Negeri 1001 Tumbal

Simbah -sewaktu masih sugeng– rutin melakukan ritual tertentu untuk leluhur pada hari-hari besar tertentu. Beberapa sesaji disiapkan lengkap dengan dupa kemenyannya. Seingatku ada pisang raja satu sisir -biasanya aku yang paling banyak menghabiskannya setelah ritual selesai-, lalu ada kue apem, kopi secangkir, dan selebihnya aku sudah lupa. Jenate Simbah memang masih kuat kejawennya meskipun sudah beragama modern.

Aku biasa duduk di belakang Simbah tatkala ritual sedang berlangsung. Mulai dari komat-kamit dalam bahasa sanskrit, jawa, campur arab sampai kepada gerakan fisik tertentu aku ikuti. Tapi lebih sering aku mengkonfirmasi ke Simbah kapan acara ini selesai. Kadang cukup membisikkan ke telinga Simbah, terkadang juga menggoyang-goyang badan Simbah.

“Ayo, Mbah, kapan selesainya?”, tanyaku berulang-ulang sambil mengguncang-guncang badan simbah, tentu saja demi sesisir pisang raja.

Kultur kejawen yang sudah menjadi nilai atau value dalam diri Simbah tidak akan pernah bisa hilang begitu saja meskipun dari kecil beliau sudah menganut agama modern. Nilai ini menjadi kepercayaan yang diyakini kebenarannya untuk kemudian menjadikan perilaku atau behaviour dalam kehidupan sehari-hari. Katakanlah menjadi budaya.


Di banyak tempat di nusantara ini, budaya sesaji masih lazim dilakukan atas dasar melestarikan nilai-nilai sejarah. Nilai-nilai yang telah diajarkan oleh para leluhur ini mencoba tetap kukuh di dalam hati sanubari generasi penerusnya, di tengah deraan kemajuan teknologi informasi yang mengarah kepada pembentukan budaya baru.

Ambil contoh kala pembangunan gedung atau jembatan dengan arsitek sipil modern masih didahului dengan upacara adat dengan sesaji kepala kerbau untuk ditanam di lokasi, bersamaan dengan peletakan batu pertama, yang biasanya dilakukan oleh pejabat tinggi atau minimal seorang publik figur. Publik figur ini, yang keberadaannya diterima oleh masyarakat karena sisi agama modernnya, juga tidak bisa meninggalkan warisan budaya ini.

Sadar atau tidak, value atau nilai leluhur urusan sesaji atau tumbal ini masih mengakar di kalangan punggawa negara. Deretan angka-angka sakti hasil analisis para pakar dan ahli pikir tidak lantas bisa menjadi sebuah kebijakan real. Dengan kata lain, jika belum ada tumbal -dalam bentuk apapun-, jangan berharap rujukan para pakar ahli tersebut terlaksana menjadi kebijakan. Pemikiran ilmiah saja tidak cukup.

Data yang tersaji di berbagai sumber, misalnya dalam bidang transportasi, tabel data kecelakaan yang juga terpampang sebagai rambu jalan atau mobil ringsek yang dipajang sebagai monumen, semuanya tidak lantas mengubah pola pikir para punggawa elit negeri ini untuk mengubah sistem transportasi ala hukum rimba raya. Mereka baru bertindak jika -katakanlah- sebuah lobang di jalan raya sudah memakan tumbal nyawa sekian orang.

Atau sebut saja data ketidaklaikan transportasi penyeberangan laut jika dibandingkan antara umur kapal, jumlah kapal, kapasitas, jumlah penumpang, berikut lingkaran sistem transportasi lautnya, yang juga dianggap sambil lalu. Jika terjadi musibah karamnya sebuah kapal, cukup dengan menggiring opini publik sebagai human error, misalnya kelebihan penumpang, atau karena alam, misalnya gelombang yang ganas. Jika jumlah korban sudah melampaui batas tertentu, barulah para punggawa berbenah untuk melakukan perbaikan sistem versi mereka.

Peristiwa terakhir yang membuat miris adalah kecelakaan pesawat Hercules di Magetan Jawa Timur dengan korban tewas sekitar 100-an jiwa.

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir pada titik awal pengembalian fungsi tentara ke habitatnya, sudah bejibun analisis yang menggarisbawahi tentang keafkiran alutsista yang mengemuka dalam berbagai ragam saluran, baik saluran resmi di eksekutif-legislatif maupun di media massa lainnya.

Toh hasilnya sudah bisa ditebak, yaitu satu persatu pesawat militer tetap berjatuhan tanpa sebutir peluru musuh yang menembakinya. Silakan googling untuk mencari berapa banyak pesawat militer negeri ini yang terpuruk ke tanah.

Hasil analisisnya pun juga bisa ditebak, yaitu bahwa pada intinya kecelakaan bukan faktor teknis pesawat, melainkan faktor human error atau alam.

Hingga ketika sebuah Hercules jatuh berdebum di bumi dan menjadi sorotan publik lokal maupun luar, para punggawa masih menyatakan bahwa penyebab utama adalah kondisi alam yaitu kabut rendah yang mengganggu pandangan pilot.

Jika rapat evaluasi digelar, tentu saja bukan untuk membahas analisis para pakar ahli tentang keafkiran alutsista, melainkan memenuhi panggilan nilai kultur yang sudah kadung mengakar di batin, yaitu bahwa sudah cukup tumbal sebagai justifikasi penyusunan kebijakan baru. Sadar atau tidak.

Apakah kita juga digariskan masuk dalam daftar tumbal pelaksanaan kebijakan punggawa negeri ini? Atau justru kita masih ditakdirkan menikmati pisang raja dari sesajinya Simbah?

Allahualam
.
.
.
pakembaran, 20090525
wah kok jadi serius tulisannya😦

Explore posts in the same categories: Satire

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

17 Komentar pada “Negeri 1001 Tumbal”

  1. guskar Says:

    untuk urusan keselamatan atau kesaktian atau keberkahan atau untuk tujuan jahat sekalipun, materi tumbal dipilih secara selektif : kepala kerbau jantan, wedus gembel tanpa cacat, ayam cemani, ingkung, gadis yg masih perawan, org yg wetonnya hari ini pasaran itu, dsb. tp di negeri ini tak ada beda lagi mana tumbal, mana hasil suatu kecerobohan. nyawa rakyat hampir tiada harganya lagi. sebentar lagi pemilu presiden, dan hajatan besar ini pasti akan memerlukan tumbal lagi, entah siapa nanti yg jadi korban persembahan untuk suatu kekuasaan.
    *dengan mata melotot dan cuma menelan ludah, menyaksikan ranumnya pisang raja*

    • ~noe~ Says:

      wah kayaknya guskar ini spesialis tumbal. seharusnya diriku berguru dulu sebelum nulis topik ini😀
      benar, gus. yang memprihatinkan adalah nyawa masyarakat tiada harganya mentang2 jumlah penduduk negeri ini cukup banyak.

  2. ircham Says:

    Lebih cenderung menikmati pisange simbah…

    hehehehe…

    ___salam kenal___

  3. suryaden Says:

    jadi ingat tsunami aceh, gempa bantul, dan sebagainya. mungkin bukan tumbal namun fenomena alam, sementara tumbal mungkinkah berbeda dengan sesaji. memang sekarang sudah mulai logis dan modern dengan mediasi human error maupun mesin error namun tak pernah lagi menyadari untuk duduk bersama bagaimana mengatasinya…

    • ~noe~ Says:

      dirimu jeli sekali, om.
      sebelumnya ada paragraf tentang itu : “Di dalam komunitas masyarakat kelas rumput, sesaji dilakukan sebagai salah satu sarana pencegahan terhadap timbulnya mala dan pagebluk, sedangkan masyarakat elit kelas atas dengan level punggawa negara pun tidak luput dari perilaku ini. Bahkan kapasitasnya melebihi dari sekedar sesaji, yaitu tumbal.

      Berbeda dengan sesaji, tumbal lebih diperuntukkan sebagai sarana menjamin kelanjutan kegiatan yang sudah berjalan. Tumbal lebih keren kelasnya dibanding sekedar sesaji karena konotasi dari tumbal tidak lepas dari nyawa, baik manusia ataupun hewan.”

      Cuma karena diriku nggak yakin juga tentang perbedaannya makanya aku edit paragraf ini menjadi hilang.
      thanks, om

  4. Taktiku Says:

    Mungkin musibah jatuhnya pesawat itu karena kurangnya suntikan dana dari pemerintah?

  5. boyin Says:

    biaya perbaikan pesawat sudah menguap dan menetes kembali di rumah para jenderal. makanya bisa ikut pilpres…heee

  6. senoaji Says:

    Plinthing matane, sekali lagi negeri ini gemar berkelit, susah ditarrik bekata jujur padahal jelas-jelas boroknya udah mbathang dan sengatan bau pembohongan publik menyeruak.

    mau diapakan lagi para staff manajerial negeri ini. Mau di sniper kepalanya juga nanti otak yang berhamburan tetap saja kekeh jatuhnya pesawat dan lain sebagainya adalah tetap saja kesalahan Alam dan alam milik Tuhan berarti manusia menyalahkan Tuhan. Ngunu kok iso mbengok basmi komunisme sampe keakar-akarnya.

    mwekmwekmwek

    lho kok dadi ngamuk-ngamuk au yo mwekmwekmwekmwekm mbuhlah!

  7. ~noe~ Says:

    @taktiku
    suntikannya udah, cuma mungkin salah nyuntik, terlalu banyak yang harus disuntik

    @boyin
    ahhh… om boyin selalu bermetamorfosa satire saja😀

    @senoaji
    kalo tak perhatikan memang dirimu spesialis misuh-misuh, jadi ndak terlalu gumun kalo ngamuk2 di sini😀
    kalo masalah keukeuh itu memang sudah berurat berakar. jawaban para punggawa yang selalu diplomatis tentu saja berhubungan dengan nilai yang sudah membumi itu, mencari selamat, dengan tetap menjaga dirinya supaya tetap eksis di blantika percaturan papan atas negeri ini.
    matur tengkyu, om.


  8. Mungkin para petinggi itu harus diwajibkan menggunakan sarana yang mereka punya untuk bepergian supaya anggaran perawatan bisa mengalir deras.

    Cukup serius gak komentarku?😀

  9. masicang Says:

    tenang aja mas….masa berkuasanya

    SUSILO BAMBANG NYUDONYOWO dan BETORO KALLA sudah hampir selesai…. tumbalnya pun bentar lagi sudah selsai.. sabar..berdoa saja semoga kita bukan korabn tumbalnya.. hehee

  10. annosmile Says:

    sebetulnya kejadian herkules jatuh tidak dikaitkan dengan lupanya sesaji itu
    akan tetapi dana perawatan yang larinya kemana perlu ditelusuri
    kita hanya bisa pasrah dan memohon lindungan SAng Pencipta


  11. tumbalnya ya … usaha dan doa kita sendiri
    tergantung bagaimana kita berusaha dan meluangkan waktu untuk berdoa

    salam kenal om … hihihi

  12. ~noe~ Says:

    @tukangngecuprus
    hwakaka
    cukup dalem, om

    @masicang
    wah ini sih kaya’nya sudah punya pilihan tersendiri di pilpres nanti
    btw sebetulnya nyudonyowonya atau kallanya?

    @annosmile
    substansinya bukan keterkaitan sesaji dengan hercules jatuh. bukan pula harus ada sesaji di tiap aktivitas, om. namun mental sesaji ini yg masih mengendap di pikiran pada saat merencanakan program. utk case ini, jika selama ini tidak ada kejadian musibah, artinya tanpa dana perawatan pun bisa jalan. nah, mental seperti itulah yg masih terpelihara, harus nunggu korban dulu baru bertindak.

    @firman
    salam kenal juga, om.
    ke mane aje selame ini ?

  13. itempoeti Says:

    yang harus dilihat bukan hanya prosesi ritualnya… tapi kandungan nilai2 di dalamnya…

    banyak pesan dan makna yang terkandung di dalamnya agar kita mampu melakukan sinkronisitas dengan alam raya…

    dan tentu saja dengan Sang Khalik…

  14. KangBoed Says:

    hehehe… sungguh carut marutnya negeri kaya raya yang menyedihkan.. keseimbangan alam terganggu oleh ulah manusia… semua sibuk dengan tuhan tuhannya masing masing… entah apa yang akan terjadi kemudian nanti…
    Salam Sayang

    http://kangboed.wordpress.com/2009/06/01/krisis-multi-dimensi/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: