Pemilu 2009 : Kemenangan Tukang Ijon

“Tuh, lihat saja. Di area ini, satu-satunya yang tidak hancur adalah rumah ibadah di sana itu. Tuhan Mahabesar ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa agama inilah yang benar,” ujar seorang kawan seraya menunjukkan keagungan sebuah rumah ibadah yang tetap tegar berdiri di antara puing-puing bangunan yang diterjang gempa bumi.

Aku manggut-manggut sambil bertanya polos,”Bisakah kamu tunjukkan berapa banyak rumah ibadah lain yang tidak ikut hancur di lokasi lain, yang tentu saja lebih bisa menunjukkan kemahabesaran tuhanmu?”

Manusia diciptakan tidak untuk pandai meramal, memprediksi, ataupun sekedar berpersepsi. Makhluk yang paling mulia ini lebih cenderung ahli dalam hal menganalisis fakta. Fakta dan fakta. Bahkan jika fakta itu tidak lengkap pun, manusia akan selalu bisa menambahkan rangkaian narasi -berdasarkan persepsi tadi- di dalamnya untuk menjadikannya sebuah kisah yang realistis.

Namun demikian, masalah ’bukti yang tidak berbicara’ ini seringkali luput dari perhatian kita. Contohnya adalah kasus di atas, yaitu rumah ibadah yang tetap berdiri tegar sementara seluruh bangunan di sekelilingnya ambruk. Moment of truth yang pertama kali merasuk ke pikiran kita adalah satu persepsi tentang rumah ibadah itu sendiri. Rumah ibadah yang terkonotasi sebagai rumah Tuhan. Tuhan yang Mahagaib dengan seluruh kekuatannya. Tuhan yang mampu membuat sesuatu cukup dengan kun fa yakun.

Hampir terlepas dari analisis kita adalah perbedaan fisik rumah ibadah itu dengan bangunan lain yang runtuh. Ketegaran sebuah rumah ibadah tadi bisa jadi karena desain dan konstruksinya yang jauh lebih kokoh dibanding bangunan sekelilingnya yang berupa perumahan biasa. Desain dan konstruksi yang jauh lebih baik ini dimungkinkan karena pembangunan suatu gedung besar tidak terlepas dari orang-orang profesional yang berkompeten untuk itu, seperti arsitek, tukang insinyur, tukang mechanical electrical, dan lain-lain. Bandingkan dengan rumah tinggal yang proses pembangunannya hanya mengandalkan tukang batu harian atas dasar ilmu ’biasanya begini’ serta self mandoring (dimandori pemilik rumah sendiri).

Hal kedua yang biasanya diabaikan pikiran kita adalah mengesampingkan bukti yang tidak berbicara tadi, yaitu berapa banyak rumah ibadah lain yang ikut hancur dalam gempa bumi ini. Jika ada satu peristiwa besar yang bisa menjadi bukti tafsirnya, maka peristiwa yang sama di tempat lain -yang bisa menjadi ketidakterbuktian tafsirnya- akan menjadi ternisbikan. Barangkali begitulah sifat kita sebagai manusia.

Akan halnya pemilu 2009 kali ini. Mulai kemarin lusa, di beberapa berita di media massa sudah mulai membahas adanya caleg yang stress, depresi, edan, pesong, gendeng, sinting, atau apalah namanya. Para caleg ini tidak kuasa menahan beban pikiran, batin, dan harga diri akibat hasil pemilu yang di luar dugaannya.

Beberapa berita menyebutkan nilai 3 milyar rupiah yang sudah terlanjur dikeluarkan pada masa promo berhadiah, masa intimacy dengan konstituen pragmatisnya, atau masa serangan fajar yang melelahkan. Beberapa yang lain menyebutkan rupiah yang sangat besar yang membutuhkan malam seribu bulan bagi pegawai kontrakan kelas UMR untuk mengakumulasikan pendapatannya.

Yang membuat miris serasa diiris-iris oleh linggis adalah penarikan kembali bantuan atau sumbangan yang sudah pernah diberikan kepada konstituen oleh caleg gagal tadi. Bukan masalah besaran bantuannya, juga bukan atas pamrihnya sumbangan itu, melainkan lebih kepada putihnya nurani, hati, rasa, dan pikiran yang sudah tertutup oleh aura aslinya yang menunjukkan pekatnya nafsu syaitonirojiem.

Dalam situasi yang sulit pun, di antara rasa stress dan down, para caleg-gagal ini masih saja bisa menunjukkan kekuasaannya dengan menarik kembali –secara fisik- bantuan yang telah diberikan, seperti mencabuti tiang listrik, karpet rumah ibadah, mebelair gedung pertemuan kampung, dan masih banyak lagi.

Hal ini bisa terjadi karena hampir semua partai lepas tangan terhadap perjuangan promo para calegnya. Partai hanya mengakomodasi promosi partai, tidak para caleg. Ini menyebabkan para caleg mencari sumber dana dengan agunan pribadi. Teganya lagi, caleg tidak disosialisasi berapa peluang untuk terpilih melainkan hanya motivasi-motivasi semu agar semua caleg bergerak mengumpulkan suara.

Sementara di lain sisi, masyarakat sebagai pengamat kelakuan para caleg gagal ini mensyukurkan atas apa yang terjadi dengan para caleg ini. Masyarakat bersyukur bahwa sistem pemilu yang sekarang ini mampu menyaring caleg yang tidak bermoral, yang niatnya menjadi legislatif hanya bertujuan untuk kekuasaan dan harta semata. Bahwa karma atas apa yang dilakukan atas dasar niat jelek sudah langsung terbalaskan dengan segera. Cash. Masyarakat puas.

Itu adalah persepsi yang wajar sebagai manusia biasa jika dikaitkan dengan uraian sebelumnya. Masyarakat hampir mengabaikan bukti yang tidak bicara di atas. Ada kesan kesimpulan yang diambil adalah bahwa caleg yang gagal dan –biasanya- stress adalah manusia kelas rendah yang tidak patut menjadi legislatif.

Sampai di sini aku agak setuju.

Namun bias yang terjadi jika berita-berita seperti ini menjadi booming akan dapat mengabaikan beberapa bukti tidak bicara yang sebetulnya mempunyai peluang tidak kalah besarnya dibanding isu yang sedang berkembang.

Galat yang terjadi adalah menyimpulkan persamaan bolak-balik itu bahwa “caleg-gagal adalah manusia kelas rendah” menjadi berarti “caleg-tidak-gagal adalah bukan manusia kelas rendah”. Artinya “caleg-jadi adalah manusia kelas atas”. Lantas perkembangan selanjutnya adalah kesimpulan bahwa sistem pemilu telah mengeliminir manusia kelas rendah dan menghasilkan manusia kelas atas.

Beberapa kemungkinan yang tertutupi itu antara lain :
– caleg-gagal adalah belum tentu manusia kelas rendah
– caleg-jadi adalah manusia kelas rendah juga
– caleg-jadi adalah belum tentu manusia kelas atas
– dan masih banyak lagi

Mana peluang yang lebih besar di antara kemungkinan di atas tentu saja membutuhkan uji statistik tersendiri dan perlu sekali dilakukan fit and proper test ke masing-masing caleg.

Aku sendiri sangat berharap jika persepsi yang benar itu –meski itu sebuah galat- adalah sama dengan persepsi umum bahwa ”caleg-jadi adalah manusia kelas atas” karena aku tidak sanggup membayangkan jika hampir semua caleg adalah manusia kelas rendah, yaitu manusia-manusia penanggung utang, baik utang duit atau utang janji, yang sangat besar.

Betapa mengerikannya negeri ini jika mulai dari juragan pusat sampai ke pelosok katrok diatur oleh orang-orang yang hampir pasti memprioritaskan dirinya sendiri, yang mencoba melunasi hipotik dirinya yang tergadaikan, mencoba melepaskan diri dari jerat utang para bank plecit, rentenir, tengkulak, dan para pengijon lainnya.

Masih bisa bersyukur seandainya para pengijon caleg itu semata-mata hanya berurusan dengan uang. Namun bagaimana jika mereka menuntut kebijakan, prioritas pembangunan, proyek, dan lain sebagainya? Caleg murahan ini hanya menjadi kepanjangan tangan para kapitalis itu. Pusat mungkin bisa dipantau KPK, tapi di pelosok nan katrok? Para preman kecil berduitlah yang menjadi penentu pembangunan.

Kalo itu terjadi, meski ini hanya buah persepsi saja…
selamat buat tengkulak, rentenir, dan tukang ijon kelas kutu kupret. Merekalah pemenangnya kali ini.
Dan aku hanya bisa nrimo jika mereka nimbrung membuat kebijakan pemerintah dengan memanfaatkan boneka-boneka calegnya yang terjebak utang harta dan janji.

Para caleg-gagal-stres hanya korban angkuhnya sistem demokrasi kita yang beberapa langkah lebih maju untuk bisa diikuti kelas masyarakat sekarang.
Dan kita patut prihatin untuk itu.

Sedangkan para tukang ijon adalah cerdik pandai yang mampu memanfaatkan celah demokrasi ini untuk bisa berpartisipasi dalam kebijakan pembangunan dengan cara-caranya yang tidak terbukti melawan aturan.

Seandainya aku punya duit lebih, lebih mudah bagiku untuk mengijon caleg daripada aku harus maju sendiri. Kalau caleg binaanku gagal, dia harus mengembalikan utang. Sebaliknya jika caleg itu berhasil, aku tidak akan menuntut utang kembali, hanya tolong pikirkan proyek dan kebijakan yang bermanfaat untukku.

Mmmhh… cape…
Fenomena ini mengubah pandanganku tentang urutan tingkatan kesempurnaan evolusi manusia, menjadi : (dari yang tertinggi) manusia, kera, bunglon, tukang ijon, politisi, beberapa spesies sesuai daftar pustaka, dan tentu saja yang terendah masih tetap polisi ndut -satu spesies raja munyuk yang resisten terhadap evolusi menuju kesempurnaan manusia sejati.

.
.
.
.
KPUD,20090415
yg.entry.data.pada.ke.mana.ya???

Explore posts in the same categories: Satire

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Komentar pada “Pemilu 2009 : Kemenangan Tukang Ijon”

  1. Cak Win Says:

    wedew dalem bossss😀

    thanks, om

  2. wahyu Says:

    ah.. lelah saya bacanya. terutama lelah jiwa tersadarkan tulisan sampeyan tentang menangnya tukang ijon.

    Tulisan mas Noe dalem seperti biasanya. Tapi yang satu ini tajam, sabet sana sabet sini, samber situ samber siti, dan ndledeh kemana-mana. dari mulai tempat ibadah yang bertahan dari bencana, fenomena caleg stress, sampai pada kemenangan tukang ijon para lintah darat kutu kupret.

    suka..
    suka aku sama gaya nulis tutur cerita sampeyan. terlebih bagian penutup.
    ‘..polisi ndut -satu spesies raja munyuk yang resisten terhadap evolusi menuju kesempurnaan manusia sejati’.

    mantaplah..!!

  3. pimpii Says:

    Mmmhh… cape… deh massss
    tapi coba pimpii simpulkan dengan pepatah berikut :
    caleg ikut pemilu menang apalagi kalah terus mengonggong, tukang ijon tetap berlalu (membawa untung)🙂

  4. ~noe~ Says:

    memang betul, tulisan ini sangat panjang dan melelahkan yang membacanya. aku sendiri lama mumet jika mbaca berulang.

    @om wahyu
    kritikan terberat adalah pujian karena biasanya kita jadi dibutakan oleh pujiannya dan terlupa oleh esensi kritiknya sendiri. om ini sudah mengkolaborasikan kritik berbulu pujian :-p.
    thanks berat. kucoba untuk tidak ndledeh lagi. emang masih susah buwatku membuat dua topik menjadi satu cerita yang menyatu.

    @pimpii
    hahaha…
    thanks 4 coming…

  5. Artika sari Says:

    mas wisnu,,,

    bagiku pemilu adalah suatu mekanisme rutin yang harus dijalani oleh warga negara, seiring dengan bergulirnya pergantian para pemegang tampuk kekuasaan, yang notabenenya kali ini dilakukan dengan memilih langsung para calon wakil rakyat untuk bertengger di lembaga dewan, prosesinya juga cukup menghebohkan mulai dengan memasang spanduk dan baliho, beberapa dengan gaya aneh dan berlebihan, iklan di tv yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, dan yahhh…sebagainya sebagainya.

    ternyata hasil akhir juga tak kalah mengejutkan, para calon wakil rakyat yang kalah kemudian bermutasi menjadi penghuni pesantren, rsj, dan tempat konsultasi dengan alim ulama.

    ternyata kekalahan maupun kemenangan ini memiliki pengaruh begitu besar bagi kondisi psikologis mereka.

    akhirnya semoga pengaruh yang akan ditimbulkan dari hasil pemilu kemarin, dampaknya akan baik terhadap nusantara ini. harapku,

    semoga..tak sekedar harapku….

    • ~noe~ Says:

      betul sekali, tika
      harapku sesuai dengan harapmu
      sama sekali tidak tebersit harap bahwa bangsa ini telah tergadaikan lewat tangan-tangan cukong itu.
      tumben dirimu bisa nulis serius juga ttg politik😀
      tengs berat, ka…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: