Nusantaraku

… … …

Tiada lagi negeri seindah persada Nusantara
Hutan rimba menghijau
Tempat bersemayam burung margasatwa
Gunung api yang tinggi megah
Menambah semarak persadaku
Lembah ngarai dan sungai-sungai
Mengukir keindahan abadi
Tanah pusaka, akupun dilahirkan disana

Penduduknya gagah tampan
Cantik molek tiada bandingnya
Terkenal manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya
Mereka saling menghormati
Saling menghargai hak azasi
Mereka bernaung di bawah pusaka Garuda Pancasila
Dan sang saka Merah Putih lambang Indonesia

Jagalah kelestarian sejarah budaya
Semua rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Mari bersama-sama menjaga lingkungan hidup ini
Hutan dan rimba, burung margasatwa sebagainya

… … …

Masih ingat? Atau malahan belum lahir?🙂

Lagu Atik CB Rahayu dalam album yang sama dengan judul lagu ini, sekitar tahun 1982.
Yup… Atiek CB.
Hanya tereliminasi nama belakangnya saja seperti para artis yang lain semisal Mayangsari menjadi Mayang, atau Ricky Johannes menjadi Ricky Jo.

Lagu yang telah dinyanyikan Jamal Mirdad sebelumnya.

Tanpa sadar tanganku mengetuk-ketuk meja mengiramakan lagu jadul itu, di tengah hingar bingar televisi yang menyiarkan dentuman posfor di Filistin. Saat aksi negara teroris yang dibacking oleh negara adidaya teroris sedang menghajar teroris kroco kelas kutu kupret dari sisi persenjataannya.

Sejuta rasa yang terpendam hanya bisa terwujudkan dalam satu dua atau beberapa kali sms donasi ke organisasi kemanusiaan.

Negara teroris adidaya. Amerika?

Aku ingat korespondensiku terakhir dengan seorang sobat yang sekarang entah di mana. Bisa jadi itu yang membuatku tanpa sadar membuat ketukan mengikuti birama lagu itu.

Dia, salah seorang mantan🙂, yang bermukim di negara teroris adidaya sana, tepatnya di suatu kota kecil di NC USA, hanya berujar,”Well, dirimu pasti membayangkan Amerika seperti di tipi atau media massa lain. Media memang sudah diseting sedemikian rupa sehingga mengesankan apa yang ingin dikesankan pemerintah sendiri. Indonesia jauh lebih bebas, lebih liberal dibandingkan di sini.”

Mungkin juga ini salah satu keberhasilan politik luar negeri dari negara ini dalam penetrasi bukan-budayanya ke negeri-negeri tertentu. Sedangkan gambaran tentang arogansi politik dan budaya-bebas itu sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya tertradisikan di setiap sudut wilayahnya. Apalagi kota kecil macam di sini. You know, keperawanan masih sangat berharga di sini. Dan keprihatinan yang dalam akan dua sisi mata uang, antara politik dan kemanusiaan juga tersirat di sini.

Jangan bayangkan setiap hari aku bertemu bule-bule cuek dengan sorot mata curiga. Atau negro bandar dan pecandu seperti halnya negro nigeria di Jakarta. Atau jangan memvonis kehidupan sosial di sini lebih bersifat egosentris atau antisosial. Meskipun gotong royong tidak dibudayakan di sini, namun penduduk di sini bisa membedakan mana yang perlu dibantu atau sebaliknya itu sekedar urusan pribadi yang tidak perlu dicampuri.

Sangat berbeda dengan jiwa leluhur kita yang mengadigang adigung dan adigunakan falsafah gotong royong dan kesetiakawanan sosial. Hingga pada batas demarkasi tertentu, terkadang falsafah ini menerobos tanpa filter hingga ke ceruk privacy individu. Jambret dengan seketika dihakimi secara gotong-royong hingga tewas terpanggang atau diceburkan kali, atau sebaliknya absen dari rapat RT sudah cukup untuk mendiskreditkan dia sebagai antisosial.

Aku ingin kamu tahu, ingin kamu sekedar membayangkan begini :
Sekarang aku hidup di kota yang jika kita jogging di pagi hari atau sekedar jalan-jalan, setiap orang akan menyapa dengan tersenyum.

Good mornin’

Hhh… nuansanya akan lebih syahdu jika itu terjadi di pagi hari musim semi dengan usap alunan angin lembut di kuduk. Di saat kuntum bunga mulai menampakkan kebersahajaan jati dirinya. Kesyahduannya bisa menisbikan hadirmu di lingkarku.

Atau cobalah ikuti orang yang menuju ke suatu gedung atau toko, niscaya kamu menemukan satu adab saat melewati pintu yang dibuka orang itu. Kupastikan dia akan menoleh ke belakang dan mempersilakan kamu masuk duluan. Adab itu, jika ada seseorang di belakang kita ikut masuk, maka persilakan dia untuk masuk sebelum kamu menutup pintu itu.

See…?

Waktu kecil aku tumbuh di selatan Andalas,
besar di pusat Jawa,
dan dewasa di negeri antah berantah ini.
Di negeri kapitalis dengan budaya-bebasnya, free sex, dan hegemoni politik dan militer yang pragmatis di dunia.

Sementara dari kecil aku didoktrin tentang adab budaya nusantara.
Tentang sopan santun beretika dan segala kemuliaan timur.

Samar-samar kurasakan bahwa semua aplikasi doktrin ketimuran itu baru kutemukan di sini. Di suatu negeri antagonis dari sekian banyak sisi.

Ya, believe it or not, aku menemukan Indonesiaku di sini.

Indonesia seperti dalam cerita nenek kakek buyut kita dulu.

Indonesia dengan nusantaranya yang agung. Gemah ripah loh jinawi.

Barangkali kamu menganggap aku berbohong atau telah terkontaminasi budaya barat yang dipandang rendah dari ujung timur. Never mind, aku tidak bermaksud menjustifikasi kebenaran ceritaku dengan penghambaan yang sangat kepadamu lagi.

Aku hanya tidak ingin seperti Archimedes yang mempopulerkan eureka, namun hayatnya berakhir di ujung pedang prajurit rendahan Romawi saat masih tenggelam dalam alam abstraknya.

Aku sudah bangun. Setidak-tidaknya ketukan lagu Nusantaraku itu masih bertalu-talu di gendang telinga, hanya sedikit berbeda nuansa dibanding dulu, tatkala gelas reaksi di laboratorium menjadi medianya dengan campuran asam basa manakutahu ala kelompok kita, yang tidak mampu mengikuti ketinggian nada suaramu meskipun hanya setengah nada saja🙂.

Sadarku, apakah kemuliaan etika nusantara hanya dongeng pendahulu kita sebagai satu obsesi saja, atau bahkan hanya sebagai pengantar tidur agar kita mimpi indah di alam sana, sebagai kesetimbangan terhadap kondisi real?

Aku ingat Pih Bung kita pernah berucap,”Ini dadaku ! Mana dadamu…?!”

Meski siratan filosofinya tidak sepenuhnya aku selami, aku hanya ingin menyampaikan sedikit tanya kepadamu dalam lingkup yang lebih sempit saja, agar tidak ada migrasi yang lain lagi untuk penemuanku ini. Demi pencarian yang lain.

Sobat…
mana Indonesiamu?

.
.
.

back2home, 20090120
tampang bloon

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

18 Komentar pada “Nusantaraku”

  1. omiyan Says:

    sekarang kita dijadikan manusia individualis seiring perkembangan jaman yang membuat kita lupa akan diri kita adalah mahluk sosial…..

    masalaha gotong royong masih enak didesa masih terasa, tapi tinggal dikota dikomplek susah setengah mati….


  2. berkunjung…salam kenal ya…

  3. Mahendra Says:

    Ini sich lagunya Koes Plus…, kalau gak salah hloooo…. Jadul banget.., tapi OK kata2nya…🙂

  4. ananononim Says:

    1. waktu SD aku disuruh maju nyanyi, klo gak kelas 3 atau 4, atau 5, aku nyanyi lagu ini dengan hapal dari jamal mirdad, seperti juga lagu : burung bangau terbang kekandang setahun sekali, menemui cintanya lagi…
    sejak jamal tidak konsisten lagi dengan jenis musiknya ini dan lalu nyanyi jamilah, jamal kuitinggalkan🙂
    2. Bait ini :
    Tiada lagi negeri seindah persada Nusantara
    Hutan rimba menghijau
    Tempat bersemayam burung margasatwa
    Gunung api yang tinggi megah
    Menambah semarak persadaku
    Lembah ngarai dan sungai-sungai
    Mengukir keindahan abadi
    Tanah pusaka, akupun dilahirkan disana

    Tepat sekali bung, bahkan Indonesia tercinta ini, jauh jauh jauh lebih indah dari gambaran di lagunya jamal, ebiet atau soendari soekotjo. Mendatangi sudut2 tanah air bung, kita akan membenarkan itu, seperti kita tulis (terbukti) dalam sebuah jawaban di lembar jawaban essay saat ujian mata kuliah dasar pengaturan tempo hari.

    Lalu, bagaimana dgn bait ini? :
    Penduduknya gagah tampan
    Cantik molek tiada bandingnya
    Terkenal manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya
    Mereka saling menghormati
    Saling menghargai hak azasi
    Mereka bernaung di bawah pusaka Garuda Pancasila
    Dan sang saka Merah Putih lambang Indonesia

    Bung, kita yang harus merubah keadaan, dan dalam tahap kompromi yang paling jauh, kita meng-adjust setelan otak kita, bahwa kenyataan sosial tanah air saat ini, rupanya jangan2 sudah NAS dr sejak purbakala, dan lalu bagaimana kita menikmati keadaan. Mungkin tidak banyak yg dpt kita lakukan, tapi misalkan kita sempat nongkrong dan ngobrol dgn penduduk desa wedi ombo, wonosari situ, bukan loisiana atau pun sekitar hudson river, lalu naluri kita tergerak untuk memperbaiki keadaan, sekecil apapun, dengan media apapun, satu bait kata2 atau satu jepretan foto misalnya, buat menggerakkan satu dua sel-sel syaraf kesadaran dari sekian juta sel syaraf itu di diri kita dan di sekitar kita. Itu sudah cukup, krn gemah ripah loh jinawi sudah ada di sana.

    3. Yen tak pikir2 alur tulisan & stylemu nulis ora kudu dipersis-persiske karo andrea hirata. Filicium, Natrium, Nebula, Kosmos dll. Aku wis lali, soale mbiyen ngantuk ngantuk wae.

    4. Kapan sepedahan neng SUmantra? tak enteni, mengko aku cuti, kendaraan wis tak siapke sepasang. TS karo Dayang. Mengko tak duduhi nggon2e sing dinggo film laskar pelangi. Kapan?

    ndan…
    1. yang burung bangau terbang ke kandang setahun sekali itu terakhir kami nyanyi2 di kost deket rumah2 bedeng

    2. dirimu jeli sekali. tadinya diriku bermaksud memakai bait kedua saja, soale bait pertama sedikit banyak masih ada kesesuaian dengan beberapa tempat di alam nusantara sekarang ini.
    setuja pula dengan pemikiranmu. kecil tapi berarti. mereka yang besar biasanya mengerjakan pekerjaan kecil terus menerus hingga menjadi besar.
    untuk fotonya, ide sudah menggunung namun susah sekali menggabungkan foto dan tulisan.

    3. hahaha…
    aku baca tulisan gunawan muhammad dan aku menemukan pencerahan.
    aku baca tulisan andrian dan aku menemukan kejumawaan.
    dalam penelisiranku sendiri: GM menerangkan, andrian unjuk kebolehan.
    ternyata setelah mencoba berbagai gaya tulisan, taburan metafora itu adalah cara termudah menggabungkan beberapa frasa yang missing link, atau sekedar unjuk kebolehan tentang pengetahuan. terserah pembacanya sekelas sama aku atau tidak.
    thanks koreksinya, ndan…
    i’ll try…

    4. lhah di sana ada dayang to???
    dayangku habis surat, sementara si nug sudah moving ke timor timur😦
    sekarang kok nyari libur syusah😦

    tks 4 all, soale kali ini diriku setuja setuju seluruhnya…

    pisss

  5. suryaden Says:

    yah…
    kita dirusak oleh politik luar negeri mantanmu itu..
    bangsa ini memang harus merajut lagi akar-akar kebangsaannya yang sudah tertutup beton keras kolonialisme dan sulit sekali menggaruk-ngaruknya lagi meski banyak yang sudah gatal….

    kolonialisme itu yang aku lupa tertuang di sini. betul juga, sejarah kita ada lembaran kolonialisme yang sudah berakar.

  6. anderwedz Says:

    Sulit sekali bagi bangsa kita untuk melepaskan budaya barat meskipun kebudayaan yang sama sekali tidak cocok bagi bangsa kita.

    susah melepaskan artinya sudah cocok kan, om?🙂
    piss

  7. iwan Says:

    mau dong dibikinin puisi ama kamu….

    lhah piye to, wan? fallinlove?
    aku cuma bisa bikin puishit…
    puisi dengan kata2 aneh yg susah dimengerti pembacanya hingga ada kesimpulan bahwa itu puisi bagus😀

  8. ~noe~ Says:

    @omiyan
    bener om, perkembangan lingkungan sosial mengarah kepada individualis di alam nyata. beda dengan alam maya, komunitas2 makin cepat terbentuk.

    @penyamun
    salam juga🙂

    @Mahendra
    itu lagunya Jamal Mirdad yang dibawakan ulang oleh Atiek CB dalam album dia Nusantaraku

  9. Cak Win Says:

    Budaya barat berkembang pesat searah pesatnya tehnologi. Pengaruh terbesar dari televisi, kita bisa liat sendiri kalo acara2 seperti sinetron dan film2 juga memperlihatkan budaya barat. Kita di ajarkan untuk mengidolakan orang2 dari luar negri yang cantik suaranya bagus, dll. Orang orang cenderung melihat tontonan sebagai tuntunan dan melihat tuntunan sebagai tontonan. Meskipun faktor-faktor lain juga mengambil pengaruh, tetapi saya berpendapat bahwa manusia akan cenderung menirukan apa yang dia liat, dan mereka dengar.

    melihat tontonan sebagai tuntunan, melihat tuntunan sebagai tontonan.
    bagus sekali cak.
    simpelnya, apakah sinetron kita mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat kita? barangkali begitu pula budaya yang ditampilkan dalam film barat.

    Maap jika ada yang salah dengan komentar ini😀

  10. boyin Says:

    di desa ku kebudayaan masyarakatnya masih kental..itulah kenapa sangat menyenangkan jika bisa liburan ke desa

    desanya di mana, om?


  11. harapanQ untuk bangsa ini agar menjadi lb bai tap perah surut walau apapun yg terjadi, karena aQ yakin, suatu hr nanti pasti…amin…amin…

    sarah ini lagi ngenet pake hp kah?😛


  12. mantaffffffffffffff,…..
    gile nusantaramu adalah nusantara ku

    @salam knal

    salam knal juga🙂

  13. wahyu Says:

    Mungkin semua kata-kata dalam syair lagu adalh benar. Nusantara kita adalah nusantara yang elok, permai, kaya, dan lainnya. Memang seperti itulah keadaan Nusantara. Setidaknya saat itu.

    Kalau saat ini kita merasakan Nusantara berubah. panas, gerah, kacau, nggriseni.. Maka mari sekarang kita kembalikan nusantara menjadi seperti dulu. yang indah, elok, adem ayem, dan gemah ripah loh jinawi..

    Wah boss.. tulisanmu makin hari makin berat. Minder diri ini meski untuk sekedar ber-koment.

    Cerita yg apik. Bahasa sastra memang membuat tulisan menjadi lebih dramatis dan dalam..😉

    Hehe ada-ada saja si om, ni.
    Ini kategori instan writing, ndak ada sejam nulisnya, soale cuma meneruskan curhat dari seseorang dengan sedikit bumbu.
    Berat itu ada dua, berat isinya dan berat kalimatnya yang mbulet.
    Kaya’nya aku masih di berat yang kedua itu.
    Tks om

  14. nusantaraku Says:

    Good posting.
    Nilai-nilai “nusantaraku” masih dapat kita temukan di daerah-daerah pegunungan atau jauh dari pengaruh globalisasi. Sayangnya, globalisasi informasi, budaya, materi yang masuk ke Indonesia tanpa difilter oleh pendidikan yang berkualitas.
    Sehingga, “Indonesia” saat ini sangatlah berbeda dengan Indonesia 5 dekade yang lalu.
    Mengapa?

  15. bibit m Says:

    Indonesia sampeyan dimuseumkan Jamal Mirdad sejak th. 1981, disimpan dalam rahim Perawan Desa yg “Hatinya masih Selembut Salju.” Mau lihat? Tp kata MUSICA, jangan beli yg bajakan …

  16. geRrilyawan Says:

    woo gitu ya…ternyata ada sisi-sisi lain dari amerika yang banyak orang belum tahu, yang nggak pernah diulas di media…

  17. NAGA_SIREN Says:

    Aku ingat lagu jamal mirdad ini waktu masih balita, tapi aku udah bisa nyanyiin. krn sering dengerin di radio. sekarang udah dapat mp3-nya di
    http://www.4shared.com/get/77421094/11dabca1/JAMAL_MIRDAD_-_NUSANTARAKU_.html;jsessionid=4939C749F21EC7590938E8EBAA3A63CF.dc115


  18. I am no longer positive where you’re getting your information, but great topic. I needs to spend a while finding out much more or understanding more. Thanks for wonderful info I was on the lookout for this info for my mission.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: