Manchester United telah Tiada

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan slalu memujamu
[Andra n the Backbone]

Barangkali itu ungkapan yang tepat bagi penggemar bola saat ini, ketika melihat permainan kolektif babak pertama Manchester United melawan Arsenal dalam semifinal leg 1 Liga Champion 2008-2009.

Permainan yang sangat efisien ditopang oleh dua hal utama, yaitu skill individu yang nyaris sempurna dan kerjasama tim yang sangat solid.

Permainan efisien ditunjukkan dengan penguasaan bola yang lebih lama, jangkauan pergerakan pemain yang secara total masih lebih pendek dari Arsenal, dan di sisi lain peluang shot on goal-nya jauh lebih tinggi. Sedangkan skill individu dibuktikan oleh decak kagum penonton saat pemain menunjukkan kelasnya dalam mengolah bola maupun pergerakan tanpa bola.

Secara kasat mata, orang akan menilai sempurna.

Dulu kita mengenal IQ atau Intelligence Quotient atau kecerdasan intelijen yang menunjukkan kemampuan mengolah rangkaian logika menjadi pengambilan keputusan yang bagus.

Perkembangan berikutnya, entah berdasarkan penelitian ilmu murni atau pertimbangan bisnis pendidikan, muncul yang namanya EQ (Emotional Quotient), dan terakhir adalah SQ (Spiritual Quotient).

Wacana kecerdasan yang baru ini menjelaskan bahwa intelejensia saja tidak cukup untuk menilai apakah seseorang mempunyai kemampuan yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan atau sejenisnya.

Kembali ke MU, di balik kesempurnaan permainannya, dua kecerdasaan terakhir ini tidak lagi ditunjukkan oleh pemainnya, meskipun secara tim terlihat kemampuan menjaga emosi permainan yang sudah sangat matang.

Globalisasi aturan transfer pemain, perubahan permainan kolektif ala Eropa Daratan, serta terutama keharusan menyajikan kemenangan dalam setiap pertandingan sangat mengubah emosi dan spirit kick and rush secara drastis dalam satu dasawarsa terakhir.

Pertimbangan kebutuhan utama itu yang membuat CR7 harus dipaksakan turun sebagai striker murni hanya karena dia adalah topskor musim lalu, dengan didasari sebagai pemain terbaik Eropa 2008, dan dunia 2008.

Pertimbangan itu juga yang membuat Rooney tergeser menjadi gelandang menyerang yang mengharuskan bekerja keras untuk sekedar menunjukkan dribbling daripada tembakan ke gawang.

Tidak akan kita lihat tawa lepas CR7 saat gagal mengontrol bola setelah menyisir di tepi lapangan melewati dua tiga pemain lawan. Atau Rooney dengan tatapan mata kosongnya yang mampu mengintimidasi kiper lawan namun sejurus kemudian bisa tertawa.

Tidak lagi kita temui permainan tim dengan umpan-umpan panjang menciptakan seabreg skrimit di muka gawang yang diakhiri dengan senyum puas baik pemain depan maupun belakang yang terlibat dalam adu bola liar.

Kita hanya bisa melihat tampang-tampang kosong dan tegang sepanjang pertandingan, rasa kecewa ketika kawannya gagal mengoper bola kepadanya, rasa tinggi hati saat mengajari kawannya yang salah dalam mengoper bola. Secara umum, kita hanya melihat ”sepak bola rasa capek” dalam evolusi gaya permainan MU setelah lewatnya era King Eric dan Becks.

Sepakbola telah menjadi salah satu industri paling spekulatif di dunia ini. Setiap pengelola klub harus menunjukkan kemampuan bagaimana meningkatkan nilai saham perusahaan ini, tidak cukup hanya dengan kemenangan, apalagi hanya sekedar style, gaya, atau ruh permainan.

Manajer dan pelatih melihat anak buahnya yang sedang bertarung di lapangan laksana kurva valuta yang bergerak fluktuatif dan spekulatif. Situasi ini mengharuskan adanya perubahan prioritas tujuan dalam permainan sepakbola. Emosi dan spirit sepakbola sendiri entah diprioritaskan di urutan ke berapa.

Dulu, Inggris Raya sangat bangga dengan kick and rush-nya. Namun kini arah kebanggaan itu sudah bisa dibelokkan manakala kemenangan dan nilai saham sudah menjadi tuntutan di setiap bergulirnya bola.

Industri sepakbola telah mengkhianati trah dari mana dia berasal.

Ketika pemain MU jatuh terganjal, tidak lekas bangun, namun dengan tampang helpless penuh pengharapan meminta freekick ke wasit, maka aku pikir bahwa Manchester United telah tiada.
.
.
.
rest in peace, 20090430

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

26 Komentar pada “Manchester United telah Tiada”

  1. Arie Says:

    Hmmm…nonton bal wae bs dibahas sampe sejauh itu. Dalem…
    Walopun ga nonton penuh td malem, tp aq tau apa yg kau rasakan.
    Sepakbola sekarang sering kehilangan gregetnya.

    Dulu jaman awal SMP aq pernah begitu terpesona dgn permainan bola. Pas itu jaman Juventus lawan mana lupa. Yg jelas awalnya Juve dah ketinggalan 2-0, tapi berkat permainan yg cantik dari trio : Roberto Baggio,Viali & Ravanelli kedudukan bisa berbalik jadi 2-3. Betapa permainan cantik itu bikin aq jatuh cinta dgn sepakbola saat itu. Ini dr sdt pandang seorang anak ingusan berusia belasan taun ,msh SMP, malem2 nonton sendirian, cewe pula lho…🙂

    Piss Bro…

  2. wahyu Says:

    hmm.. apapun makanannya yang penting teh botol s***o..
    apapun pandangan n pendapat sampeyan, yang penting MU menang bro.. haha..

    pissss….

    Victory for MU..

  3. Irfan Says:

    Hallow…
    Salam kenal yah..
    Makaih ya kunjungannya di blog sy….
    salam blogger….
    Keep posting

  4. ~noe~ Says:

    @Arie
    sayangnya aku bukan tifosi, jadi ga apa sejarahnya.
    tapi apapun liganya, konsep dasar permainan sepakbola bagiku adalah keindahan. kalo ego lainnya sudah masuk mengalahkan keindahan ini, apapun klubnya, negaranya, berapapun kemenangannya akan menjadi tidak berharga buatku.
    (kecuali kalo taruhan :-D)
    tks sis

    @om wahyu
    lha ternyata dirimu penggemar juga.
    pandangan ini sama sekali tidak terkait dengan siapa harus menang dengan siapa, tapi lebih ke idealisme pengamat bola yang sudah rela merem melek dini hari hanya untuk menyaksikan sepakbola robot😦
    tks 4 other opinion

    @irfan
    salam blogger juga
    btw, salam blogger itu gimana sih?:-/

  5. agung pamekasan Says:

    sepak bola nggak simple lagi mas, makin ketat n complicated.
    manager2 makin mempelajari taktik lawan bahkan menganalisa via softwares.
    gocekan n tendangan cr7 makin kebaca pattern-nya, umur kejayaan dia n pemain hebat lain di jaman ini makin pendek aja, blm lagi ancaman cedera…
    jadi gak usah kecewa, bagiku mu is still alive, but other teams are not far behind now…jangan lupa arsenal malam itu juga tampil ok…
    salam dari pengagum united, chelsea, n tim2 hebat lainnya…

    • ~noe~ Says:

      hi hii…
      sudah berapa lama ndak bersua ya…
      terakhir main2 di pantai lombeng pulau garam itu😀
      baru ngeh pas ada add di fesbuk🙂
      back 2 topic
      aku setuju sepenuhnya. gak usah kecewa.
      apalagi melihat CR7 tadi malam sudah bisa cengar-cengir ngece. yah, meskipun memang dalam kondisi unggul 4 gol agregrat🙂

  6. madhysta Says:

    hehehehe… salam kenal juga bang Noe…. nich aku lagi balapan ama trackback… ternyata aku kalah. si trackback udah nyampe duluan…. hehehehe… tuh bang ada bingkisan buat bang Wisnoe….. balik lagi ke rumah… ngambil bingkisan ya bang….

    madhysta.com | Kolaborasi Pe-eR dan Narsis

    • ~noe~ Says:

      Makasih bingkisannya, om
      tapi beberapa kali aku gagal menyelesaikan tugas-tugas yg diberikan oleh sohib2 mayaku.
      but i’ll try…🙂

  7. sugengsetiadi Says:

    i agree with you,,,Pren leh kenalan ga?a minta fs’u donk,,tp jujur personil”MU keren-keren semua yo,,

  8. alvie Says:

    hmmm…
    sebelumnya, aku emang gak terlalu suka bola…
    tapi kemarin sempet juga ikut “nyangkruk” ama temen2 nonton Bola MU itu…

    sebelumnya, salam kenal ya Pak…

    Best Regards…

  9. masicang Says:

    hmm.pengamatan yang menarik. keceriaan bermain sudah hilang. mereka seperti robot yg digerakkan oleh saham dan uang. boleh juga ulasannya.

  10. Yasir Alkaf Says:

    salut, keren pengamatan dan analisanya

  11. itempoeti Says:

    segala sesuatu yang sudah menjadi industri akan kehilangan jati dirinya…


  12. waow…hebat y bs bkn postingan yg ada unsur romantis dan sprti ada tragedi tersendiri..hehehe…kreativ, elegan dan keren..😀

  13. Taktiku Says:

    wah sayang sekali saya ndak suka bola😀

  14. cenya95 Says:

    Daku lebih suka NC daripada Manu.
    kalo manu tidak ada khan NC bisa juara nich:mrgreen: …hehehehe…
    salam superhangat

  15. joe Says:

    bukankah itu justru letak kejeniusan sir alex yang selalu bisa berimprovisasi, sehingga musuh kelabakan tidak bisa menduga …

  16. ~noe~ Says:

    @cenya95
    NC kan lagi berjuang menghindar degradasi, kok bicara juwara😛

    @joe
    betul, om
    namun di balik kejeniusan si sir, nuansa ‘bukan sepakbola’ sangat jelas tertampil di lapangan. setidaknya dari sudut pandang mataku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: