, ada tugas pelajaran agama, kalo kuliah subuh di masjid & jum’atan diharuskan mencatat kotbah & ceramah, lalu ditanda tangani khotib, nah tahun masehi, tahun hijrah & tanda tangan khotib itu 95 % saya isi sendiri. he he

  2. firman Says:

    mudik itu kan jadi orang udik😀

  3. wisnoe Says:

    @kumendan
    huahahaa…
    kok sama, pas SMP juga. cuma paling 70-80%. tapi agama dapat 9. bu gurunya itu klo ga salah Bu Jum.
    minta maaf nggih bu… mumpung masih suasana lebaran.
    trus masalah non-mudiker itu dirimu sudah masuk yang bisa ngikuti kata hati, om. orang-orang mapan yang tidak setiap orang bisa duduk di situ.
    mohon maaf lahir batin juga om.

    @firman
    lha lamun abdi mah justru uih ka kota.
    satu lagi poleser ketemu di blog🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: