Di Tepian Malam

Baru setengah perjalanan saat ratusan kilometer jarak yang sudah kutempuh di keremangan dini hari membuat sekujur otot dan syarafku menuntut pelemasan. Alam bawah sadarku teringat suatu tempat yang biasa aku lalui. Selalu terang benderang dengan banyak mobil bagus parkir di bahu jalannya.

Hmm… sebentar lagi juga sampai.

“Duduk di dalam sini, Mas,” ajak dia, perempuan yang penampakannya berusia sekitar 40 tahunan seraya mengantarkan teh hangat pesananku. Dia memakai t-shirt lengan pendek dipadukan dengan jeans biru. Lipstik tebal warna merah menyala menutupi aura wajahnya yang asli.

Aku berhenti dan mencoba rehat dari stressing otak, otot, dan syaraf yang dipaksa fokus pada gerakan semu pohon dan bangunan di pinggir jalan sepanjang malam ini. Warung ini menjadi tempat pemberhentianku barang sesaat untuk melepas penat.

Di warung hanya tersedia dipan lebar dengan tikar dan meja tanpa kursi.

“Di dipan itu?” tanyaku,” kenapa tidak ada kursinya, Mbak?”

“Tidak perlu kursi di sini. Orang mampir buat istirahat. Masnya mau pijat, kan?” jelasnya. Namun begitu, tak berapa lama dia masuk untuk mengambilkan kursi bulat.

“Nanti kalo mau pijat, di dalam sini,” tangannya menyibakkan gorden ruangan dalam, mengisyaratkan aku masuk ke dalamnya.

“Tidak usah, di sini saja,” aku memindahkan kursi kecil itu di dekat jendela kisi-kisi kayu.

“Masak cuma mau minum teh saja. Apa enaknya?”

Isyarat gerakan perempuan itu tertangkapku sebagai rayuan. Kukeluarkan mild untuk membantu sirkulasi pernafasan supaya lebih stabil.

“Kalo tidak cuma minum teh, berapa tarifnya?”

“Yah, terserah seikhlasnya saja.”

“Berapa biasanya orang-orang ikhlas membayar?”

“Ya, berapa saja.” Tubuh dengan postur ibu-ibu bergaya ABG itu posisinya sudah duduk di atas meja, di samping aku menikmati teh hangat. Ralat, ternyata teh panas.

“Padahal aku kelaperan, tadinya pengen mampir buat makan,” ujarku.

“Nanti bisa dipijat menghilangkan rasa lapar.”

Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan minum teh panas. Sejenak kulongokkan kepala melihat situasi di luar. Bis-bis malam tampak saling berburu waktu mengejar malam. Sedangkan truk-truk besar tampak seperti kura-kura terengah-engah menyusuri tanjakan di depan warung ini. Di bahu jalan ada Jazz, Avanza, Kijang kapsul, dan beberapa mobil pribadi lainnya terparkir dengan tidak rapi. Cukup hidup suasana di sini.

Seseorang dengan jaket kumal, muka kusam, berambut gondrong tampak melintas di depan warung. Sorot matanya yang tajam bertemu dengan pandangan mataku.

“Itu Pak Rus. Intel di sini,” bisik perempuan itu menjawab pertanyaan batinku.

“Kok bisa tahu?”

“Kalo ada orang asing lalu lalang di sini, tidak pulang-pulang, besoknya masih kelihatan. Lalu setelah beberapa minggu kemudian dia tidak kelihatan batang hidungnya lagi. Pasti itu intel.”

Setelah menghela nafas barang sesaat, dia melanjutkan,” Semua orang di sini saling mengenal. Kecuali dia. Orang asing. Pasti intel. Lagipula Pak Rus itu kan pacar pemilik cafe di kota sana. Orang-orang sudah tahu.”

Aku tersenyum sendiri. Menggumam betapa masih tololnya perilaku korps coklat di negeri ini. Tahapannya masih mengikuti awal-awal dibentuknya CIA, di mana orang awam dianggap susah mendeteksi dia agen CIA atau tidak, cukup dengan topi koboi, jas jubah panjang tidak peduli musim, duduk di sudut cafe dengan rentangan koran menutupi muka, serta asap cerutu mengepul di baliknya. Pyuhhh… suatu penyamaran yang sempurna.

“Lima puluh ribu, Mas,” suara perempuan itu menghentakkan lamunanku.

“Apa?”

“Lima puluh ribu ongkosnya pijat.”

“Untuk pijat yang bagaimana?”

“Terserah mau pijat apaan.”

“Plus?” tanyaku vulgar.

“Ah, si Mas ini. Di sini tidak ada plus,” jelasnya agak tengil.

“Wah, ya sudah kalo gitu. Nge-teh saja,” sahutku bergaya agak kecewa.

Perempuan itu tampak tersenyum dengan jawabanku. Dengan gerakan lambat dia turun dari tempat duduknya di meja, menuju pintu depan, kemudian menutupnya.

“Kok ditutup? Udara panas begini… ,” sergahku.

“Soalnya, plus sudah menjadi kewajiban. Sudah kebiasaan. Jadi bukan plus lagi namanya. Begitu, Mas,” sambil tetap tersenyum, mungkin merasa menang berdiplomasi, perempuan itu mengaitkan gerendel pintu untuk memastikan sudah terkunci benar.

“Dibuka saja pintunya. Kalo memang tarifnya segitu, nanti aku kasih 50 ribu selama aku di sini.”

“Wah, ya tidak enak, 50 ribu cuma minum teh doang. Atau mau tiduran di dalam sampai pagi juga gapapa. Tak temani. Tidak usah pake plus-plus, deh. Cuma dipijit halus.”

“Waktuku tidak banyak, Mbak. Malam ini harus sampai rumah.”

“Ooo… gampang. Kalo cuma urusan waktunya sempit, menthang sebentar juga jadi, Mas. Saya jamin bisa cepat. Tepat waktu. Tak siapkan kamarnya dulu. Barangkali mas mau istirahat saja,” tanpa menunggu reaksiku, perempuan itu sudah masuk ke dalam kamar bergorden itu.

Ckckck…, ulet juga usaha perempuan itu dalam menggaet calon konsumennya. Apalagi demi calon konsumen selevel selebritis macam aku ini.

Sementara dari luar masih saja terdengar deru mesin dari kendaraan berat yang melintas di depan. Aku beranjak keluar warung, membuka pintu sambil membawa gelas teh. Angin malam ini terasa panas.

Di warung sebelah kiri tampak perempuan muda sedang duduk di depannya. Saat pandangan mata kami bertemu, spontan dia melambaikan tangan menyuruhku datang ke situ. Aku tersenyum saja sambil memberi isyarat tangan untuk menjawab tidak. Meskipun jujur, lebih semlohai perempuan yang ini daripada yang di warung tempat aku rehat.😀

Sementara agak jauh di latar belakang perempuan muda itu, Pak Intel tampak sedang jongkok menyusun kertas, ranting, dan sampah lainnya untuk dibakar. Untuk menghangatkan badan. Seperti halnya sinetron kita yang irrasional untuk mengaduk emosi pemirsanya agar terhanyut dan percaya atas ceritanya, tingkah laku intel ini pun irrasional mengingat kondisi angin panas begini malah membuat api unggun.

“Kok dibuka lagi?” dari dalam terdengar suara perempuan itu. Bawahannya sudah berganti dari jeans biru menjadi kain jarit. Perempuan itu berjalan ke depan sambil memakai jaritnya, mengepaskan lilitannya di pinggang.

“Sudah berapa lama di sini, Mbak?” tanyaku tanpa mengindahkan pertanyaannya. Aku beringsut masuk warung lagi karena debu yang dihamburkan kendaraan sangat mengganggu nafasku.

“Baru dua minggu. Dulu pernah dua tahun di sini, punya anak buah empat. Saya yang jadi bosnya. Sekarang kondisinya susah. Saya mesti turun sendirian.”

Matanya terlihat menerawang, kulihat semakin nanar tatkala mencoba menembus gelapnya malam untuk mengail masa keemasannya dari balik mega malam.

“Enam puluh ribu,” lanjutnya sambil tetap menerawang.

“60 ribu sewa warung sehari. Jadi paling tidak saya harus mendapatkan beberapa pelanggan untuk membayar sewa. Paling tidak malam ini saya harus mengantongi 60 ribu itu yang ditagih tiap subuh. Beda sama jaman dulu, saya bisa kontrak langsung dua tahun.”

“Keluarga?”

“Suamiku suka sama wong ayu. Pergi sama wong ayu itu pas anak-anak masih kecil.”

Suatu perilaku yang umum terjadi di masyarakat tentang kelakuan aneh kaum laki-laki yang tidak punya landasan moral. Meskipun levelnya masih di bawah keanehan minat seksualitas dalam berita sehari-hari, namun eksesnya sungguh sangat dalam terhadap keluarga yang ditinggalkannya.

“Saya harus mengadu nasib di Singapura. Dua tahun. Anak-anak saya titipkan ke orang tua. Pulang dari sana, saya jadi bos di sini, kemudian bisa membuka kafe. Kecil-kecilan tapi lumayan besar untuk ukuran saya. Cuma kemudian bangkrut. Tidak tahu kenapa bisa bangkrut. Mungkin karena saya suka menasehati orang yang mabuknya ga kekontrol.”

“Harusnya orang mabuk, kan, cuma thenger-thenger, to Mas. Tapi kalo di sini lebih banyak marahnya. Berantem. Mungkin itu jadinya bangkrut saya.”

“Mabuk sampai ngamuk itu karena oplosan kali, Mbak. Campur obat nyamuk,” sindirku.

“Hehe, tahu saja. Betul jual oplosan juga. Tapi tidak berat-berat. Cuma AO, sama bir, sama TM, sama…”

Aku tertawa.

“Iya, kok. Cuma itu,” protesnya.

Hening sejenak tanpa ada raungan mesin dan debam kontainer yang melindas polisi tidur. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Hening pikiranku mencoba tetap berfokus pada menghabisi teh panas kurang asem ini. Semenjak aku pindah di kota pusat teh poci berada, segala macam bentuk teh menjadi tidak ada rasanya di indra pengecap rasaku.

“Mmmhhh… sudah bau perempuan,” suara yang sangat dekat menggema di telingaku, mengagetkan saraf motorikku. Ternyata perempuan itu membaui badanku dari punggung ke arah atas dalam jarak beberapa inchi tanpa aku sadar.

“Bau perempuan bagaimana?”

“Pasti tadi sudah mampir-mampir,” dia nyengir setengah mengejek.

“Ini emang bau parfumku.”

“Berarti Mas bukan laki-laki normal. Saya tidak yakin Mas bisa normal. Saya bisa buktikan,” kepalanya ditolehkan ke arah ruang dalam bergorden itu.

“Kalo yakin tidak normal, harus dibuktikan apanya. Kan jelas tidak bisa apa-apa,” balasku.

“Tapi saya di sini terkenal yang paling ganas lho, Mas.”

Aku cuma mengernyitkan dahi.

“Semua yang pernah datang ke sini pasti kalah semua. Dari yang badannya segedhe gajah, kulitnya segelap malam, brewok dan kumisan kaya Pak Raden, semuanya kalah. Jangan-jangan yang berpenampilan kaya Mas malah bisa mengalahkan saya. Tapi saya tetap tidak yakin Mas bisa mengalahkan saya.”

Aku tertawa lagi. Lebih keras. Sedikit tegukan teh menyedak di tenggorakanku.

Sambil terbatuk-batuk, aku bertanya, “Sampai kapan sampeyan bisa tahan begini?”

“Emang Mas kira, umur saya berapa?”

“Empat puluh?”

Dia menggeleng lemah.

“Kelihatan tua ya, Mas? Saya masih 36 tahun, lho. Dulu setelah lulus SMP, kerja dua tahun langsung kawin. Saya terpaksa hamil dulu biar disetujui orang tua. Ternyata nasehat orang tua itu benar, ya.”

Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Liku hidup yang sangat berat rupanya telah mengikis syaraf penyesalannya.

“Tidak ada yang harus disesalkan lagi. Saya harus hidup. Dengan cara apapun.”

Perempuan itu beranjak masuk kamar saat terdengar dering ponsel dari dalam ruang bergorden itu. Sejurus dia sudah keluar lagi sambil tampak fokus kepada tombol-tombol dan layar ponselnya.

“Anakku. Tia. Sekarang di SMA negeri di kota sana. SMA favorit. Cantik lho. Kalo main ke sini, semua orang pada ngalem cantik sekali. Tidak seperti ibunya.”

“Anakku itu pacarnya si Alex. Anaknya Pak Bei, pengusaha terkenal di kota sana,” sedikit kebanggaan tersirat dari intonasi suaranya. Dia menyebutkan beberapa nama dan tempat seolah-olah aku sudah mengenal sebelumnya.

Aku merespon ceritanya dengan mengapresiasi prestasi putrinya masuk di SMA negeri favorit. Padahal sekolah itu pun aku tidak tahu kapasitasnya, hanya berpandangan bahwa sekolah negeri itu adalah sekolah favorit.

“Tidak juga, Mas. Tergantung bayarnya berapa. Dulu saya membayar 4,5 juta untuk bisa masuk. Tetangga saya sampai 7 juta. Sekolah sekarang mahal. Gratis itu kan artinya tidak pakai duit to, Mas? Tapi sejak sekolah digratiskan, kok malah jadi boros. Sedikit-sedikit butuh duit. Sampai pusing.”

“Tia itu sehari saja butuh 15 ribu untuk hidup. Itu di luar buku dan biaya sekolah. Belum cicilan motornya 450 ribu per bulan. Belum lagi kostnya. Belum pakaiannya. Si Tia itu mana mau memakai sepatu yang 100 ribuan…”

“Untung ada kakaknya yang kerja di Bali. Jadi cleaning service. Duitnya banyak, jadi bisa mbantu adiknya, juga saya. Kalau dihitung-hitung, penghasilan 2 juta tidak cukup buat biaya hidup saya dan sekolahnya Tia. Anakku baik-baik semua, lho. Mungkin tahu kondisi ibunya seperti apa.”

“Anakku yang di Bali itu paling cantik. Umurnya 18 tahun”

“Lho, tadi katanya si Tia yang cantik,” interupsiku.

“Tia cantik tapi yang di Bali lebih cantik. Tingginya 165. Tia cuma 162.”

“Kalo Tia main ke sini, apa dia tidak malu?”

“Dia kan ga tahu kerjaku kaya apa. Tahunya pas saya masih jadi bos. Sekarang belum pernah ke sini lagi.”

Seperti sebelumnya, setiap bercerita tentang bos, perempuan itu kembali menerawang ke arah jalan, bersandar di kusen pintu kamar. Tangannya menimang-nimang ponselnya seolah ingin mengukur beratnya.

“Tadi Mas tanya, saya bisa bertahan sampai kapan.”

“Dua tahun lagi, Mas. Dua tahun lagi pas Tia lulus, saya bisa pensiun. Di rumah saja. Biar nanti anak-anak yang bekerja. Saya bekerja seperti ini hanya untuk anak-anak. Supaya bisa jadi orang. Bersyukurlah saya sebagai perempuan, karena hanya menthang saja sudah bisa dapat duit.”

Perempuan itu melepas lilitan kain jaritnya, kemudian mengencangkannya kembali. Tidak selang berapa lama, aktivitas itu dilakukannya beberapa kali lagi, seolah-olah tidak nyaman dengan posisi lilitan kain itu. Kali terakhir, dengan posisi kain yang belum sempurna, terseret di bagian bawahnya, dia beranjak menuju pintu depan untuk menutupnya kembali.

“Anginnya makin kencang,” ujarnya.

“Jadi gimana, Mas? Masuk ke dalam saja, yuk. Aman. Tidak ada grebekan, tidak ada FPI, tidak ada gali di sini. Tidur saja sampai pagi di sini sambil dipijit halus.”

Sementara angin malam berhembus makin kencang, menurunkan suhunya beberapa derajat. Membuat detak jantung harus berpacu lebih keras untuk mengalirkan darah, menghangatkan seluruh raga.

Aku menghisap mildku dalam-dalam. Tepekur di keheningan riuhnya dunia jalanan malam. Roda-roda besar yang menggelinding berlalu lalang menyeret suka duka nasib yang tercecer di tepiannya. Galurnya menanggalkan flash memori yang hanya sekejap saja sudah tersapu biduk waktu. Hanya tersisa asa yang berpijak di kekosongan nurani.

Nurani yang membuncahkan pertanyaan batinku dulu.

Manakah yang lebih mulia?

dia, yang menikmati hidup dengan menjual ayat-ayat suci,
atau
dia, yang berjuang hidup dengan menjual kesuciannya.

.
.
.
.
.

ditepianjalan, medio februari 2009

mencoba prosa

Explore posts in the same categories: Blusukan, Satire

8 Komentar pada “Di Tepian Malam”

  1. D Says:

    Yang lebih mulia, adalah lelaki yang mau mengawini janda yang kehidupannya morat-marit seperti ini.

  2. ~noe~ Says:

    satu hal yang aku salut darimu adalah komen yang simpel namun sarat inspirasi dari sisi lain yang terlewatkan olehku. cukup menohok namun bisa memunculkan wacana yang lebih dahsyat lagi.
    btw, perempuan itu cukup mapan kok, mgkn itu yang membuatku tidak berpikir ke sana😛

  3. ndan Says:

    wis rodo kendel bocahe🙂
    rupanya hidup yg nyata lebih rumit dedifinisikan penokohannya daripada film2 hollywood: mulia, nista, benar, salah, baik, buruk dlsb, meskipun bukan berarti tidak ada yg mutlak

    wah wis ket mbiyen, ndan.
    cuma sakploke gaul dgnmu aku dadi rodo tertib.
    tertib kemfrohe😛

  4. khalifatur Says:

    Salam kenal pak wisnu. Saya temannya D. Ceritanya bagus, tapi bikin saya deg-deg-an.
    Membandingkan kemuliaan mereka seperti membandingkan “kebaikan” 2 wanita yang berbeda busana. Wanita pertama pake bawahan tapi nggak pake atasan, sementara wanita kedua sebaliknya, pake atasan tapi nggak pake bawahan…

  5. wahyu Says:

    wah ini kali ini ceritanya menakjubkan. Saya penasaran, kalo seandainya istri baca2 blog sampeyan gimana kira2 reaksinya? haha..

    Jadi gimana, dipijit halus??

    lha tiap ada postingan itu yang baca pertama nyonyahku je…
    ini sudah cencored juga😀
    kalo endingnya disebutin, nanti jadi roman picisan, om. mending diriku saja yang (sok) tau😀😀😀

  6. Mahendra Says:

    Mana yang lebih pahit???, gula atau garam???

    Tabik….🙂

  7. wahyu Says:

    haha..
    om wisnu ini emang paling bisa bikin penasaran.
    Justru yang saya tunggu2 itu gimana endingnya. berhasil atau nggak itu bujukan perempuan..

    hihi..

  8. Cak Win Says:

    Menarik critanya, kalo aku gak usah neko-neko aja :d


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: