Dome Sweet Dome

Syahdan, pada zaman kala bendu.

! Urgent.

“Wis, dusun Nglepen. 7 KK SOS 4 hari makan telo. terisolir”

Begitu kira-kira SMS yang kuingat dari Om Kumendan tanpa merinci Nglepen itu mana atau di daerah apa. Waktu berangkat tadi hanya pesan mau menyusur dari Prambanan ke arah selatan bareng dengan barudak Trabas yang kita undang untuk BKO di posko kami (thanks to Trisman & Nigar). Aku sendiri waktu itu masih leyeh-leyeh menikmati opera wedhus gembel Merapi di salah satu posko bareng anak-anak, kalo tidak salah, dari Kutai Kertanegara.

“Nglepen itu mana e, dab ?”, konfirmku via Flexi, satu-satunya seluler yang masih lancar waktu gempa itu.

“Pokoke masih daerah Kalasan ngidul. Cedak ngomahmu. Soale aku ndak nyatet koordinate. Kasihan tenan, 4 hari terisolir. Ada rumah yang ruang tamu dengan dapurnya dipisahkan jurang. Iki langsung bablas ngidul bareng barudak. Sementara sudah ta’ dropping ransumku”.

“O… wedhus, ik“.

Begitulah selalu kelakuan Om Kumendan. Selalu menjaga keseimbangan dalam aktivitasnya. Termasuk sekarang, meskipun dibilang SOS tapi masih sempat-sempatnya ditinggal blusukan dengan klub dirty bike asal mBandung itu, tanpa prioritas. Sorry ye nDan, ta’ pisuhi.

Nglepen, akhirnya menjadi salah satu dari sedikit lokasi korban gempa yang tidak sempat kami jangkau untuk dropping bahan bantuan, mengingat sedikitnya informasi tentang lokasi, sekaligus karena suasana chaos pada posko yang berpacu dengan waktu, bagaimana secepat mungkin dilakukan dropping apapun yang tersedia di posko. Ambulans yang sudah disetting ke sana pun hanya muter-muter mentok di jalan utamanya karena tidak tahu arah.

Memang beberapa hari kemudian aku blusukan sendiri untuk mencari lokasi itu, yang syukurlah ternyata sudah dihandle oleh posko lain. Bisa jadi karena kejadian ruang tamu dan dapur yang terpisah oleh tanah bengkah sudah masuk liputan koran, baik lokal maupun nasional.

Rumah DomeKemarin, berbarengan rencana boyongan dari kota ke ndeso tempat aku mencari nafkah sekarang, tiba-tiba saja tebersit keinginan untuk melihat daerah itu lagi. Seperti apa perkembangannya. Termasuk untuk melihat bentuk dan suasana kompleks rumah dome yang dibangun pasca-gempa.

Mendung tebal yang menggantung dari kemarin tidak menghalangi niat ini untuk segera mengunjunginya secara langsung dengan dipandu teteh yang pernah sekali nyasar ke sana. Sayang sekali memang, sesampainya di lokasi, hujan masih turun dengan lumayan derasnya, menyebabkan aku hanya bisa memandang dari dalam mobil saja. Padahal ingin sekali aku bisa berbincang dengan salah satu penghuninya. Mencoba tongkrong di masjid pun ternyata tidak memungkinkan karena masjidnya berbentuk dome juga, tanpa teras, sehingga tidak ada ruang untuk menghindar dari air hujan. 

Meskipun agak ragu dengan lokasinya, karena perasaan dulu trailku sempat kesulitan mencapai lokasinya, aku pastikan saja bahwa lokasi ini menjadi tempat relokasi korban gempa termasuk 7 KK tadi. Perasaan ini muncul sebagai wujud pembelaan diri atas ketidakmampuan menjalankan amanah di posko dulu. Sekedar mengetahui bahwa mereka telah kembali beraktivitas normal bisa menjadi obat untuk menghapus ngganjelnya rasa bersalah ini.

Rumah dome di dusun Nglepen, Prambanan, ialah rumah dengan atap berbentuk kubah dan denah berbentuk lingkaran. Jumlah rumah 71 buah, mempunyai beberapa km/wc komunal untuk setiap 12 rumah. Diameter rumah dome 7 m, dua lantai, luas sekitar 38 m2. Pembangunan dimulai 10 Oktober 2006, dan mulai dihuni warga akhir April 2007. Kawasan ini merupakan proyek pertama di Indonesia dari World Association of Non-Governmental Organization (WANGO) dan Domes for the World Foundation (DFTW)6, dan dibangun oleh Dubaibased Emaar Properties.

Dari pengamatanku setelah berkeliling di setiap sudut kompleks rumah teletubbies ini, rasanya ada yang hilang dari suasana hujan di pemukiman wong jowo ndeso pada umumnya. Jika model rumah jawa lainnya, entah itu joglo atau limasan, suasana hujan sore hari seperti ini cukup bisa dijadikan alasan bagi penghuninya untuk tongkrong di teras, sekedar ngopi, udat-udut, rasan-rasan, atau bahkan jika ingin mengikuti trend reality show, suasana ini cukup mendukung jika diseting untuk mojok atau termehek-mehek atau sedikit gresek-gresek.

Sepi dan cenderung dingin di antara kubah-kubah imut yang terkesan hangat, tidak tertangkap secara harfiah begitu saja di benakku. Aku yakin, dari balik rumah-rumah teletubbies itu mengintip hangatnya jiwa penghuni yang seakan terkungkung secara jasmani oleh hujan hanya karena model bangunan yang tidak mengijinkan untuk itu.

Bentuk konstruksi dome yang membulat menyebabkan air hujan mengalir langsung di sepanjang dinding dari kubah sampai ke tanah. Ini berarti bahwa pintu, jendela, termasuk kusen yang semuanya terbuat dari kayu secara frontal terkena langsung efek dari musim tahunan. Jika di musim penghujan seperti ini, mereka terkena terpaan angin sekaligus air yang membasahi rumah. Di musim panas, sengatan sinar matahari akan langsung menghujam ke pintu jendela itu. Entah pertimbangan dari mana yang menyebabkan desain rumah dome ini diterapkan di lingkungan tropis dengan kadar kelembaban yang cukup tinggi.

Sangat naif jika sekedar bantuan kemanusiaan gratis menjadikan rumah-rumah ini berdiri permanen dengan peruntukan tahunan. Apalagi hanya sekedar pembukaan daerah baru untuk objek wisata.😦

 

Untuk mengatasi kelemahan desain ini, beberapa rumah terlihat sudah direnovasi. Paling banyak adalah menambahkan kanopi di pintu dan jendela. Beberapa terlihat menambahkan bangunan dari kayu berbentuk limasan yang menempel langsung di dinding rumah dome itu. Sangat elek bin wagu dilihatnya. Sah-sah saja mengingat kebutuhan pokok akan ruang berada pada posisi paling atas dalam pengaturan bangunan rumah.

Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh desainer rumah dome bahwa peradaban primata jawa ini membutuhkan ribuan tahun hingga tercapai pola hidup seperti yang tampak sekarang ini.

Menetap, bercocok tanam, menyimpan, refreshing, bermain, tongkrong, selametan, manuk-manukan, dan banyak adat hidup lainnya yang membutuhkan ruang untuk menunjang aktivitasnya. Berkebalikan dengan kesan yang aku tangkap dari konsep rumah dome ini yaitu sebagai hunian sementara sambil menunggu hunian lain yang permanen siap untuk ditinggali. Yup, sementara, karena ketiadaan faktor ruang yang mendukung aktivitas sekaligus privacy-nya. Contoh yang paling mendasar adalah ruang untuk penyaluran siklus metabolisme tubuh masih didesain secara komunal, yang artinya bahwa ruang privacy untuk itu tidak diakomodasi.

Ini tentu tidak berbeda jauh dengan pola kehidupan masa lampau, seperti suku indian nomaden yang membangun rumah gubugnya cukup untuk menunjang aktivitas terbatas pada satu musim saja. Atau sebut saja orang tartar dengan tenda-tendanya yang fungsi utamanya adalah tempat berteduh saja. Seperti itulah kesan yang aku tangkap dari bangunan rumah dome ini, bahwa untuk bisa hidup di lingkungan teletubbies ini setiap individu harus bisa berbagi dalam banyak hal, termasuk beberapa hal yang berkategori privat.

Memaksakan ide revolusioner dengan tidak mempertimbangkan budaya setempat adalah sesuatu yang arogan dalam konteks keilmuannya. Terlepas apakah objek penderitanya menerima dengan legawa atau terpaksa, perlu diingat bahwa revolusi prasarana budaya tidak serta merta mengakibatkan revolusi budaya juga. Yang terjadi adalah penyesuaian prasarana tersebut untuk bisa mengakomodir budaya yang telah terbangun ribuan tahun.

Renovasi hanyalah hal kecil yang bisa dilakukan mula-mula. Pengosongan bangunan, atau pemanfaatan sebagai tempat penyimpanan hasil panen dan barang-barang lain, atau pengaplikasiannya sebagai kandang ternak, bisa jadi itu kelanjutannya.

Belum ada tanda-tanda ke arah situ sih, hanya melihat rentang jauh yang dicoba untuk disatukan antara prasarana budaya yang bersifat komunal dengan budaya eksisting yang cenderung berlandaskan kepemilikan, kemungkinan itu selalu ada.

Yah, semoga ada solusi yang menjembatani kedua ego itu, antara budaya sekarang dengan prasarana budaya komunal zaman baheula.

 

 

mangkat ndeso mbangun ndeso 

Nglepen in Innova, 16112008

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Satire

Tag: , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Komentar pada “Dome Sweet Dome”

  1. jovi Says:

    wuangun kowe lik…
    wes semacam sastrawan nan biduan…
    halah!
    aku gek mulai kie…

    hi, jo
    pakabar atjeh?
    jangan terlalu memuji dunk, kasih kripiknya aja utk mawas diriku.
    maapin diriku yg tidak membezoek dirimu untuk opname-mu yang lalu.
    blogmu keren tampilane, tinggal ngejog isine ya, pasti top markotop ki, kalo yg cerita adalah seorang backpacker sejati.

  2. komandane Says:

    yo sori to, nek kowe jebul misuh2 atas kelakuanku waktu itu. lha wong ransum yo terbatas, judulnya juga surveyor (meski dlm hati sueneng bgt jadi surveyor, daripada jadi dropper, sing ngedrop-ngedrop sembako). uduk ya kapasitas muatnya minim sekali, memang ternyata kita tidak boleh berpikir bahwa semua proses seperti ban berjalan, kita naruh info yg kita pikir A1 ternyata susah buat tindaklanjutnya. sekali lagi sori.
    tapi omong2 bener kandamu, di kasongan ada sebuah toko keramik yg hancur lebur, kecuali satu sisi ruangannya yg setruktur tiang kayu & atapnya spesifik, kemudian ternyata kawan yg lain juga mengamati hal ini dan memeotret struktur tsb bila ktemu saat “asesmen” di plosok2 bantul. kesimpulan statistiknya : tahan gempa.
    nah, jebule, “kearifan lokal” juga mempunyai struktur yg tahan gempa (kalau alasan pemilihan dome adalah tahan gempanya). kita memang suka gumunan.
    iya, baca tulisanmu aku masih bertanya2 mikir, bagaimana mereka melakukan ritual hewes-hewes ya? atau apakah ini sebuah penelitian dampak?
    jadi bodoh pinter, susah senang, damai & bencana, rakyat jadi obyek. obyek penelitian, politik, pengajuan proposal, dll sementara “cita2 mulia” dari penelitian, politik atau pengajuan proposal tidak pernah dinikmati atau … ah curigaa, parameek,
    tapi btw, nongkrong neng ndeso2 nganggo uduk kalau kita tidak kemaki, memang tiada tara. rencana desember atau januari : keliling bangka belitung, nganggo uduk. melu ra?

  3. wisnoe Says:

    yup, jelas lebih tiada taranya blusukan daripada droping. untung bisa dijalani semua🙂
    memang alasan utama model dome ini adalah ketahanan akan gempa selama ratusan tahun. tapi kalo gempanya sampai sigar bengkah kaya dulu apa masih bisa nahan? tur gempa itu berapa tahun sekali, sih.
    tapi jujur saja, lingkungan itu unik. ada sedikit rasa suka saat berada di lingkungan yang “aneh”. namun syukurlah ego akan kesukaan itu tidak terlalu besar.
    keliling nggo uduk? udah dapet po? wahh… pengennn…
    tapi nyadar sik lah, aku kelilingan di sini wae, biar ga terlalu hijau dgn daerah penguripan.

  4. wahyu Says:

    “..perlu diingat bahwa revolusi prasarana budaya tidak serta merta mengakibatkan revolusi budaya juga.”

    Setuju. Selama ini yang saya perhatikan justru sebaliknya. aktivitas budaya-lah yang menentukan dan membentuk wujud dari prasarana budaya. Alat-alat, bangunan, pakaian dan sejenisnya merupakan hasil kreasi dari suatu kebudayaan.

    Produk budaya yang telah paten sperti adat dan kebiasaan yang terbentuk sekian lama sulit untuk berubah secara instant. Prasarana kebudayaan pastinya akan menyesuaikan untuk mengakomodir kebutuhan ini.

    Ngiri saya sama sampeyan yang bisa berbuat sesuatu saat musibah gempa terjadi. waktu itu saya malah sedang di Lampung.

    Betul, Mas
    Kadang aku berpikir alangkah beruntungnya bisa berada di lingkaran yang bersinggungan langsung dengan sejarah, kalo dalam hal ini gempa. Waktu itu tiada pikiran lain selain mblusuk sana nyungsep sini tanpa punya pikiran apa-apa. Polosan.
    Ketika waktu sudah berlalu, romansa itu masih saja ada untuk menyemangati langkah ke depan. Setidaknya bisa memperkuat tempat berpijak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: