Pahlawan Salah Zaman

Si Fulan, yang bertampang sangar, badan penuh tatto, dan berlatar belakang yang sangat berlumuran dosa dihadapkan kepada Raja. Sang Raja bertitah bahwa jika Si Fulan bisa memenuhi tugas Sang Raja atau kerajaan, maka Raja akan mengampuni semua dosanya. Bahkan tidak hanya itu, Si Fulan akan dijadikan hulubalang istana, satu posisi yang sangat penting dalam struktur kerajaan.

Ketika Si Fulan berhasil menjalankan amanat Raja, seluruh kerajaan pun bersorak bergembira menyambutnya sebagai pahlawan baru sekaligus hulubalang istana.

Ada banyak ragam cerita jadul lainnya yang serupa, yang berisikan tentang nilai hidup seseorang yang berada dalam timbangan baik atau buruk, pahlawan atau pengecut, lakon atau bandit. Semuanya mengerucut ke satu sistem tatanan nilai yang hampir sama bahwa kesetimbangan atas nilai baik dan buruk itu begitu fleksibel, tergantung dari cara lingkungan norma untuk mengadilinya.

Si Fulan sungguh beruntung karena hanya dengan memenuhi tugas kerajaan maka seluruh dosa dia diampuni oleh raja. Tidak peduli seberapa besar dosa yang telah dia perbuat, yang jelas titah raja -yang merupakan hukum kerajaan- telah menilai bahwa ukuran dosa itu sudah sebanding dengan keberhasilan dia menjalankan tugas kerajaan.

Rakyat sebagai media hidup komunitas kerajaan juga sudah terseting sedemikian rupa pola pikir mereka sesuai dengan arah kebijakan Sang Raja. Pola pikir itu adalah adanya nilai kebenaran dalam kemajuan arah hidup Si Fulan dari seorang pesakitan menjadi pahlawan, menjadi priyayi istana.

Negeri ini, dengan kultur ketimurannya, sangat sesuai dengan ending cerita jadul tersebut. Masyarakat telah terpola dengan seting kehidupan bahwa seiring bertambahnya waktu, seorang individu harus juga bertambah lebih baik. Apa yang ditampilkan pada saat ini, itulah yang akan diterima oleh masyarakat, tidak peduli bagaimana proses seseorang bisa sampai pada posisi saat ini.

Ini negeri yang hanya menghargai hasil akhir. Kegagalan bukan saja sesuatu yang dianggap memalukan, bahkan harus disingkirkan.

Ini negeri yang tidak menghargai proses kegagalan, sehingga cerita tentang borok-borok dalam kehidupannya baru bisa diungkapkan manakala dia sudah terbebas dari fase kehidupan itu. Sebab jika itu terungkapkan pada saat kehidupan dia belum berubah, norma akan menghakimi dia dengan sangat kejam.

Terseretnya Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan berencana cukup menyentak kita. Sejauh ini publik telah disuguhi sepak terjang yang gemilang dalam memberantas korupsi, namun laksana kertas yang tertiup angin, semua catatan itu terbalik ke bawah. Menjadikan yang tampak hanya kejahatannya saja.

Semua timbangan kebaikan, yaitu keberaniannya dalam memberantas korupsi, kepahlawanannya dalam menghadapi mafia koruptor dengan taruhan nyawa dan keluarga, dan kekonsistenannya dalam track yang digariskan padanya, menjadi musnah sia-sia. Tertutup oleh situasi terakhir yang menjadi jalan hidupnya.

Hukum positif yang tertuang dalam tulisan tentu saja tidak mempunyai rasa dan karsa. Hanya textbook saja. Bahkan tidak bisa untuk sekedar mengolah rangkaian logika sederhana dalam pembobotan tentang baik buruknya ‘jika begini maka begitu’. Hukum hanya mengeksekusi apa yang ada sekarang. Sedangkan masa lalu hanya menjadi pertimbangan saja.

Sangat mustahil kiranya mengharap ending cerita jadul itu muncul di sini yaitu dengan datangnya seorang Raja yang dengan titahnya akan mengampuni dosa-dosa Antasari jika dia bisa melanjutkan pemberantasan korupsi dengan sebaik-baiknya.

Lantas siapakah yang beruntung atas kasus ini? Tentu saja bukan orang bijak yang mencoba memediasi kasus ini, bukan penegak hukum yang hanya bekerja berdasarkan hukum, bukan pula keluarga korban yang bersyukur atas tertangkapnya Antasari, dan terlebih lagi bukan orang-orang yang kecewa dengan dugaan konspirasi ini.

Satu episode melodrama ini hanyalah kemenangan buat orang-orang yang tertawa.

Tidak ada yang absolut di sini. Pahlawan dan pecundang hanyalah dari sisi mana kita memandang, dan di zaman apa mereka beredar.
.
.
.
20090507
vivabarca

Explore posts in the same categories: Satire

Tag: , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

6 Komentar pada “Pahlawan Salah Zaman”

  1. omiyan Says:

    tapi yang namanya intrik pasti ada karena dendam

  2. madhysta Says:

    lalai dan salah sudah menjadi pasangan dari pakaian manusia. kita hanya perlu seantiasa menjaga, agar pakaian kita tak terlalu kotor, bahkan andai bisa sangat bersih. Sehingga lalai dan salah yang kita sandang tidak akan separah yang pernah terjadi

  3. elrangga Says:

    Ya….

    Tak perlu perdebatkan pahlawan dan pecundang yang kian beredar di luar sana.

    Yang perlu kamu tau, di sisi mana kamu???

  4. ~noe~ Says:

    @omiyan
    dendam selalu menimbulkan intrik.
    hmmm. tks om

    @madhysta
    tapi apakah pakaian terlalu kotor tidak akan pernah dikasih kesempatan untuk dicuci lagi?

    @elrangga
    aku opportunis pragmatis saja deh😀

  5. endar Says:

    saya setuju pendapat sampeyan. gara-gara tinta setitik rusak susu sebelanga

  6. itempoeti Says:

    Menjadi benar ketika ada kalimat yang mengatakan…, “Sejarah ditulis oleh para pemenang…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: