Customer Oriented : Ralat

Anggap saja tulisan ini sebagai somasi, sebagai ralat, atau sebagai suatu hal yang tidak sesuai dengan artikelku tentang Customer Oriented yang lalu.

SB. Itu inisial nama sebuah hotel di kota kecil di selatan Cirebon. Pengalaman di hotel ini menambah ilmu baru yang landasan teorinya tidak aku temukan di beberapa sumber ilmu yang sempat aku pelajari.

Gerbang hotel yang tertutup dan digembok segera menimbulkan tanya ketika kami akan masuk ke arealnya. Setelah beberapa kali klakson dibunyikan, muncullah seorang laki-laki dengan penampilan tukang kebon, yaitu kurus, kusam, memakai kaos you can see, dan berkeringat untuk membukakan gerbang halaman hotel.

Masuk ke halamannya, kami disambut plang berbunyi : Dilarang memasuki area privat pemilik hotel !

Di dekat papan peringatan tadi, ada satu peringatan lagi yaitu : Awas ada anjing galak !

Tentu saja kami turun dari mobil dengan perasaan was-was mengingat tidak ada dari kami yang tahu cara bergaul dengan anjing galak. Juga karena kami belum tahu areal privat itu di sebelah mana.

Hotelnya sendiri cukup asri dengan sebagian bangunan yang baru. Kamarnya bersih dan udara mengalir segar. Penataan halaman, tanaman, dan pernik-pernik bangunan terlihat sudah lebih dari cukup untuk ukuran kota kecil ini. Itulah kenapa kami memutuskan mencoba memesan beberapa kamar untuk acara minggu depan. Penampakan hotel yang sangat bersih dibanding segelintir hotel di sini menjadi pertimbangan utama kami.

Betul juga, begitu kami turun dari mobil, laki-laki pembuka gerbang itu segera mengusir anjing-anjing agar tidak mendekati kami. Satu ekor berhasil dimasukkan ke rumah areal privat itu, satu lagi nampak ngeyel dan melawan. Hmm… bisa jadi alasan ditutupnya gerbang adalah supaya anjing-anjing itu tidak keluar halaman.

Meskipun agak senewen melihat anjing berkeliaran di koridor, kami tetap mencoba pesan kamar setelah didahului melihat-lihat kamar. Office boy yang mengantar kami melihat-lihat kamar tak lain adalah laki-laki pembuka gerbang dan penjaga anjing tadi.

Kami pesan 9 kamar untuk 2 hari di minggu depan, dan berencana akan men-DP dulu. Sehingga dengan pedenya kami mengeluarkan duit untuk DP.

Namun apa yang terjadi di luar dugaan kami. Hotel ini tidak menerima DP. Pemesanan harus cash. Demikian penjelasan dari customer service hotel. Customer service ini tak lain tak bukan adalah laki-laki pembuka gerbang dan penjaga anjing tadi yang kali ini beralih rupa sebagai customer service sekaligus kasir juga. Segala argumen kami tentang prosedur hotel-hotel pada umumnya tidak bisa diterima oleh hotel ini.

Menurut kami, sistem cash biasanya hanya berlaku di masa liburan karena okupansi yang tinggi. Sedangkan hari itu hanya terlihat dua kamar saja yang terisi dari puluhan kamar yang dimilikinya. Minggu depan pun aku rasa sama saja mengingat liburan panjang baru saja berlalu.

Stop Press. Untuk laki-laki itu, aku membayangkan tokoh Shaggy dalam film Scooby Doo yang bisa menyamar dalam banyak peran saat dikejar-kejar hantu.

Akhirnya dengan berat hati kami bermaksud membayar cash untuk satu hari saja dari rencana dua hari di minggu depan. Di tengah proses pembayaran, kami memesan extra bed di salah satu kamar karena ada 2 anak ikut tidur di kamar itu.

Namun apa daya, jangankan mendapatkan extra bed, hotel ini malah menerapkan sistem charge untuk kelebihan penghuni kamar. Satu orang 75 ribu rupiah. Jadi total 150 ribu untuk 2 anak yang ikut dalam satu kamar dan tidak adaextra bed, juga tidak ada sarapan. Padahal kamar yang kami pesan ada yang berharga cuma 125 ribu rupiah dapat kamar lengkap plus sarapan.

Entah sejak kapan berlakunya, sistem ini seperti halnya asrama atau kost-kostan yang menerapkan tarif charge pergundul pacul.

Thats all?

Belum…

Masih ada juga keharusan deposit 300 ribu rupiah untuk jaga-jaga jika barang-barang hotel ada yang hilang. Tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap tamu tidak saja diwujudkan dalam bentuk memelihara anjing galak melainkan juga diterapkan dalam prosedur administrasi duit yaitu deposit layaknya sebagai asuransi kehilangan. Jika di hotel lain cukup ninggal kartu identitas, di sini harus ada kontan 300 ribu di muka.

Sudah?

Belum…

Dari seseorang yang menginap di hotel ini diketahui bahwa peralatan mandi tidak disediakan. Alasan dia menginap di situ karena anaknya terbiasa memakai AC sedangkan di rumah yang dikunjunginya di kota ini tidak ada AC-nya. Jika AC bukan menjadi pertimbangan utama, dia menyarankan kami mencari hotel yang lain saja. Jangan melihat penampakannya yang bagus.

Karena sudah habis logika kami, akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan hotel aneh itu. Hotel Sederhana Barru Majalengka nan gagah.

Hotel yang aneh karena menolak pemasukan hampir 3 juta rupiah dengan prosedurnya yang aneh.

Hotel yang aneh karena menganggap tamunya laksana penumpang gelap dengan segala syak prasangkanya.

Hotel yang aneh karena ada satu personel ditempatkan di banyak tugas, yaitu sebagai penjaga gerbang, penjaga anjing, office boy, customer service, dan kasir. Kostumnya sekedar jeans dan oblong dengan aroma keringat.

Hotel yang aneh karena di luar landasan teori ilmu dagang yang sempat aku pelajari.

Tapi bukan salah hotelnya jika mempunyai prosedur aneh, karena terbukti hotel itu masih megah berdiri sampai saat ini.

Bisa jadi karena kami sering dimanja dengan pelayanan hotel lain pada umumnya. Bagaimana dengan via telepon sudah cukup membuat kami tenang mendapatkan kamar di hotel berbintang atau extra bed yang otomatis disediakan sebagai bagian layanan hotel. Atau kebebasan berkeliling di setiap sudut hotel tanpa perasaan takut kepada anjing atau verboden larangan memasuki areal tertentu.

Mungkin bisa jadi itu…

Yang jelas, tulisanku panjang lebar hingga puyeng tentang trend customer oriented terpatahkan oleh pola dagang hotel ini. Sepertinya harus ada satu skripsi tersendiri untuk mempelajari bagaimana hotel ini bisa eksis di tengah gegap gempita persaingan bisnis segala bidang.

Untuk membantu menyusun skripsi itu, beberapa point telah aku list supaya memudahkan :
1. gerbang selalu tertutup
2. awas anjing galak
3. rumah pemilik hotel ada di halaman depan, area terlarang bagi tamu
4. tidak ada extra bed, kelebihan orang justru dikenakan charge 75 ribu rupiah/ orang
5. deposit 300 ribu rupiah
6. tidak disediakan perlengkapan mandi
7. extra skill bagi pegawainya, mulai dari penjaga gerbang, penjaga anjing, office boy, customer service, sekaligus kasir, ditangani seorang saja dengan kostum all in service : jeans + oblong
8. pemesanan kamar harus bayar kontan, tidak ada DP
9. hotelnya bagus dan masih eksis

Ada sesuatu yang revolusioner tentang dunia pemasaran jika hal-hal aneh tersebut terbukti positif menunjang keberhasilan untuk tetap survive sampai sekarang. Seandainya aku masih kuliah, kupastikan diriku magang di sana, menimba ilmunya.

.
.

mojolengko, 20090111
yangmasihngga’ngeh

Explore posts in the same categories: Satire

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

11 Komentar pada “Customer Oriented : Ralat”


  1. sayang sekali g ada picnya y…pdhl kayaknya nice banget…hmm..

    wah tengkyu usulannya, sar
    biasanya sih ngantongi kamera saku tapi pas ndilalah kemaren ga bawa.
    mulai besok diusahakan ada pic dah🙂

  2. wahyu Says:

    hihi..
    mungkin itu berlaku cuma untuk panjenengan saja. Melihat penampakan sampeyan, akhirnya diberikan syarat yang aneh-aneh biar sampeyan gak jadi nginep di sana..🙂

    iya e, om…
    bisa jadi karena penampakan yang kisut bin kisruh membuat hotelnya waspada terhadap hal-hal yang diinginkan :-p

  3. D Says:

    Di daerah Majalengka katamu, Noe? Bagaimana sejarahnya bisa nyasar ke sana?

    Bukan nyasar tapi terpuruk😀
    Ngga ada sejarahnya kok, tau-tau mak bedunduk, punya maratuwa di sana🙂

  4. r3ngg4n1s Says:

    Salam kenal, kunjungan balik nih.
    Wah, klo baca tentang penjaga, yang sekaligus merangkap bell boy, office boy, receptionist, dan kasir itu jadi inget film apa ya? Apa film2 horor Indonesia? ato film Gods Must Be Crazy? Hihihi…..

    Hehehe…
    thanks udah menyempatkan baca sis

  5. Noval Says:

    Wah makasih banget nih infonya,…padahal bulan depan gue baru ada rencana mo nginep di tuh hotel, karena kebetulan tempat yg bakal gue datengin Jl. Ibu Tien juga….

    Trus, Akhirnya nginep di Hotel mana tuh,….

    Noval, ini jangan dianggap black campaign buat hotel tsb ya. Cz aku cuma menulis pengalaman pribadi saja. Saranku sih datangi dulu hotelnya, jadi bisa kasih penilaian sendiri. Kalo pelayanannya sudah berubah, bisa diinfokan juga supaya aku bisa update tulisanku ini.
    Kebetulan aku dulu ada acara di gedung Sindang Kasih di jalan yang sama.
    Aku lupa nama hotel tempat akhirnya aku nginep, yang jelas tidak jauh-jauh juga dari situ, dekat pasar. Memang kondisi fisiknya tidak lebih bagus dibanding hotel SB ini, cuma dari sisi pelayanan sudah mengacu ke benar-benar hotel, kita bisa booking dulu dan tidak ada syarat neko-neko.
    Pelayanan fisik dibanding pelayanan hati. Tinggal pilih mana.

    ciao…

  6. marsudiyanto Says:

    Itu bukan hotel Mas…
    Itu rumah angker!
    Jaman sekarang banyak pilihan.
    Dikota saya yg kecil saja, pelayanannya relatif memuaskan

  7. guskar Says:

    mas, hotel ini yg di jl. ibu tien suharto bukan? ha..ha.. tnyt saya punya teman mendapatkan pengalaman serupa. Teori customer delight yg saya sampaikan ke para staf saya gugur sudah… saya sll memberikan contoh model pelayanan sebuah hote…
    btw, ada rahasia apa kok sampai sekarang hotel itu masih eksis?

    • ~noe~ Says:

      @guskar
      betul. ternyata punya kesamaan cerita ya. hehe.
      aku juga salut dengan cara bagaimana dia bisa bertahan di bisnis ini.
      btw, ini hanya kasuistis saja, tidak bisa digeneralisasi. jadi contoh model pelayanan sebuah hotel (yang ideal tentunya) masih bisa dipakai untuk role model ke para staff…

  8. kelly Says:

    wah…jangan2 itu rumah angker yang para customernya saat malam hari akan ilang satu persatu karena rohnya di sedot abis ama tu penjaga…..dan ternyata pemiliknya adalah vampir (mending kalo kayak keluarga cullen….mau deh aku ke sana…hihihihi)
    ato sebenarnya hotel itu markas sekte2 ajaib yang suka jampi2 bim salabim…hiiiiii…
    wahhh…ada banyak versi yang bisa aku ceritain…..kayaknya jangan nginep disana deh, daripada besok dah berubah jadi makhluk jejadian..hahhhhhhhhh…syeremmmmmm….

    ______
    ~noe~:

    kelly…
    jangan bikin serem ya
    dirimu pernah ke sana?
    jadi penasaran nih…

  9. ryan Says:

    Hotel sederhana barru majalengka gerbang selalu terbuka buat customer yg mengunjungi hotel ini dan skrng tidak ada anjing. .
    # yuk kunjungi ho

  10. sederhana barru majalengka Says:

    that not right she to be in to note that , kunjungin majalengka jngan lupa lw dh lelah nginap d hotel sederhana barru majalengka pasti kamar nya bersih,nyaman dan suasana adem .
    info lebih lanjut tlpn (0233)281029.
    terima kasih atas luangkan waktu tuk membaca ini …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: