Profesional Delenger

Ada yang sedikit mengusik mataku saat running text di salah satu tipi swasta berbunyi : “MK dituntut profesional dalam menyelesaikan sengketa pilpres.”

Pada acara dialog dengan MK dalam sesi yang sama, textnya agak berubah menjadi : “Mengukur profesionalitas MK dalam penyelesaian sengketa.”

Ini sesuai dengan apa yang menjadi topik bahasan diskusi itu, yaitu tentang profesionalitas MK dalam menghadapi sengketa proses dan hasil pemilihan presiden.

Seingatku dulu, profesional adalah seseorang yang -dengan hasil kerja profesinya- menerima bayaran atas apa yang telah dilakukan sesuai dengan bidangnya.

Bedanya dengan amatir hanyalah di masalah duit.
Profesional menghasilkan duit dari aktivitasnya.
Amatir mengeluarkan duit untuk aktivitasnya.
Sebenarnya aktivitas kedua kelompok itu sama saja tergantung dari niat dan usaha masing-masing individu.


Dari om Wiki diperoleh : Seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya.

Dalam konteks tata negara yang berada pada level tertinggi kenegarawanan, istilah profesional masih juga dikedepankan untuk mengadali khalayak tentang hebatnya seseorang dengan perilaku profesional. Ini terjadi karena begitu mendengar kata profesional, yang terbayang di khalayak adalah seseorang yang memakai jas berdasi, menjinjing laptop, dengan mimik serius, penuh keterbatasan waktu, selalu sibuk menengok arloji dan ponsel, memperhitungkan setiap detik waktunya demi target-target yang hanya dia sendiri yang tahu.

Plesetan nyata ini masih juga terjadi di talkshow tipi tadi malam, dengan bintang tamu seorang pejabat tinggi MK.

“Saya profesional,” pungkas seorang petinggi negara MK.

Pekerjaan dan bayaran adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks profesionalitas. (mengacu ke definisi om Wiki)

Bolehkah kita artikan jika dia tidak dibayar, dia tidak akan pernah mau menyelesaikan pekerjaan negara yang sangat urgen ini?

Atau jika ada yang mau membayar lebih tinggi, maka dia akan berpihak kepada pembayarnya itu?

Dalam konteks ini, seorang amatir akan jauh lebih dihargai demi penyelesaian yang penuh kenetralan.

Adalah satu hal yang aneh jika aparat negara memposisikan dirinya sebagai seorang profesional. Karena faktanya mau bekerja atau tidak, masuk kerja atau mbolos, gaji tetap akan datang sendiri. Pencitraan ini menjadi semacam apologi yang ditumbuhkembangkan oleh aparat pemerintah dalam mendelengerkan publik yang harus dilayaninya. Tidak pernah diusik karena begitu halusnya penetrasi ideologi kapitalis ke dalam pembuluh ketatanegaraan.

Hingga secara pelan-pelan menanggalkan harkat pengabdian dan melunturkan jiwa nasionalis dalam diri aparat negeri ini.

Akan lebih indah jika running text di tipi semalam berbunyi : “Mengukur pengabdian dan nasionalisme MK dalam penyelesaian sengketa pilpres.”

homy, 20090728
salam profesional…
dari seorang amatir

Explore posts in the same categories: Ngomyang

Tag: , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

18 Komentar pada “Profesional Delenger”

  1. wahyu am Says:

    pertamaxxxxxxxxxxxxxx

    sengketa lagi sengketa lagi

    bikin pusing gan😆

    iya sengketa memang bikin pusing.
    tapi di sini ndak ada bahasan sengketa, lho🙂
    eh, emoticonnya kok bisa ketawa di sini. hehe baru tau…
    thanks 4 visiting, om

  2. WANDI thok Says:

    Isi tulisane dengaren abot temen mas?🙄
    ===
    Selama ada syetan, manusia bakal terus bersengketa mas, yuk kita mulai bersengketa yuk😀

    betul, kang.
    seumur hidup syetan bakal berusaha mengarahkan perjalanan manusia menuju neraka.
    tapi di sini ndak ada mbahas sengketa lho

  3. kucrit Says:

    wah.. kalo gitu semakin besar bayarannya semakin tinggi juga keprofesionalannya.. sangar..
    heran melihat tingkah laku orang2 yang ikut pilpres ini.. kapan mau tentrem negara ini, kalo pemimpinnya panas2an terus.. sengketa terus..

    kalo rumusnya berbanding lurus, memang begitu jadinya, crit
    lha kalo diriku sudah ndak heran lagi. siklusnya sudah berputar ke tahap skeptis🙂
    salam

  4. guskar Says:

    pembunuh amatir, dalam waktu yang singkat akan segera ketangkep pulisi.. sementara pembunuh yg profesional, mainnya alus, bisa hilangkan jejak… tak banyak cakap… bayarannya tinggi.

    kemarin saya ketemu klien. di akhir penawaran saya mengatakan : tim saya bekerja profesional, nggak akan mengecewakan bapak, sepadan dengan budget yang bapak keluarkan untuk projek ini.

    profesional itu harus memihak, wong bayarane gedhe!

    tp aku komeng di sini karena dilandasi keikhlasan dlm persabahatan. jd, nggak profesional blas….😀

    ndak profesional tidak berarti outputnya amatiran. wah, kok masih saja terbawa konotasi amatiran.
    buktinya atlet olimpiade didominasi oleh atlet amatir yang selalu saja membubuhkan rekor dunia.
    waktu bosku menginstruksikan : bekerjalah dengan profesional. diriku manggut2, lantas menghitung berapa breakdown gajiku tiap hari tiap jam. dan akhirnya diriku bekerja sesuai dengan standar gaji itu.😀

    • guskar Says:

      tp theme sing iki cen luwih profesional…🙂

      hehe
      lagi ngoprek, gus
      dalam rangka ultah, sih. beberapa jam lagi🙂

  5. eoin Says:

    selama ini, aku ngira, amatir teh yang freelance gitu, maksudnya gak alltime disuatu bidang, hehehe.. dipiki-piki kurang tepat lho kalo amatir itu ngeluarin duit untuk sesuatu yang dikerjakannya, meski kadang memang begitu..
    untuk sementara no komen dulu masalah yang harus dibayar baru mau kerja dan siapa yang bayar lebih akan mendapat keberpihakan lebih pula😛 wekwkekwkwe.. sedang dalam prosesi membersihkan hati dan mengurangi mencela bro😛

    tampaknya dirimu sedang mendapatkan pencerahan yang belum habis sinarnya sehingga harus selalu bertafakur menjaga sinar itu tuntas masuk ke dalam jiwa.
    diriku ndak akan berdebat masalah amatir atau profesional sendiri karena memang kosa kata ini berkembang maknanya tidak sekedar leksikal saja.
    nice 2 meet u again, om

  6. Septa Says:

    nice post…

    Salam

    salam juga🙂

  7. bibit m Says:

    Wah … mumet aq ngetutke omongane wong pinter2! Ayolah, ttg definisi kita buka KBBI (versi Balai Pustaka).
    Profesi = bdg pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dlsb)tertentu.
    Profesional, bisa berarti =
    1) hal yg bersangkutan dgn profesi,
    2) memerlukan kepandaian khusus utk menjalankannya
    3) mengharuskan adanya pembayaran utk melakukannya (lawannya “amatir”)
    Maksud para birokrat itu, profesional dlm arti dia mampu menyelesaikan dgn baik kewajibannya krn sesuai dgn kapasitas (kewenangan) dan keahliannya.
    Yg tdk kita harapkan … mereka (birokrat) memegang prinsip “maju tak gentar … membela yg bayar”!

    salah…
    yang bener ngetutke wong sing dikiro pinter, padahal mung nggambleh…
    thanks om bibit sudah menambahkan wacana baru. dan syukurnya diriku masih bisa mengambil butir ketiga dari definisi di atas🙂
    memang kelemahan diriku atau kita pada umumnya adalah mencari referensi. (thanks sudah menyempatkan mbuka KBBI).
    KBBI diriku ndak punya, KBBI-online juga ndak ada. maka om wiki menjadi media rujukan, yang syukurnya sesuai dengan yang kuharapkan. (jadi inget pas skripsi. kesimpulan sudah jadi, baru ngolah dan nganalisa datanya)
    tapi secara umum, penafsiranku dari definisi di atas, ketiga butir tersebut disambungkan kata ‘dan’ bukan ‘atau’. setidak-tidaknya masih sesuai dengan ‘pekerjaan’ dan ‘bayaran’ seperti dalam postingan ini.
    salam tararengkyu, om
    *menunggu launching blognya🙂


  8. ya, ya, ya, kata profesional ini agaknya mengandung penafsiran ganda. dari sisi idealisme dan dari sisi pragmatisme. dari sisi idealisme jelas orang ndak akan bisa kerja secara profesional kalau ndak punya keahlian. sedangkan dari sisi pragmatisme, orang ndak mau bekerja kalau ndak ada bayarannya. walah!

    menarik sekali, om sawali.
    dan aku memakai sisi idealismeku untuk memvonis sisi pragmatisme orang lain dalam subjek ini.
    weleh.. lha kok jadi skakmat gini :-O

  9. Nisa Says:

    kalau saya super amatiran ^^ *lhoo… gak nyambung ya*

    masih nyambung kok🙂

  10. Den Mas Says:

    begitu halusnya penetrasi ideologi kapitalis ke dalam pembuluh ketatanegaraan

    wah, keren neh bahasanya. Jadi tersindir saya (saya kapitalisnya :D). Pekerjaan saya (ndak tahu sebagai profesional apa amatir :D) sering membuat saya frustate.
    Tapi dengan alasan nasionalisme sebagai spirit dalam bekerja kayaknya seru juga. Bekerja untuk membangun negeri🙂

    hanya suara haati saja.
    masih banyak celah untuk menggugurkan argumentasi ini.
    setidaknya kita sudah bersuara.
    betul begitu?🙂

  11. Jaya Says:

    moga aja MK bekerja sesuai dengan kemampuan terbaiknya, gak mengingkari kebenaran, wes itu aja,😀

    semoga.
    kita doakan saja🙂

  12. Aldy Says:

    Negeri yang tercinta ini memang kacau penggunaan bahasanya, para pejabat tinggi menggunakan tatabahasanya sendiri. Dengan harapan menjadi sebuah trend…eh kemana ?, oh ya, benar mas jika ada pejabat yang menyebut dirinya profesional, karena emang intinya bekerja dan dibayar, bukan bekerja dan dibayar dengan kualitas. Hmmm mumet dah.

    bekerja dan dibayar dengan pengakuan.
    sedangkan gaji rutin adalah bentuk dari apresiasi terhadap pengabdiannya, bukan bayaran atas hasil kerjanya.
    begitu mungkin ya🙂

  13. didta Says:

    Jajah malaysia!
    Salam (_ _)

    wong edan

  14. itempoeti Says:

    profesionalisme sesungguhnya hanya bisa diimplementasikan pada wilayah fungsi, peran, posisi, tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang didasarkan pada code of ethics.

    itu sebabnya ada kode etik profesi untuk menjaga profesionalisme.

    itu sudah termasuk semuanya dunk.
    nek bahasa rakyat jelatanya : kerja dan duit.
    ndak kerja ndak dapat duit. itu satu kode etik tersendiri.

  15. nadya Says:

    muantapz … itu emang latah n salah kaprah kali ya, “profesional” … hueekkksss ….

  16. nadya Says:

    muantapz … itu emang latah n salah kaprah kali ya, “profesional” … hueekkksss …. selama digaji ya tetep profesional namanya … gimana sih tuh tv

    maksud di sini justru terbalik, nad.
    kalo sudah dapat bayaran rutin yang besarannya tidak dipengaruhi oleh kinerja, maka jangan sebut profesional. harus ditekankan kepada pengabdian.
    makasih, nad

  17. Zulhaq Says:

    profesional???
    suatu hal yang masih jauh dari orang sinting
    lagi mencoba mengabdi dengan sebaik2nya dalam hal2 yg postif, teruatama yg berhubngan dengan kelangsungan hidup dunia dan akhirat

    mantabs…
    berarti bisa berkurang waktu bw-nya dunk🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: