BJ and the President

Kenalkan dia. BJ. Nama kawan sebangku pada saat SMP hampir dua dekade lalu. Dia murid baru pada saat masuk di kelas ini. Kami memanggilnya BJ dengan mengambil dari singkatan huruf depan nama depan dan nama tengahnya. Diklop-klopkan dengan film BJ and the Bear di TVRI pada dekade sebelumnya.

Jangan membayangkan penampakannya seperti BJ dalam BJ and the Bear dalam film. Sangat jauh. Bahkan sangat kontras. BJ kawanku ini berkulit hitam tidak manis, berambut jabrik, bergigi putih, dan bertinggi sedang. Logat bicaranya sangat kental aksen ndeso, satu hal yang menyebabkan kawan-kawan sekelas under estimate terhadap dia. Pada saat perkenalan terlihat sekali rasa mindernya dengan bahasa tubuh yang lendat-lendot atau klular-klulur. Mencangklong tas ala Lupus yang sudah dekil.

Jika ingin membayangkan sosoknya, coba tengok tayangan reality show yang tengah booming sekarang ini dan layangkan pandangan anda kepada orang-orang yang tongkrong di pinggir jalan, atau halte bus, atau tukang becak dan tukang ojek yang sedang menunggu penumpang. Orang-orang yang penuh keingintahuan atas urusan orang lain tetapi hanya bisa menatap dari kejauhan. Syukur-syukur bisa lalu lalang di background kejadian untuk bisa masuk tipi dan sedikit awe-awe.

Orang-orang yang jika ditanyakan sesuatu hal kepada dia, hanya akan keluar jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’ saja. Sambil mengangguk atau menggeleng dengan raut muka yang nampak tidak puas karena ketidakmampuannya mengeluarkan pendapat, sehingga bersyukur atas si penanya karena mengajukan pertanyaan tertutup.


BJ bukanlah siapa-siapa meskipun umurnya dua tahun lebih tua dari usia rata-rata di kelas kami. Aksen ndesonya pada saat tongkrong di sudut sekolah biasanya diisi dengan guyon kere yang membuat kami tertawa hanya karena kasihan. Kadang-kadang kawan kami yang jagger berbadan besar merespon ceritanya dengan berteriak, “Ooo…uuuasuuu!”. Tepat didepan mukanya. Lengkap dengan bumbu liur dan jigong yang menyemprot ke muka.

Tapi hampir tidak ada reaksi dari BJ, selain sorot matanya menatap mengikuti tatapan mata si jagger itu. Jika si jagger merasa tidak nyaman dan mengajukan tantangan, BJ hanya menimpali dengan kata-kata sok bijaksana, tentu saja dengan aksen ndesonya.

“Kau berani sama dia?” pancingku yang merasa risih karena perlakuan itu.

“Kenapa musti takut?”

“Kalo ndak takut, lawan dong,” protesku.

“Percuma. Dia badannya besar. Menang pun aku rugi karena pasti aku lebih banyak kena pukul,” sanggah BJ.

Bahkan ketika aku tawarkan untuk mengeroyok jagger itu, dia pun mengelak. Heran, padahal aku tahu BJ adalah preman di tempatnya berasal, dari komunikasiku sebagai kawan sebangku.

Itu baru dari sisi tongkrong. Dari sisi akademis, kemampuan BJ di bawah standar kelas kami. Ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran di kelas ini menyebabkan aku sering memberi contekan saat ulangan. Barangkali berangkat dari ketergantungan akan contekan, BJ menjadi segan terhadap diriku. Apapun yang aku kerjakan, dia akan segera mensupportku untuk menunjukkan bahwa kami satu tim.

Misalnya ketika ada operasi tas siswa, dia berusaha melindungiku dengan menyembunyikan stensilan enny arrow, atau sepuntung rokok yang masih panjang, novel kho ping ho, atau buku kunci jawaban matematika. Kalaupun akhirnya ketahuan, dia mengaku bahwa semua itu milik dia.

Atau ketika aku ingin dia juga datang pada saat kami main bola sore hari, dia pun datang dengan sepeda jengkinya meskipun rumahnya terhitung sangat jauh dari lapangan bola. Terlihat ngos-ngosan karena dia terhitung sudah menjadi ahli hisab kelas berat di usia SMP ini. Uniknya, di lapangan dia tidak pernah main bola karena memang tidak suka bola. Yang dilakukannya hanyalah sekedar tongkrong di tukang es orson atau sprite jowo sambil udat-udut thenguk-thenguk. Sabar menunggu kami selesai main bola, sembari sesekali suit-suit jika ada perempuan melintas di trotoar.

Pernah dia membuat aku ketakutan setengah girap-girap saat dia merencanakan membacok seseorang setelah pulang sekolah. Clurit sudah disiapkan di dalam tas lupusnya. Tidak ada rasa takut jika ketahuan oleh guru karena dia pun bertekad akan membacok guru yang merampas cluritnya. Aku menanggapinya dengan tertawa meskipun agak berdesir melihat clurit dengan sarung kulit di dalam tasnya.

Akibat penasaran dengan ndobosnya bahwa dia akan bertarung dengan seseorang, pulang sekolah aku mencoba mengikuti arah dia pulang. Singkat cerita, benar saja. Dia tampak berjalan dengan hati-hati di belakang seseorang dengan jarak masih belasan meter. Tangannya dimasukkan ke dalam tas. Tampak dia melepaskan sarung clurit dari tempatnya.

Seketika aku langsung bergegas lari menyongsong dia dan memegang tangannya. Aku menyuruh dia untuk menyarungkan clurit itu dan membatalkan rencana. Tidak ada kata-kata lain selain perintah untuk tidak melakukan rencana nekat ini. Untungnya dia begitu penurut terhadapku, menyarungkan clurit, dan berbelok arah perjalanan berdampingan denganku seraya curhat masalah yang dihadapinya.

Hhhh… satu episode yang berakhir manis.

Semanis kelanjutannya ketika di suatu hari pada jam istirahat, di acara rutin tongkrong di suatu sudut sekolah, kami saling bercanda, bercerita, atau mencorat-coret tembok dengan spidol. Beberapa kawan tampak asyik saling joint rokok. Ada juga yang sedang iseng membakar pantat temannya yang sedang jongkok hingga kadang-kadang sampai celananya berlobang, yang bakal memicu keributan panjang.

“BJ, katanya kamu nunggak SPP beberapa bulan, ya,” seorang dari kami memulai topik baru dengan objek penderitanya adalah BJ.

Sejak menjadi murid baru, dulu, kemarin, dan sekarang, BJ selalu menjadi objek penderita.

“Belum dikasih ortu,” BJ menjawab singkat.

“Lha, sudah minta belum?”

“Sudah. Barusan kemarin aku cari-cari bapakku. Ketemunya di tempat karambol. Begitu aku minta uang untuk bayar SPP, tahu apa jawabannya?”

Semua menunggu pertanyaan retoris ini sambil angkat bahu, lebih terkesan tidak tertarik dengan apa yang menjadi jawabannya.

“Jawaban bapakku gini : ‘Lho kamu masih manggil aku (dengan sebutan) bapak, to?’ ,” jawab BJ sendiri.

Sejurus kemudian dia melanjutkan,”Lho emang minta dipanggil apa? K****L???. Habis itu langsung aku tinggal saja.”

Aku yakin semuanya terhenyak mendengar cerita BJ. Untuk tingkat kenakalan anak SMP seperti kami dulu, tawur adalah yang paling parah. Dan kami sudah merasa berada pada kasta tertinggi saat itu. Eh, maksudku tentu saja hanya satu level di bawah si jagger.

Dan ini, sekarang, kami semua ditunjukkan oleh kelakuan kawan seusia kami yang sangat revolusioner. Bapak kandung sendiri dipanggil k****l. Kosa kata yang berarti alat reproduksi laki-laki. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan kami semua. Bahkan si jagger juga takjub mendengar kedurhakaan BJ ini.

Alhasil sejak adanya cerita itu, kawan-kawan mulai menjadi segan terhadap dia. BJ yang sama. BJ yang ndeso. Dan BJ yang cenderung skeptis terhadap banyak urusan sekolah. Cara bertutur kata kawan-kawan terhadap dia juga berubah. Tidak ada lagi objek penderita yang bernama BJ. Apalagi teriakan “ooo…uuuasuuu” di mukanya.

Padahal ini adalah BJ yang sama dengan sebelumnya. Juga masih sama dalam keseganannya terhadap diriku. Tidak berubah dalam menuruti kata-kataku. Suatu simbiosis yang aneh.

Padahal jika orientasi dia terhadapku adalah karena contekan, cukuplah dia meletakkan clurit di meja untuk membuatku terpipis-pipis dan bakal mengerjakan ulangan untuk dia. Tidak sekedar contekan.

Atau jika dia ingin kawan-kawannya menghargai dia, aku rasa cukup dengan mengacungkan clurit semuanya bakal takluk, termasuk si jagger.

Tapi dia tidak melakukan itu dan tiba-tiba semua berubah seketika. Hanya atas dasar cerita durhaka tadi, yang belum divalidasi kebenarannya.

Si jagger yang kutanya kenapa dia menjadi begitu segan terhadap BJ ternyata tidak bisa menjelaskan.

“Padahal ‘uasu’-mu itu tidak menyebabkan dia berani melawan,” pancingku mengompori jagger itu.

Dia hanya menggelengkan kepalanya seraya bertanya balik kepadaku, kenapa BJ juga bisa segan terhadapku. Sesuatu yang sangat aneh jika dilihat dari luar. Aku yang alim, pandai, dan rupawan😀 bersahabat dengan seorang begajul kupret item nan ndesit.

Pertanyaan yang sama menggelayut di pikiran masing-masing kawan sekelas. Mereka mencoba mencari sesuatu yang rasional untuk menjelaskan fenomena ini. Fenomena suksesi damai seorang BJ dari seorang ndeso anak bawang menjadi seorang ndeso yang disegani. Tanpa tindakan, tanpa perlawanan.

Jika BJ mengacungkan clurit untuk merebut hegemoni kekuasaan di lembah hitam kelas ini, semua akan mahfum bahwa dia layak menjadi pentolannya. Atau jika cara yang sama diterapkan kepadaku, aku juga maklum jika dia layak mendapatkan contekan dariku. Itu semua satu hal yang rasional dari kacamata kami tentang bagaimana sesuatu ‘akibat’ pasti ada ‘sebab’ yang bisa dijelaskan.

Capek…
sik… sik… sebentar…

Sebetulnya esay ini terinspirasi dari debat capres beberapa waktu lalu tentang program mereka dihubungkan dengan elektabilitas masing-masing capres itu. Sebab aku menangkap hampir tidak ada hubungan signifikan antara elektabilitas capres dengan materi debat.

Jaman informasi diartikan sebagai jaman kemajuan berpikir, yang menyebabkan informasi yang digelontorkan dari tim sukses dibuat menjadi begitu ilmiah.

Tim JK-Win menjadi yang terdepan dalam hal ini, dengan menjanjikan program-program real. Program yang sangat rasional dan memang terkesan menjanjikan. Dua program terbarunya adalah program MAMPU dan revisi UU no 13 Ketenagakerjaan. Elektabilitas mereka menunjukkan grafik menaik yang cukup menggembirakan.

Tim SBY sendiri cenderung melawan arus dengan tidak akan buru-buru merevisi UU itu dan tetap melanjutkan privatisasi BUMN dengan embel-embel akan dilaksanakan dengan secermat mungkin. Meskipun semua masih dalam tataran normatif. Pencitraan rasa teraniaya masih lebih diutamakan di sini.

Sedangkan Tim Megapro lebih cenderung ke kampanye narsis, dengan prinsip : inilah aku, pilihlah aku. Aku ini anak siapa…

Ada sasaran yang berbeda yang dituju oleh masing-masing tim sukses. Jika tim JK-Win menyasar kepada kalangan melek informasi dengan program-program yang rasional, maka dua tim lainnya tetap berusaha mencangkul para akar rumput. Dua tim ini sangat pede dengan ketiadaan program real yang dijanjikan, selain hanya janji-janji normatif. Bahkan tim SBY berani melawan arus dengan isu yang sangat tidak disukai oleh para buruh dan pegawai BUMN (tentang UU Tenaker dan privatisasi BUMN itu).

Keyakinan tim SBY dan tim Megapro tentunya masih mengacu kepada aura BJ. Bagaimana orang-orang tidak akan pernah mau tahu alasan rasional untuk bersikap –dalam hal ini memilih kandidat- selain hanya kepada insting dan feeling.

Alasan bukan ditempatkan sebagai sebab, namun sebagai pembenaran atas pilihannya. Jika kandidat mereka ternyata tidak sesuai dengan harapan, mereka akan mencari alasan lain kenapa tetap memilih kandidat itu. Bahasa gampangnya: milih dulu, alasan dipikir belakangan.

Simbah, tetangga samping rumah hanya berujar,”Uwis, pokoke SBY ya, om Noe.”

”Kenapa milih dia, Mbah?”

”Apa ya… pokoke simbah nanti mau milih SBY.”

Satu contoh bagaimana irrasionalitas mengalahkan rasio. Tinggal kita hitung saja, berapa jumlah mereka yang irrasional. 10%, 50%, atau hampir 100% ?

.
.
.

noplace, 20090701
bukansimpatisan

Explore posts in the same categories: Ndobos, Satire

Tag: , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

27 Komentar pada “BJ and the President”

  1. WANDI thok Says:

    Wow, waw, weh, ah ah ah, iso pertamax meneh. Lanjutken!😀

  2. Si Gembala Says:

    Berarti presiden kita selama ini..presiden hasil irrasional yak….pantes..hehehehe

  3. aldrix Says:

    wah mata gue jadi ngantuk baca cerita diatas..hehehehe

    but this is cool men ….!!!

  4. KangBoed Says:

    ssssttttt.. pinjam bukunya duuuunnnkkk.. mumpung engga ada operasi tuh.. bentaaaar ajaaa yaaa
    Salam Sayang

  5. guskar Says:

    siapapun nanti yg jadi presiden dia termasuk orang yang BJ, termasuk tim suksesnya : semua BJ!. Janji2 muluk diobral di kampanye, entah nanti ketika duduk di kursi mentul-mentul, sengaja melupakan janjinya.
    dan BJ itu adalah BeJo!

  6. suwung Says:

    BJ habibi kah?

  7. julie Says:

    sosok yang unik si BJ itu

  8. oRiDo™ Says:

    BJ bukan BiJey en de ber..
    klo ini bisa BeJe..
    bisa juga BeJo..🙂


  9. jadi ingat Film dulu thn 80an yang judulnya BJ and The Bear…

  10. wyd Says:

    awalnya anak ndeso, terus keterlibatan stensilan enny arrow (hahahahaha…!!!!), eh.. ujung2nya belagak jadi tim sukses jk-win🙂

    kalau melihat program dan debat capres-cawapres di tv sih mereka unggul. sayang memang bangsa kita belum waktunya kali mengedepankan logika. masih perlu waktu panjang buat belajar dan menjadi lebih terdidik dalam demokrasi.

    saya juga lagi lihat2 buat pilpres ntar. tapi saya suka kampanye tv jk-win


  11. Jujur diriku ngak bertahan baca sampe akhir, panjang banget

    Dan diriku yakin 90% dari commenter diatas adalah fast reader seperti diriku

    Bagus nya klo article panjang kayak gini dijasiin 2 bagian aja kk

  12. Huang Says:

    uhm.. supaya disegani kita acungin clurit?

  13. ~noe~ Says:

    @all
    selamat sore kawan-kawan semua…
    mohon maaf jika postingnya kepanjangan sehingga membuat waktu menjadi tersia-sia saat melintas di sini.
    tks to angga atas kripik & masukannya.
    salutku untuk semuanya karena tetap komen di sini meskipun postingnya kali ini nyebai😀
    salam sukses untuk semuanya

  14. itempoeti Says:

    agak sulit mencari benang merah antara essay si BJ dengan elektabiitas capres… (opo aku sing pekok yooo…)

    tapi secara terpisah, essay tentang si BJ sangat kontemplatif.

    klu soal capres.., demokrasi.., pilpres.. capek deeech…

    mereka semua menjawab dengan benar pertanyaan yg salah…

    • ~noe~ Says:

      @itempoeti
      diriku sampai nyari di kamus arti kata kontemplatif🙂
      maksude diriku itu benang merahnya ada pada irrasionalitas kita dalam bersikap. kalo sudah menentukan pilihan, maka tinggal dicari alasan sebagai pembenaran.
      tks untuk kontemplatifnya, om🙂

  15. wahyu Says:

    Hmm.. meski panjang namun menarik..
    terutama saat bagian tentang BJ dan masa kecil sampeyan. Teriakan si Jagger di depan muka BJ. “uaaasuu.!!”
    panggilan BJ pada bapaknya, “K****L..!” dan fenomena perubahan sikap teman2 sampeyan pada BJ.

    Bagi saya, itu bukan hal yang irasional. namun sangat rasional.

    teman sampeyan melihat ternyata BJ yang awalnya dikenal ndeso, culun, katrok.. bisa menjadi orang yang nekat dan bertindak diluar batas. contohnya ketika dia bermaksud men’clurit’ seseorang.. ketika dia memanggil bapaknya K****L.. ditambah sikapnya yg tidak terganggu dg begitu banyak hinaan. Satu sikap yang tidak umum dan tidak seperti kebanyakan.

    Isi pikiran BJ tidak bisa diprediksi dan tidak terduga. Pikirannya diluar pikiran orang ‘normal’, ditambah kenekatannya melakukan hal2 yg diluar nalar dan pertimbangan. itu saja bisa membuat teman2 sampeyan segan dan ngeri.

    Sangat wajar ada perasaan tidak nyaman dan khawatir berhadapan dengan orang yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya dan dikenal suka bertindak nekat.

    Cerita yg menarik..

    Namun ‘kemenarikan’ cerita sedikit hilang saat topik berganti pada tema pilpres.. hah..
    mungkin karena saking seringnya membahas pilpres, dimana2 pilpres.
    koran.. tv.. radio..
    menjadi tema yang membuat jenuh.
    hehe..

    maaf om Noe, koment saya sudah seperti postingan anyar. hihi..

    LANJUTKAN..!!

    • ~noe~ Says:

      @wahyu
      yang tahu kalo bj pernah bawa clurit ya cuma aku saja. kawan2 yang lain tidak tahu. makanya aku heran kenapa mereka menjadi segan dengan cerita yang belum terbukti validitasnya.
      memang aku terlalu lemah untuk menggandengkan dua cerita dengan satu filosofi yang sama. makin mencoba kok kayanya makin menjauh benang merahnya😦
      akhirnya kadang klimaks justru menjadi turun setelah masuknya cerita yang baru.
      thanks masukannya, om🙂
      salam sukses

  16. nadya Says:

    aku baca sampe selesai koq ….🙂
    panjang pendek terserah aja
    keren banget ceritanya …. si bj

    • ~noe~ Says:

      @nadya🙂
      makasih berat, nadya.
      mungkin pada masaku, dirimu adalah pelahap lima sekawan, trio detektif, sapta siaga, sersan grunggrung, dan majalah2 cerpen macam aneka dan anita🙂

  17. senoaji Says:

    kalo mo nulis-nulis ae kang, kenikmatan itu adalah masalah ikhlas to nggak, apresiasi itu adalah porses, dan penilaian itu prek wae lah! wkwkwkwkwkkwkwkwk!!!

  18. alamendah Says:

    Saya sih setuju aja dengan kamu. Soale gak satu dua kali saya mendapatkan jawaban yang bunyinya (kira-kira), …katanya si anu yang mendengar dari anu telah mengatakan bahwa anu itu anu.
    atau jawaban yang gini, “kalau saya memang anu dan kepengen anu, kata si anu, saya harus anu…”
    yang parah lagi, “katanya si anu anu itu anu jadi kalau anu ya harus anu”
    dan ketika saya nguber dengan pertanyaan lagi jawabannya apa? “Pokoke anu, titik!”
    Bingung? aku juga bingung

    • ~noe~ Says:

      kebanyakan anu jadi ingat vj mtv ; anu kotor😀
      iya, menurut kacamataku, itu satu bentuk irrasionalitas yang ada dari masing-masing pikiran seseorang.
      tengs sudah mampir.
      salam, al…

  19. D Says:

    Cocoknya kamu itu jadi cewek dengan semua kemampuan verbal yang kamu miliki Noe, hehe…😀
    Anyway, aku menangkap korelasinya kuat banget antara ceritamu tentang si BJ dengan para capres. Cuman aja nilainya minus mendekati 1. Tul gak.
    Trus jangan mempertanyakan lagi sebaiknya berapa kata dalam satu posting. Itu pertanyaan dengan banyak jawaban, dimana semua jawaban salah. Yang benar hanya bila kau tidak mencemarkan nama siapapun. Ingat cerita Lukman dengan anaknya saat membawa keledainya ke pasar?

    • ~noe~ Says:

      jadi cewek? :-O
      sebenarnya ini bukan kemampuan verbal, melainkan kemampuan tangan. bedakan antara data yang tersalur dari otak ke mulut, dengan data dari otak ke tangan.
      kalo verbal diriku masih seperti yang dulu. di depan banyak orang cuma bisa a u a u dengan pikiran kosong.

      aku musti mencermati paragraf terakhirmu dulu. jadi malah ada kerjaan mencari hubungan antara si lukman dengan bj😀
      eniwei, secara tersirat aku menangkap korelasinya, tinggal dari sisi mana kita memandang.
      tulisan ini aku timpa dalam satu hari dengan posting ‘berapa kata’ karena atas dasar statistik saja. hitnya tinggi tapi hampir semuanya lewat. dan aku merasa sayang jika tulisanku tidak ada yang baca. itu hanya keputusan sesaat, namun ternyata lebih cepat belum tentu lebih baik😀

      thanks berat, d…


  20. tulisan dan info yang bagus….trim’s


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: