Berhiber

Ini hanya sebuah catatan agak panjang untuk perjalanan agak pendek.

routemap

Journey. Lika-liku dan berkelok-kelok menjadi ciri khas perjuangan menuju kotaku. Paris van Java. Setelah satu dekade aku tinggalkan, hampir tidak ada perubahan yang berarti dari sisi kelakuan pemakai jalannya. Tidaklah perlu kusebutkan seperti apa karena sudah menjadi rahasia umum tentang dunia perlalulintasan negara ini. Sebetulnya karena aku sendiri juga biyayakan malam itu.

Ketika di satu sisi sebelah kiri hanyalah jurang yang mengintimidasi setiap respon setir, dan sebelah kanan hanyalah tebing curam yang siap memeluk oto, berarti tinggal sesaat lagi sebuah peradaban yang berada di tengah kawah gunung purba itu akan menyambut dengan hawa dinginnya. Jalanan yang mulai agak lurus dan beberapa kali lubang menjebak roda, mengakhiri penantian panjang perjalanan dini hari ini.

Sawah dan beberapa bulak yang dulu aku ingat, telah bermetamorfosis menjadi pusat grosir. Sebuah pusat perbelanjaan yang bernuansa gudang dengan iming-iming harga yang lebih murah karena biaya produksi yang bisa ditekan dengan ketiadaan AC, eskalator, arsitek artistik gedung, dan tiadanya tempat tongkrong. Artinya kita bisa menekan biaya belanja hanya bermodalkan keringat betulan yang keluar pada saat aktivitas belanja karena panasnya hawa gedung. Di sini keringat sangat dihargai sungguh-sungguh.

Kemudian hanya beberapa kilometer setelahnya, tempat yang dulunya juga sawah, aku lihat telah tumbuh menjadi trade center juga. Bahkan baru saja diupgrade menjadi mall. Hebat sekali petani sawah itu, bisa menanam mall di tanahnya.

 

Homy. Di perumahan belakang mall inilah aku rehat untuk meneruskan rencana esok harinya. Rehat dengan mengingat-ingat rute tempat aku ngobor dulu. Yup. Ngobor adalah istilah mencari kodok atau belut dengan membawa ember, petromak dan parang di malam hari sampai subuh. Tidak lupa alat multifungsi segala kondisi : sarung. Lokasi tempat mall itu salah satu dari jalur yang kami susuri pematangnya. Berjalan pelan dan hati-hati penuh insting mendengarkan suara kodok dan mengamati gerakan air serta liang kecil di pinggiran pematang itu. Parang hanya dipakai jika belut atau kodoknya susah ditangkap. Dengan kata lain jika gemas saja. Biasanya aku yang kebagian membawa parang karena tidak berani memegang kodok. Licin tur jijay. Jika aku ikut ngobor, beberapa kawan spontan terlontar keluhan : yah… ikut lagi ni orang. Nyari kodok tapi tidak berani pegang kodok. Hopo tumon?

Kadang-kadang dengan bermodalkan tengak-tengok kanan kiri ala Tom and Jerry, menunduk dan mendongak, hingga sekiranya aman, ikan mas dan tawes bisa juga dibawa pulang jika beruntung. Menebas ikan di air bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi itu dilakukan malam hari. Lebih susah lagi jika pemilik balongnya meneriaki dari kejauhan sambil mengacung-acungkan bedog. Ironisnya, yang membawa parang harus kabur paling belakang, seperti halnya di film cowboy yang melindungi rekannya dengan tembakan perlindungan. Tapi film hanyalah film, kenyataannya biasanya aku kabur paling dulu. Itulah kenapa sulit dan mahal perjuangan mendapatkan kodok plus ikan tawes.

Hmm… bisa jadi di bawah mall itu tempat para kodok dan belut terputus trahnya.

Sepengisap mild dan memijit communicator disertai kopi instan bikinan teteh cukuplah untuk meredakan gejolak nuansa itu.

 

 

Cireng In Parfume Fragrance. Cireng adalah salah satu makanan ndeso yang masih bertahan di celah-celah upaya pembauran makanan asing ke dalam menu tradisional. Entah bagaimana korelasi antara parfum berkelas oplosan dengan cireng. Yang kuperoleh hanyalah tentang pembuktian semangat juang di wajah innocent seorang kanak-kanak 7 tahunan yang ternyata bukanlah modal berharga di sini. Suara lirihnya mencoba menawarkan dagangannya.

“Cireng…”, jeda sebentar.

“Cireng…”, dengan kekencangan volume suara 1 skala 10.
Sesekali mencoba mengikuti seorang ceuceuk, ibu, atau om yang keluar dari butik parfum dan melangkah menuju masuk ke dalam mobil di parkiran.
“Cireng, bu”, hampir tidak terdengar. Menjadi hanya isyarat bibir saat pintu mobil ditutup. Senada dgn kesan ketiadaan dia di mata ibu itu.
Beberapa saat kemudian fragmen yang sama juga terjadi dengan lawan main berbeda, yaitu teteh-teteh yang modis, rambut hijau, kulit kuning bersih dan hidung merah penuh jerawat. Cocoknya jadi iklan telepon Flexi.

Lalu masih banyak lagi fragmen untuk kesan ketiadaan peran seorang bocah pinggiran dalam sistem sosial di kota ini. Padahal aku begitu merindukan nuansa keegaliteriannya yang katanya dulu mampu menahan penetrasi amukti palapa.
“Kelas lima, a'”, jawab dia waktu sedikit kuinterogasi. Alhamdulillah, tidak dipanggil om atau pakdhe, melainkan aa’.🙂
Sepuluh tahun umurnya, bisa jadi waktu yang sama di kala aku resign dari hiruk pikuk kota ini, dia mbrojol utk mereinkarnasiku dari sisi kuantitas nyawa dalam sensus penduduk.
Si ujang itu, masih tetap dengan posisi dan aktivitas yang sama, hingga aku meninggalkan pusat oplosan parfum terramai di kota ini, dengan tetap menyandang dua buah keranjang kecil dengan pikulan di pundak kurusnya, berganti-ganti kanan dan kiri.

 

Palasari. Tidak ada yang berubah dari dulu. Parkirannya masih dari tanah, dengan pernik-pernik kerikil dan kerakal yang tersapu roda menjadi berkumpul tidak teratur. Di sekelilingnya sudah pasti sampah-sampah kecil yang sebagian besar dari plastik tampak berjajar sepanjang batas parkiran ini. Kios-kios dengan luas tidak seberapa yang biasanya cukup ditunggui satu orang saja. Orang ajaib yang bisa menghafal begitu banyak judul dan pengarang termasuk penerbit buku di seluruh sudut rak bukunya. Coba tanyakan satu buku, maka tidak ada hitungan detik dia sudah tahu jawabannya. Jika yang kita cari ada, sebelum Carl Lewis mencapai garis finish pun, buku itu sudah tersodor di depan mata kita.

Kompleks ini bertambah sedikit sibuk dengan adanya kios-kios non-buku seperti makanan, stempel, buah-buahan, dan hei… ada wc umum juga. Lengkap dengan kotak amalnya. Hal yang lumrah di seluruh negara ini bahwa fasilitas sosial tidak ada yang cuma-cuma. Barangkali juga cerminan insan negeri ini yang suka beramal, sehingga di tiap fasilitas sosial disediakan tempat penyaluran amal.

Namun satu hal yang statis adalah susah menemui tempat sampah di sini. Pars prototo. Cukup sampel satu lokasi saja sudah bisa mewakili seluruh kota tentang masalah persampahan ini.

Di situ sempat kucicipi es duren dua pongge dengan dasaran gerobak dorong dipunggawai laki-laki muda dengan t-shirt junkies, blue jeans 3/4, dan sepatu sport lengkap dengan kaos kakinya. Khas penampilan kota mode ini. Tidak berlebihan untuk menyebut kota ini sebagai kota mode karena aku menangkap satu prinsip yang tersirat bahwa lebih baik kurang makan ketimbang kurang gaya (meminjam istilah Beni & Mice).

Seandainya saja buku menjadi salah satu kelengkapan mode, kompleks palasari pun aku yakin sudah disulap menjadi mall buku. Bayangkan indahnya seseorang tongkrong di sudut mall dengan rambut punk semir merah, jaket hitam belel junkies lengkap dengan segala pernik ala biker moge, jeans ketat hanya sepanjang betis yang untuk melepasnya perlu bantuan dua orang lain, dompet ukuran besar namun tipis menyembul keluar dari saku belakang dan diikat rantai guk-guk ke sabuk, sepatu kets belel lengkap kaos kaki, dan parfum mengandalkan sisa metabolisme cairan tubuh alias keringat, namun aktivitas utamanya adalah membaca bersama di sudut mall itu. Sangat elegan menurut bayanganku.

 

Pasar Baru Trade Center. Terus terang aku tergelak mendengar rencana adikku akan belanja kain bahan untuk acaranya. Yang aku tahu pasar baru adalah pasar tradisional tempat mencari peuyeum dan jeans semioriginal. Semioriginal, itu jika tidak mau dibilang bajakan. Dulu masih bertebaran merk-merk ternama semacam Levi’s, Lea, Lee Cooper, berbaur dengan sedikit merk lokal seperti Rocky, Jagger, dan lainnya aku lupa karena justru merk lokal lafalnya aneh-aneh dan susah diingat. Apalagi di sini lafal pe, ef, ep, ve, ev, bisa terbolak-balik.

Seperti halnya pemegang merk terkenal yang sekarang tinggal menikmati buah dengan berleha-leha bermodalkan stempel, bisa jadi pembajak mengambil pesan moral dari keberhasilan itu. Bahan dan kualitas jahitan yang sama bisa disulap menjadi berbagai merk lengkap dengan pernik-pernik brosur tentang legalitasnya. Itu juga tempat dulu aku kulakan celana bajakan untuk dijual rugi ke kotaku yang lain. Rugi, mungkin karena produksi barang dagangan yang tidak halal. Sebelum aku meninggalkan kota ini, merk-merk terkenal sudah tidak ada lagi, berganti menjadi merk-merk lokal yang kelarisannya tidak juga berkurang.

Pasar Baru. Itu tempat yang kumuh dan tidak elegan.

Jika di musim penghujan, berjalan berjingkat tidak otomatis membebaskan celana panjang dari cipratan air comberan. Apalagi jika hanya bermodalkan sandal jepit. Cipratan dari bagian belakang sandal yang mirip alat pengungkit segera terlontar menuju sekitaran bagian betis.

But, not this time. Dia menjelma menjadi pusat perbelanjaan kulak terbesar. Seting gedungnya yang bertingkat-tingkat, hingga aku lupa jumlahnya, sudah mendekati fasilitas mall. Bahkan jika di mall susah mencari musholla, yang biasanya nyempil di parkiran lower ground, sumpek, pesing, dan karpetnya basah, di pasar baru aku menemukan masjid yang luas, di area parkiran paling atas. Satu bentuk representasi dari kereligian manusia di kota ini. Di sisi lain menunjukkan kejelian insting bisnis pengelola mall ini dengan memanfaatkan masjid sebagai magnet konsumennya.

 

Ciwalk Gokana Teppan. Ini adalah restoran Jepang, bukan berarti milik pemerintah atau orang Jepang, melainkan menu makanannya dari Jepang. Lagi pula kita sudah merdeka dari Jepang sejak taoen nol lima. Dari mulut pintunya yang mungil tampak lalu lalang pengunjung masuk dan keluar dengan agak berjubel di sana. Aku yakin meja-mejanya pasti penuh meskipun ini bukan jamnya makan pagi ataupun siang. Dugaanku yang -padahal- kuiringi doa agar salah duga, ternyata terbukti juga.

Untunglah hanya sebentar untuk menunggu sebuah meja menjadi kosong.

Restoran ini, seperti halnya restoran aneh lainnya, selalu tampak full book. Padahal tiada hal yang istimewa bagiku selain dari nama-nama menunya yang berbahasa Jepang, pelayannya yang berkostum ala naruto, dan harga satu porsi makanannya cukuplah untuk memborong cireng satu pikulan si ujang tadi. Tambah seporsi, bisalah sekalian untuk mengakuisisi si penjual cireng termasuk celana dan sandal jepitnya.

Beberapa pelayan tampak sangat sibuk hilir mudik melayani pengunjung yang memadati seluruh meja. Seseorang yang nampak seperti penyelia berdiri standby di tengah-tengah mengamati aktivitas pelayan & pengunjung. Menjadi penghubung komunikasi pengunjung dengan pelayan. Sayang dia hanya sekedar mengamati dan menunggu tanpa ada inisiatif jemput bola ke pengunjung yang masih belum familiar cara untuk memesan, bertanya, atau membayar. Termasuk aku. Belum familiar hanyalah bentuk penghalusan arti kata ndeso, karena aku terlibat di dalamnya. Seperti halnya penghalusan kata ‘pinjaman’ menjadi ‘bantuan’, ‘miskin’ menjadi ‘pra sejahtera’, dan segala bentuk kata-kata gombal mukiyo dari orang-orang berseragam di atas sana.

“Silakan, Pak”, sapa ramah pelayan menghampiri sembari menyodorkan menu, itu setelah aku mencoba beberapa kali mengacungkan tangan, hal yang mustahil aku lakukan jika yang ada di depan kelas adalah guru menyanyi.

 

Sayangnya tidak sempat aku berkeliling pelataran mall ini karena bertepatan dengan event balap sepeda indoor. Satu aktivitas positif untuk menunjang kedinamisan mall baru ini untuk bersaing dengan balita-mall yang lain. Sayangnya juga aku hanya membawa Coolpix sialan yang sering macet di cover lens-nya sehingga momen-momen langka ketika pembalap sepeda jumping sekaligus nungging tidak sempat terekam secara utuh. Seandainya tidak macet pun, dengan kamera full automatic ini aku tidak bisa mengeksplorasi objek secara penuh.

bmxPosisinya hanya dengan sabar menunggu, dengan posisi mematung dan artificial inteligent focus lock di satu titik dalam mode continuous shoot, konsentrasi penuh agar tidak goyang. Detik demi detik harus diantisipasi karena momen indah tidak terjadi dua kali dalam event yang sama.

Di sana sudah ada pembalap yang siap masuk titik bidikku yang membuat konsentrasi harus seratus persen. Tepat ketika objek hampir masuk, terasa ada yang menarik kaos oblongku berbarengan dengan full shutter, sehingga membuat kamera goyang. Gagal maning. Setengah kesal aku menoleh ke sumber penarikan kaosku itu.

 

 

“Cireng…”.

 

Hayah !!!

 

Seribu delapan ratus kata lebih. Tidak terasa untuk menorehkan catatan perjalanan ini. Padahal masih banyak lokasi lain yang ingin kusampaikan dari perjalanan semi-napak-tilas ini. Tapi jika seribu saja sudah berpotensi cukup membosankan, aku khawatir ratusan kata lanjutannya membuat mual dan muntah-muntah seperti halnya kopi hitam menggerus lambungku.

 

Bandung. Tiada kata yang pantas diucapkan karena begitu kompleksnya perkembangan kota dalam satu dekade terakhir, terutama sisi fisik dan tata ruang kotanya. Fly over dan mall adalah dua hal yang sangat mencolok di mataku. Perumahan sepetak dua petak juga menjamur dengan kencangnya. Kadang-kadang juga aku sering bertanya tentang plat nomer kendaraan di kota ini. D atau B. Khususnya di week end. Sedangkan kemacetan belum bisa aku komparasikan dengan zaman kodok kena bacok karena perbedaan sarana transportasiku dulu dan sekarang.

pasopati

Sawah, ladang, kebon, dan balong sudah tertimpa bangunan fisik yang seolah-olah jatuh dari langit begitu saja. Entah ke arah mana para marhaen dan keluarganya beringsut mundur menjauh dari peradaban. Kekalahan telak dari sistem yang sengaja menafikan keberadaannya.

Jika di dalam hutan tersusun lingkaran-lingkaran suci dengan batas demarkasi yang rambu utamanya adalah verboden, dengan maksud melindungi kemuliaan pemukimnya, baik itu monyet nudis, kadal buntung, tokek elek, juga pepohonan berikut daun, akar dan jin penghuninya. Alangkah mulianya pula di lingkungan yang beradab ini batas-batas demarkasi itu mempunyai ketegasan secara kasat mata, boleh ditafsirkan secara hukum positif, yang melindungi para marhaen itu dari libasan derap pembangunan yang berorientasi fisik saja.

 

Bukankah amanah pendahulu kita sudah tersuratkan :

 

bangunlah jiwanya…

bangunlah badannya…       

 

Prioritas yang tersirat dari urutan ‘pembangunan jiwa’ yang disebutkan pertama kali dibandingkan ‘pembangunan badan’, biarlah terlanjur terlupakan sejak empat dasawarsa lampau. Namun setidak-tidaknya berilah sedikit sentuhan kepada penyiapan jiwa sebagai soko guru masyarakat madani dalam setiap perubahan fisik kota ke depan.

 

Untuk saat ini, untuk esok hari. Bukan hanya setahun sekali dalam ritual omong kosong mecucu mengiringi Saka Merah Putih hingga ke puncak tiang tertinggi.

 

Ulah hilap.

 

 

Margahayu, 20081130

In memoriam kodok dan belut

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Satire

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

8 Komentar pada “Berhiber”

  1. Artika sari Says:

    mas..tulisan-tulisanmu dan gaya bahasa-nya
    mengingatkanku tentang seseorang..

    ga tau mau deh komment apa, wakkakakak…🙂

    mengingatkan sapa ya?
    JK Rowling atau Sidney Sheldon?😛
    tapi siapapun itu, kita memang satu perguruan kok, jadi ya ga beda-beda jauhlah gaya bahasanya.
    harap dimaklumi…😀 😀 😀

  2. wahyu Says:

    perbedaan yang nyata antara pembangunan di negara lain dan Indonesia adalah, pembangunan di negara lain berdasar pada perencanaan yang matang. bentuk hasil akhir sudah diketahui sebelumnya.

    sedangkan di kita pembangunan terbentuk dari spontanitas kepentingan (ekonomi) yang berkembang saat itu. tata kota merupakan hasil kebetulan dan diserahkan pada kehendak ‘alam’. biarkan semuanya berjalan ‘alami’ tanpa campur tangan (pengelolaan) pemerintah setempat. hasil akhirnya, chaos.

    Cireng. hmm.. jadi kangen saya dengan makanan satu ini. diberi saus cair dan biarkan lembek dan kenyal.

    Mas wisnu ini urang Bandung atau cah Jogja to?

    mungkin karena orang lingkungan kalah berargumen dengan orang ekonomi. bisa jadi dari perhitungan ekonomi tekniknya lebih banyak manfaat daripada mudaratnya jika sebuah mall dibangun. mudarat tentang kerusakan lingkungan kan yang menanggung orang banyak sehingga lebih ringan.
    herannya hampir semua mall yang aku datangi selalu penuh, seolah-olah demand di bandung tidak terbatas.

    bandung atau jogja? bukan dua-duanya mas😀
    cuma di masing-masing kota ini pernah mengalami atau mengamati proses kelahiran dari jabang bayi sampai hampir lulus SD. jabang bayinya tetangga lho…


  3. wiw..cr penyajiannya enak banget degh..seneng jg jd tahu banyak nicgh..makasih y, n makasih jg udah mampir ke blogQ.salam kenal

    makasih sar, untuk apresiasi dan sudah disempatkan membaca. eh, tiap komen kok salam kenal terus, pdhal sudah bolak balik hilir mudik :-p

  4. E-Mon Says:

    Kang Wisnu luarbiasa
    Bisa jalan2 dan makan masakan Jepang, dah nggak mau makan pecel lele Gang PGA lagi ya?

    Wah, jangan ditafsirkan begono, om.
    Kemarin aku makan pake sendok sendiri di tengah2 para sumpiter. Sendoknya besar dipadukan mangkuk yang kecil. Pokoke kelihatan ndeso banget.

  5. komandane Says:

    Dayeuh Kolot :
    om, yang menyedihkan adalah saat kita tahu,
    bahwa “warung ayu” pentokan PGA itu,
    sudah likuwidasi, meskipun ke arah lebih baik,
    sebab ibu dan pa’e warung yang baik dan sering ngimbuhi lawuh itu, sudah tidak perlu repot2 lagi juwalan nasi
    mantu2nya “sukses” semua, mungkin semua karyawan operator telekomunikasi
    lalu mungkin mantu2nya punya usul,
    bu,sudahlah, tidak usah buka warung lagi
    bukankah hidup sekarang jauh lebih baik?
    tidak perlu repot2 lagi? apalagi yang dicari?
    jadilah sekarang pentokan PGA itu koordinat kosong
    yang dulu pernah aku pasang waypoint “warung ayu” di memori otakku.
    dengan lambang sendok dan garpu, atau potongan2 asin tongkol yang disambel, telur bulet, pindang bandeng, tempe dan tahu yang sudah dingin, dan oseng leuncak yang tiada tara itu.
    pagi-pagi setelah terpaksa loncat di stasiun kiara koncong karena kereta dari jogja itu tidak berhenti juga di sana, dan kemudian disambung dengan angkot 09 sampai pasar kordon dan nyambung lagi angkot hijau dayeuh kolot itu, mataku selalu mematok warung itu sebagai pemberhentian, singgah mengisi perut yang lapar krn angin malam di bordes kereta, lalu gedung I yang waktu itu tempat sekretariat astacala.

    sik sik sakedap…
    dirimu sedih dengan kemajuan kehidupan orang lain? ini yang tersurat lho. kayanya kok ndak mungkin ya.
    sementara yg tersirat lebih kepada harapan menggapai keayuan itu yang dulu maju mundur mundur hingga sekedar mengintip sekaligus mengintai dari kedekatan, dengan berbagai pertimbangan sosiologi dan antropologi termasuk masalah awu dan trah, sehingga ketika pada suatu ketika keayuan itu sudah diakuisisi oleh pelikuidasi waypoint di koordinat itu barulah dirimu merasa sedih, om. aku rasa ini yg lebih masuk akal.
    ini yg baru aku tahu ternyata dirimu jagoan juga main2 ala indiana jones. kalo aku sudah terbit beberapa artikel untuk mendoboskan petualangan itu. tidak nyangka bahwa seseorang yang manggul carrier ke lemah abang saja harus pake bantuan porter pernah punya pengalaman maut. :-p

  6. omiyan Says:

    berhiber terus jadi ngapung teu hehehe

    ah jadi emut baheula sok nongkrong di leuwi panjang..sanes milarian damel malah ningalan pengamen ..hehehe

    😀
    gpp mas, mengamati adalah salah satu bentuk pekerjaan juga. pekerjaan tanpa kompensasi duit. minimal udah punya pengalaman nongkrongin terminal. dan itu bisa jadi modal ke depan. “nih, mantan anak terminal…” :-p

  7. Anonim Says:

    asu koe meng ra ono gambare we pantek dancok koe nila koe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: