Customer Oriented : Goods, Service, Religion

Lebaran, Natal, dan Tahun Baru 2009. Memutuskan membeli sepeda motor bukanlah sesuatu yang mudah. Terkait dengan banyaknya jenis baru yang bermunculan, serta kecocokan nilai fungsi dibandingkan tebalnya saku yang harus ditipiskan. Yang tidak kalah penting adalah fenomena pemasaran yang penuh intrik mulai dari rancangan desain sampai dengan pola penjualannya.

Beberapa waktu lalu, produsen motor Honda meluncurkan sepeda motor –atau biasa disebut motor– bebek terbaru yang berlabel Blade. Peluncuran ini menyusul beberapa bulan setelah keluarnya Beat dan facelift Tiger, yaitu New Revolution. Blade ini masuk di kelas baru bagi Honda, yaitu 110cc, suatu kelas yang sebetulnya telah terisi Smash, Jupiter Z, dan Kawak Blitz.

Dulu, kita hanya mengenal motor dari jenisnya saja, yaitu motor laki dan motor bebek. Perbedaan besar ada di dimensi mesin dan bentuk rangka yang membuat beda pula letak tangki dan tipe shockbreaker depan. Persepsi umum adalah motor laki diperuntukkan bagi kaum laki-laki, sedangkan motor bebek adalah untuk kaum wanita.

Seiring dengan persaingan bisnis kendaraan roda dua yang semakin sengit, produsen mulai menjajaki kemungkinan untuk membuat produknya menyasar di segmen yang belum digarap sebelumnya. Sekitar tahun 2000-an, beberapa pabrikan mulai membuat motor dengan klasifikasi dan jargon yang dikhususkan kepada pasar tertentu. Yamaha telah memulainya terlebih dulu dengan Crypton dan Jupiternya, sementara Suzuki menyusul dengan Smash dan Shogun-125nya, dan Honda menaikkan kasta Supra menjadi 125 untuk diisi tempat lamanya dengan Fit dan belakangan Revo.

Entah siapa yang memulai lebih dulu, apakah itu konsumen atau produsen, yang jelas pola pikir konsumen sekarang sudah terbawa pada trend dan gengsi, dibandingkan dengan peruntukan motor itu sendiri. Seorang bocah ABG cowok merasa lebih wangun untuk naik Satria FU dibandingkan dengan Thunder, meskipun dalam kenyataan sehari-hari, motor ini sama saja. Sama saja peruntukannya dan sama saja bagi orang lain yang memandang karena semua motor ini diproduksi masal.

Termasuk sama saja dalam hal cuaca, yaitu jika panas masih kepanasan dan jika hujan juga kehujanan.

Perkembangan kebutuhan dan gaya hidup yang meningkat pesat tentu saja diiringi ilmu pemasaran yang supel pula. Jika dahulu produsen bisa mendiktekan produknya kepada konsumen, barangkali sekaranglah saatnya konsumen memaksa produsen agar bisa memenuhi tuntutan konsumen terkait dengan gaya hidup tadi.

Tidak hanya terbatas kepada motor saja, melainkan juga merambah kepada berbagai jenis produk lainnya. Sebut saja telepon seluler, produk operator seluler, media cetak, dan masih banyak lainnya yang menerapkan strategi pemasaran yang sama. Seolah pola diversifikasi produk sejenis dengan segala intriknya sudah menjadi ilmu yang baku di pemasaran dewasa ini.

Sangat wajar mengingat perkembangan berbagai sisi kehidupan tidak semuanya dapat diikuti oleh seorang manusia terhitung sejak dia lahir sampai dengan mati. Seandainya seseorang ketika lahir sudah bisa membaca, perkembangan ilmu pengetahuan di dunia yang direpresentasikan dalam jumlah buku yang beredar, tidak serta merta dapat dibacanya semua sampai dengan dia mati. Itu pun jika aktivitas dia selama hidup adalah membaca. Segala sesuatunya sekarang terspesialisasi. Hampir tidak mungkin seseorang bisa expert dalam segala bidang.

Bisa jadi berangkat dari hal ini, yang berarti berorientasi ke konsumen, yaitu dengan mempelajari pola hidup dan kasta calon konsumen yang dibidik, dengan membalik analogi konsumen sebagai subjek menjadi objek, maka keluarlah produk yang dijargonkan kepada segmen tertentu, sekalipun segmen itu berukuran sempit.

Dan, pencarianku terhadap motor ini belum berujung karena aku menemukan sesuatu yang baru bahwa ternyata ilmu pemasaran tidak hanya dalam segi produk barang dan jasa juga.

Minggu kemarin, aku melihat rombongan orang-orang yang berbaris melewati jalan setapak beraspal di suatu dusun dalam rangka mengikuti suatu prosesi keagamaan. Satu sesi ritual pengambilan air suci dari mata air menuju ke goa tempat bersemayamnya patung suci juga. Hampir semua peserta ritual ini memakai kostum tradisional jawa, yaitu kebaya dan kain bagi kaum wanita, kemudian ada surjan, kain, lengkap dengan blangkonnya bagi kaum pria. Wajah-wajah yang tampak teduh atau polos tergambar di nuansanya. Nuansa tentang menyatunya suatu agama dengan adat setempat yang berjalan seiring.

Sebetulnya pengenaan busana adat sudah dimulai beberapa tahun yang lalu, namun pada peringatan kali ini aku menangkap adanya sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih terasa aromanya sebagai bagian dari ilmu pemasaran tadi. Pembelajaran tentang segala hal dari calon konsumen, dalam hal ini calon umat, yang akan dibidik telah menelorkan satu ide yang cemerlang untuk menaikkan nilai asumsi, citra, dan terutama respek terhadap agama ini.

Yang kedua adalah timing yang tepat di saat agama terpopuler di negeri ini sedang terpuruk citranya terkait dengan pembelokan definisi terorisme yang mulai diterima oleh masyarakat kebanyakan, ormas-ormas garis keras yang sering menabrak rambu-rambu hukum, pro-kontra pernyataan tentang kesyahidan atas kejahatan kemanusiaan, pro-kontra halal dan haram yang terpolitisir, dan masih banyak lagi momen-momen yang mengakibatkan terpuruknya citra agama terbesar di negeri ini.

Isu terbesar yang tidak pernah tampak di permukaan namun terasa seperti api dalam sekam adalah ketidaksesuaian adat agama terbesar dengan adat tradisional yang telah berlangsung ratusan tahun. Ajakan tentang kaffah, tentang pem-bidah-an perilaku tradisional, tentang adat timur-tengah yang dipaksakan untuk diterapkan, dan segalanya tentang pemurnian ajaran yang tidak kesampaian pada era pasca-walisongo, sedikit banyak telah menimbulkan pertentangan horisontal meskipun masih terselubung.

Fenomena ini yang ditangkap oleh para orang suci agama lain untuk menjalankan ilmu pemasaran modernnya. Karena sudah bukan jamannya lagi pendoktrinannya dilakukan dengan senjata ataupun nebeng kolonialisme. Debat antaragama pun bukan sesuatu yang efektif, mengingat debat dilandasi oleh rasio sedangkan ajaran agama bukanlah sesuatu yang rasional. Ini sesuatu yang cerdik yang telah diterapkan oleh pemikir dari agama itu. Dan ini adalah sah-sah saja demi penyelamatan umat yang masih tersesat menurut keyakinan ajaran agama itu.

Rasanya terlalu memaksakan hubungan antara ilmu pemasaran produk barang dengan cara dakwah suatu agama, namun agama pun bisa dipandang sebagai suatu produk, meskipun produk ini tidak mengalami perubahan apa-apa termasuk produk kompetitornya. Jika produk yang ada di pasaran tidak berubah, maka hal yang harus dilakukan dalam memasarkan produknya adalah dengan memodifikasi atau bahkan merevolusi cara pemasarannya.

Nah, minggu kemarin aku sudah melihat beberapa langkah ke depan yang dilakukan suatu agama dalam mengimplementasikan ilmu pemasaran untuk menjaring respek dan menaikkan citra, meninggalkan cara-cara konvensional sebelumnya.

Sementara di sisi lain, agama mayoritas masih berkutat dengan segala pekerjaan rumahnya yang tidak pernah tuntas.

Jadi sebaiknya, Blade atau Athlete?

Mengucapkan selamat merayakan Hari Natal dan Tahun Baru 2009.
Damai di negeri ini, damai di dunia.

20090101
tidakmudik

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Satire

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment pada “Customer Oriented : Goods, Service, Religion”

  1. wahyu Says:

    mau milih motor koq bahasnya nyamber kemana2. sepertinya ide di kepala wis mbeleber saking penuhnya. hehe..

    mau nyari motor to mas? lha sudah penak make roda 4, koq malah milih motor yang panas kepanasan, hujan kehujanan.
    gimana kalo pilih matic aja, bisa di pake istri juga to..

    iya e mas…
    maunya menggabungkan dua cerita kaya tulisan orang-orang di koran. ternyata susah sekali mengatur blokingnya. tulisannya juga menjadi carut marut karena maksa.
    memang paling enak nulis cerita narasi, bukan opini. mengalir begitu saja.
    eh, mio-nya lagi nunggu arisannya dikocok dulu. sabarrr…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: