Suksesi Non-Profit

Sifat dasar manusia adalah ikut dalam percaturan lingkungan sosial dengan tidak melupakan egonya. Hal ini cukup menjadikan segala aktivitas komunitas menjadi tidak murni seperti apa yang tampak. Jangankan untuk aktivitas komunitas yang berorientasi ke profit, yang berlandaskan keagamaan pun tidak luput dari ego.

Siapa berani bilang jika pengurus rumah ibadah melakukan kegiatan perawatan rumah ibadah itu secara cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan? Siapa juga yang berani bilang orang-orang suci atau aulia dari berbagai jenis agama melakukan kegiatan dakwah atau misi dengan tanpa pamrih?

Dalam peristiwa suksesi di organisasi non-profit pun, timbangan ego masih lebih berat dibandingkan dengan sosialnya. Tidak ada keuntungan real di situ, selain dari kepuasan terhadap pemberian penghargaan kepadanya. Bahkan untuk sekedar mengharap akan pahala dari Gusti Pangeran pun tidak ada janji yang pasti dalam buku-buku suci.

Bandingkan itu dengan tersitanya sumber daya, baik itu pikiran, waktu, biaya, dan tenaga, jika menduduki posisi itu. Berapa effort yang dikeluarkan dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh. Lebih mendingan jika effort yang dikeluarkan itu dialokasikan untuk kegiatan lain yang lebih ‘kelihatan’ hasilnya.

“Demokrasi tidak terjadi untuk jabatan sosial”.

Demikian sedikit satir dari ketua lama organisasi buruh kami pada saat memberi sambutan pembukaan rapat pemilihan ketua baru untuk periode depan.

Satu dua detik aku tidak mudheng, meskipun di pihak lain hadirin langsung menyambut dengan tertawa satire. Yah, memang untuk kondisi atau topik tertentu aku sangat lemot untuk bisa nyambung dengan wacana yang dilontarkan.

Proses pemilihan diseting sedemikian rupa untuk mendekatkan diri dengan definisi proses demokrasi di organisasi kami. Lima orang kandidat dijadwalkan maju di mimbar untuk mengkampanyekan visi, misi, dan program jika terpilih nanti.

Calon pertama adalah anak muda yang dengan visi dan misinya mampu memukau forum. Arah materinya sedemikian runtut dan mengesankan penyampainya adalah seseorang yang berwawasan tinggi dan mempunyai karakter yang diharapkan sebagai seorang pemimpin. Tentang program, tentang isu, tentang sedikit politik, baik intrik intern maupun ekstern disampaikan dengan lugas. Di akhir penutup dia menyampaikan dukungannya terhadap salah satu kandidat ketua lainnya, dengan mengatakan siap untuk men-support si A. Sebuah antiklimaks untuk kampanye dia yang edukatif.

Calon kedua secara terang-terangan menyatakan tidak mampu untuk kampanye seperti halnya yang disampaikan kandidat pertama. Dia berdiri di mimbar hanya untuk menghabiskan waktu yang dialokasikan buat dia. Baru pada saat waktu hampir habis, dia menyatakan siap jika dipilih. Dipilih sebagai pengurus, bukan ketua.

Calon ketiga malah menyatakan bahwa yang memilih dia adalah orang-orang tersesat.

Calon keempat lebih mencoba memberikan yel-yel organisasi buruh kami. Mumpung ada kesempatan memimpin yel-yel, dia bertanya apakah dia cukup pantas memimpin yel-yel. Dari penilaiannya sendiri, karena belum pantas memimpin yel-yel maka dia mengundurkan diri sebagai calon ketua saja. Padahal koor dari para peserta forum secara aklamasi menjawab : pantaaasss…

Calon kelima atau terakhir mengkampanyekan beberapa alasan supaya forum tidak memilih dia meskipun dia menyatakan siap jika dipilih menjadi ketua. Kesibukan, keluarga, penyakit, diutarakan dengan maksud tadi, supaya tidak terpilih. Kami yakin kesediaannya dipilih karena 4 calon lainnya sudah mundur. Ini suatu bentuk tanggung jawab yang luar biasa dalam proses demokrasi untuk suksesi ini.

Akhirnya terbukti sudah ucapan ketua lama tadi dengan mundurnya 4 dari 5 calon ketua yang menyebabkan satu-satunya calon tersisa terpilih secara aklamasi.

Selamat untuk ketua baru organisasi buruh kami.

Semoga dengan terpilihnya Anda, kehidupan anggota buruh semakin sejahtera. (Nah, ucapan selamat dan doa untuk ketua saja masih diboncengi ego, kan?)

 

bukantimsuksessuksesi

Explore posts in the same categories: Satire

Tag: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

7 Komentar pada “Suksesi Non-Profit”

  1. Cak Win Says:

    Emm, memang sebagian besar orang lebih cenderung mementingkan egonya. Tapi tidak semuanya seperti itukan🙂. Contohnya saja sorang Ibu, iya akan membuang egonya untuk anaknya. Percaya apa ndak??? hehehhehe
    Ada suatu keadaan yang tidak memerlukan Demokrasi untuk memutuskanya. Karna Demokrasi adalah pendapat sebagian besar suatu kelompok.
    Pada saat sumpah poemuda dahulu sebagian besar pesertanya adalah kelompok muslim, tetapi mengapa kok gak membentuk negara Islam?? karna mereka melakukan musyawarah untuk mencapai suatu mufakat. Tidak seperti sekarang ini. Kelompok Mayoritas selalu tidak mau mengalah??
    Yah, itu sih pendapatku saja, mohon maaf jika ada kesalahan😉.
    Salam kenal

  2. wisnoe Says:

    Yup, betul sekali Cak. Dari beberapa segi kehidupan, memang ada keharusan untuk mengesampingkan ego seperti yang Cak Win contohkan. Bahkan keharusan ini sudah menjadi budaya tanpa berpikir dilandasi oleh ini itu. Rasa atau naluri yang berbicara.
    Anak adalah bagian dari ego ibunya, terlepas mereka adalah individu yang berbeda (hehe ngelesss…)
    Sedangkan untuk Sumpah Pemuda (SP) dulu, ego terbesar adalah keinginan untuk bersatu, untuk berdaulat, adil dan makumur, dengan segala macam unsur penyusunnya. Eh, aku rasa timing dibentuknya negara Islam bukan di SP deh. Mungkin di dekat taoen 45, meskipun SP menjadi landasannya.
    Saat ini kelompok mayoritas tidak mau mengalah mungkin karena jika sudah mengalah dia beranggapan tidak menjadi mayoritas lagi. Definisi mayoritas kan yang terbesar, dalam apa saja, termasuk terbesar dalam pendapat. Atau bisa jadi pemikiranku terimbas posisiku sebagai kaum mayoritas ya.🙂 Mayoritas pekerja.
    Begitulah cara-caraku ngelesss.😀
    Thanks masukannya, Cak.

  3. wahyu Says:

    Semua hal memang mempunyai tujuan dan ‘kepentingan’. Ego berarti ‘demi kepentingan pribadi’. Tapi jelas ada beberapa hal yang dilakukan bukan karena ego (kepentingan pribadi), seperti yang dicontohkan cak win diatas. Atau juga seperti para sukarelawan dan aktivis sosial yang tujuan AWAL-nya demi kemanusiaan (meskipun untuk selanjutnya tujuan mulia tersebut biasanya tersusupi juga dg ego pribadi).

    Atau memang sudah fitrahnya seperti itu. Semuanya harus berpamrih. Toh manusia diperintahkan beribadah agar mendapat pahala dan masuk surga. Tuhan menciptakan surga dan neraka sebagai pamrih agar manusia mau beribadah.

    Oh ya Mas wisnu. Cerita tentang pemilihan ketua oragnisasi buruh tadi nyata atau fiksi saja. Kalau nyata saya tidak mengerti kenapa 4 dari 5 calon tersebut mengundurkan diri. Apakah takut, atau apa?
    Wah.. saya lagi lemot nih, maklum pentium 1. hehe..

  4. wisnoe Says:

    Thanks Mas.
    Ada pencerahan dari tulisan Mas Wahyu, bahwa ternyata ada kemungkinan lain dari sekedar ego. Salah satunya ‘takut’ tadi. Kalo mau dikembangkan lagi bisa karena merasa tidak mampu, merasa kurang pantas, dan lain-lain penilaian subjektif dari dia sendiri. Mungkin aku yang terlalu skeptis ya.
    Ini tenan kok Mas, acaranya selasa kemarin. Dari sekian balon tersaring 5 calon. Dari 5 calon berguguran sakarepe dewe😀
    Sisi positifnya adalah ternyata musyawarah untuk mufakat masih bisa berjalan di masa sekarang.
    Untuk surga dan nerakanya aku setuju sebagai penjelasan atas kepamrihan pengurus rumah ibadah dan orang suci di artikel ini.
    Wah, jeli tenan sampeyan.


  5. yagh, emang sich sifat dasar dari manusia itu mmg rasa ‘ego’nya selalu nongol tapi, itu bukan halangan bagi seseorang untuk bersikap tidak apatis dan mencoba mendahulukan kepentinga bersama. Meski sudh sangat jarang org yg mau memberi tanpa imbalan, tp percaya aj, org2 tulus yg mau menyampingkan ego itu masih ada kok, salah satunya pengurus masjid di kota saya, dia seorang anak kuliah karena beasiswa dan tinggal di masjid tanpa pernah digaji, dia merawat dan menjaga masjid itu, dia juga suka membantu tetangga2 sekitar masjid tanpa minta apa2… sampai sekarang saya masih salut sama dia, dan dari dia saya yakin, org2 seperti dia memang masih ada dan menjadi inspirasi tersendiri bagi saya untuk melakukan banyak hal tanpa mementingkan ego.
    \Well, semoga pemimpin yang terpilih pun kelak bisa belajar kerendahan hati dr manusia2 yang ‘langka’ tsb… hehe..
    makasih udah mampir ke blog saya…
    salam kenal🙂

  6. wisnoe Says:

    Weiihh…
    ternyata bisa nulis serius juga😛
    Kalo dari sudut pandang su’udzonnya, merawat masjid adalah dampak. Dampak dari kompensasi beliau tinggal di situ. Namun dari sudut kusnudzonnya seperti yang disampaikan Sarah.
    Aku kok selalu negatif thinking terus ya. Parah.
    Wis pokoke amiinn untuk doanya.
    Tks Sarah
    Berhubung komennya makin lama makin berat, aku pikir topik ini close saja. Khawatir ndak mampu nanggepin. Komennya jangan berat2 dunk.
    Kabur sik…

  7. nun1k04a Says:

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com%3c/a>. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://politik.infogue.com/suksesi_non_profit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: