Soang Item

Sebenarnya resensi gobal-gabul ini sudah aku tulis pada 17 Maret lalu, namun entah kenapa aku merasa tulisan ini tidak layak aku publish karena gaya bahasanya bukan diriku banget. Selain dari panjangnya tulisan ini yang menyebabkan aku tidak terlalu berharap banyak bisa dibaca habis oleh para tamu delenger. Baru setelah Om Eoin komeng di Refleksi Pilpres yang menyambut siratan blackswan di postingan itu, aku tergerak untuk mempublishnya. Thanks, Om.

Ini tidak ada hubungannya dengan tempat tinggalku selama beberapa tahun di wilayah selatan Bandung, yaitu di Bojongsoang. Ini tak lebih hanya ketertarikanku pada pencerahan yang aku dapat tentang masalah ketidakpastian; menjawab akar penyebab pertanyaanku selama ini, sehingga seolah membuncahkan rasa “eureka!!!” ala Archimedes sembari telanjang kopat kapit.

Dalam setiap acara marketing baik itu seminar, ceramah, pelatihan, workshop, atau apapun namanya, sudah menjadi kebiasaan jika pembicara secara lugas bisa menguraikan detil demi detil landasan keberhasilan fenomenal suatu individu atau perusahaan. Sebut saja Microsoft, Google, JK Rowling, Obama, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk skala lokal sebut saja Slank, Djarum Black, dll. Pembicara dengan landasan keilmuannya -yang membuat strata sosialnya tampak lebih tinggi- mampu menjelaskan fenomena ini dalam suatu teori yang bisa membuat kita manggut-manggut manyun. Hebat. Fantastis. Dahsyat. Kata Rey Rey Reynaldi.


Aku adalah satu di antara sekian banyak pemanggut-manggut tadi dengan beberapa ceceran ketidakmengertian dalam siklus kesinambungan cerita-cerita spektakuler tadi. Saking parahnya, aku tidak mampu merangkaikannya dalam satu kalimat untuk bertanya kepada pemilik ilmu itu dalam forum. Ketidakmengertian yang cukup mempengaruhi rasa percaya diri jika seandainya ada audien bertanya hal yang sama –yang aku pikirkan- jika aku menjadi pembicara di suatu acara serupa.

Blank…
Mungkin dengan sedikit diplomatis aku akan menjawab apa adanya tentang ketidakmengertian ini. Bahwa ketidakmengertian adalah hal yang bisa dimengerti. Who knows, kan?

Memang beberapa kali sempat, di belakang layar, aku mencoba mengungkapkan dangkalnya ilmuku kepada pembicara itu, dalam menguraikan keterkaitan antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya.

Bahwa semua yang dipaparkan, semua yang dikaji, tentang prinsip sukses seseorang atau perusahaan dalam berbisnis, itu dilakukan setelah semua faktanya terjadi. Pengajar bisa berbicara, menerangkan dengan berbusa-busa, kadang disertai senyum kemenangan -atas kemutakhiran ilmunya dibanding audien- setelah semua objek pembahasannya sudah terjadi.

Lantas…

Apakah Anda (pembicara itu) bisa menerangkan apa yang akan terjadi ke depan dengan landasan ilmu yang Anda punyai?
Siapakah atau segmen bisnis mana yang bisa fenomenal nanti setelah detik ini saya bercakap dengan Anda?
Prinsipnya, Anda hanya mengupas hal-hal yang sudah terjadi, padahal bagi saya peristiwa fenomenal itu tidak tampak memiliki keterkaitan satu sama lain. Saya hanya khawatir kita mempelajari sesuatu yang sudah afkir. Kita hanya mempelajari sejarah saja tanpa bisa mengantisipasi kejadian ke depan. Seperti cerita nenek kita yang diawali ”pada jaman dulu…”, bukan seperti Doraemon yang berfantasi ke depan.

Well…

Itu karena aku melihat bahwa peristiwa penting dalam sejarah itu adalah melompat, bukan berjalan.

Cukup telak, karena landasan jawabannya hanya kembali ke teori-teori yang tampaknya mutakhir namun sudah usang buatku. Ada missing link di sini dan aku tidak tahu itu apa.

Berawal dari rensensi kompas edisi entah kapan, aku membeli dan mencoba menelaah suatu buku karangan Nassim Nicholas Taleb (NNT). Judulnya Black Swan. Atau Angsa Hitam. Blengong Ireng. Soang Hideung.

Satu buku yang menarik karena isinya yang provokatif dan sarat makna per kalimat.

Sarat makna karena bisa jadi masih ada pengaruh asal penulis dari Libanon sehingga agak bergaya bahasa Arab. Bagiku, nuansa Gibran sangat terasa saat membacanya, sehingga membutuhkan pikiran dan waktu lebih untuk mencernanya, bahkan lebih cenderung terengah-engah untuk mencoba mempadu-padankan dengan tanda tanyaku agar tidak terlalu bias dari koridor keingintahuanku. Bisa jadi hingga saat ini mungkin baru satu per mil yang bisa aku pahami.

Provokatif karena beberapa hal yang tertuang di dalam buku ini memunculkan lagi bias pertanyaan yang tiada jawab. Contoh yang sederhana misalnya, dengan gayanya bertutur, Nassim menyatakan bahwa manusia tidak ditakdirkan untuk berpikir. Nenek moyang kita yang terlalu ribet berpikir akan mudah menjadi santapan singa dibandingkan dengan nenek moyang kita yang gesit dan berpikir sederhana untuk bertahan hidup. Namun di sisi lain, buku yang disediakannya menuntut kita untuk benar-benar berpikir jernih agar tidak terjebak dalam filosofinya tanpa komparasi dengan lingkungan real. It’s just my opinion.

filosofi di sini, aku menangkap keengganan NNT untuk menjustifikasi Ketuhanan dalam semua permasalahan ini secara gamblang, namun Om Eoin justru mempunyai pandangan yang indah bahwa jika semua dikembalikan kepada Tuhan, semua hal empirik yang diungkapkan akan menjadi mentah lagi

Fenomena Black Swan adalah peristiwa sangat mustahil terjadi yang memiliki tiga karakteristik utama : tidak dapat diramalkan, memberikan dampak yang masif, dan sesudah terjadi mendorong kita membuat penjelasan bahwa kejadian itu bukan sebuah kebetulan, dan lebih bisa diramalkan daripada sesungguhnya.

Nah, definisi itu sudah cukup menjelaskan ketidakmengertianku selama ini tentang sejarah –khususnya marketing- yang fenomenal, sekaligus menampung cipratan liur pembicara nan sakti itu.

Sebelum benua Australia ditemukan, Dunia Lama yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Penemuan angsa hitam menggambarkan betapa sangat terbatas pembelajaran yang kita dapat dari pengamatan-pengamatan serta betapa rapuh pengetahuan kita selama ini. Pengamatan yang hanya sekali ternyata dapat meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak orang terhadap jutaan angsa putih selama berabad-abad lamanya. Yang anda perlukan cuma seekor burung berwarna hitam (yang konon mempunyai rupa sangat buruk).

Mengapa kita tidak mengakui fenomena Black Swan? NNT menjawab karena manusia telah dirancang untuk mempelajari hal-hal yang spesifik ketika seharusnya mereka lebih fokus ke hal-hal umum. Kita berkonsentrasi pada hal-hal yang telah kita ketahui dan berulang-ulang gagal memperhitungkan yang tidak kita ketahui.

Dalam buku yang merupakan buah perenungan ini, penulis mencoba menerangkan segala sesuatu yang kita ketahui tentang banyak hal yang tidak kita ketahui.

Kita tidak secara spontan belajar bahwa kita tidak mempelajari yang tidak kita pelajari. Masalahnya terletak di dalam struktur pikiran kita : kita tidak belajar tentang aturan-aturan; yang kita pelajari adalah fakta, dan hanya fakta.

Buku ini menentang banyak hal dalam kebiasaan kita berpikir, bahwa dunia kita tengah didominasi oleh hal-hal yang ekstrem, tidak dikenal, dan sangat mustahil (mustahil berdasarkan pengetahuan kita yang sekarang) – sementara kita menghabiskan waktu bersilang pendapat, berfokus pada yang kita ketahui serta pada hal yang berulang. Kendati pengetahuan kita mengalami kemajuan dan pertumbuhan, atau barangkali karena kemajuan dan pertumbuhan yang seperti itu, masa mendatang akan semakin kurang dapat diramalkan, sementara sifat dasar manusiawi dan “ilmu” sosial tampaknya seperti berkomplot menyembunyikan gagasan itu dari kita.

Kita cenderung memperlakukan pengetahuan kita sebagai hak milik pribadi yang harus dilindungi dan dipertahankan.

Pengetahuan seperti sebuah ornamen yang memungkinkan kita naik ke posisi lebih terhormat.

Sebaliknya orang tidak berjalan ke mana-mana membawa pengumuman negatif mengatakan yang belum mereka pelajari atau belum mereka alami (itu tugas para pesaing mereka), tetapi alangkah baiknya andai mereka melakukannya.

Pikiran manusia mempunyai 3 kekurangan ketika harus berurusan dengan sejarah, kekurangan yang disebut triplet of opacity ( tiga hal yang serba kabur ), yakni :
1. ilusi pemahaman, atau bagaimana setiap orang mengira tahu yang tengah terjadi di dunia yang lebih rumit (atau lebih acak) daripada yang disadari;
2. distorsi retrospektif, atau bagaimana kita dapat menilai masalah hanya sesudah fakta yang tersedia, seolah-olah itu adalah pemandangan di belakang cermin (sejarah tampak lebih jelas dan tertata dalam buku-buku sejarah dibanding dalam realitas empirik);
3. valuasi yang berlebihan terhadap informasi faktual dan hambatan yang dialami oleh orang-orang yang berwenang dan terpelajar, khususnya ketika mereka menciptakan kategori-kategori -ketika mereka mencoba menjadi Plato.

Sejarah tidak merangkak, melainkan melompat.

Hahaha… seperti dejavu saja. Aku suka kalimat terakhir di atas. Menjadi sub-sub-bab sendiri di buku ini.

Butir-butir penting lain dalam buku ini adalah pemaparan tentang dunia yang terbagi dalam dua domain, yaitu ekstrimistan dan mediocristan. Yang di dalamnya ada yang terkait dalam permasalahanku, yaitu adanya profesi yang scalable dan non-scalable.

Mungkin ini yang baru bisa aku ungkapkan mengingat keterbatasan otakku dalam menampung informasi. Eh, bukan, menurut buku ini bukan karena keterbatasan otak yang membuat kita cepat lupa melainkan cara pengindeksan yang terlalu acak. Namun setidak-tidaknya aku sudah bisa menjawab sesuatu yang selama ini aku anggap sebagai missing link, tidak terdefinisikan, menjadi sesuatu yang real ada di depanku.

Salam…

Explore posts in the same categories: Ngomyang, resenshit

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

16 Komentar pada “Soang Item”

  1. guskar Says:

    Ikut baca Buku Banyak Ireng ini karena baca resensi di Kompas, dan sampai skrg blm sls sy baca krn setiap kalimat yg ditulisnya selalu saja membawa fikiran ke masa lalu, kemudian sy coba dng menghubung2kan dng keadaan masa saat ini. Ada bbrp yg missing-link, yg misterius yg harus sy gali lagi. Jika sy masih diberi umur hingga seumur Nabi SAW misalnya, saat ini sy msh punya kesempatan untuk membelokkan nasib sy di kemudian hari, slh satunya mengenal lbh dekat lagi dengan manusia yg punya nama Wisnoe, sang delenger ini.

    nanti kalo sudah selesai tolong diriku diceritain ya, gus😀
    kemungkinan besar para pembaca buku itu juga jarang menuntaskannya karena ketika kita sudah menangkap substansinya, dibaca bolak-balik pun akan sama saja, mana yang bisa dicerna duluan.
    eniwei, gus, dont be like that lah. ini satu penempatan diri yang sangat tidak masuk akal bagi diriku. bahaya laten penghargaan. karena aku tahu siapa diriku, seseorang yang untaian saraf sensorik otak menuju ke motorik tangan lebih hidup dibandingkan dengan saraf otak ke mulut.
    pernah lihat patung roro jonggrang membawa gong? nah, barangkali seperti itu sosokku jika bersosialita dengan pribadi lain. orang bilang, gongnya harus dipukul dulu biar saraf mulutku nendang😀
    tks, apresiasi, gus…
    someday…

  2. bayu200687 Says:

    black swan. begitu baca judulnya langsung inget ma teman lama yg pernah posting dg judul yg sama. versi english c.
    black swan, salah, ato ga?

    betul, om
    kalo boleh tau, di mana link-nya? siapa tahu dia menangkap lebih dari buku ini.

  3. Nisa Says:

    pengindeksan yang acak.. hm.. gimana merapikannya ya biar nisa gak cepet lupa😀

    bacaan berat ya ni kayak e, membadai di otak🙂

    nulis yang panjang saja pak ndak papa og, saya tetep baca, walau saya ndak mudengan T.T, hehe..

    lha sejarah kok bisa melompat ya..

    hwaa.. daku ndak paham pak.. *hiks

    nisa, dulu aku bingung kalo mau menambahkan kata seru ‘og’ ini. biasanya aku tulis ‘ok’ tapi pengertiannya jadi ‘oke’. kadang-kadang ” o’ ” tapi ini dapat yang baru darimu. ‘og’. hehe tks ya.
    trims untuk atensinya, ya. ini menambah semangat baru dalam menulis. tantangannya adalah bagaimana tulisan panjang tetapi menarik untuk disimak atau tulisan pendek tapi padat berisi.

    untuk sejarah yang melompat itu, ya.
    intinya begini
    peristiwa besar yang satu dengan yang lainnya seringkali tidak ada hubungannya dengan peristiwa besar yang terjadi pada masa sebelumnya.
    peristiwa itu baru ada hubungannya setelah orang-orang pintar menganalisis dengan ilmunya tentang keterkaitan peristiwa satu dengan lainnya.
    contohnya andrea hirata dengan novel laskar pelanginya. siapa yang bakal menduga novel ini menjadi megaseller? tidak ada kan.
    tapi setelah novel ini laris, orang mulai mempelajari fenomena ini dengan disiplin ilmu masing-masing.
    ada yang bilang momennya tepat pada saat industri novel di negeri ini mengalami kevakuman.
    atau misalnya ada yang bilang tulisan hirata dipengaruhi oleh novelis A tahun 60-an dengan pemakaian metafora atau semantik yang sama. padahal kemungkinan besar hirata sendiri tidak pernah tahu siapa si A itu atau bahkan membaca karya si A. tidak ada hubungannya sama sekali. namun dengan daya pikir orang-orang pintar, semua tampak seperti berhubungan. orang-orang pintar itu hanya tahu setelah fakta megaseller terjadi, tapi tidak dan tidak akan pernah tahu trend yang bakal terjadi di depan seperti apa.
    mudheng ra, nis ?😀
    aku dewe malah puyeng og…


  4. Kok aku ga ngerti apa mksdnya ya?padahal dah aku baca habis…mgkn aku yg bodoh ya?haha..

    tenang, ada waktunya untuk tahu nanti🙂
    salam…

  5. Jaya Says:

    bacaan berat juga nih bro.. tapi dari situ kayaknya meyakinkan kita bahwa di dunia ini gak ada yang kebetulan ya,. apa begitu

    kebetulan adalah bagian dari ketentuanNya.
    betul begitu ?🙂
    thanks, jay

  6. eoin Says:

    suatu hari kita harus ketemu si NNT itu, ngerjain orang sukses banget.. sebuah resensi yang saya yakin sedemikian rupa disederhanakan agar mudah dimengerti saja harus dibaca beberapa kali baru mudheng *sok jawa :P*

    pengaruh bahasa arab memang terasa sekali, persis seperti buku dialog dengan jin muslim (dalam kasus lain) yang menimbulkan bias sehubungan dengan perbedaan “rasa bahasa”

    bentar dulu.. ntar aku terusin komennya.. ini ada poltabes datang mau jemput.. gak tau kasus apaan hehehe😛

    kalopun ketemu dia, aku ndak tahu mesti ngomong dari mana. bisa jadi cuma manggut2 bin manut.
    poltabes??
    wah wah…
    selebritis juga ternyata😀

  7. Eoin Says:

    Sebenarnya ilmu2 yang memaparkan fakta untuk kemudian dikaji dengan harapan mampu melakukan antisipasi pantas terhadap masa akan datang adalah usaha memahami sunnatullah (kebiasaan2 4JJI dalam melangsungkan sesuatu) keacakan bisa jadi keteraturan panjang dalam pola tak teramati (keacakan semu). keacakan sebenar, adalah bukti bahwa suatu keteraturan tidak berjalan secara sendirinya. Mu’jizat adalah kejadian diluar keteraturan yang menekankan pada keberadaan pengatur dan keteraturan tidaklah alamiah. Blackswan mungkin seharusnya adalah kejadian diluar sunnat4JJI yang sebenarnya dapat dirasa tanda tandanya, Namun sering terabaikan. Istikharah adalah usaha paling masuk akal agar blackswan positif terjadi pada kita.
    [kok malah ga fokus ya? *sambil nunggu pengacara datang dari jakarta, doain dapat pesawat subuh🙂 *

    ini bukan NNT sendiri yang komeng, kan?
    sementara ini diriku makmum dulu😀
    soale saking tidak bisanya kita mengantisipasi keacakan itu, kita dianjurkan fokus ke ruang lingkup yang lebih sempit saja, misalnya diri sendiri. bagaimana kita bisa mengatur rencana kecil dalam kurun waktu terbatas ke depan. tidak usah muluk berpikir tentang efek domino dari ekonomi makro atau perang atau bencana. cukup rencanakan besok bangun pagi, kerja, rapat. memang terlihat skeptis, namun ini bisa bercabang pula pengertiannya.
    eniwei, kok pake pengacara??
    acara yang seriuskah?

  8. duadua Says:

    Kita tidak secara spontan belajar bahwa kita tidak mempelajari yang tidak kita pelajari. Masalahnya terletak di dalam struktur pikiran kita : kita tidak belajar tentang aturan-aturan; yang kita pelajari adalah fakta, dan hanya fakta

    ======

    kereen

    iya
    itu aku copas dari bukunya saja karena kekerenannya itu🙂


  9. Salam kenal dan salam persahabatan.

    salam kenal juga🙂
    thanks udah mampir…

  10. WANDI thok Says:

    Wah iki mesthi sing nduwe seneng sing dawa-dawa kiye. Dawa tur bingung sisan karepe apa😀 ^O^

    tenang kang guru…
    tulisan ini bukan untuk dipahami, melainkan untuk bikin puyeng😀

    • rigih Says:

      emang bikin puyeng nek ra maca bukune
      mulane aq cm komen thok
      fast reading
      hwhwhwh

      hehe
      gpp kok, om
      aku juga puyeng baca tulisan ini😀

  11. suryaden Says:

    prinsipe aku setuju, orang cuman diajarin pola bukan fakta, tapi bisa jadi pola mengubah sesuatu fakta dilihat dari kesinambungannya juga, entah comot dari mana jadinya yang penting polanya nyambung…😀

    awakmu moco to, kang :-O
    thanks berat ya
    hehe satu korban lagi
    tks again🙂


  12. Aku njilih bukune kang!

    aku yo durung rampung macane.
    jiahaha…


  13. Salam kenal dan salam hangat.

  14. kucrit Says:

    wedan… utek ku kali ini benar-benar gak nangkep meski sudah baca dua kali.. duwur banget bahasa om…
    salam anget ae wes.. suwe gak nyambang.. kangen aku.. hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: