Filosofi Sign

1641

Seribu enam ratus empat puluh satu kilometer.

Angka itu tertera di odometer sebelum akhirnya berputar lagi seiring pemanfaatan super-optimal terhadap fungsi kuda beban untuk mobil pinjaman kantor ini. Mengikuti sebuah bus dengan terkantuk-kantuk secara pasrah bongkokan hanya mengandalkan sinyal dari lampu sign yang dengan tertib dinyalakannya, adalah perjalanan terakhirku untuk liburan kali ini. Tumben sekali di zaman sekarang masih ada pengemudi bus yang memakai isyarat bus-bus malam zaman dulu.

Sejauh itu jarak yang aku tempuh selama libur lebaran yang panjang namun terhimpit oleh berbagai kepentingan atas diriku.

Misuh-misuh sepanjang jalan rupanya sudah menjadi chicken dalam soup sekaligus dosa pertama yang aku buat, setelah dibilang orang suci, bahwa aku telah dilahirkan kembali menjadi suci juga.

Jika di GPS terekam kecepatan overall-ku adalah 30kmpj, itu artinya lebih dari 50 jam kuhabiskan waktuku dalam posisi Fernando Alonso. Itu artinya dua hari lebih jok mobil ini ngecap bentuk p****tku. Pantas saja selama di kampung kota aku terserang penyakit gatal-gatal di pa***t. Mohon maaf, aku tidak menemukan padanan kata yang lebih halus.

Itulah kenapa kesan yang melekat untuk lebaran kali ini adalah jalan raya dengan segala hukum rimbanya. Sedikit sekali waktu yang tersisa untuk silaturohim ke sodara dan kawan lama, bahkan tatangga sebelah hanya satu dua yang aku sempatkan ketemu. Sekedar nitip suvenir ke satpam buat Arie saja sudah tidak sempat lagi.

Mohon maaf untuk semuanya. Arie, Denok, Ibu Kost, dll.

Sebaliknya, terima kasih kepada penemu kosa kata “maaf”, sehingga bisa aku pinjam di sini. Terbayang dalam God Must be Crazy, bagaimana susahnya interpreter pengadilan menyampaikan keputusan bersalah kepada Xi karena dalam bahasa suku Busman tidak ada kosa kata “salah”.

Menimba ilmu jalan raya mengingatkanku akan cerita bersambung tempoe doeloe di Suara Merdeka. Apakah itu Iblis dari Gunung Wilis, Yudhakarya Jaya Wijaya, atau Dewi Sri Tanjung. Pemahaman akan keilmuan hanya bisa didapat dari laku dan contoh laku itu sendiri.

Dahulu kala, pada saat terdampar di pulau garam di seberang timur laut pulau Jawa, dengan ransum yang sudah hampir habis, aku terpaksa blusukan ke terminal dan pasar induk. Isu bahwa baru saja terjadi carok pun tidak mampu menghalangi niatku. Mencari tahu kalo-kalo ada angkutan gratis dengan kompensasi yang bisa diatur. Biasanya insting fakir miskin selalu kuat untuk hal-hal seperti ini. Fakir dalam dua hari karena hari sabtu bank tutup, sedangkan tidak ada ATM di kota terbesar di pulau itu. Menunggu dua hari aku pikir cukup lama buat perutku untuk makan angin saja.

Alhasil, meski terhimpit di sela-sela jok pengemudi dengan bodi mobil, ikutlah diriku di dalam sebuah truk sayur mayur cabe. Lumayan juga sih untuk ukuran romantis, rokok makan gratis. Ini adalah kelas yang paling VVIP, karena tidak ada kompensasi apa-apa sampai turun di Johar untuk bongkar muatan. Angkut-angkut sedikit pun tidak. Wis pokoke mulyo tenan.

Klinong-klinong, gronjal, mak jegagik

Hampir sepanjang perjalanan badan ini beradu dengan body mobil dan hidung ini bercumbu dengan aroma nyinyir bau asem kecut tidak sedap. Juga pusingnya kepala yang terayun-ayun saat truk diangkut feri.

Duduk jongkok di belakang persneling rupanya menjadi pilihan yang bijak karena bisa ikut membantu “bekerja” mengawasi jalan, menemani pak supir, ikut merasakan melek menahan merem.

Kadang ikut melempar korek api jres ke tempat- tempat tertentu. Buat sesembahan kepada yang mbaurekso.

Kadang ikut membantu menghabiskan rokok.

Nikmatnya mengalahkan keremangan warung yang menjadi tempat transit sementara.

Hal yang baru kutemui adalah seringkali lampu sign dinyalakan oleh supir. Saat menyalip dari kanan, lampu sign kanan dinyalakan. Nyalip dari kiri untungnya tidak pernah. Saat berpapasan dengan kendaraan, lampu sign kanan dinyalakan. Saat memberi kesempatan kepada mobil di belakang untuk menyalip, lampu sign kiri dinyalakan. Ketika ngerem mendadak, lampu hazard dinyalakan. Dan beberapa kali untuk kondisi tertentu, lampu sign baik kanan atau kiri atau hazard dinyalakan.

Tertib sekali.

Namun apakah sinyal itu sudah menjadi kesepakatan umum? Seandainya aku pengemudi mobil lain yang berpapasan atau di belakangnya, apakah aku mengerti isyarat itu. Tentu saja tidak, sudah kutulis aku tahunya baru tadi😛 .

Kembali ingatanku melayang ke empat tahunan sebelumnya, pada saat aku duduk di sebelah sopir bus untuk perjalanan menuju pulau dewata.

Memberi isyarat lampu sign juga menjadi salah satu aktivitas tersering yang dilakukan sepanjang perjalanan selain ngegas, ngerem, dan nginjak kopling. Ngudut dan misuh-misuh pun masih kalah sering. Dari sini lah aku belajar tentang lampu sign bus-bus malam tempoe doeloe, sehingga pada saat ikut arus balik kemarin, rasa ngantukku bisa diatasi dengan isyarat lampu sign dari bus yang aku ikuti. Thanks bus…

Sangat berbeda halnya dengan isyarat truk, isyarat bus cenderung berprinsip “aku akan bergerak sesuai dengan lampu sign-ku, jika kau ingin ikut silakan saja”.

Sedangkan isyarat truk berprinsip sebaliknya : “kamu jangan bergerak sesuai dengan lampu sign-ku”.

Sekilas tampak sekali bahwa isyarat lampu sign bus malam cenderung lebih bersahabat dibandingkan dengan truk.

Dulu, zaman bus malam masih harus beriringan dalam perjalanan, isyarat lampu sign sangat dibutuhkan selama perjalanan. Sebuah bus harus menjadi pemimpin atas bus lain. Tidak heran jika jarang ada bus malam melengang sendirian, kecuali kasus-kasus khusus seperti kurang cepat atau terlalu cepat, atau mampir pipis, atau hal-hal lain yang menjauhkan dari rombongan.

Bus pemimpin akan menggunakan lampu sign untuk dirinya dan rombongan di belakangnya tinggal mengikuti menyalakan isyarat itu bergerak persis seperti pemimpinnya. Jika pemimpin mulai melambat, dia akan memberi isyarat agar diganti/ disalip. Begitu seterusnya sampai di tujuan. Yang cepat akan meninggalkan rombongan, sedangkan yang lambat akan tertinggal.

Lha terus apakah benar isyarat lampu sign truk itu cenderung egois.

Sangat berbeda dengan bus malam, truk menggunakan lampu sign dengan dilandasi pikiran mendahulukan kendaraan lain. Maksud dari “jangan ikuti aku” adalah supaya kendaraan lain tidak terjebak pada situasi yang membahayakan.

Aneh ya.

Contoh kasus begini.

Bus malam zaman dulu jika berpapasan dengan kendaraan lain maka akan menyalakan lampu sign kiri sebagai tanda bahwa dia akan berpapasan, makanya dia perintahkan kendaraan di belakangnya untuk mengikuti dia ke kiri sebagai persiapan papasan itu.

Truk jika berpapasan dengan kendaraan lain akan menyalakan lampu sign kanan sebagai tanda bahwa dia akan bergerak ke kanan supaya kendaraan di belakangnya tidak menyalip, yang otomatis akan sangat berbahaya.

Itu hanya satu contoh saja, masih banyak isyarat lain yang bisa jadi hanya dimengerti oleh komunitasnya masing-masing.

Dalam satu sistem yang dinaungi oleh undang-undang yang sama, perilaku tiap komunitas bisa berbeda. Awal budaya yang berkembang menjadi suatu kesepakatan tak tertulis ini berangkat dari rasa, dari keakuan, dari ego. Sebab budaya sendiri adalah hasil budi daya manusia dengan dasar karsa. Perasaan tentang keakuan ini yang menyetir ke arah perilaku raga.

Bus malam, dengan karakter yang besar dan cepat tentu saja lebih bisa responsif jika tidak dibebani oleh pemikiran lain selain dari dirinya. Menjadi pemimpin yang harus diikuti adalah karakter kuat dari bus malam.

Masalahnya sekarang, seperti halnya yang terjadi dalam modern ini, degradasi moral ikut mempengaruhi perilaku bus malam ini. Jiwa pemimpin masih tidak berubah namun mereka tidak sadar menghilangkan kesepakatan tak tertulis tentang bagaimana dia bisa memimpin komunitas atau rombongannya. Kebetulan juga budaya isyarat yang hampir punah ini sebanding dengan jumlah kecelakaan yang menimpa bus malam, sampai pernah dijuluki pembunuh nomer satu di jalan raya. Meskipun terlalu dini untuk diambil benang merahnya.

Hal yang hampir sama terjadi pada sebagian truk, kebosanan memikirkan kendaraan lain turut mempercepat lunturnya nilai-nilai “mengalah tidak berarti kalah”.

Budaya yang terbangun dari kebesaran fisik yang sebanding dengan kebesaran jiwa untuk mendahulukan kepentingan umum, sesuai dengan karakter truk yang kalem tapi kokoh, pelan-pelan juga mulai luntur. Hanya tersisa besar dan kokohnya saja membusungkan bemper menantang lawan rimba jalan rayanya. Lumrah, toh perubahan perilaku adalah bagian dari budaya juga.

Lantas,

Bagaimana dengan kendaraan pribadi?

Juga dengan sepeda motor mudik?

Wallahu’alam…

 

misuh-misuh

Explore posts in the same categories: Ndobos, Satire

Tag: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Komentar pada “Filosofi Sign”

  1. Ka Says:

    mmm…kendaraan pribadi ‘n sepeda motor mudik hmmm… it’s depend on how’s the way you think about.. rep mbebek melu truk opo bus, atau back to nature ajah sesuai dengan fungsi lampu sign itu sendiri, nek lali yoooo…dibuka lagi buku petunjuk penggunaan kendaraan pribadinya. intine kan ben lancar, slamet, (nek iso) ben ra misuh2.. hehehe.. rak yow ngonow tow, brow?
    suwun..🙂
    Lagi senep kiy..

    ———————-
    yup, setubuh eh setujuh…
    bagaimana menjadikan isyarat sign sama rata sama rasa tanpa membedakan jenis kendaraan adalah hal yang utama, supaya tidak terjadi kerancuan. back to manual ya…
    seneb ngopo? makanya sekali-sekali eksekutip dunk😛

  2. firman Says:

    bujur … kang wisnu
    ateul bujur cukup halus😀

    ——————–
    😀
    betul… betul
    lupa yang satu ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: