trip

lintasan mendung pekat tak menyurutkan lajuku
yang terbang merendah
berkelok di riuhnya himpitan rumah-rumah kopel
desiran angin kendaraan
serta tapak roda mesin yang melawan rambu

sejenak kusorotkan penglihatanku ke mereka
bukan lantaran emosi sesaat
atau nafsu keingintahuan
hanya untuk memastikan siapa
dan kapan tour of duty-ku ke sana
karena emosi dan nafsu hanyalah kosa kata
yang aku tidak tahu wujud dan penerapannya

tubuhku mengalun pelan
mengisyaratkan akan sampainya aku pada tujuan
tanpa pernah aku paham bagaimana
cara mengemudi dan penentuan arahnya
hanya seperti ketika kita menjentikkan tangan
membayangkan dan menginginkan sesuatu
plasss…
kita akan sampai ke tujuan itu
dengan proses tertentu

engkau datang juga
suara lirih dengan senyum simpul tersungging di wajahnya
bersih
tertuang pengalaman batin yang tinggi

ya
aku datang untuk mengantarmu
barangkali kau sudah merasakan
sudah berfirasat

mungkin juga
tapi aku tidak tahu apakah itu firasat
atau sekedar peristiwa rutin di kehidupanku
aku hanya tidak menyangka kamu hadir secepat ini

aku terdiam
terlihat ada keinginan dia melanjutkan kata-katanya lagi

tidak bisakah engkau menunggu
barang sesaat
engkau tahu
belum semuanya hadir di sini
untuk mengantarkan keberangkatanku
bahkan
semuanya tidak tahu
bahwa aku akan pergi bersamamu sekarang

masih aku terdiam
memandang dia dengan senyum
secara batiniah
aku juga tak tahu seperti apa wujudku di hadapan dia

bisakah engkau menunggu mereka

aku hendak menggeleng
namun kebersahajaannya membuatku ingin bercakap-cakap
sebentar saja
sambil menunggu waktu yang ditugaskan kepadaku
untuk menjalankan rukunnya

engkau sangat bersahaja
meskipun dengan lontaran kalimat yang sama
yang klise seperti yang sering kutemui
dalam tugas-tugasku sebelumnya
namun suara batinmu sangat berbeda

engkau ingin mereka hadir
bukan karena ingin ditemani
engkau hanya tidak ingin mengecewakan mereka
yang tidak sempat hadir di sini
bukan masalah ego

sebaliknya
juga mereka
mencoba hadir untuk menyenangkanmu

maka sebenarnya
kalian hanya merasa kurang
jika satu bagian dari kalian tidak bisa membantu
satu sama lain

ini hanyalah waktu
engkau sudah punya segalanya
pengabdianmu kepada Pencipta
bangunan keluargamu yang sakinah
berdiri di atas pondasi imanmu
mereka sangat menyayangimu
dalam segala sakit dan nestapa tahunanmu
meski itu dimaksudkan untuk mengurangi dosa-dosa masa lalu
harmoni itu tidak bisa tercerai hanya karena ketidakhadiran jasmani

kehadiran itu tidak hanya dalam wujud badan
engkau akan memasuki satu dimensi baru
tanpa ruang dan waktu
di sana
juga saat ini
kehadiran mereka seharusnya sudah terasa
bayangkan saja, jika engkau menginginkan
engkau akan menemukan tepat dihadapanmu

dalam ucap dan doa dari segala penjuru
jalinan temali itu masih kokoh membalut sukmamu
tidakkah kau merasakannya
indahnya
di saat-saat permulaan kehidupan baru
tanpa banyak iringan rintih
tiada riuh tangisan
atau sibuk yang tergopoh-gopoh hadir
semuanya
hanya menunggu kepastian yang tak jua datang

ini saat yang paling mulia
menuju pemberangkatan awal
aku sendiri akan mengawalmu
dengan segala kemuliaan
ucap dan doa
jalinan harmonimu

.
.
.
.

20090127

untuk sobatku, arie
ikut berbela sungkawa
semoga semua senantiasa dalam perlindungan-Nya
sekarang dan selamanya
amin

Explore posts in the same categories: Khayalku, Puishit...

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

9 Komentar pada “trip”


  1. Puisi yang bagus. Sangat menyentuh jiwa.

    Maturnuwun.
    Ini undangan?

  2. omiyan Says:

    setiap membaca sebuah pusi terasa bergetar hati saya nih, tak tahulah kenapa

    sama, om
    meskipun kadang kita ndak tau isinya apa
    minimal bergetar kepalanya, geleng-geleng

  3. wahyu Says:

    Semua karya sastra, terutama puisi. Dapat memiliki makna yang beragam tergantung dari penafsiran pembaca. Namun makna yang sesungguhnya tentu saja hanya diketahui oleh sang penulis. Tidak melulu pembaca diwajibkan memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Puisi memberikan kebebasan pemaknaan bagi para pembacanya. Seandainya yang di dapat hanya, mumet.. Sah-sah saja. Di sinilah keindahan puisi. Kata-katanya tidak terpatri pada satu maksud. Biarkan rasa yang menilai…

    Semoga diterima di sisinya..

    Nuwun, Om.
    Berisi. Selalu begitu komennya.
    Sebetulnya ini ga bisa dibilang puisi. Aku sendiri lebih suka menyebutnya puishit. Hanya berupa prosa yang dipenggal kalimatnya, dihilangkan kata sambungnya. Hampir tanpa metafora. Kalo puisi kan identik dengan metafora.
    Thanks doanya juga.

  4. arfandi Says:

    mantap puisinya

    maturnuwun, om

  5. suryaden Says:

    semoga semangat dalam puisimu membuat jiwanya tetap tabah meneruskan perjalanannya…

    terimakasih, om

  6. Arie Says:

    Thanks bro…

    Speechless…
    Jadi langsung inget bapak…
    Thanks for everything selama ini ya…
    Semoga Bapak lebih bahagia di kampung abadinya di sana…
    Tanpa ada derita, tanpa ada lagi rasa sakit
    Yang ada hanya bahagia…

    Sekali lagi thanks bro…

  7. Mahendra Says:

    Salam damai dan sejahtera di bumi dan seluruh alam semesta dengan segala isinya…. Tabik…🙂

    Salam sejahtera juga.
    Thanks, om

  8. Artika sari Says:

    dia tidak pergi, melainkan hanya berpindah,
    moving to the new phase…

  9. Cak Win Says:

    Mrinding😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: