Kota nDeso

Masih terhitung pendek waktuku untuk menyusuri jejalanan kota ini. Belum genap satu kuartal untuk bisa mengerti kahanan, sifat, tindak-tanduk dari para sedulur asli di sini dalam persinggungannya antara budaya paternalistik dengan hegemoni globalisasi –atau katakanlah kapitalisme tanpa filter– yang sudah terasa anginnya di sini.

Saat ini, aku duduk agak tidak nyaman, dengan sesekali menengok ke arah pintu ATM, lalu mengerling ke bawah yang bertemu dengan pemandangan tiga pasang kaki di dalam ruangan ATM. Lima menit atau kurang lebihnya segitu, dibutuhkan bagi tiga orang itu untuk bertransaksi di dalam ruang ATM, waktu yang sangat jauh di atas rata-rata satu dua menitan proses transaksi.

Mengambil duit di ATM yang lokasinya hanya segelintir adalah salah satu perjuangan yang melelahkan bagiku, khususnya pada jam kerja. Dibutuhkan satu periode istirahat siang mulai dari menempatkan diri di antrian –jika itu disebut antrian– sampai dengan selesai transaksi. Menuangkan abjad demi abjad ke dalam communicator sedikit bisa mengurangi penderitaan ini. Penderitaan yang terjadi bukan karena lamanya waktu menunggu, melainkan karena menunggu untuk sesuatu yang tidak berjalan seefisien seperti yang seharusnya.

Kadang-kadang saat kepala pengambil duit ATM sudah nongol di celah pintu yang dibukanya sedikit, yang memberikan pencerahan terhadap para pengantri, ternyata dia sekedar tengak-tengok cari satpam, minta petunjuk, meminta satpamnya ikut masuk. Itulah kenapa rata-rata di setiap ATM di sini ada petugas satuan pengamanan yang berjaga 24 jam tanpa ruangan kerja dan rest room. Mas satpamnya standby dengan mbegogok saja di trotoar.

Ini hanya satu dari sebagian perilaku masa transisi masyarakat di sini dari budaya ndeso menuju ke zaman teknologi informasi.

Baru kemarin lusa aku bertemu ibu-ibu penjual sayur di pasar kota kecamatan di perbatasan, yang menanyakan kepadaku hadiah yang diinfokan via sms. Beliau telanjur mentransfer uang via ATM dengan dipandu seseorang dari seberang telepon. Tujuh ratus ribu rupiah atau seluruh saldo tabungan dikurangi saldo minimum, raib sudah. Beruntungnya budaya lama yang nrimo ing pandum masih lekat dipegangnya, sehingga yang dilakukan hanya mengelus dada tanpa mengumpat atau sejenisnya. Untuk satu hal ini aku salut terhadapnya, tidak pada keluguannya.

Persinggungan globalisasi yang menyentuh ke dalam aspek pola pikir tradisional cukup mencemaskan jika tidak dipagari dengan sosialisasi dan transfer pengetahuan di kalangan wong ndeso ini. Perkembangan pengetahuan di masyarakat ini layaknya sebagai deret hitung, sedangkan migrasi jor-joran hasil teknologi ke dalam komunitas ini laksana deret ukur. Makin lama makin ndeso tur katro saja yang terjadi ke depan.

Nun jauh di beberapa pengkolan sana, di jalanan yang tertera megah sebuah plakat biru dengan huruf putih : “Kawasan Percontohan Tertib Lalulintas”, kondisinya sebelas dua belas dengan pergeseran budaya ini.

Menemui becak yang parkir berjajar hingga memakan sebagian badan jalan. Sepeda motor yang berjalan sangat pelan berjajar tiga bak CN235 akan landing. Atau penyeberang jalan yang kebingungan saat sudah berada di tengah marka jalan. Pertaruhan yang besar untuk tindakan yang sepele. Tiada kesadaran bahwa bahan ciptaan dirinya adalah dari tulang dan daging serta cairan, yang bukan tandingan dari segala jenis logam penyusun kendaraan yang siap menyambarnya.

Orang yang muasalnya meng-goes sepeda onthel dengan santai, melintasi jalanan aspal kecil, yang kanan kirinya sawah, sekarang telah ber-evolusi menjadi pengendara motor dengan masih belum menanggalkan mental sepeda onthel. Santai, ngobrol dengan sesama pengedara motor di sebelahnya. Kadang-kadang mengangkangkan kaki untuk mendorong motor kawannya yang –padahal– juga nyala normal. Klakson dari kendaraan belakang jarang diindahkannya. Aku yakin bukannya tidak mendengar, toh helm juga jarang sekali dipakai di sini, melainkan karena ndeso itu. Entah kosa kata apa yang cocok untuk menyebutkan perilaku seperti ini. Pokoke jan ndeso tenanMarakke nesu tok.

Jangankan dalam kondisi berjalan, yang konsentrasinya sangat terbatas karena fokus kepada kestabilan sepeda motornya, dalam kondisi berhenti pun, para rakyat jelata pemakai motor sangat tidak memperhitungkan sila kedua butir ke sekian tentang tenggang rasa. Parkir di depan pintu masuk halaman rumah atau gedung, yang nyata-nyata dipakai sebagai jalur keluar masuk, bukanlah suatu masalah buat orang sini. Nanti jika ada mobil keluar atau masuk dan terhalang motornya, paling-paling si sopir mobil yang mengalah turun untuk menggeser motor, atau jika dikunci stang, paling juga si sopir cuma bisa ngedumel sambil menunggu empunya motor datang, mengambil motor, dan pergi tanpa rasa bersalah. Tanpa bersalah karena sebelum pergi dia memberi upeti ke seseorang yang disebut tukang parkir.

Atau cobalah untuk memarkir mobil di setiap bahu jalanan di kota ini. Betapa pun susahnya, kita harus berusaha sendiri untuk memposisikan mobil berada pada tempat yang benar, tanpa bantuan pahlawan-tanpa-tanda-parkir.

Pahlawan itu muncul hanya jika kita salah memarkir mobil, yang secara otomatis dia nongol dengan sedikit mengkerutkan dahi, memberi arahan isyarat tangan yang kadang tidak dimengerti oleh semua sopir.

Satu lagi dan pasti yaitu, jika dan hanya jika, kita siap tinggal landas dari tempat parkir. Seolah-olah muncul mak bedunduk dari dalam tanah ala David Copperfield, tahu-tahu pahlawan itu dengan sigapnya mempersilahkan mobil kita jalan, tentu saja dengan menyodorkan telapak tangan menghadap ke atas.

Di sana, di dekat tempat aku berimprovisasi dengan pekerjaan, ada sebuah supermarket baru yang dilaunching pada awal puasa kemarin. Orang-orang di sini menyebutnya sebagai mall. Mall??? Loe aja kali gue kaga😛. Minimall mungkin. Jalanan di depan minimall itu penuh hiruk pikuk kali lima, bayangkan saja seperti malioboro dengan tingkat kepadatan dan kekumuhan yang sama, hanya berbeda panjang ruas jalannya saja. Tepat di depan minimall itu, yang  sudah dibersihkan dari PKL yang direlokasi dengan kompensasi tertentu, tetap tidak bisa sepenuhnya bersih.

Lokasi bekas PKL itu menjadi tempat parkir motor. Sesuatu yang aneh sekali, mengingat minimall itu sudah menyediakan lahan parkir di lower ground-nya. Antara petugas parkir lower ground dengan petugas parkir bekas-lahan-PKL terlihat saling berusaha mengarahkan setiap sepeda motor yang datang untuk parkir di tempat yang dikelolanya.

Rasionya baru kudapat saat seorang kolegaku berkisah tentang orang hijau yang meminta jatah untuk penghidupannya di lahan depan minimall itu. “Nya” di sini diartikan sebagai institusi, bukan individu. Termasuk di pasar sana, tempat para pengadu nasib dengan dadu, domino, atau ayam bisa berekspresi dengan bebasnya. Orang coklat hanya bisa memantau dari kejauhan karena firewall warna hijau yang cukup kokoh.

Situasi yang terjadi di era orang hijau harus kembali ke halaman, bercocok tanam, memotong rumput sebelum subuh, dan menyikat sepatu sebelum kumpul-kumpul setiap pagi siang sore malam hingga sebelum tidur. Era di mana punggawa tertinggi yang berasal dari komunitas ini melanjutkan kebijakan ibu pendahulunya dengan mengebiri fungsi sosial dari komunitas ini, termasuk penganaktirian alokasi duit untuk sekedar bisa hidup sejahtera menyejajarkan diri dengan rata-rata civillian, karena kalah tarik ulur alokasi anggaran dengan kawanan rampok berdasi di gedung rakyat.

Kemarin aku sempatkan beranjangsana ke punggawa tertinggi orang hijau itu, yang menyambut dengan hangat laksana tamu kehormatan. Ndobos sedikit masalah kondisi sosial, kebijakan pusat, kelakuan anak asuhnya, dan sedikit rasan-rasan terhadap orang-orang yang cuma ada di tipi, kemudian meruncing ke masalah penghidupan institusi.

Tidak banyak support dari istana untuk mengurus pagar hidupnya ini, selain dari take home pay individu. Untuk institusi sendiri, sama sekali irrasional jika melihat besaran alokasi anggaran istana kepada institusi ini. Bagaimana tidak irrasional, jika besaran gajiku perbulan ternyata sama dengan besaran dana pos jaga selama satu semester. Atau anggaran pelatihan sebulan, yang sama dengan biaya perjalananku dua hari, membutuhkan berita acara yang sedemikian rumit dan berlapis untuk persiapan audit dari BPK. Duit saknyukan itu mesti diaudit yang tentu saja membutuhkan eviden sebuah acara pelatihan, yang untuk membayar tukang cuci piringnya saja hampir tidak cukup.

Lantas, bagaimana institusi yang “dibuang” istana ini bisa hidup dan berkembang? Di sini tempatnya para baret, bukan topi bagong. Mereka anak-anak dengan kontrak nyawa. Mulai dari pembangunan fisik kandang sampai dengan operasional sekarang, para baret itu yang diturunkan ke lapangan layaknya intel atau malahan diserter untuk mencari bahan sandang pangan papan untuk institusi. Dari sekian ratus baret dalam satu batalyon cukuplah belasan diterjunkan untuk misi ini. Dan, Anda lihat sendiri, kita bisa hidup dan berkembang. Dari istana? Hanya cukup operasional 4 sampai 5 hari saja.

Rasa iba, salut, sekaligus antipati terhadap kebijakan yang terjadi cukup sudah membuat aku mengakhiri perbincangan ini. Terlalu lama mungkin bisa memasung aku ke dalam suasana doktrin penataran. Jaga posisi adalah sesuatu yang bersahaja untuk kondisi saat ini.

Seperti halnya kahanan sebelumnya, yang hanya bisa aku caci maki tanpa sumbangsih real yang bisa aku berikan.

Hmmm… kota yang aneh.

 

 

infrontofatm, 20081218

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Satire

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Komentar pada “Kota nDeso”

  1. komandane Says:

    ya, om, wolak waliking jaman. siklus yg sudah lewat 10 tahun sejak 98 yg memaksa seperti itu. nongkrong & owal awil dengan mereka, kita akan menerka-nerka sebuah skenario global. inget 98 bung. bahkan 65 mungkin. aksi komunis lalu muncul baju hijau, 32 tahun bung. saat sebelum antiklimax itu semua tanpa masalah. anggaran, duit kuncinya. begitu kepentingan sudah bergeser tidak lagi pake angin komunis, mereka ditinggal, atau dibunuh karakternya. lihat sendiri khan. sutradalang, mereka cerdas, mau bikin lakon apapun lewat ops intelijen bisa. nah, habis komunis ini sudah tidak usum lagi cerita ganti teroris. sepuluh tahun sejak 98 temanya terorisme bung & konflik skala terbatas. si coklat tampil kedepan bung. anggaran kesana bung, baik APBN maupun bantuan asing.
    tapi belum lihat sepak terjangnya, saya sudah bersyukur dulu, Pak Obama akan beda dengan Bush yg jadi penulis novel senjata pemusnah massal & lalu terorisme. moga2 cerita yang misterius soal teror meskipun sempat ada di Mumbai, segera berakhir. negara kita mengatur diri kita sendiri, dengan style kita sendiri yg garuda pancasila.
    moga-moga cerita soal komunis lalu teroris setoped lewat kebijakan Pak Obama. apa bisa?

    Wah, ndan.
    Dirimu kalo membahas topik seperti ini meskipun agak belepotan (pasti pas rapat atau diomeli bosmu ki) tapi kesan semangat dan kedalaman intuisinya cukup menampakkan diri.
    Entah karena sudah berkecimpung atau sekedar pilihan warna saja yang berarti banyak. Hijau itu bisa duit, bisa juga warna dominan pas blusukan, juga warna tkd, atau warna tengah tengah dari panjang gelombang cahaya yg ada. Terlepas dari orientasi yang mana, kondisi makro dari sebab kelakuan para begundal kelas kambing itu cukup merisaukan. Dan para jelata merasakan dua kali lipat dari efeknya. Efek langsung dari premanisme teroganisir dan tak langsung dari kebijakan politik luar negeri yang tidak bebas aktif.
    Tks, ndan…

  2. anonim aja Says:

    Jujur ya, tidak mudah untuk menangkap inti tulisan. harus membacanya berkali-kali. ide yang disampaikan menjadi rada kabur. mau memperlihatkan sisi wong ndeso yang terkena modernisasi di awal cerita, lalu seolah kehilangan keterkaitan dengan ide yang sudah dibangun di awal dengan di akhir. Tidak apa-apa juga, kan bicara tentang hal yang aneh (kota yang aneh). ehm..bagaimana kalau tulisannya tidak terlalu panjang begini.tetapkan ide, lalu kembangkan yang membuat tulisan menjadi asik dibaca, karena saya lihat pemilik blog ini punya banyak ide. oops sorry, jangan marah.

    Wah, tararengkyu om/ mbak.
    Ada perasaan bermasalah ketika seseorang membaca tulisanku berkali-kali hanya sekedar pengin tahu maksudnya. Apalagi kemudian memberikan kritiknya. AKu merasa tersanjung.
    Setelah tak review, hehe…, setuju sekali dengan komen ini. Memang sih pada awalnya tulisan ini gabungan dua artikel, yang pertama adalah tentang kota ndesonya (masih banyak ke-ndesoan yang lain), dan bagian kedua masalah orang hijau itu yang sebetulnya lebih panjang juga. Maunya sih tak coba hubung2kan dengan memadatkan isi, ternyata jadi ndak nyambung ya.
    Btw, satu lagi, aku kok paling susah nulis yang pendek. Kebiasaan bertele-tele muter-muter kalo lagi dimarahi bos terbawa waktu nulis. Jadi harapan untuk nulis pendek menjadi agak susah. Pengennya sih tulisannya panjang tapi yang mbaca ndak sadar tau2 sudah kelar. Begitu🙂
    Maturnuwun untuk kritiknya…


  3. wis, siji meneh, sepakat dengan mas/mbak anonim aja, judul, alur cerita dari awal sampai ending rada ra nyambung. komennya sepakat idem. ojo nesu.

    nek neng rencana anggaran proyek ono keterangan “ditto”🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: