Pragmatis Saja

Bercengkerama dengan berbagai kalangan dari dulu hingga sekarang merupakan suatu hiburan tersendiri. Meskipun cengkerama itu mungkin hanya ada di dalam benakku saja. Betapa tidak, jika setiap kali berada pada lingkungan yang berbeda denganku, aku cenderung lebih menjadi pengamat saja. Hanya ada sedikit bakat dari faktor genetikaku untuk bisa lumer melebur menjadi satu dengan sosialitas itu.

Agak menyimpang dari teori yang pernah aku baca, kalo tidak salah ingat, jika seseorang lebih nyaman bergaul dengan, katakanlah, lingkungan yang taraf kesuksesan hidupnya ada di bawah dia sementara dia tidak berbuat apa-apa untuk mengubah tingkat sukses lingkungan itu, bisa jadi dia termasuk kelas yang sama dengan lingkungan. Minimal bermental miskin.

Pergaulan di dalam lingkungan itu secara tidak sadar hanya sebagai pelarian dari kegagalan yang pernah dialami. Kegagalan mencapai suatu obsesi akan bisa tersembuhkan dengan mengamati dan menilai kegagalan-kegagalan lain di setiap individu lingkungan tersebut.

Bolehlah aku masuk kategori pengecut ini. Toh, inti dari kehidupan itu tidak lebih dari sekedar menertawakan segalanya. Khususnya kegagalan-kegagalan itu. Ironis sekali jika untuk ritual ini aku harus masuk ke lingkungan para pejabat ndut.

Persetan dengan istilah Alfa Edison yang menyebutkannya sebagai keberhasilan menemukan cara yang salah. Esensinya sama saja, hanya masalah motivasi.

Persetan juga dengan kompetensi yang mendudukkan aku sebagai pewawancara sekaligus penyeleksi tunggal untuk kebutuhan akan tenaga penjualan di tempatku mencari nafkah. Dengan sedikit ilmu waton ndelenger hingga keblinger, tiada syarat-syarat tertentu untuk kriteria tenaga penjualan ini. Tentu saja ketiadaan syarat-syarat khusus ini membuat animo pencari kerja membludak.

Rasa egoku untuk bisa menampung para proletar yang terabaikan mengalahkan idealisme kriteria sosok marketer.

Satu dua peserta masih dengan lancar berwawancara, setengah berdiskusi, tapi tiada perdebatan karena akulah kuasanya saat ini.

Yang seterusnya dan seterusnya lagi hanya bisa membuat dahi mengernyit saja.

Persentase terbesar dari mereka adalah jobless terbuka dengan kurun waktu tahunan.

Sesuatu yang sebetulnya aku jadikan dasar utama dalam perekrutan ini, motivasi untuk mengangkat sedikit harkat, sudah real ada di depan mata. Tinggal take or not. Simple.

Sungguh setan dari mana jika saat itu jiwa pragmatisku yang dominan yang menyebabkan aku tidak mengambilnya. Diulangi, tidak mengambil mereka.

Mereka itu, kaum jobless, banyak yang tiada modal di sini. Pendidikan, pengalaman kerja, kompetensi, gaya komunikasi, bahkan sekedar motivasi pun tidak ada ditampakkannya. Orang yang paling idealis pun bakal rontok melihat fenomena langsung ini.

Keinginan memutus benang kusut tentang ‘melamar pekerjaan syaratnya pengalaman kerja’ ternyata tidak bisa hanya dengan berlandaskan teori ideologi. Mereka benar-benar nyata ada dan aku tidak mampu berbuat apa-apa meski ada peluangku untuk itu. Pergolakan batin yang masih terjadi sampai saat ini, saat aku belum mengetuk palu tentang siapa yang berhak atas apa, cukup membuat sirna rasa kantuk meski baru sempat tidur 2 jam dalam 2 hari terakhir.

Aku

dengan segala egoku

tentang idealisme

melawan pragmatis

mohon maaf untuk semua…

 

Bismillah…

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Komentar pada “Pragmatis Saja”

  1. komandane Says:

    Kadang-kadang perlu insting, feeling, & naluri untuk berani “kejam” dalam memilih ketika dihadapkan kepada sebuah pilihan. Dan semua ada konsekuensi & resikonya. Dan jangan pilih yg resikonya jadi sedih atau keloro-loro 🙂

    ——————

    om kumendan,
    inget keloro-loro jadi inget pinutur masalah stress
    stress itu ada 3 jenis :
    1. stress mulyo, stress mikir awake dewe yg lagi stress
    2. stress muspro, stress mikir wong liyo yg lagi stress
    3. stress ciloko, stress mikir wong liyo sing ora opo-opo
    lha aku bisa masuk stress ciloko krn mikir wong liyo yg aku kenal saja tidak

  2. firman Says:

    hmm … ,
    mo maen cantik, mo maen keras
    yg penting bisa bikin gol … maksudnya sales😀

    —————

    sales sih bisa bro
    tapi hasil masih uncontrollable
    kuserahkan kepada yang di atas aja deh
    (cicak)
    😛

  3. wahyu Says:

    semuanya karena kita terpaku pada jiwa buruh. kerja untuk orang lain. orang berbondong-bondong mendaftar untuk menjadi buruh. kuli. termasuk saya ini..
    padahal kesempatan menciptakan kerja (wiraswasta, dagang, ternak, jasa, dll) sangat terbuka.

    ————————

    hukum ekonominya begitu, om. cuma masalah kapitalis masih memegang peranan penting ya jadinya ya menciptakan lapangan kerja pun harus punya kapital dulu.
    btw, seting blognya kok susah komen. diriku ga punya account blogger.

  4. Setiaji Says:

    Btw jadi bingung nih, profesinya si Om ini HRD atau marketing sih ?

    —————

    jangan binun, mas. itulah manajemen ‘modern’ yg multifungsi.
    mana yg bisa dikerjakan atas nama dedikasi.
    😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: