Kembali ke Alamnya

Kemarinnya kemarin aku lihat peluh dan sisa semangat yang mengiringi pergerakan fisik dan fluktuasi mental pemain nasional kita saat dibombardir detik demi detik, khususnya di babak kedua, oleh orang-orang dari tanah merdeka di semenanjung utara. Baik itu sebelas pemain maupun ribuan penonton yang memenuhi stadion.

Terlihat jelas bahwa pola defensif yang terjadi itu bukan karena strategi, melainkan karena tidak ada kemampuan untuk bermain menyerang. Pergerakan tanpa bola pun aku yakin bukan bagian dari seni yang sengaja diciptakan pemain kita di lapangan hijau, namun itu lebih kepada kita tidak bisa merebut bola yang dikuasai lawan. Termasuk pola permainan tempo rendah juga lebih cenderung karena pemain sudah kehabisan nafas untuk bisa bergerak cepat.

Sejenak ingatanku melayang di medio dekade 80-an saat sepakan keras Heri Kiswanto dari sepertiga lapangan melesakkan bal ke jala gawang negeri yang sama di tempat negara yang sama untuk event yang lebih besar, yaitu Pra Piala Dunia 86 Mexico. Menjadikan satu-satunya gol yang tercipta yang menambah point penting kelolosan negeri ini ke putaran kedua melawan negeri ginseng.

Sangat berbeda dengan hasil kemarin yaitu memupuskan peluang maju ke final bagi negeri yang organisasi sepak bolanya tercetus sejak tahun 30-an. Perjalanan yang panjang dengan segala macam bumbu-bumbu beraroma ekonomi dan politik selain dari olahraganya sendiri ternyata belum mampu mengentaskan kelas olahraga ini untuk naik setingkat di atas garis kemiskinan prestasi.

Kegagalan demi kegagalan itu seolah-olah semakin menegaskan kasta ras yang ada untuk kembali mawas diri tentang apa yang menjadi suratan takdir dari daya linuwih yang dipunyai oleh organ fisiknya.
Ini bukan sekedar kesalahan strategi atau ketidakmampuan memanajemen kompetisi yang melelahkan karena kondisi geografis yang menantang, melainkan lebih kepada suratan takdir terhadap ras tertentu untuk bisa berprestasi di bidang tertentu pula.

Tengoklah sebuah negeri singa yang hanya tampak sebagai noktah merah di atlas dunia skala sekian banding sekian juta, yang mempunyai cara sedikit radikal dalam merevolusi sepak bolanya. Perjalanan yang panjang juga telah dilalui negeri ini sejak Sir Thomas Raffles memutuskan untuk membentuk sebuah daerah baru sebagai pengobat rasa kecewanya karena kehilangan Jawa Besar (Sumatra, Jawa, Borneo, dan Celebes) di awal abad XIX. Suatu azam yang mirip dengan nadar palapa yang mendeklarasikan pembentukan sebuah negeri mungil yang disetingnya sedemikian rupa bakal mempunyai kelebihan sistem ekonomi dan perdagangan dibandingkan dengan Jawa Besar.

Seandainya saja Sir Raffles ikut membangun budaya sepak bola, aku yakin, kepala negara singa saat ini tidak perlu melakukan naturalisasi para negro dan blanco untuk dijadikan prajurit bayaran di lapangan hijau. Satu unjuk kejumawaan dalam mentransformasikan sebuah permainan sepak bola dari kelas kacang di kawasan ini menjadi kampiun. Meskipun di satu sisi bisa juga disimpulkan sebagai keputusasaan terhadap potensi lokal yang sedikit persentasenya di antara sedikit pula jumlah penghuni negeri singa ini.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi sekitar naturalisasi, setidak-tidaknya para juragan negeri itu ingin mengajari kepada khalayak region ini bahwa batas-batas suku bangsa dan ikatan primodial menjadi tidak berarti lagi di era informasi sekarang ini. Termasuk bagaimana juga mengembalikan seluruh fungsi kelebihan ras kepada bidangnya. Jika ras singa dianggap tidak ada modal sebagai pemain bola, cukup bayarlah ras bola untuk datang mewakili singa. Kembalilah pada alam yang menakdirkannya, dan aturlah hasil alam itu sesuai dengan keinginan kita.

Kemarin aku juga melihat seorang gaek yang mampu menari sepanjang 12 ronde penuh melawan raksasa seberat 140kg dengan tinggi 214cm tanpa ada rasa was-was, dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi namun tanpa menganggap remeh lawannya. Kalah dalam hitungan formal adalah hasilnya, namun dialah juara sejati sesungguhnya.
Hampir mendekati hal yang mustahil membayangkan umur yang sudah tidak pada tempatnya untuk beradu fisik dengan seorang raksasa, namun dengan sajian yang diperagakannya ke khalayak, sedikit banyak membuktikan tentang takdir atas ras yang berkompeten di bidangnya.

Kembalilah ke alamnya. Olahraga, sepakbola, tinju, kembalilah pada jalur ras masing-masing. Superioritas ras tertentu di banyak cabang olahraga itu hanya karena cabang olahraga yang dipertandingkan di tingkat dunia berasal dari permainan tradisionalnya dulu, yang mengikuti bentuk alami organ tubuhnya. Coba kita duniakan gobak sodor, bentik, engklek, dll, rasanya superioritas kita hanya tinggal menunggu waktu.

20090105
ditulis medio desemberan
yang kuciwa dgn pssi dan bendol-nya

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

7 Komentar pada “Kembali ke Alamnya”

  1. coba-coba anonim Says:

    Bung gantian saya yg tidak mutlak sepakat dengan sudut pandang ras, meski selalu diulang-ulang ceritanya, pada zaman2 revolusi fisik, PSSI danu dkk berhasil menahan imbang rusia. Bukan mutlak soal ras rupanya, kita dengan thai, singapore, vietnam masih disusun oleh sel-sel yang mirip. Tapi coba perhatikan rangking di dunia, wah, jauh bung.
    Bung inget nggak, kita pernah mendpt emas di sea games dlm sepakbola, waktu itu pelatnasnya digodok IGK Manila, pemain dikarantina di Secapa Hegarmanah Bandung. Proses-nya gimana bung? Cerita dibalik itu, banyak pemain yang setress dan lari dari pelatnas. Tapi sejarah sdh terlanjur mencatat, mungkin drill yang dilakukan berhasil.
    Bung satu hal yg saya inget, waktu Heri Kiswanto dkk kalah sama Korea dlm PPD itu saya menangis, untuk PSSI yg skrg ini entah nasionalisme saya yg luntur atau memang sepakbolanya meninggalkan nasinalisme. Entahlah bung, kalo saya rasakan, untuk bola yg memerlukan kolektivitas, prestasi masih akan dipengaruhi “spirit” bangsa itu dlm survival, dapat dibaca di Jepang, China & Korea. Globalisasi, kapitalisme, liberalisme krisis ekonomi, semua bangsa mengalami, pola menghadapinya yg membedakan.

  2. coba-coba anonim Says:

    satu lagi bung, saat PSSI pelajar jaman frank sinatra huae menjuarai piala pelajar, waktu itu saya bener2 bahagia & bangga dgn tanah air saya.

  3. wisnoe Says:

    Yup, diriku masih ingat cerita Anthony Polosin. Media saat itu benar-benar mendewakannya. Permainan kolektif dengan analisis dan uji statistik ala kaukasus timur yang mendetail tentang persentase passing, trackball, kekuatan kiper melempar bola pasir, dan segala hal yang baru tentang ilmu yang turun dari dewa langit.
    Diriku masih ingat, bombardir lawan di final Manila itu. Satu babak kita total defensif meskipun masih kolektif. Saat itu mungkin aku satu-satunya penduduk Indonesia yang kecewa cara kemenangannya tapi tidak pada emasnya. Tapi belakangan aku kecewa dengan rasa kecewaku dulu karena sampai detik ini prestasi yang sama tidak pernah aku saksikan lagi.

    Tentang ras, ini hanya sebagai ungkapan kekecewaanku terhadap PSSI. Ruang lingkupnya tidak hanya sekedar teknik bermain bola, melainkan juga cara berorganisasi dengan benar.

    Benar kita hampir sama dengan bangsa semenanjung malaya karena nenek moyang kita dari yunan. Namun pada perkembangannya, organ tubuh kita menyesuaikan dengan alam kita yang subur makmur gemah ripah loh jinawi yang membuat kekuatan otot hanya teruji dengan sedikit pekerjaan saja. Dan itu berjalan ratusan tahun. Yang sudah bekerja berat pun rata-rata mati tanpa keturunan karena hanya kerja rodi yang paling berat pada jaman dulu. Artinya kita perlu waktu ratusan tahun juga untuk mengembalikan kekuatan otot-otot kita secara genetik untuk bisa sama dengan bangsa yang senenek moyang dengan kita. Jadi sebaiknya kita fokuskan pada ibu olahraga dulu, yaitu atletik, dan jika dari penelitian menunjukkan perubahan kekuatan tubuh, barulah kita fokus kembali ke sepak bola.

    Jepang, mungkinkah mereka menjadi superior sepakbolanya jika masih bertanding dengan tampilan kate ala saudara tua?

    Guyon kere pas nonton bola yang paling sering adalah : badan boleh sama tinggi, tapi kaki pemain kita itu lebih pendek. Nah, ini yang aku maksud dengan ras itu.

    Dulu pernah ada wacana untuk menutupi kekurangan fisik kita, perlu diselipkan teknik silat dalam mengolah bola. Eh, tanpa silat saja sering tawuran, apalagi pake pencak-pencakan.

    Karena tidak pernah menjadi saksi keberhasilan sepakbola kita, pada akhirnya apa yg nampak di depan mata itulah yang menjadi bukti.

  4. christ Says:

    Yen tak pikir2, dikau lebih cucok jadi penulis deh Dab!
    Tulisan2-mu gegap gempita kabeh ! Cuma nulis ttg bal2-an ae, kok mendayu2…. heibatttt….

    Sugeng Warsa Enggal, dab Wisnu!
    Keep posting yaks!

  5. christ Says:

    halah, lagi2 si Mas belum log out.
    dan lagi2 aku main nulis aja. Soriiiii !!!

    hwakakaa…
    aku mo kasih komen ke pitusiji tapi masih minder. ga sampai ilmunya.
    beberapa orang dari rekan sejawat dan sepenanggungan sudah mulai komplain, san.
    tulisanku mulai ndak enak dibaca karena berat tur mbulet. nanti back to yang ringan-ringan saja deh.
    tks 4 all


  6. tulisan yg menarik. mengubah sedikit pandangan sy terdhp gerilya bangsa ttg dunia olahraga…dan harapan besar untuk bangsa ini tidak lain dan tidak bukan adlh kemenanganntuk bangsa dan diri kita sendiri..
    mksh udah mampir k blogQ
    salam kenal

    makasih sarah.
    aku heran dgn blogmu yang ringan dan lucu tapi masih sempet baca tulisan yg kata orang berat ini. biasanya cuma nginguk dan mak klepat…
    tks sudah mampir.

  7. wahyu Says:

    mau koment tapi bingung ngomong opo. Dipaksakan-pun, kalo ndak paham malah jadi mempermalukan diri. Emang pada dasarnya saya ndak mengerti sepak bola. senang nonton tapi tidak hobi.

    Tapi kalo yg maen Indonesia, saya pati menyempatkan diri. meski-pun sebelum nonton sudah berulang2 mengingatkan diri harus siap kecewa. Tapi tetap saja setelah nonton kecewa ndak bisa dihindari. Di tambah uring2an dan nyumpa2hi pemain sendiri. Malah jadi dosa..

    Sudah saya bilang kan mas wisnu.. sampeyan lebih baik buat cerita and novel saja. Sudah pantes bin wangun. hehe..

    Iya nih, om. Modal utama nulis buatku adalah waktu & mood. Salah satu tidak dipenuhi saja, gaya tulisan akan berbeda dengan biasanya. Sebulan kemarin bener2 tidak ada mood untuk ndobos, om. Jadi cuma bisa nyelimur saja.
    Sudah ada beberapa draft tentang ngomyang & nyelimur, tapi masih pending karena hanya orang2 yang bermodalkan sabar tur legowo yang sanggup membaca. Hehe…
    I’ll try…
    Btw, tentang si om dgn sepakbola, aku jadi ingat waktu eSDe wajib menonton acara Bhinneka Tunggal Ika, dibikin resumenya, besoknya dikumpulkan. Mungkin seperti itu nuansanya pas dirimu nonton pssi.😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: