Caleg

Alkisah tersebutlah seorang laki-laki penjual koran dan buah-buahan dengan gerobak kaki limanya yang berada di trotoar dan memakan bahu jalan. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada di situ. Di tempat yang semestinya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan beroda.

Sebenarnya tidak ada yang menarik dari dia selain dari aktivitasnya sebagai pengayom para pedagang kaki lima yang mengotori ruas jalan ini. Selevel bupati sudah terbukti tidak sanggup untuk menertibkan para pedagang ini. Pernah suatu ketika jalanan menjadi bersih dan indah ketika para pedagang itu direlokasi ke tempat yang sebetulnya lebih layak untuk ditempati, namun itu ternyata hanya bertahan tiga hari saja.

Para pedagang melakukan demo ke bupati dengan dipimpin oleh si tukang koran tadi. Bisa jadi karena masa jabatan yang hampir habis atau karena kalah awu, akhirnya jalanan yang indah menjadi jorok lagi. Bupati penggantinya yang mengaku berangkat dari wong cilik, mempunyai kebijakan yang setali tiga uang dengan si tukang koran. Selama dia menjadi bupati, selama itu pula keruwetan dan kejorokan jalanan ini dilindungi secara legal. Karena dia berasal dari wong cilik.

Si tukang koran yang merasa kekuatannya bertambah mulai meningkatkan aktivitasnya dari sekedar pepesan kosong dan obrolan ndeso meningkat menjadi pengamat segalanya. Modalnya adalah koran yang sehari-hari menjadi santapannya. Beberapa kali terlihat dia melakukan rapat dengan koleganya di tempat-tempat yang menjadi poskonya. Salah satunya adalah di emperan kantor. Biasanya undangan rapat diawali calling-calling via ponsel dengan nada suara bergaya nge-break.

“Kujang satu kepada kujang dua. Kita konsolidasi di base dua.” Demikian biasanya terdengar suara seriusnya. Dan tak lama kemudian muncullah dua orang koleganya atau bisa jadi tangan kanan dan tangan kirinya, untuk kemudian tongkrong ndodok di emperan.

Biasanya obrolannya tidak lepas dari masalah politik, masalah backing-backing, tentang masalah yang bisa digoreng demi membela wong cilik, serta masalah dunia laki-laki pada umumnya. Kekencangan suaranya di atas rata-rata mengingat si tukang koran tadi sangat buruk pendengarannya.

Sebenarnya tidak usah kencang juga tidak apa-apa mengingat pola obrolannya hanya semacam monolog bergantian. Masing-masing menyampaikan pendapat tanpa peduli apakah didengar oleh yang lain atau tidak. Seolah-olah ini adalah ajang curhat untuk menyampaikan uneg-unegnya. Begitulah dan seterusnya.

Pagi ini saat membuka lembaran koran lokal pagi, aku menemukan brosur yang diselipkan di dalamnya.

Bujugbuneng… olalaa… ternyata ada foto si tukang koran itu berpose memakai jas, kelihatan gagah, dengan sorot mata ala politikus sejati. Fotonya berwarna dengan cetakan tinta yang bagus. Sedangkan brosurnya berbunyi jargon-jargon, janji-janji jika terpilih, promosi partai barunya, dan bermacam-macam slogan untuk menarik simpati.

Hmmm… hebat dan smart.

Hebat di sini dalam arti dari cara dia bertutur tentang latar belakang dia dan motivasi untuk membela rakyat. Bahwa dia yang paling tahu tentang penderitaan rakyat. Tentang jasa dia dalam membela wong cilik dari ketidakadilan. Yang terpenting adalah menimbulkan kesan tentang kepahlawanan dan kedekatan dengan wong cilik. Sama sekali tidak ada program kerja di situ, selain dari kata-kata yang biasanya diumbar dalam suatu demo.

Sedangkan smart di sini adalah dalam hal cara dia berpropaganda. Teknis dan prosedur menjual telah dijalaninya dengan baik, antara lain dengan memasang umbul-umbul, poster, dan terakhir yang kutemui adalah pamflet yang diselipkan di koran.

Seseorang yang tidak tahu kesehariannya hampir pasti akan terbujuk dengan rayuan pamflet itu yang menampilkan sosok wong cilik ndeso yang ingin mengubah pemerintahan. Sementara jika kita sensitif tentang apa yang ditulisnya, isi dari tulisan itu tak lebih dari sampah yang tidak lebih baik dari propaganda caleg-caleg yang lain. Mengagung-agungkan dirinya bak seorang satria piningit. Tentang pekerjaan dia yang merupakan pekerjaan kelas bawah, dan segala sesuatu yang menggambarkan dia adalah wong cilik sejati yang mempunyai keberanian mengubah sistem yang tidak adil.

Beberapa tahun yang lalu, sempat pemilik persil meminta klarifikasi terhadapnya tentang pengotoran lingkungan, bau tak sedap, dan parkir motor yang semrawut di lingkungan lahannya, lahan yang direlakan ketempatan sebagian aktivitas jualan laki-laki itu.

“Bapak kan pemilik lahan, ngapain ngurus beginian.”

Nah, kan… Jaka Sembung.

Jawaban yang simpel dan telak karena nggak connect. Entah karena pendengarannya yang buruk atau memang watak dasarnya yang berada di kelas kambing. Yang jelas, cukup satu kalimat saja sang pemilik lahan terkalahkan dengan telaknya. Untuk berdebat lagi, rasanya tidak mungkin karena yang dihadapinya adalah orang bebal. Bebal harfiah di pendengaran telinga sekaligus bebal hati. Juga karena kelanjutannya adalah satu dua wartawan koran kelas kambing datang ke pemilik persil minta sangu dengan mengatasnamakan laki-laki itu, mengatasnamakan wong cilik, meskipun pulang tanpa hasil. Akhirnya penampakan lingkungan masih sedemikian kotor, jorok dan semrawut atas nama perjuangan wong cilik.

Fenomena ini cukup sudah memperkuat pertimbanganku untuk tidak memilih bendera apapun dalam pesta lima tahunan nanti. Jika tampilan di pamflet yang sangat indah berbeda 180 derajat dibandingkan kasunyatannya, maka aku sungguh merasa berdosa jika harus memilih. Apalagi yang sama sekali tidak aku kenal. Apakah memang seorang wakil rakyat harus begitu, bebal demi wong cilik?

Entahlah…

Era ketika simbok jadi punggawa, ketika wong cilik turun pangkat jadi wakil, ketika preman jadi berseragam, dan ketika kere ndomble ngowoh menatap ruang kerja mewah serta mengatur lalulintas duit di sekelilingnya dengan modal ngelmu bukan ilmu. Semoga siklus periode itu masih panjang untuk berputar kembali.
.
.
.
.

afterworkingtime, 20090109
wong ndusun rejeki ndeso

Explore posts in the same categories: Ngomyang, Satire

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Komentar pada “Caleg”

  1. D Says:

    Susah menyikapi pemilu tahun depan, tapi paling tidak masih ada satu partai yang punya sistem handal dan konsisten dengan pembinaan kadernya.

    hi, d
    lama ga ada kabar
    aku tahu apa yg kau mau. tentang partai itu.
    i’ll try but all of them are stranger. mau ga mau musti baca2 pamflet2 itu.
    btw, abu semarnya sudah dapat n lsg kelar malam itu juga.

  2. D Says:

    Gimana isinya? (yg Abu Semar)… gantian cerita dong… ๐Ÿ˜€

    qiqiqi…
    aku lupa
    bukunya masih di jogja
    secara umum sih, ini pengalaman pribadi si abu semar yang dituangkan ala parodi. isinya ringan-ringan, dan sebetulnya tidak ada yang baru selain dari apa yang sudah diberitakan di media massa.

  3. omiyan Says:

    saya hanya ingin perubahan yang ada kalo bisa menyentuh ke arus bawah terutama koruptor sekarang banyak banget yang korup pada bangga apa yang dilakuin…busyeettt

    mungkin sebenarnya koruptor tidak bangga terhadap apa yang dilakukannya, tapi bangga terhadap hasil korupsinya. rumah gedong, mobil mewah, dll.
    yah… semoga ada perubahan

  4. iwanmalik Says:

    Kampanye busuk obral janji
    Kampanye mahal memakai uang rakyat
    Lebih baik gak usah pemilu-pemiluan
    Hasil pemilu hanyalah menghasilkan koruptor-koruptor baru

    http://iwanmalik.wordpress.com

    Bingungnya lagi, kalo tidak ada pemilu, bagaimana cara memilih wakil rakyat dan pemerintahan?

  5. wahyu Says:

    memang politik itu bikin dunia tambah berwarna…

    tak pikir om wahyu riyadi, ternyata wahyu yang lain๐Ÿ™‚
    betul tambah berwarna, warna umbul2nya. kalo orangnya masih satu warna : burem…

  6. Cak Win Says:

    Emm, semoga saja Negri ini menjadi lebih baik๐Ÿ™‚
    Salam kenal

    betul cak
    semoga
    tks udah mampir (lagi)
    dan salam kenal (lagi)๐Ÿ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: