Power of Asa

Ada saatnya kita mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap asa yang kita angankan, hingga timbunan asa itu justru jatuh berdebam menimpa diri kita sendiri. Ada kalanya pula di suatu waktu tertentu, sekedar menggapai sedikit asa pun terasa susahnya.

Diriku teringat cerita Arswendo Atmowiloto dalam bukunya Kisah Para Ratib -yang bertutur tentang kehidupan di dunia penjara- menyentil beberapa hal yang berkaitan dengan asa atau harapan ini. Sesuatu yang memberikan pondasi bagi rohani yang jasmaninya terkungkung di dalam lingkar dunia tersendiri. Di balik jeruji besi.

Wajah-wajah tanpa ekspresi yang telah memfosil menyatu bersama hari-hari anonim yang selalu berputar,
terlewatkan dengan meringkuk di sudut tembok sel dengan tatapan nanar.
Menyongsong hanya sejengkal pandangan menuju ke garis-garis vertikal jeruji hitam bau asam hasil oksidasi.
Yang membatasi dua dunia,
yang berlawanan pola dengan kerut horisontal di jidat yang semakin menebal.
Berbanding lurus dengan menebalnya telinga dalam menyaring suara-suara batin retoris dari kawan satu sel.
Berharap hanya dari seuntaian doa untuk pergantian hidup, yang masih tersisa di sanubarinya.
Bahwa telah dijanjikan kehidupan yang lebih baik di dunia antah berantah sana.


Apalagi yang bisa diharapkan di dunia ini dari orang yang menunggu hukuman mati?
Tidak ada, kecuali satu hal : permohonan grasi kepada presiden.

Hidup yang berat di dalam penjara mengharuskan narapidana mati mempunyai motivasi untuk bertahan hidup di dalam lingkungan yang sangat keras ini. Motivasi hanya bisa didapat dengan landasan asa-asa yang menjadi obsesinya. Dan satu-satunya harapan itu adalah pengajuan permohonan grasi ke presiden.

Satu-satunya asa ini yang selalu disandang ke mana pun mereka bernafas dan berinteraksi. Mereka lebih suka memeluk asa itu dalam-dalam di balik lipatan jiwanya. Mengajaknya bergumul bersama semangat akan hidup dan kehidupan. Dan memotivasi setiap tindakan di dunia terasing ini.

Ketakutan yang amat sangat jika kehilangan satu-satunya asa yang tersisa ini membuat mereka bersikukuh untuk tidak melepaskannya, tidak mengajukan grasi, -karena jika grasinya ditolak, tidak ada lagi yang bisa menjadi sandaran mereka untuk hidup.

Ketakutan akan kehampaan sisa hidup tanpa asa, kekosongan pikir, melompong bagaikan sekumpulan milyaran sel tanpa ruh, hingga menimbulkan satu motivasi untuk bisa menempatkan diri pada tataran yang lebih bersahaja.

Hanya sedikit dari mereka yang mengajukan grasi dengan berbagai debar rasa dan pengharapan terakhir.

Keputusan inilah yang menyebabkan mereka memilih berjalan tegak menuju lokasi tempat 12 orang anggota regu tembak berbaris tegang. Menantang para eksekutor itu untuk melubangi dadanya yang terbusung, dengan 3 lubang pelor. Dengan masih berpengharapan akan ada keajaiban pengampunan pada sepersekian detik sebelum ruh melayang dari raga.

Terpidana mati itu, mereka rela gugur dengan tetap mendekap satu-satunya asa yang tersisa.

Nun di dunia luar ini, banyak manusia beradab yang menempatkan dirinya sebagai terpidana mati dalam hal obsesi akan asa ini. Pengambilan keputusan terhadap status asa ditempatkan pada posisi sangat sulit karena ketakutan yang amat sangat akan kehilangan asa itu.

Meskipun sebetulnya itu bukan satu-satunya asa,
meskipun masih terbuka peluang untuk kembali menggali asa yang lain
pada dimensi waktu yang berbeda
dan objek yang berbeda pula.
Karena ini adalah dunia luar, dunia nyata yang dalam sedetik pun bisa terjadi berbagai macam kemungkinan absolut akan hidup.

Namun mereka lebih suka mengambangkan keputusan akan status asa itu, menunggang waktu yang terus berputar, demi menisbikan peluang kehilangan asa. Membiarkan obsesi terombang-ambing dalam biduk waktu tanpa tepi.

Hanya mengharap asa itu tetap terapung,
tanpa bersiap jika asa itu tenggelam,
tiada bernyali menjaring asa itu ke permukaan.

Setidak-tidak mereka masih bisa berucap,”Aku masih mempunyai asa.”

Dan itu disemburatkan dengan wajah-wajah yang cerah dalam kegembiraan semu, di tengah kegalauan akan kehilangan asa itu.

________________________________________________

Barangkali lirik ini bisa melupakan kegalauan meski sekejap.

Pak Tua by Elpamas

Kamu yang sudah tua, apa kabarmu
Katanya baru sembuh, katanya sakit
Jantung, ginjal, dan encok, sedikit sarap
Hati-hati Pak Tua istirahatlah
Diluar banyak angin

Kamu yang murah senyum, memegang perut
Badanmu s’makin tambun memandang langit
Hari menjelang magrib, Pak Tua ngantuk
Istri manis menunggu, istirahatlah
Diluar banyak angin
Pak Tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah

Pak Tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja
Pak Tuaa

Mohon maaf bagi yang tidak ngeh…
Hanya jawaban konsultasi untuk seorang sobat.

Explore posts in the same categories: Puishit..., Satire

32 Komentar pada “Power of Asa”

  1. WANDI thok Says:

    Waw, luar biasa mas Wisnoe, sekarang tanggal muda, sumangat muda, apdet lebih awal pokoke.😀 Lanjutken : Lebih cepet lebih dapet banyak komeng😀

    hehe…
    ini juga karena mengintai dirimu, kang…
    pokoke iso tanek anggone tilem saiki😀
    thanks, kang

    • Den Mas Says:

      terpaksa nebeng pak guru biar bisa dapat barokah pertamax😀

      eh, yang arswendo itu belum pernah masuk daptar belanja buku saya mas noe. makasih dah mengingatkan. Yakin besok hunting mumpung tanggal muda😀
      tentang grasi itu ternyata sampai segitunya yah? sampai mereka ketakutan untuk meminta satu2nya asa itu, justru karena ketakutan untuk kehilangan sesuatu yang belum tentu akan dimiliki. it’s touchy.
      tapi ketakutan akan resiko juga berarti menghilangkan kesempatan itu kan? tapi emang benar-benar pilihan sulit, hidup tanpa asa atau memiliki asa yang belum tentu terwujud

      bukunya itu tahun 90-an, ndak tahu masih nampang di toko buku atau ndak.
      buku ini termasuk daftar buku favoritku dulu. bolak balik tak baca. mesam mesem. tahu sendiri gaya arswendo bercerita🙂
      sayang buku ini ikut lenyap pada saat jaman repotnasi dulu😐
      mungkin kalo langsung baca bukunya, bisa langsung terbayang suasana yang sebenarnya di sana.
      jadi no comment untuk komengnya🙂

  2. patahati Says:

    kunjungan tengah malam, malah jadi yg keduax… salam

    salam juga
    replynya baru bisa siang pas sitirohat🙂

  3. Septa Says:

    mantab kang…
    Nice post.. sampe2 bingung mo komen apa..

    Salam

    bingung karena kontennya atau bingung karena kalimatnya acakadut ?
    pegangan saja ya…
    salam

  4. D3pd Says:

    haa, chayoo, ^_^…V basgus-basgus nya…

    terismaskasih terismaskasih🙂

  5. Rachel Says:

    walah power asa memang sungguh luar biasa…

    dari satu sisi memang begitu, tapi dari sisi lain entahlah
    salam

  6. D3pd Says:

    Bener ya, tanggal muda itu tanggal yang di nanti2kan oleh semua orang, ^_^…V

    tau ajah…🙂


  7. harapan bisa menjadi sebuah kekuasan dahsyat dalam dinamika hidup, mas noe. namun, ketika harapan itu tak kunjung tercapai, banyak yang gagal me-manage-nya sehingga harapan berubah jadi keputus-asaan.

    dari atap langit langsung terjun ke dasar samodra. barangkali begitu kali ya, om.
    hanya karena konsistensi dalam memanage aja.
    salam sukses, om

  8. sakurata Says:

    Selain mohon grasi ke presiden ada lagi mas, memohon ampun atas segala kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan🙂

    setuju berat, bro🙂

  9. alamendah Says:

    harapan
    sesuatu yang musti kita punyai!

    betul, om
    harus itu🙂

  10. guskar Says:

    terpidana yg mengajukan grasi, sudah tidak punya satuan waktu lagi
    setiap tarikan nafasnya, setiap langkah kakinya, setiap doanya adalah harapan itu sendiri.
    jika akhirnya mati, setidaknya ia sdh berusaha setia kepada asa-nya.

    kita, yang notabene tidak sedang mengajukan grasi, punya asa yg demikian melimpah..gunakan dng cara seksama dan bijaksana..

    @wandithok : tak tambahi kang, noe iki semangate lagi makantar-kantar….🙂😀

    mantabs.
    kalimat terakhir itu intinya, gus.
    thanks sudah menyederhanakan bahasa khayalku:-)
    masalah semangat makanta-kantar itu, ini mungkin terpengaruh tulisan sendiri.
    *jadi punya ide postingan lagi🙂

  11. heri Says:

    harus bisa!

    siap!


  12. Never surrender, never give up! pidato dua patah kata winston churcill yang kemudian dibenarkan oleh sejarah. ketika dalam satu episode PD II sekutu yang adalah inggris di dalamnya dalam pukulan telak dan keputus-asaan yang hampir menyerah kalah dari nazi. dengan keuletan & keyakinan bahwa “pada akhirnya” kita akan menang, lambat laun keadaan berbalik.

    sementara manusia-manusia di dalam penjara memimpikan kebebasannya, sebagian manusia yang sudah bebas memenjarakan dirinya sendiri, dengan batas2 ketidakmampuan yang diciptakannya sendiri..


  13. nu, kowe rene wae, nggowo kamera. tanggal 17 agustus cah2 wanadri tim cartenz piramid blm jadi ke papua, kegiatan krn bnyk anggotanya sing nongkrong neng palembang : pemanjatan tebing selero lahat, pengibaran bendera, moto2 koyone apik. akomodasi tenda ditanggung. transportasi landrover palembang lahat jg ditanggung. piye? renene numpak lion wae murah.

    asem ik.
    ndan, iki masalahnya ada di waktu. berapa lama di sana.
    asem tenan ik…
    sebetulnya diriku sudah pengen menghindari pendakian solo kaya di lawu tahun lalu, tapi apa daya bocah-bocah wis podo bertebaran. tahun ini mungkin sendiri juga kalo si jull ada halangan. semoga ketemu konco di puncak.
    nanti tak komeng ke sana untuk detilnya.
    tengkyu for invite me🙂

  14. nadya Says:

    aku mau nangis baca yang ini ………… T_T

    yang bagian mana ya, nad…
    sedalam itu kah?
    rasa-rasanya kalo ndak punya pengalaman pribadi, ndak bakal semelo ini deh.🙂
    ok, selamat mau nangis, nad
    thanks, ya

  15. itempoeti Says:

    hehehehe…
    elpamas… eling jaman enom… halaaaahhhh…😀
    elpamas…, elek2 Pandaan mas… wakakakakak…😀

    apik tenaaaannn…
    jeru tenaaaannn…

    tentang asa…, jadi teringet postingan di rumah yang bercerita tentang Kotak Pandora…

    elpamas ki elek2 Pandaan mas ? serius?
    tak pikir ngambil nama latin atau spanyolan gitu.
    wah, kalo juragan nyang ngomong jeru, diriku jadi tersipu2😐
    btw, kang, kotak pandoramu memang dahsyat. runtut dan tepat sasaran…

  16. grubik Says:

    semua berawal dari sebuah asa…

    betul
    hingga jadi tulisan ini🙂


  17. lagunya itu lho sahabat
    blue suka banget nyanyi bareng yukk……….kamu yang sudah tua apa cabarmu,…………
    salam hangat selalu

    salam hangat juga
    thanks udah mampir di mari, kang blue.
    mantabs…

  18. endang kusman Says:

    Hallo De Wisnu…
    Unikkk…manteb dan dalam imajinasinya, bapa juga kalah hehe….
    sukses ya….

    wah, cuma ngomyang aja kok, om
    makasih sudah singgah, om🙂

  19. agnessekar Says:

    Selamat pagi Delenger, Berharap dari dukungan doa untuk pergantian hidup yang disodorkan di depan…….
    Ada saatnya kita mempunyai keberanian yang sangat tinggi, memotivasi banyak orang terhadap hidup ini, hingga timbunan asa itu justru jatuh menimpa diri kita sendiri, Ada kalanya…saat-saat memerlukan bantuan dan dukungan..sekedar menggapai…. yang masih terasa traumanya….
    Delenger, saat ini saya sedang merasakan trauma yang sangat menekan, saya baru saja mengalami kejadian yang sangat menakutkan saya dan sedikit mengganggu ketenangan hidup saya, 2 hari yang lalu saya sekeluarga ( saya,suami dan anak saya yang bungsu ) pergi keluar rumah dari pukul 8 sampai dengan pukul 10.00, ketika kembali ke rumah dengan sangat terkejut berpapasan dengan pria yang baru keluar rumah masuk lewat pintu depan sambil membawa tas saya yang saya gantungkan di belakang pintu kamar. Saat itu saya belum nggak engeh siapa pria yang baru keluar tadi, sesaat baru saya sadar rumah saya di bobol maling semua pintu-pintu dibongkar dan kelihatannya malingnya profesional karena depannya masih rapih tapi pintu dalamnya rusak, yang tersisa adalah ketakutan yang seumur hidup baru saya alami rasanya hidup ini tidak berdaya, saya merasakan sekali ketakutan tinggal dirumah, apalgi kesehariannya saya memang sering hanya berdua saja dengan pembantu, rupanya kita tidak mampu menjaga diri sendiri. Ketakutan itu begitu mencekam karena selain papasan langsung dengan malingnya, dan maling itupun dengan mengeluarkan suara yang menakutkan dan mimik wajah yang menyeramkan. Saya mencoba untuk melupakan hal tsb dengan lebih meningkatkan doa dan penyerahan diri, tapi sampai saat ini koment ini di ketik saya masih waswas dan ketakutan, setiap ada kendaraan berhenti di depan pagar langsung jantung ini berdetak lebih cepat. Delenger dukung saya supaya mampu mengatasi permasalahan ini dengan cepat, karena memang aktivitas saya sangat terganggu dengan kejadian ini, perasaan takut masih mencekam hati saya dan saya masih takut keluar rumah, demikian delenger, semoga sahabat-sahabat blogger bisa membantu mempercepat menghilangkan trauma ini. Terima kasih tulisannya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

    mbak agnes yang baik,
    komeng sepanjang ini bisa dibikin postingan tersendiri🙂. mungkin karena blognya mbak agnes bertema lain, makanya ndak dimasukkan ke dalam postingan tersendiri. mungkin begitu ya mbak.
    terimakasih banyak untuk komengnya. saya merasa tersanjung dengan keseriusan dalam mengatensi postingan ini.
    juga merasa canggung menerima konten dari komeng ini, tentang hakikat kenangan masa lalu dan trauma.
    saya ikut prihatin dengan kejadiannya, khususnya efek trauma yang susah sekali dihilangkan.
    saya punya pengalaman yang hampir sama, barangkali nanti bisa saya bagikan juga. mirip. dan sekarang pun bekas traumanya hanya tinggal sedikit lagi.
    nanti saya mampir ke sana, mbak.
    salam, semoga tetap tabah…
    dan diriku yakin pasti bisa kalo dilihat dari karakter tulisannya…

  20. wahyu Says:

    orang yang sudah tidak punya asa memang ibarat mayat hidup. orang hidup yang mati.

    terpidana mati. setidaknya keteguhannya memegang asa yang tinggal satu2nya itu menunjukkan insting dasar bertahan hidup. Karena kesadaran ingin tetap hidup, mereka melewatkan satu2nya kesempatan diampuni demi menjaga asa terakhirnya. Ironi..

    dan penantian eksekusi yang amat panjaaang dan tak pasti sudah menjadi siksaan tersendiri bagi terpidana mati.

    Namun mungkin ada sisi positifnya juga. terpidana mati adalah satu2nya manusia yang (setidaknya) sudah tahu kapan ajal menjemput. sehingga masa penantian dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bertobat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan selanjutnya..

    artikel yang mengharukan.

    *’Pak tua’.. lagu sedih yang dinyanyikan tanpa kesedihan.

    weeihh…
    om, semua kok berkomentar menyedihkan ya…
    padahal ini tentang asa yang menjadi landasan motivasi.
    tentang sisi positifnya itu, dengan asumsi bahwa sisa hidup di penjara mampu dipakai sebagai pengobat atau pelunas hutang2 dosanya di masalalu. namun ini pun hak prerogatif Tuhan. manusia hanya bisa berusaha saja.
    thanks, om

  21. yustisiana wulan Says:

    thanks ya Om Noe…kegelisahan di atas..kecekakaan di bawah…pak tua sudahlah…huahahahaha kok ya jik eling to ya..hmmm ok,great!

    semoga bermanfaat🙂

  22. omagus Says:

    masih inget aja lagu itu…?
    ada mp3nya nggak..?
    boleh dong..mas.

    ndak ada, om.
    dulu pernah ada kasetnya tapi teknologi menyingkirkan keberadaan fisiknya😦
    padahal kan bisa konvert ke digital mp3. gaptek sih…

  23. bayu200687 Says:

    Hanya mengharap asa itu tetap terapung,
    tanpa bersiap jika asa itu tenggelam,
    tiada bernyali menjaring asa itu ke permukaan.

    seeepppp!!!!
    ini dia. semalem nonton XXX. ada yang menyentil. seorang yang ‘liar’ dan tangguh seperti harimau sekalipun; ketika dihadapkan pada dinding penjara, tak berdaya. karena tak ada lagi yang tersisa. tak ada lagi keliaran, atraksi teatrikal menantang maut. padahal, itu adalah hidupnya. ketika itu direnggut darinya, maka ia tak ubahnya seperti manusia linglung. seperti dipenjara.

    namun bagi sebagian manusia, ketika asa itu di gantung ditempat yang paling niscaya, tak akan ada tembok, penjara, atau apapun namanya yang dapat mengungkung hidupnya

    semangat!!!
    a mans’ dream will never die!!!

    eh, film XXX masih eksis?
    komengnya mantabs sekali. terimakasih sudah menambahkan satu point penting lagi.
    digantung di tempat yang paling niscaya. mantabs.
    salam
    apdet dunk😛

  24. Pakde Cholik Says:

    Saya sebenarnya agak heran dengan pelaksanaan hukum mati. Pembunuh mas Purwanto itu menunggu sekitar 25 tahun seelumnya akhirnya diekseskusi.
    Lha ini mirip dihukum 2 kali, hukuman kurungan ya hukuman mati.
    Harusnya perkara2 yang diancam hukuman mati itu diprioritaskan.
    Salam hangat dari Surabaya.

    betul.
    ini yang juga membuat semua orang bingung.
    ada yang bilang memberi kesempatan untuk mengajukan grasi,
    ada yang bilang untuk kesempatan tobat.
    tapi narapidana mati di penjara itu disegani, kok.
    ndak ada yg berani ngelawan.
    salam, pakdhe

  25. Ayam Cinta Says:

    gw masih punya asa…. Thx bos🙂

    mantabs…

  26. Nisa Says:

    wahh… saya rasakan kobaran dan lecutan di sana… kerenn… >_<

    _______
    ~noe~ :
    mantabs…
    terimakasih untuk apresiasinya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: