Stuck

Tidak ada mood. Macet. Stuck.

Pikiran-pikiran yang biasanya cukup disentil dengan hanya satu atau sedikit pengalaman dari kejadian sepele, kemudian dengan sedikit ndobos bin kopros bisa terlontar menjadi satu artikel yang panjang yang kadangkala ngawur, kali ini tidak ada sama sekali. Sensitivitas sensorik agak menurun dalam dua minggu terakhir seiring dengan prioritas membagi pikiran menjadi beberapa sub-pikiran, untuk kemudian hampir semuanya muspro dimakan banyaknya bagian yang menuntut prioritas itu. Satu dua paragraf yang manis telah terbentuk, namun, setelah itu … stuck

Event yang mereview performansi pekerjaan periode terakhir dari masing-masing area, sama sekali tidak memicu rasa bagaimana bisa ndobos tentang area yang aku wakili kepada juragan besar, atau setidak-tidaknya membela diri atas ketidakmampuanku menjelaskan situasinya. Jadi bukan ketidakmampuanku dalam action mencapai target. Manakala area lain berlomba dengan presentasinya masing-masing, dengan berbagai trik menyulap hambatan menjadi tantangan, ketidakmoodanku masih tidak terkalahkan.

Satu sesi, juragan besar melemparkan target ke depan yang, menurutku, hampir mustahil, para adipati cilik dari pelosok area ndeso langsung menyambarnya menjadi tantangan. Bagaimana meningkatkan performansi sampai dengan sekian persen pun dengan serta merta bisa di-counter dengan program-program yang ajaib. Pokoke top markotop. Banyak angka-angka kecil tertera, dibagi-bagi dalam banyak kolom dan baris dalam spreadsheet, dilengkapi dengan logika ilmiah asal muasal angka-angka itu. Penjelasan itu kemudian ditambah dengan bukti-bukti empiris yang berkaitan dengan logika itu. Lengkap deh. Well done. Tidak percuma mereka berteman dengan aku. :-p

Manggut-manggut setengah takjub, setengah kriyip-kriyip, sambil sesekali corat-coret di tablet pc, mencoba melihat statistik blog. Weeiihh… ada komen baru…😀  Siklus pendek ini terulang lagi bersamaan dengan pergantian giliran para adipati untuk menjual diri demi area masing-masing.

Hingga ketika diriku mendapatkan giliran, dengan seolah-olah terkejut, kemudian menenangkan diri, namun akhirnya hanya balik bertanya lagi tentang target. Khas orang bego ya seperti ini. Ternyata, busyet deh (seolah-olah terkejut lagi), naik sampai dengan 400%. Yang kemarin saja sudah menggehmenggeh kemringet, periode depan nggak kebayang apa dulu yang bisa dimutilasi.

Target, di mana saja kapan saja siapa saja, haruslah realistis, berbatas waktu, dan sekaligus menantang. Aku ingat di masa Prabu Tatanananyar ada pasal-pasal karet tentang subversif yang bisa dengan mudahnya menyeret pihak-pihak, yang secara intuisi dari Sang Prabu sangat berbahaya, ke dalam hotel prodeo untuk dijadikan sebagai warga binaan. Di sini, definisi menantang sebagai bagian dari sub-definisi target sendiri harus didefinisikan terlebih dahulu, supaya tidak terlalu mengobral biaya perjalanan dinas ke hotel prodeo itu. Celaka jika target lebih difokuskan kepada woro-woro barangsiapa berani dengan tantangan ini maka dialah yang layak sebagai pelaksana target. Maka bergembiralah orang-orang yang mempunyai nyali yang cukup dengan yang dipersyaratkan oleh kosa kata ‘berani’ itu.

He em…

Wah, ngelamun lagi…

Bagaimana dengan pertanyaan juragan besar tentang program pencapaian target? O iya. Meminjam jawaban para atlit nasional jika ditanya tentang target, maka : saya akan berusaha semaksimal mungkin. Itu saja dan sebenarnya tidak perlu presentasi karena programnya bisa nebeng area lain yang sudah good marsogood. Tinggal memperbanyak kuantitasnya saja. Jika area lain punya program A, maka nanti akan saya adopsi menjadi program 2A. Jadi A-nya ada 2. Diharapkan hasilnya 2 kali lipat.

Hening sesaat,

sedikit kasak-kusuk agak mesam-mesem,

kemudian grrr…

Tertahan dan tidak lepas, karena menunggu juragan besar untuk bertitah terhadap kelakuan adipatinya yang sontoloyo. Sang juragan dengan tampang serius, berpikir sejenak dengan dahi agak berkerut, terlihat melunak, akhirnya grrr … juga. Meskipun kemudian dengan kewibawaannya mampu mengkatalis pikiran-pikiran tidak bermutu dariku dikolaborasikan dengan pikiran-pikiran ajaib lainnya.

Ini hanyalah satu komparasi saja betapa sedang tidak moodnya diriku. Jika keputusan tertinggi adalah di dalam event itu, maka sudah paling tinggi jualah rasa tidak mood yang aku rasakan sekarang, karena event itu tidak mampu memancing aku keluar dari rasa eneg ini. Begitulah yang terjadi.

I’ll be back.

 

Salam

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: