Simbah dan Air Bah

“Ditutup itu hek-nya”, perintah simbah.

Aku yang dasarnya suka main air banjir segera nyemplung ke halaman dengan paha ke bawah terendam air. Untuk menutup hek atau pagar halaman, supaya segala macam barang yang pating kemampul terbawa banjir tidak masuk halaman. Namun usaha ini bisa dibilang sia-sia, mengingat benda-benda yang terbawa banjir berukuran relatif kecil sehingga bisa masuk di celah-celah pagar. Minimal ada si kuning berlayar selalu transit bahkan ngetem di halaman.

“Jaman walondo tidak ada yang beginian. Overstroomd…”, omel simbah.

Memang selalu begitu. Setiap ada kekesalan yang berhubungan dengan ketidakmampuan penguasa dalam mengelola negaranya, simbah selalu membandingkan dengan kondisi pada saat pemerintahan kolonial Belanda waktu itu. Jika kekesalannya itu tidak ingin ditanggapi oleh orang lain lain, beliau ngomyang dengan boso londojowo, yang bahkan mungkin tidak bisa dimengerti oleh wong londo dan wong jowo sendiri.

“Yang penting sekarang kan kita merdeka”, sahutku sambil mencuci kaki dari air bersih di ember.

Opschepper…”, timpal simbah,”apa yang kamu tahu?”

“Aku bisa sekolah”.

“Simbah dulu juga sekolah di MULO”.

Nggak ada perang”.

“Simbah juga nggak pernah perang”. Iya, memang simbah di pengungsian dulu bagian dapur umum terus. Alasannya sih sudah diwakili sama Mbah Hud (adiknya simbah), jadi harus bagi tugas di garis depan dan belakang.

Nggak ada londo di jalanan. Hehe…”, karena sudah kepepet, yang penting ngeles saja.

Niets londo op straat, tapi masih ada di sini”, kata simbah seraya jari telunjuknya menempel di dadaku,”Precies gelijk aan dat… sama saja”, lanjutnya mengakhiri percakapan.

Bingung, antara sedih atau bangga. Aku menyangka ada keturunan londo karena simbah bilang masih ada londo di tubuhku. Hal ini juga dikuatkan dengan postur simbah yang putih, langsing, kelopak mata dalam, mancung, dan tinggi sekitar 180 cm, mengingat jika bercermin di cermin ruang tengah simbah agak membungkuk supaya bisa melihat wajahnya sendiri. Cermin plus bingkainya sendiri sekitar 180 cm tingginya, hampir sama dengan tinggi pintu rumah. Belakangan baru aku tahu ternyata itu darah arab bukan kaukasus.

Hal yang sangat berbeda jauh dari diriku yang punya tinggi di bawah rata-rata kebanyakan orang. Sama sekali berbeda jauh dengan simbah. Namun mengingat foto simbah waktu muda yang mirip Onky Alexander bahkan dengan hidung lebih mancung, sedikit warisan simbah kepadaku hanyalah kenggantengannya. Halah… narsis lagi.

Daerah tempat rumahku atau tepatnya rumah simbah bernama Kampung Kali. Bisa dimengerti kenapa dinamakan demikian. Dari hasil tajamnya daya analisisku sih, nama itu terjadi karena kampunge sak kali dan kaline sak kampung. Kalinya sendiri cenderung tidak mengalir karena tinggi dataran kota bawah ini sejajar dengan permukaan air laut. Jadi tidaklah aneh, jika terjadi kiriman air bah dari kota atas, proses mengalirnya air ke laut sangat lambat sehingga debit air kiriman itu makin lama tidak tertampung oleh volume sungai di sini. Akibatnya overstroomd, deh. Kebanjiran.

Di halaman ada bis got yang di bawahnya terdapat gorong-gorong sebagai jalan air menuju ke sungai. Dulu jika musim kering, simbok waktu kanak-kanak biasa main petak umpet di sepanjang alur gorong-gorong itu. Sekarang kondisinya sudah permanen, artinya air comberan memenuhi gorong-gorong itu lengkap dengan rempah-rempahnya. Ini dimungkinkan karena posisi gorong-gorong sendiri sudah di bawah ketinggian sungai. Aneh sekali, sungai yang menjadi limpahan air gorong-gorong malah mengirim air untuk memenuhi gorong-gorong karena posisinya sudah lebih tinggi.

Wajarlah jika simbah kesal dengan para tukang insinyur di negeri ini yang pekerjaannya tidak pernah komprehensif dalam memandang akar permasalahan tentang banjir.

Sinis, skeptis, apatis, dan cenderung antagonis jika ada program dari pemerintah kota dalam pengendalian banjir. Yang pernah aku tahu untuk pengendalian banjir ini adalah pembuatan pompa-pompa di titik rawan banjir untuk menyedot air langsung ke laut. Khusus di kampung kami terkena program peninggian jalan. Ironisnya pembersihan sungai hanya mengandalkan kerja bakti swadaya dari masyarakat dengan iming-iming Adipura.

“Kamu tahu kenapa kampung kita sekarang langganan banjir?”, tanya simbah.

“Ya, karena air sungai meluap”.

“Kenapa bisa meluap?”.

“Hujannya deras”.

“Hujan deras kalo sungainya mengalir lancar, apakah akan terjadi banjir?”.

Aku terdiam. Benar juga. Pinter juga simbah. Jadi apa ya?

Itu karena manusia idioot yang mengelola kota ini. Aku pikir sebutan idioot masih sangat halus dibandingkan dengan manusia kotor, tukang korupsi, munafik, karena idioot cuma tidak mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Sedangkan kotor, tukang korupsi, munafik tahu yang harus dikerjakan tetapi mereka tidak mau karena kebobrokan moral mereka.

“Yang bisa terlihat dan terasakan sajalah yang dijadikan sebagai dasar pengambilan simpulan bahwa memang manusia pengelola kota ini adalah idioot. Jika mereka pinter, maka tidak akan ada banjir rutin. Ini lebih objektif dibandingkan menuduh mereka kotor karena hanya menimbulkan fitnah”.

Penyebab utama banjir di kota ini adalah ketidakmampuan kota bawah mengalirkan air ke laut secepat kiriman air dari kota atas ke kota bawah.

Alternatifnya ada dua, yaitu mengurangi kecepatan kiriman air dari kota atas ke kota bawah, dan mempercepat mengalirnya air dari kota bawah ke laut.

Dari kecil sampai tuwek gini, program yang telah dilakukan adalah mempercepat mengalirnya air dari kota bawah ke laut dengan dibangunnya pompa-pompa air bernilai milyaran rupiah. Karena masih belum bisa mengatasi air, ditinggikanlah jalan-jalan yang sering banjir, dibuat folder-folder penampungan air. Semacam rawa buatan. Program setengah hati lainnya adalah normalisasi sungai.

Problem solve? Tidak dan tidak akan pernah selama pengelola kota ini masih idioot.

Program yang dijalankan dengan duit pinjaman ini “diimbangi” dengan percepatan pertumbuhan kota atas. Bukit-bukit yang dulu rimbun pohon sekarang sudah tandus berganti dengan bangunan-bangunan keras. Penerimaan pajak atas properti dan ikutannya dan cipratannya menyumbang peran terbesar dengan dibukanya daerah hijau di perbukitan.

Setelah beberapa belas tahun di rantau, aku bisa merasakan kesinisan, keskeptisan, keapatisan, dan keantagonisan simbah ketika perkebunan hutan karet ribuan hektar di kota atas akhirnya menyerah kepada kepongahan moral pengelola kota dengan dibukanya area hutan ini menjadi kota satelit baru. Menjadi daerah yang sekarang sangat diagung-agungkan oleh penguasa kota ini dengan sangat luasnya rencana pembukaan lahan hutan karet ini.

Tentu alasan sebetulnya adalah adanya pemasukan pajak yang sangat besar dari aktivitas baru di kota satelit ini. Sedikit kecripatan lumayanlah. Banyak kecripatan bisa dipakai untuk pilkada nantinya.

Jadi… [wah cape juga nulis, jadinya kok artikel yang beginian ya]

Jadi kepada simbah, aku sudah tahu jawabannya sekarang.

Secara umum, program pengelola kota ini adalah penanggulangan banjir kota bawah secara sporadis karena tergantung bisa mencari milyaran dana pinjaman atau tidak,

ironisnya sekaligus mempersempit ruang resapan air di kota atas demi pemasukan pajak rutin beserta cipratannya dengan membuka koloni baru di kota atas .

Masih banjir? Yo wis ben.

Jabatanku kan cuma beberapa tahun saja.

 

kotaku kaline banjir

jo sumelang jo dipikir…

.

.

.

Tks 2 Ka bwt usulan topiknya.

Explore posts in the same categories: Ndobos, Satire

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

5 Komentar pada “Simbah dan Air Bah”

  1. komandane Says:

    Ya, hutan karet itu. Aku yakin adalah, ya Alloh, kok lali. Sik2 tak eleng2. Kakean hewes2 dadi lali… Ngaliyan, yg ke arah mBoja to?
    Aku inget masa2 terbaik saat menjadi anak tanggung, SMP, waktu menjelajah sana, sebuah petulangan yg tak terlupakan, aku dengan sepeda jengki warna biru. Leo pake sepeda galap raleigh. Noro pake BMX. Trus siapa lagi ya? (lali)
    Dari jalan raya krapyak, trus ke arah kiri dan terus menanjak. Sungguh menggeh2 krn jalanan menanjak, seringkali sepeda terpaksa dituntun. Masih inget juga ada ular hijau yg tergolong besar melintas saat kami bertualang itu, dan Noro dgn berani menabrak ular tersebut. Waktu itu saya benar2 masih takut yg berlebihan terhadap mahluk bernama ular. Sepeda terus kami kayuh dan kemudian kami tuntun dengan kaki-kaki gemetaran saat ketemu tanjakan2 berikutnya. Lambat laun sampailah kami ke suatu kawasan yang gelap, dingin, sejuk dan mencekam bagi kami anak2. Itulah hutan karet itu. Otak kami yang masih anak-anak pun merasakan “remang yg ora entek2”, karena areal yg demikian luas.
    Kenangan dengan hutan karet itu-pun masih juga kutemui, saat awal SMA, belum punya SIM, nyuri2 buat make motor Bapak jauh2, saya memberanikan diri berbohong ke Bapak Ibu, buat ngapel ke Imas, gadis keponakan pabrik krupuk di Semarang, yg tinggal di mBoja. Pulang & perginya, dalam 2-3-4 kali apelku yg jauh dan juga penuh petualangan itu, kulewati hutan karet yang dingin itu.
    Tapi ketika kita dulu nongkrong & main2 perahu karet di telaga itu, hutan yang dahsyat dlm ingatanku itu telah lenyap. Menyisakan kenangan soal petualangan anak2 & masa2 terbaik lingkungan kita.

  2. wisnoe Says:

    Wah, om, merinding juga sekaligus trenyuh terharu baca komennya.
    Ternyata hampir ilang dari ingatan ya.
    Merinding atas suasana hutannya, trenyuh atas Imasnya, terharu atas komennya di artikel ini😀
    Sangar men, pasti pabrik krupuknya gedhe banget itu.
    Dulu pas maen ciblon di danau buatan itu, aku juga belum sadar, ini sudah masuk kawasan hutan itu atau belum ya. Ternyata sudah. Dari foto udara terlihat mengerikan.
    Pengalaman yg sama tentang bersepeda, tongkrong sambil makan rambutan ace dan kadang-kadang duren, kadang blusukan sampai rumahnya emon di mBoja yang magrong-magrong masih melekat erat. Btw, ini maksude bersepeda motor😀 .
    Asli selama ini aku terbuai omongan penjabat ttg program banjir yang seolah-olah tenanan utk mengalihkan perhatian dari kerusakan hebat atas alih fungsinya area resapan di kota atas. Padahal kasunyatan yo podo baen dari masih taman kawak-kawak sampai tuwek, ndak ada kemajuan sama sekali malah semakin parah. Tidak hanya di hutan karet di barat, di selatan selatan timur pun podo wae sami mawon.
    Berbagai analisis ttg kemampuan folder tawang sebagai pengendali banjir pun, yang nota bene keluar dari wong-wong pinter asli kota ini, guru besar berbadan besar lemu ginuk ginuk, dari awal aku tidak yakin akan keberhasilannya. Tapi sedikit banyak ada semangat tentang pertambahan lokasi mancing. Akhirnya foldernya penuh, saluran di daerah merak pengapon juga tetap ngecembeng, banjir tubrukan sama rob juga tambah parah.
    Miturut pakdhe Joyoboyo, nek ora ngedan ora keduman, kayanya saya mau ngedan juga ambil properti di kota atas. Biarlah kota bawah especially kota lama tenggelam asal kita masih keduman panggonan untuk bisa memandang dan manggut2 dari kejauhan.

  3. wahyu Says:

    duh..duh..
    ini sepertinya jadi ajang cerita kenangan masa kecil. jadi ikut terharu meski cuma bisa ngebayangin suasananya.

    ada yang bilang konversi lahan gak bakal bisa dihindarkan karena jumlah penduduk yang terus bertambah. tapi akan lebih baik kalau cara-nya yang juga memperhitungkan efek terhadap lingkungan.

    Mas wisnu dah wangun buat novel, cara bertutur dan gaya nulisnya dah cucok..

  4. wisnoe Says:

    Tuh kan mulai lagi sinanjungnya. Helm yg kemaren nyaris pecah.😀
    Bikin novel ya.
    Wah… masih jauh, mas Wahyu.
    Ternyata dunia penulis itu tidak sesederhana yg dibayangkan, lo. Mulai dari cari wangsit, ngetik, kadang moody, trus ngeprint, kirim ke penerbit, kalo sudah ok masih harus kongkalikong dgn pembajak. Belum distribusine. Wis jan njelimet… Kudu tabah.
    Ini lagi belajar berbagai gaya nulis, termasuk bikin puishit. Haha garing semua…😀
    Ternyata kalo bukan gaya dari karakter kita itu cape sekali. Termasuk tulisan yang ini. Cape.

  5. wahyu Says:

    betul mas. nulis itu emang sulit. selain latihan bakat juga kudu punya.

    jadi inget kata Pram. Kalo ada seorang pengemis tua yang begitu menyedihkan. Semua orang pasti bisa merasakan iba dan kasihan. Tapi tidak semua orang bisa menuliskan cerita tersebut sehingga membangkitkan efek yang sama ketika kita melihatnya langsung.

    wah.. mesti kongkalikong sama pembajak to? susah juga ya.

    oh ya, sekedar info, saya punya temen penerbit di Jogja.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: