Hari Antikorupsi : Perjalanan Panjang Budaya Korupsi

Sejumlah anak telah bersiap-siap di tempat yang disediakan dengan harap-harap cemas, antara optimisme dan kekhawatiran akan kegagalan. Di pinggangnya terikat tali yang ujung lainnya diikatkan pada pensil dan menggantung di bawah, bergoyang-goyang di antara selangkangannya. Beberapa dari mereka mencoba menghentikan goyangan pensil itu dengan mengaturnya memakai tangan. Beberapa yang lain malahan berjoget sesuai irama melayu yang mengiringi lomba tujuh belasan ini. Satu anak lagi cuma garuk-garuk kepala memandang nanar ke arah penonton.

Sementara di pinggiran arena, penonton tampak berjubel yang didominasi ibu-ibu dari anak-anak tersebut. Beberapa berteriak memberi instruksi kepada anaknya untuk mengatur posisi, bagaimana harus menghadap, harus berjalan nantinya, dan terutama bagaimana harus memenangkan lombanya.

Tidak menunggu lama setelah aba-aba peluit dibunyikan, anak-anak itu menghambur ke depan ke arah botol diletakkan. Ada yang berlari kencang dengan resiko pensilnya bergoyang cepat, ada yang berjalan pelan mempertahankan kestabilan posisi pensil.

Memasukkan pensil yang bergoyang ke dalam botol sirup yang kecil tidaklah mudah. Ini terbukti dengan lamanya anak-anak itu mencobanya dengan posisi menungging.

Mungkin karena geregetan atau memang ada motivasi anaknya harus menang, tanpa memperdulikan kode etik lomba, seketika ibu-ibu itu ikut menghambur mengiringi anak-anaknya yang sedang berlomba. Lokasi itu pun langsung crowded diiringi suara yang riuh rendah, susah terlihat mana peserta lomba dan mana supporter. Terlihat beberapa ibu memberi motivasi, ada juga yang memberi instruksi ke mana harus menggerakkan badan, sampai dengan memegangi badan si anak untuk diarahkan sesuai keyakinannya.

Beberapa yang lebih parah ada yang memegang botol untuk diarahkan ke pensil dan sebaliknya ada yang memegang pensil untuk dimasukkan ke dalam botol.

Panitia pasrah, karena sangat rentan untuk mendiskualifikasi peserta, dengan pertimbangan rasa psikologis anak dan juga malas menghadapi ibu-ibu yang ganas. Pertimbangan paling utama adalah semangat kebersamaan tujuh belasan agar tidak tercemar hanya untuk urusan sepele ini, yaitu urusan penentuan pemenang dalam lomba sepele dan hadiah yang juga sepele ini. Hasil akhir lomba pun diambangkan dengan membiarkan para ibu-ibu beradu argumentasi. Nanti siapa yang argumennya kuat, yang paling keluar urat lehernya, anak dari ibu itulah juaranya.

Seperti halnya Hari Guru dan Hari Blogger, Hari Antikorupsi pun aku baru tahu kemarin sore pada saat menghayati kedinamisan selebritis dalam kehidupan di salah satu stasiun televisi. Sedikit saja mereka bergerak atau katakanlah bermasalah, secepat kilat laporan pandangan mata terbroadcast di seluruh stasiun televisi. Kehidupan yang sepertinya berpijak pada tuas pompa hidrolis, yang dengan sedikit tenaga saja bisa menghasilkan efek beberapa kali lipat. OOT.

Tadinya aku pikir iklan partai pemerintah tentang perlawanannya terhadap korupsi adalah dalam rangka menghadapi pemilu dan pilpres depan, ternyata tidak sepenuhnya salah. Iklan ini hanya memanfaatkan momentum hari korupsi untuk menggalang penilaian positif publik terhadap partai ini. Sah-sah saja, terlepas dari tuduhan tebang pilih yang dilakukan pemerintah, setidak-tidaknya pemerintahan sekarang mempunyai warna lebih dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya.

Sadar atau tidak, aksi korektif -meminjam istilah teknis di manajemen perawatan- merupakan dampak atau akibat yang dihasilkan dari didikan masyarakat juga. Didikan yang langsung masuk ke dalam adab umum yang justru lebih cepat merasuk menjadi budaya. Budaya sendiri mempunyai sifat yang susah dihilangkan.

Fragmen di atas hanyalah salah satu contoh sederhana bagaimana masyarakat ikut berperan dalam budaya korupsi. Tanpa sadar menanamkan budaya korupsi itu pada saat generasi penerusnya masih polos.

Mereka belum bisa membedakan antara spirit yang terkandung di dalam perlombaan itu, yang menekankan kebersamaan, semangat juang, dan sportivitas. Kebersamaan diletakkan paling tinggi dengan menggencet nilai sportivitas. Padahal di dalam sportivitas ini terkandung berbagai aspek budaya yang melebihi kebersamaan tadi.

Harapan yang tinggi kepada anak untuk berprestasi meskipun dalam lingkup kecil, perlindungan yang berlebihan dengan memasang badan di kala sang anak berada dalam posisi berkompetisi, dan ketidaktahuan tentang kode etik sebuah event cukup memperparah proses pembudayaan anak untuk bisa berada pada jalurnya. Jalur yang seharusnya dipagari oleh individu yang mengawal anak itu dewasa. Jalur yang harus dibersihkan manakala ada hambatan di depan.  Bukannya menarik anak itu keluar jalur dengan orientasi ke hasil akhir saja.

Sayangnya, kita biasa memandang sepele suatu event dilihat dari lingkup event itu, berapa dana yang dialokasikan, siapa yang terlibat, berapa banyak yang terlibat, dan lainnya, segala sesuatu yang kasat mata saja. Sehingga untuk event tujuh belasan yang pemeran utamanya hanyalah anak-anak kecil ini menyebabkan ketidakbersahajaan kita dalam bersikap. Padahal cara kita bertindak, secara tidak sadar, menjadi pondasi di dalam pola pikir anak-anak untuk menghadapi kehidupan ke depan. 

Dari sisi anak, sebuah perjuangan yang syukur-syukur bisa berujud kemenangan dalam berkompetisi, apapun lingkupnya adalah sesuatu yang besar. Mereka akan berjuang dengan cara yang telah diajarkan kepada mereka. Simpulan yang diambil dari fragmen di atas adalah ternyata berlaku curang pun bukanlah sesuatu yang tabu. Jika ini terakumulasi dalam setiap perjalanan hidupnya, cara-cara yang tidak bersahaja tadi bisa menjelma menjadi dasar pikiran untuk korup.

Masih banyak fragmen lain dalam kehidupan ini, yang karena ketidaktahuan kita, rasa melindungi yang berlebihan, harapan tertentu kepada sang anak, terjadi juga di lain tempat di setiap sudut tanah air ini.

Maka, masihkah kita selalu berharap kepada pemerintah dalam hal pemberantasan korupsi, jika kita sendiri selalu membangun budaya korupsi itu kepada generasi penerus sejak mereka kecil.

Masyarakat membangun budaya korupsi, pemerintah yang memberantasnya.

Rasanya ada yang salah di sini.

 

 

Selamat Hari Antikorupsi…

Explore posts in the same categories: Satire

Tag: , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

5 Komentar pada “Hari Antikorupsi : Perjalanan Panjang Budaya Korupsi”

  1. omiyan Says:

    setidaknya masih ada daripada tidak ada sama sekali, ketika kita mengharapkan perubahan dan perubahan itu terlihat walau kecil sebesar biji kelereng kita tetep musti dukung……semoga Allah memberikan kekuatan kepada orang-orang yang ingin negara ini menjadi lebih baik

    Amiiin…

  2. Artik Sari Says:

    hahah, koq bisa sama ya bahasaannya? karena moment-nya mungkin ya? sekecil apapun perhatian kita terhadap negeri ini, akan memberikan kontribusi yang besar.
    setidaknya kita masih memiliki perhatian terhadap negara ini.
    🙂 Blog-mu aku pasang di link ya mas!

    Silakan, satu kehormatan bagi diriku.
    Same as ur blog, ye.
    Ya, memang momennya masih hari antikorupsi, jadi dihubung2kan sama materi blog mumpung lagi stuck. Makanya gaya bahasa yang ini agak membingungkan.😦

  3. Rian Xavier Says:

    Anti korupsi ya? Hmm.. bagaimana dengan korupsi yang ada di Indonesia. Walaupun pemerintahan silih berganti, korupsi masih meraja. Moga2 dengan hari anti korupsi itu bisa terperangi korupsi ini.

    Eh, salah dunk.🙂
    Bukan dengan hari antikorupsi saja melainkan dengan usaha yg sungguh2 dari masyarakat dan pemerintah.
    Pokoke amin deh…

  4. elly.s Says:

    iya..mumpung masih ada yg peduli…
    moga Allah membantu..

    Repotnya yang peduli itu tidak berbuat apa-apa, termasuk aku.😦

  5. marsudiyanto Says:

    Di Sekolah saya ditandai dengan pencanangan ‘Kantin Kejujuran”. Anak ambil barang sendiri, bayar dan ambil kembaliannya sendiri.
    Yang meresmikan Bupati dan Kepala Kejaksaan. tapi ndak tau langkah selanjutnya seperti apa.
    Semoga anti korupsi bener2 anti korupsi, bukan antri korupsi

    Yup, aku pernah dengar kantin kejujuran. Bagus sekali untuk pembelajaran budaya korupsi termasuk juga jiwa korsa. Karena di beberapa lokasi, kantin kejujuran ini menimbulkan efek saling curiga antarsesama teman sekolah ketika akan membeli sesuatu dari kantin ini. Menjadikan mereka saling mengawasi. Prasangka “jangan-jangan…” ini juga harus bisa dilebur dalam program ini.
    Orientasinya sebaiknya jangan ke hasil necara rugi laba kantinnya, melainkan harus menyentuh perilaku sistem yang menyusunnya.
    Tks udah mampir, om.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: