Rindu Halaman

Sepengisap mild dan sepeminum teh poci dengan teko tanahnya, cukup untuk menemani senarai gerimis buram di pelataran teras depan. Menerawang ke langit-langit, mencoba mengukur luas teras yang hanya satu hasta lebarnya. Di sini, tidak juga home sweet home-ku di sono, tiadalah memiliki ruang yang cukup sekedar untuk berselonjor membuang angin. Lantainya yang berkeramik bagus terkesan dingin dipadukan pagar besi kokoh, yang kucing pun tidak ada celah untuk menjengukkan kepalanya. Kondisi yang membuat rasa cengeng akan halaman tempat aku dibesarkan segera membuncah.

Dulu hanya ada pagar hidup di sekeliling sana. Daunnya hijau kecil-kecil yang jika dipetik akan keluar getah berwarna putih. Simbah sering mengingatkan untuk tidak bermain-main dengan getah itu karena jika terkena mata akan mengakibatkan kebutaan. Begitu kata simbah sambil menirukan orang buta berjalan dengan salah satu tangan menutup mukanya dan satu tangan seolah-olah sedang mencari pegangan. Sekilas terlihat matanya mengintip dari sela jemari tangannya yang membuatku tertawa. Cukup sampai di situ saja batas peringatannya tanpa harus menggunakan intonasi tinggi atau memakai jurus cengkiwing. Aku sudah tahu bahwa getah itu berbahaya bagi mata meskipun tidak ada pengalaman yang pernah kualami. Merasa sudah tua cukup dengan memahami ajaran yang kuperoleh dari orang-orang tua.

Kadang-kadang ajaran itu tidak bisa kumengerti karena blunder yang dibuat oleh orang-orang tua itu.

Contohnya ketika simbah bilang,” Mbah dulu pernah kena getah di mata. Sangat sakit sampai beberapa hari”. Mungkin untuk menghiperbolakan peringatannya, kadang simbah memakai contoh dengan pelaku utama adalah dirinya.

“Lalu kenapa simbah tidak buta?”, tanyaku.

Biasanya jawaban terakhir dari simbah, bahwa karena dia sudah besar sehingga lebih kuat, cukup untuk menutup percakapan.

Pesan moral ini yang mendasari keinginanku untuk lebih cepat dewasa.

Keinginan itu yang membuatku terbiasa bangun pagi dan duduk di balai-balai teras depan rumah sambil menunggu datangnya koran. Kebiasaannya bersambung dengan menunggu loper itu lewat lagi. Karena memang rute pelanggannya begitu, dalam kurun waktu 1/2 menitan loper koran itu melintas di depan rumah lagi, tapi ke arah balik. Kami biasa menyoraki loper koran itu.

Wee … nyasar… sambil tepuk tangan.

Bahkan kadang sebelum dia melintas balik lagi, kami sudah berteriak-teriak : nyasar, … nyasar, … nyasar, …

Sementara jika aku tidak mendapatkan koran karena keduluan direbut kakakku, ada tambahan kosa kata lagi : syukuurrr nyasar…

Begitupun jika ada saudara yang menginap, nyasarnya loper koran ini yang pingin kutunjukkan pada saudaraku itu dengan berbagai analisisku. Masa sudah lama belum bisa ingat jalan, kataku dengan wajah serius. Masih menjadi hal yang tidak kumengerti bahkan ketika ada loper pengganti sementara. Dia pun nyasar. Kadang aku harus memastikan bahwa jalan lokasi nyasarnya loper itu tidak buntu dengan mengecek sampai ke ujung gang. Tingak-tinguk sebentar sambil melipat tangan di depan. Apa kalo pagi-pagi jalan ini berubah buntu ya, atau sepeda tidak bisa lewat, atau jangan-jangan ada raksasa yang nyegat di sini?

Biasanya aku menunggu bareng kakak laki-lakiku setelah sebelumnya bisa serentak bangun dan pipis di depan teras. Adu paling jauh. Biasanya aku kalah. Bisa jadi karena kalah tinggi, tapi lebih sering karena setengah ngompol tadi malamnya sehingga stoknya menjadi lebih terbatas. Baru setelah itu menunggu dengan harap-harap cemas, kepada siapa tukang loper koran akan memberikan korannya. Ya, kami biasa berebut koran waktu itu. Seringkali kakak memarahiku karena aku belum bisa baca-tulis, jadi untuk apa “baca” koran. Sesuatu yang tidak bisa kupahami. Belum bisa baca koran, apa salahnya lihat-lihat koran, kan? Apa kalo orang tidak bisa naik sepeda tidak boleh pegang sepeda? Minimal aku tahu, posisi memegang koranku itu terbalik atau tidak.

Demi sebuah koran, jika bangunnya belakangan, biasanya salah satu dari kami akan mendapati kaki atau tangan atau badan kami atau semuanya terikat di ranjang.

Begitulah aktivitas yang mengawaliku untuk bergumul di halaman sehari penuh nantinya.

Halaman yang masih berupa tanah cukup menjadikan tantangan tersendiri buat bermain. Mengeksplorasi setiap sudutnya. Berlarian di sisi luarnya bisa jadi hampir sama proporsinya jika sekarang aku jogging mengelilingi dua gang di kompleksku sekarang. Hanya berbeda menggeh-menggehnya saja. Namun menggali, mengais, mencabuti akar tanaman menjadi hal yang paling sering aku lakukan.

Paling sering kutemukan binatang kecil berkaki banyak. Aku hanya menyebutnya gajah. Seandainya ada belalainya dan kakinya dimutilasi tinggal empat, maka persislah bentuknya mirip gajah. Mutilasinya sudah sering. Bahkan dengan berbagai kombinasi jika empat kakinya adalah yang ini dengan yang ini, atau yang itu dengan yang itu. Namun untuk menemukan benda yang jadi belalainya sampai sekarang belum ada yang pas.

Kadang-kadang juga kutemukan jangkrik upo di sela-sela bebatuan. Entah kenapa disebut upo, barangkali karena warnanya cenderung putih dan bulunya lembek tidak bisa digesekkan untuk mengerik. Sebelnya jangkrik ini tidak bisa diadu. Sehingga sering sebagai hukumannya aku persembahkan jangkrik upo ini ke ayam. Tentu saja dengan mantra-mantra sesembahan khusus sebelumnya, yang intinya supaya keturunan jangkrik upo nanti bisa mengerik dan bisa diadu.

Ada juga ritual yang dilakukan jika kebelet pipis. Pertama-tama aku mencari batu lanang kira-kira sekepalan tangan. Kemudian dengan penuh semangat kutempakan ke tanah sehingga menimbulkan cekungan. Kira-kira volumenya pas dengan volume cairan yang akan dipindahkan dari kandung kemihku. Nah, diarahkan ke cekungan itu lah pipisnya. Sambil berdiri tentu saja. Ini membutuhkan keahlian khusus bagaimana mengarahkan dan mengatur kecepatan pipis supaya tidak nyiprat keluar cekungan. Keahlian yang tidak dimiliki oleh anak-anak pada masa kini. Jika volume cekungan ternyata tidak mencukupi kucuran itu, pipisnya otomatis berhenti, disimpen lagi buat nanti.

Setelah sukses mengisi cekungan mirip mangkuk itu, pekerjaan selanjutnya agak rumit, yaitu menggali dengan jari jemari kecilku di sekeliling mangkuk cekungan itu, kira-kira 1 cm di luar batas airnya. Jika kebetulan sedang memegang jajanan pasar seperti putu mayang, hawug-hawug, sempe, blanggem, cetot, atau es ganepo, taruh saja di tanah dekat-dekat situ. Kan tidak mungkin menggali dengan tangan masih memegang jajanan. Pelan-pelan menggali atau tepatnya mengaisnya, karena tanah untuk dinding urine itu sangat rentan. Kemungkinan gagal jauh lebih besar dibanding sukses. Oleh karena itu penggalian harus disertai mantra-mantra jopa japu tertentu supaya memudahkan pekerjaan.

Jika gagal karena rusak atau bocor, cukup tendang saja sekeras-kerasnya hingga bertaburan ke mana-mana. Atau jika pingin membuang hasil mantra yang sudah kadung masuk ke urine itu, timpukkan batu tadi ke dalam mangkuk urine. Pada saat air muncrat, kutukan mantra itu ikut buyar. Eits, jangan lupa jajanan tadi diambil dulu karena bisa terkena cipratan dan tidak higienis.

Sebaliknya jika beruntung, aku akan mendapatkan sebuah mangkuk tanah dengan isi ramuan ajaib. Paling susah adalah mengambil mangkuk itu lepas dari tanah seutuhnya. Kadang-kadang sebagai apresiasi keberhasilan, aku bawa ke mana-mana mangkuk itu untuk diperlihatkan kepada siapa saja, termasuk si ayam harus minum ramuan ajaib dari mangkuk itu. Tentunya dengan mantra ritual tertentu.

Atau jika belum ketemu orang, aku letakkan hati-hati sekali di meja makan bersanding dengan mangkuk sayur dan bakul nasi. Siapa saja pasti akan singgah di meja makan dan akan memuji karyaku. Begitu pikirku.

“Apa ini?”, selidik simbah.

“Ramuan ajaib”.

“Apa?”

“Uyuh”.

Gedubrakkk…

Thole… tholeee…

Selalu saja ritual indian kuno yang aku lakukan berakhir dengan masalah.

 

Senyum-senyum, mrenges, jika mengingat kejeniusan dan kereligiusanku masa kecil. Mengernyitkan dahi, melempar tegur, jika mengamati bocah sekarang.

Aku yakin, bocah di masaku jauh lebih kreatif dibanding bocah di masa sekarang. Boleh diadu. Kenapa yakin? Karena bocah di masaku sudah pada jadi orang, masak mo dilawan sama anak-anak.

 

luv that

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Komentar pada “Rindu Halaman”

  1. komandane Says:

    kontradiksi dengan short message-mu yang konon mengatakan forever young. membaca tulisan ini justru aku menala aura keinginan flashback ke masa lalu yang temtu tidak mungkin. bisa didorong karena peliknya masalah kehidupan di masa dewasa ini, keinginan balik ke suatu situasi dimana problems belum mendera, atau, ah semoga cuma minat mengenang masa lalu yang gilang gemilang. tapi om, penyakit orang tua tidaklah banyak, dia biasanya cuma kopi, encok dan nostalgia.
    ojo nesu…

    hehe
    untung kata sambungnya “dan”, jadi semua harus terpenuhi utk masuk kategori penyakit tuwa. minimal aku ngga ngopi. satu point utk mencegah ketuwaan😀

  2. boim congcat Says:

    tua-tua keladi … semakin tua semakin makan ati ..makanya pada asam urat.

    nek iki rodo ra nangkep ki
    asam uratku di bawah standar lo

  3. santi Says:

    we want shoutbox!
    we want shoutbox!
    we want shoutbox!

    gak nyambung yo ben.


  4. Wah iya yah
    gak bisa nendang dengan bebas😀

  5. Anonim Says:

    “aku bawa ke mana-mana mangkuk itu untuk diperlihatkan kepada siapa saja, termasuk si ayam harus minum ramuan ajaib dari mangkuk itu”. eh, si ayamnya ga komentar apa2? Paling satu komentarnya, “DAHSYATTTT!!!” bar kuwi langsung ngglangsar semaput ayamnya.

    Btw, mas sendiri udah nyoba ramuan ajaibnya sendiri belum? Piye??

    Eh, mas, btw iso delivery ramuan ajaibnya ga? 14045.

  6. Riz Says:

    “aku bawa ke mana-mana mangkuk itu untuk diperlihatkan kepada siapa saja, termasuk si ayam harus minum ramuan ajaib dari mangkuk itu”. eh, si ayamnya ga komentar apa2? Paling satu komentarnya, “DAHSYATTTT!!!” bar kuwi langsung ngglangsar semaput ayamnya.

    Btw, mas sendiri udah nyoba ramuan ajaibnya sendiri belum? Piye??

    Eh, mas, btw iso delivery ramuan ajaibnya? 14045.
    pesen 1 ya.. hehhehe

    ayamnya dulu sampai 70 ekor, ada namanya semua.
    sehat-sehat lemu ginuk-ginuk ik.
    wah ramuane ga bikin lagi, lupa mantranya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: