Si Tupai Jatuh Lagi

toet teet teeet…

yo yooo… ttdj mas…

teeeettt…

Bak menyambut anggota komunitasnya selesai wisuda, bunyi klakson dari 3 armada truk disertai teriakan awaknya bersahut-sahutan membahana di ujung dini hari. Cukup utk membuat sekumpulan orang di pinggir jalan menyimak dan bertanya-tanya kejadiannya. Yang akhirnya mungkin terjawab setelah melihat artis utamanya memisahkan diri dari konvoi.😀
 

Dulu, sampai sekarang, aku masih terbebani paribasan sepandai-pandai tupai melompat, satu saat akan jatuh juga.

Berkendara sendirian antarkota antarprovinsi di malam hari sudah menjadi kebiasaan rutin hampir satu dekade terakhir ini. Jalanan sepi dan tidak mengambil porsi aktivitas siang, hanya jatah tidur memang agak berkurang. Gpp, toh jika mengantuk di mana saja bisa langsung tidur.

Sebenarnya banyak yang mengingatkan resiko bepergian sendirian malam hari. Mulai dari yang kecil-kecil, seperti ngantuk, ban bocor, lampu mati, sampai dengan kendaraan mogok total. Namun secara umum hal yang aku tangkap jika dinasehati “nanti klo terjadi apa-apa”, lebih cenderung kepada hal-hal yang sifatnya nonteknis seperti nyemplung ke jurang, kelindas trailer, nyambar orang, atau hal-hal nggilani semacam itu.

Memang beberapa kali pernah kejadian kecil yang bersifat nonteknis itu, namun syukurlah tidak menimbulkan trauma.

Merasakan bagaimana pating jumpalit gulung koming saat shogunku dalam posisi gas pol menabrak sekaligus ditabrak motor lain. Yang kuingat hanya langit, gelap, langit, gelap, sampai beberapa kali.

Lalu melakoni acapela waduh waduh mrenges saat melepas celana jeans yang sudah lengket di pinggang dan dengkul karena dalamnya luka gores di aspal.

Atau bagaimana harus bermanuver ala tong stan ketika astrea grandku spin 360 derajat saat mendadak muncul bak truk besar di mukaku, di sela-sela gelap, dan hujan deras. Shockbreaker belakang yang lepas satu tidak kusadari sampai tiba di tempat tujuan.

Barangkali saja desainer motor matic pernah mengalami kejadian ini sehingga menyimpulkan bahwa shock belakang sebenarnya cukup satu sisi saja.😛

Kejadian-kejadian di atas, dan beberapa kejadian yg tidak bisa aku ungkapkan karena kekhawatiranku akan dianggap sebagai jagoan, tidak serta merta menimbulkan trauma.

Menurutku, trauma ditimbulkan jika kejadian yang dialami itu disebabkan oleh sesuatu di luar kontrol kita. Untuk kasus di atas, akan menimbulkan trauma jika aku sudah jalan secara hati-hati sekali, eh tahu-tahu diseruduk kendaraan lain. Sangat berbeda dgn kasusku di atas, itu cenderung karena aku kurang hati-hati dan waspada menghadapi situasi jalan.

Terlepas faktor penyebab bencana itu, dan peluang terjadinya, semua harus dikembalikan kepada Yang di Atas. Makanya di setiap fragmen pamitan, pasti diingatkan utk doa, sesuatu hal yg sederhana namun sering terlupa. Padahal cukup bismillah dan apa yg terjadi, terjadilah.

Termasuk kejadian teknis tadi malam ketika lampu kudaku mati semua karena dinamo pengisian bermasalah. Sebetulnya masalahnya sudah kutemukan kemarinnya, namun berhubung malas menanganinya, aku putuskan tetap memperbudaknya untuk perjalanan malam hari.

Baru jalan sekitar 1 1/2 jam, ketika akan memasuki daerah ndeso di kaki Gunung Sindoro, apa yang terjadi terjadilah.

Pertama kali inverter ac berbunyi menandakan kurang catuan daya, diikuti radio tape mati, kemudian kekuatan sorot lampu depan menurun secara drastis, dan terakhir indikator-indikator di panel dasbor ikut mbleret akhirnya mak pet, mati total. Di depan hanya terlihat samar-samar garis putih marka jalan.

Ada dua pilihan di sini, yaitu berhenti dengan menginap di hotel, masjid, pom bensin, atau lainnya. Atau melanjutkan perjalanan melintasi kaki Gunung Sindoro ini dgn segala konsekuensinya.

Meskipun sebenarnya kekhawatiran yang paling besar di sini hanyalah ditilang pak pulisi ndut karena jalan tanpa lampu.😀

Menimbang untuk memutuskan pilihan sambil tetap melaju berkendara menimbulkan kesimpulan bahwa alam bawah sadarku ingin tetap melanjutkan perjalanan.

Strategi mengikuti kendaraan lain cukup efektif untuk kondisi ini. Beberapa mobil sempat kuikuti, beberapa pisah karena beda arah tujuan, beberapa lagi aku salip di jalanan terang karena dia terlalu pelan. Tapi lebih sering aku jalan sendiri, dengan mengeluarkan tangan kanan memegang senter. Kadang tangan aku tarik masuk kembali jika melewati sekumpulan orang. Tengsin banget, kelihatan begonya.

Rasa capek karena harus konsentrasi penuh di dalam gelap hanya bermodalkan senter,
mencoba menaklukkan jalan gunung berkelok yang tepi jalannya tidak terlihat sehingga beberapa kali terperosok bahu jalan tanah,
serta tidak adanya mobil lain yang menyalip untuk kemudian kuikuti,
membuatku berhenti di tempat yang biasanya jadi istirahat sementara truk.
Tempat yang aku rasa paling tinggi, karena seingatku rute selanjutnya akan menurun terus dengan tikungan-tikungan pendek di antara tebing dan jurang yang tidak kelihatan hanya oleh sorot senter tangan.

Tempat ini sepi tiada nampak aktivitas sama sekali. Dengan hati-hati kunetralkan persneling, rem tangan, dan keluar mobil dengan posisi mesin mobil tetap hidup. Sebab sekali mesin mati saja, sudah cukup alasan utk ngecamp di sini. Ih… enggak banget deh…

Beberapa menit kemudian, lewatlah sebuah truk.

“Berhenti dunk”, bisikku dalam hati.

Bisikanku dikabulkan. Truk itu berhenti tepat di belakang mobilku. Supir + kernetnya tergopoh-gopoh keluar. Sigap sekali, mengesankan orang jalanan tulen. Ooo… ternyata kebeles pipit to. Baru setelah selesai itu mereka melangkah gemulai mirip putri Solo.

“Tadi masnya yg mengintili bus Perkasa, ya? Kalo saya ga waspada pasti sudah tersenggol pas nyalip saya”, tukas supir truk setengah protes ketika aku bilang akan nebeng selama menuruni kaki gunung ini.

Namun hanya sesaat setelahnya, seolah memperbaiki percakapan, dia bilang,”Mengintili mobil tidak cukup hanya di belakangnya tok. Apalagi ini jam bis malam melintas. Nantilah tunggu kawan saya di belakang. Njenengan di posisi tengah. Diapit. Pasti aman. Soale dari belakang dapat sorot lampu juga”. Solusi yang cerdas nih.

Beberapa lama kemudian muncullah dua truk dalam selisih sekian menit. Mungkin karena melihat truk kawannya berhenti, secara otomatis mereka ikut berhenti. Ada sekitar 7 awak truk yg turun.

Sempat terjadi diskusi sebentar diselingi guyon kere ala Tukul Arwana. Beberapa alternatif muncul. Mulai dari perbaikan dinamo sampai dengan diderek dengan tali.

Ujung-ujungnya penarikan kesimpulannya sederhana saja : Njenengan dari Jogja to. Kita semua juga asli dari sini. Dekat. Artinya kabeh seduluran. Wis, yuk mangkat.

Lha piye to ki hubungane antara Jogja dengan daerah sini, keprimen kieh. Dari dulu aku tidak pernah ketemu referensi trah Jogja yang beranak pinak di sini. Atau jika memang sedulur adakah keharusan berangkat bareng? Entah aku yang telmi atau mereka terlalu naif utk sekedar menampik logika suatu fallacy.

Akhirnya berangkatlah satu konvoi kecil. Satu truk di depan dan dua belakangku. Meski terkantuk-kantuk karena kecepatannya hanya kisaran 10-20kmpj, aku merasa nyaman dgn kondisi ini. Yang pertama karena radius putar truk yang besar membuatnya mudah diikuti. Yang kedua dan terutama adalah jika terjadi apa-apa atas mobilku, ada kawan yang siap membantu. Situasi nyaman terbukti ketika berkali-kali papasan dengan bis malam di medan berat ini menjadi mudah aku lalui.

Sisa rute yg biasanya kutempuh hanya 1/4 jam kini menjadi hampir satu jam.

Hingga akhirnya ketika sudah keluar dari jalur ini, menepilah aku, melambaikan tangan, dan tak disangka konvoi ini menyambut dengan suara-suara gaduh membahana membelah bekunya kota.

Terharu, trenyuh, dan hormat atas paseduluran sejam ini karena ketiadaan pamrih atas pengawalan tadi. Sukses untuk kalian semua. Selesai tugas langsung mak cul, pergi begitu saja tanpa tuntutan apa-apa. Sekedar meninggalkan kartu nama khas businessman saja tidak.

Meninggalkan sang tupai untuk mencari pohon lagi.

Saat ini, setelah mengeksplorasi penjuru kota kecil dengan lampu mobil yang buta, kuputuskan untuk tidur di pangkalan bis saja sambil menulis catatan ini. Sebab setelah etape ini, aku akan masuk ke etape di mana kekhawatiranku terbesar kemungkinan terjadi, yaitu menghindari tilang pak pulisi ndut karena tiada lampu.

Toh, mentari tinggal 3,5 jam lagi akan nongol dan untung teteh bawain bantal.

Eh… atau gara-gara bantal ini yg membuat aku harus ngecamp di sini? Halah…

 

©©special thanks to aa1370me dkk

————————

last edited : 23/10/2008

atas dasar saran seorang kawan, beberapa kalimat saya hapus untuk mengurangi kesan narsis. padahal narsis itu indah 😦 . iluvnarxis

Explore posts in the same categories: Ndobos

Tag: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

11 Komentar pada “Si Tupai Jatuh Lagi”

  1. komandane Says:

    nek misalnya diwalik gimana, jadi niat pertamanya memang mbambung, kemana2 bawa peralatan tidur, minimal sarung tadah iler. lalu lampu mobil ra sah diurus, kayak pemburu2 prairi jaman wild west, begitu gelap datang, langsung negcamp, nggawe wedang, masak sego, massak lawuhe, bawa radio mono kecil. jadi tinggal dihitung, pengin nongkrong dimana, maka berangkat jam berapa. Besok pagi saat navigasi visual memungkinkan, baru berangkat. jajalen om. terus tulisen neng blog.🙂

  2. wisnoe Says:

    tenang kumendan.
    yg jelas matrasmu masih kebawa terus. tapi yen niat mbambung ngono yo rekasa no. wong uripe wis rada mulyo legowo gini. apa ndak jadi sama dengan aliran ‘rat’ di scuter. kabeh pating cemantel nggilani kae, padahal wong-wonge yo kaum berada.
    ora aku blas…

  3. firman Says:

    kayaknya incoming online tuh yg di dashboard, Wis
    katanya bagus buat ranking
    ngejar rangking gak😀

  4. firman Says:

    sorry …
    incoming link😀

    thanks infone kang.
    tapi tetap ndak mudheng:-/
    soale baru hari ini terisi link-nya, salah satunya ke blogmu. biasana kosong aja tuh. terus kalo diklik masuknya ga langsung ke link-ku, tapike topik tertentu.
    begitu kang.

  5. wahyu Says:

    wuah..wuah..
    kalo saya bilang sampeyan tuh wong nekat..
    tapi ceritanya menarik. ditunggu tulisan selanjutnya..

    kebetulan sih situasinya ga memungkinkan balik arah krn jalan sempit. klo maksain malah takut nyungsep atau resiko mesin mati. jadi ya, yang terjadi, terjadilah…

  6. Nana Says:

    wesss…. banyak bahasa jawa nya ya.. hehe.. seru juga bacanya, tapi kalo gw yang diperjalanan itu, pasti stress!!! hehehe..

    justru yg nggak bikin stress itu kalo sendirian, na. nggak bayangin kalo lagi ngajak istri ataw temen. widiihh… serem.
    btw, mudheng nggak sama istilah jawanya? klo nggak mudheng ntar tak edit deh…🙂

  7. Ka Says:

    Keren, brow… It shows that you’re the real adventurer😀
    Menurut primbon, teman sejatimu adalah alam, brur (bukan adeknya vety vera ya..).. Halah!!!! malah ngomyang..
    Sayangnya, gak iso direply yo?? ketoke asyik nek ada visualisasine.. hehehe..loh ngomyang meneh..
    Piz, brow..😛
    ditunggu pengalaman menantang lainnya yaw..
    kekekekeke

    topiku ga muat euy…
    kalo aku real adventurer, lha para awak truk itu super adventurer cz tiap hari hidup di jalan. kemaren kan cuma kebetulan aja. beda jika emang niat adventure ya kaya komennya om kumendan. kalo sampai bisa seperti itu malah nggak guwe banget deh ah….
    terus kalo ada visualisasinya ya paling gelap gulita… namanya juga kisah malam remang-remang😛

  8. Ka Says:

    salah tulis, mas, kamsudku replay, not reply… ternyata kecepatan berpikir tak tersaingi oleh kecepatan tanga.. hhehe…ngomyang meneh

    tanga.. kamsude tangan kali ya :-p
    hehe…

  9. santi Says:

    Firman, iya tuuu… ajarin bapak petualang ini bikin shoutbox dong.

    asem ik, ngece…


  10. […] kawan pernah kasih wejangan untuk tulisan Si Tupai Jatuh Lagi. mbok ojo sembrono dengan pangucap. waktu itu aku hanya tertawa bahkan sampai terpingkal-pingkal. […]

  11. kemed Says:

    kangmas, kelihatannya emang cocok ki njenegan jadi adventurer or orang nekat ya……
    but the show must go on dan perjuangan harus diteruskan
    halah kono…….

    orang nekat mungkin lebih cucok mad, ya.
    cz klo adventurer aku ga ada tampang. wong imut gini e…🙂
    mad, diajak rebo bisnis neh piye?
    ps. jangan pernah bilang diriku adventurer maning. malu sama kumendan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: