Back to Nature

Dulu, pernah ada satu periode di mana kami menerapkan gaya hidup sama rata sama rasa, one for all all for one, sebungkus nasi kucing di-eker-eker bareng, semangkuk mie instan dilahap bersama, gelas ukuran babah hong untuk kopi kental disruput banyak mulut. Termasuk juga baju, kaos, jaket, kecuali daleman, juga sering bertukar. Satu sisi menunjukkan kebersamaan, sementara di sisi lain menampilkan kejumawaan di balik ketidakpunyaan.

Beberapa kawan sering mengeluhkan ketika memakai jaket himpunan alamaterku. Asumsi jorok dan malas sering terlontar kepadaku karena seringnya di dalam saku jaket terdapat gumpalan sampah kecil. Biasanya sekedar bungkus permen dan bungkus rokok berisi puntung yang telah di-untel-untel. Kadang-kadang ada bungkus lemper. Atau yang sedikit lebih parah hanya kulit buah-buahan, semisal duku, jeruk, atau salak.

Masalah berapa lamanya dia ngendon di saku, itu sangat relatif. Namun yang jelas, tidak pernah sampai keluar jasad renik ala percobaan abiogenesis Anthony van Leenwenhoek.

Argumentasi tentang kebersihan lingkungan, yang katanya sebagian dari iman, tentu saja mudah dipatahkan oleh kawanku dengan bukti otentik di dalam jaket itu.

Jangan terlalu muluk ke scoope lingkungan, berangkatlah dari diri sendiri. Jaket dulu dibersihin, baru ngomong lingkungan. Argumen ini dengan segera mengakhiri perdebatan tentang hakikat kebersihan.

Selain sekedar ndobos, aku memang tidak pandai beradu argumentasi. Bagaimana cara mengemas pendapat menjadi sesuatu yang bersifat ajakan atau rayuan. Tentang bagaimana prioritas membangun budaya kebersihan ini, antara berorientasi ke diri sendiri atau lingkungan.

Jika diri sendiri sudah bersih, lingkungan akan ikut bersih dengan sendirinya. Demikian petuah dari pendahulu kita.

Non sense.

Menurutku, lingkungan yang bersih harus menuntut pengorbanan diri kita dulu. Jika lingkungan sudah bersih, otomatis kebersihan diri akan terasuki dengan sendirinya.

Sampah di dalam saku jaket adalah satu bukti pengorbanan diri untuk kebersihan lingkungan. Di situasi sekarang, di mana banyak area sosial tidak disediakan fasilitas lengkap di tiap ampas sisa siklus aktivitas individu, jangan berharap kebersihan lingkungan akan terjadi hanya jika individunya bersih.

Contoh sederhana, betapa ketiadaan tempat sampah membuat saku jaket berkorban sebagai fungsi substitusinya, telah menunjukkan keterbalikkan asumsi umum yang telah berakar dalam masyarakat. Petuah ini telah membuat individu mengorbankan lingkungannya demi kebersihan diri sendiri. Jika tidak ada tempat sampah, maka buanglah di sembarang tempat, itu bukan salah individu, melainkan ketidakbecusan punggawa pemerintah menyediakan tempat sampah.

jika kata tak lagi bermakna…
lebih baik diam saja…

[Itu kata Mas Iwan Fals]

lebih baik berbuat…
meski itu melawan hakikat umum…

[Itu kata aku]

carAkhir tahun kemarin, mobil yang berantakan moncongnya telah kembali di pelataran parkir. Meskipun cukup lama aku berpisah dengan dia, kepulangannya tidak cukup untuk mengeluarkan gairah kembali untuk menunggangginya.

Dalam kurun waktu perginya dia di bengkel yang aku sendiri tidak tahu keberadaannya, ada beberapa pencerahan yang kudapat, khususnya tentang bagaimana bersahabat dengan alam ala going green. Suatu istilah baru untuk hal yang telah lama aku coba jalankan di tengah kegaduhan sistem barbarian terhadap lingkungan.

Mungkin agak berlebihan atau terlalu memaksakan jika perdebatan tentang kebersihan di atas dikaitkan dengan gaya hidup going green ini. Namun setidak-tidaknya ada sedikit hubungan tidak langsung yang mengisyaratkan bahwa kita tidak bisa terlepas dari hukum alam. Semakin manusia menyimpang atau melawan kaidah hukum alam, semakin dalam keterpurukan nurani terhadap kebersahajaan alam.

btow

Semampang aku hidup di kota ndeso ini, di antara derasnya laju keinginan memodernisasi diri, dari tapak-tapak langkah kaki bermetamorfosis ke roda, dari onthel ke putaran grip gas, dari roda dua ke empat, aku akan mencoba melawan arus dengan membalikkan arah kurva itu.

Bike to work, sesuatu yang sangat asing di sini. Pandangan dengan penuh rasa aneh, dan sesekali menyintingkan objek penderita. However, life must go on.

Mari kembali ke alam…

mornin’ majalengka, 20090111

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

11 Komentar pada “Back to Nature”

  1. Nana Says:

    hmm… just like always.. selalu dalem.. dan mengena😉
    penasaran sama gambar yang dibawah..emang gt ya??

    tks apresiasinya, na🙂
    gambar yang bawah aku ambil dengan shutter lambat, pakai timer.
    sebenarnya sih pengin menggambarkan diri dari ketertiduran, agak linglung sedikit, dan bangkit. go to green. cuma maksimal shutternya masih terlalu cepat.
    artistiknya juga masih belum punya ilmunya, jadi ya apa adanya dulu. kejar tayang tulisan🙂

  2. omiyan Says:

    ah kalo ngelihat sepeda saya semakin yakin kelak di indonesia jalanan akan dipenuhi oleh kendaraan yang bebas polusi plus menyehatkan…alias sepeda hehehe

    sebenarnya sepeda ngga bebas polusi sepenuhnya. terutama kalo pas sakit perut dipaksain naik sepeda.😛

  3. annosmile Says:

    wah..
    langsung servis sepeda nih
    dukung bike to school

    sip sip…
    btw, emang ada servis sepeda?
    kaya ahass, gitu?
    j/k

  4. Cak Win Says:

    Jadi Pengen punya sepeda😀

    Ayo, Cak WIn, kita maen sepedaan…🙂


  5. dalem banget…
    aQ rs apapun perbuatan itu, mmg harus selalu di mulai dr yg terkecil dan terdekat..yakni pd dri Qta sendiri masing2….

    Betul, Sarah
    seperti kata Aa
    tambah satu : mulai saat ini juga

  6. wahyu Says:

    berangkat dari hal kecil, merambah masuk ke substansi yang lebih esensi. Diakhiri dengan pic yang bikin dahi berkerut..
    ‘gimana itu, koq bisa??, apa lewat rekayasa photoshop..??’

    Tks, om. Komen si om ini yg selalu tak tunggu. Tepat di sasaran.
    Itu gambar sekali jepret pake shut lambat aja.

  7. Artika Sari Says:

    Coba amati baik-baik gambar sepeda diatas….
    Kenapa ada bayang-bayang orang nya ya?
    tak jelas… tapi tampak…

    Hehe…
    Nanti pas sempet, aku posting khusus gambar seperti ini dengan contoh lain ya.
    Tks Tika…

  8. anderwedz Says:

    Seru nih…
    kalo kerja pake sepeda….
    semangat…

    Yup…
    ngga setiap hari, sih…
    minimal ada dalam satu minggu.

  9. wahyu Says:

    oh ya boss..
    selamat, tunggangannya dah bisa di pake lagi.
    hehe..

    tararengkyu om🙂

  10. kemed Says:

    Wah kudune pit-nya pit onthel sing gazelle iku lho kan tambah sip tenan. Jadi kelihatan kayak orla (orang lama) …………… wuih apik tenan tho……🙂

    durung duwe jee…
    carikeun di jogja med…

  11. Ongen Says:

    sebenernya kalu menurut saya, masalah kamu menyimpan kulit jeruk, bungkus permen dkk lalu berkata karna tidak ada tempat sampah yang tersedia, bukankah itu hanyalah dalih karna kamu malas untuk membuang sampah yang ada di kantong kamu. buktinya sampah dikantong itu tersimpan rapi dalam kurun waktu yang cukup lama??!!
    dan saya tetap setuju bahwa kebersihan dimulai dari diri seseorang, kalu seseorang itu tidak memiliki keinginan membersihkan diri dari kotoran bagaimana mungkin dia berkeinginan membersihkan lingkungannya.
    Pikirkan ini dari sudut pandang berbagai pihak.
    Selamat berpikir (kalu sempat)

    Makasih mas/mbak Ongen. Betul sekali komennya, cuma ada siratan yang mungkin tidak tertangkap di sini, bahwa ada prioritas dalam berbuat yang mengorbankan diri sendiri dibandingkan dengan lingkungan.
    Untuk tingkat kemalasan, memang aku ada pada stadium akut, nih… hehe…
    Namun yang jelas, adanya niat baik dipadu dengan sedikit tindakan positif terhadap lingkungan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri buatku.
    Sudut pandang umum adalah kebersihan bermula dari diri sendiri. Betul. Tapi kenyataannya, egoisme tetap ada di atas. Coba cek orang2 yang suka buang puntung rokok, bungkus permen, kulit buah, dll, aku yakin rumah mereka pasti bersih dari cerminan tindakannya yang suka membuang sampah sembarangan.
    Cobalah dibalik 180 derajat, pemerintah atau LSM punya program konsisten untuk kebersihan lingkungan. Lingkungan yang bersih akan membuat siapapun yang jorok akan berpikir ulang untuk sekedar membuang bungkus permen sekalipun.
    Thanks udah mampir🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: