Siapa Dirimu dengan Siapa

Salah satu persimpangan jalan yang pernah kulewati dalam hidup adalah saat memutuskan apakah aku akan merantau atau tetap melanjutkan kehidupan di kotaku. Banyak pertimbangan akan masa lalu yang tarik ulur dengan tawaran masa depan yang hampir bisa diukur secara matematis. Syukurnya waktu itu masih zaman orde baru yang -dari sisi perasaanku- lebih mudah mengkonsep masa depan sendiri jika otak kiri kita masih bisa masuk batas atas angka-angka sakti di raport.

Nasehat yang aku dapat lebih cenderung bersifat normatif dengan mengambangkan pilihan keputusan. Di sinilah letak substansinya yang membuat diriku terkenang dengan persimpangan jalan yang ini. Satu perubahan fase dengan deviasi kurva yang cukup besar. Dari seorang bocah yang masih terlindungi di kantung rumah orang tua sampai dengan datangnya hari penyapihan.

Gibran pernah menulis tentang kebimbangan ini, yang kurang lebih begini :
“Jalan berkata kepadaku, ikutlah aku karena di sini masa depanmu menanti.
Sedang rumah berkata kepadaku, tetap tinggal di sini, karena di sinilah tempat masa lalu yang membesarkanmu berada.
Dan, kepada jalan dan rumah aku berkata, aku tidak akan pergi, karena jika aku pergi, akan ada yang tertinggal. Juga aku tidak akan tinggal, sebab jika aku tinggal, tetap saja akan ada yang pergi meninggalkanku.
Hanyalah cinta dan kematian yang bisa mengubah segalanya.”

Seorang kawan pernah bertutur kepadaku tentang lingkungan hidupku. Cobalah kamu lihat, evaluasi, dengan siapa saja kamu berhubungan selama ini. Lihat pergaulanmu, kampungmu. Karena dengan siapa kita bergumul, itulah kelas yang sebenarnya. Mau jadi apa kita nantinya.

Waktu itu aku menangkap bahwa kawanku itu hanya menyentil latar belakang lingkunganku yang agak hitam. Satu komunitas kelas bawah secara ekonomi yang berakibat kepada moralitas kehidupan sehari-hari.

Bahasa komunikasi sehari-hari kelas kambing, terkadang disertai liur untuk diludahkannya. Atau acungan clurit yang mak bedunduk begitu saja untuk mengekspresikan emosi akan sesuatu, atau tingkah laku primata yang belum sempurna evolusi moralnya saat nge-pup di kali, tanpa istinjak, berjalan kopat-kapit begitu saja melewati jalan kampung selebar becak dengan rokok di tangan kiri dan kadang botol air keras di tangan kanan.

Hanya ada dua pilihan bagiku, yaitu tinggal atau tinggalkan.

Masalahnya adalah jika kita nyaman dengan pergumulan lingkungan yang nota bene ada di bawah kita secara strata sosial-ekonomi, sedangkan keberadaan kita tidak memberikan suatu kontribusi yang positif untuk lingkungan itu, maka bisa jadi itulah kelas kita. Itulah kehidupan kita.

Satu nasehat normatif yang sederhana namun sungguh dalam pencarian jawabnya.

Aku adalah manusia segala musim.
Aku bersahabat dengan tumpahan air yang disambitkan guntur, merekahnya ubun-ubun disengat matahari, atau beliung besar yang cukup dengan putingnya saja mampu memporakporandakan atap-atap hunian manusia. Karena semuanya tidak bisa kita lawan. Cuaca tidak dapat disalahkan. Akan sia-sia jika kita selalu menyalahkan cuaca, karena itu uncontrollable.

Cukup bijaksana menghindari jadi korban cuaca yaitu tetap berbuat positif di segala cuaca, karena jika tidak, ada dua status akan disematkan bagi diri kita, yaitu sebagai pengacau sistem atau sebagai pecundang.

Memori ini terlintas begitu saja saat aku membaca fenomena politik belakangan ini yang cukup panas, yang diakibatkan oleh gerakan segelintir elit politik memanfaatkan momentum apa saja pascapemilu. Dari DPT sampai golput. Dari koalisi sampai demonstrasi. Dari capres hingga cawapres. Hingga puncaknya tercetus ancaman boikot.

Masyarakat yang telah sadar politik hanya manyun saja melihat tokoh panutannya seolah menderita bisul di pantat yang menyebabkan dia tidak dapat duduk tenang, harus bangkit dan wira-wiri ke sana ke mari mencari sebuah solusi yang ideal tentang formasi ketatanegaraan yang ideal demi rakyat.

Kemarin lusa ada berita : Peta Politik Semakin Liar, Elit Partai XXX Rapat di Rumah Ketum.

Ada ambigu di judul berita itu, tentang siapakah yang membuat politik semakin liar dan siapakah pahlawan yang bisa mengatasi keliaran ini.

Mereka yang membuat panas, membuat liar bola politik, kemudian mereka mengumumkannya kepada rakyat bahwa merekalah calon pahlawan yang bisa menyelesaikan permasalahan ini. Aneh.

Ibarat orang yang berteriak-teriak karena kehujanan di tengah jalan, mengumumkan kepada semua orang bahwa dialah yang bisa menemukan tempat berteduh yang bagus. Sementara rakyat yang sudah berteduh nyaman di pinggiran jalan, di bawah pohon, di dalam halte bus, atau di emperan warung hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah polah para pahlawan itu.

Mereka adalah orang-orang korban cuaca.
Mereka adalah kucing yang tersiram air, yang ketika airnya sudah keringpun tetap akan mengeong-ngeong.
Dan mereka adalah cacing yang tersengat panas, yang ketika kehangatan sudah menggantikan panas, mereka tetap akan menggelinjang sampai orgasme.

Ketika kita tidak bisa memberikan satu saja konstribusi positif untuk menyadarkan mereka, maka jauhilah, karena boleh jadi strata kelas kita sangat berbeda dengan mereka.

.
.
.
mess, 20090420
semarangkalinebanjir

Explore posts in the same categories: Satire

12 Komentar pada “Siapa Dirimu dengan Siapa”

  1. marsudiyanto Says:

    Lalu, siapa Saya ya???😀

  2. ~noe~ Says:

    tanyakan kepada rumput yang bergoyang, pakdhe…
    aduhh.. itu judul lupa diubah😦

  3. wahyu Says:

    wah.. kali ini bener bingung mau komen apa.
    karena pikiran sedang mbulet dan memnag dasarnya lemot jadi sulit menghubungkan nalar dengan cerita sampeyan om..

    jadi.. foto yang di postingan sebelumnya nyonyah Wisnu bukan? koq ndak ada konfirmasi penjelasan..
    haha.. (sori OOT)


  4. aQ jg bingung mau koment apa…bahasanya ketinggian…hahaha…*jd malu n keki sendiri*
    tp aQ rasa sech dalem banget *sotoy*
    mksh y udah main2 k blogQ
    salam kenal🙂

  5. D Says:

    Pollingnya aku bikin kayak gitu aja. Biar terprovokasi semua heee… Pengacau sistem ato pecundang kah saya ini?

  6. ~noe~ Says:

    memang khusus tulisan ini aku mengambil jiwa dari tawa sutra di segmen anda bertanya, aa menjawab, dan anda bingung😀

    diriku menulis
    anda membaca
    dan anda bingung😀

    @om wahyu
    tumben mumet, biasanya bisa berjuang sampai titik pusing penghabisan🙂
    benul om, yg terbang itu nyonyah besar…
    keknya penasaran banget

    @sarah
    selamat datang (kembali)
    keknya kita rekor ‘salam kenal’ deh :-p
    tks udah mampir
    salam kenal

    @d
    dirimu tidak masuk dua2nya karena tidak masuk lingkaran sistem yang sudah mbulet ruwet dan (dibikin) kisruh…
    tks, d…

  7. Arie Says:

    Hmmm…dalem seperti biasa🙂

    Ini sekedar berandai2…Mungkin suatu saat kalo kamu dah berani bikin buku, buku itu bukanlah termasuk buku yg populer di pasar atau gampang dicerna tapi pasti sudah punya penggemar yg cukup setia🙂.

    Sekali lagi kau menunjukkan kelasmu bro…:P

  8. ~noe~ Says:

    Hikss..
    komennya bikin aku membaca ulang tulisanku.
    Jadi terharu.
    Doain ya, Rie…

  9. Cak Win Says:

    hmmm, kalo aku gak pinter matematika😀

  10. ~noe~ Says:

    @ cak win
    yang penting pinter fisika, cak. lebih keren😀

  11. Mahendra Says:

    Biarkan hidup mengalir seperti air…
    Jangan dilawan.., jangan diarahkan…
    Dijalani saja sampai ke ujungnya…

    Tabik…🙂

  12. ~noe~ Says:

    @mahendra
    tapi tetep kudu waspada kalo2 ada yg memancing di air kita hingga keruh ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: