Bukan Resensi : Demokrasi La Roiba Fih

Demokrasi-La-Roiba-FihSetelah lebih dari dua minggu berkutat dengan buku terbaru karya Cak Nun ini, barulah diriku bisa nge-klik satu frekuensi dengan yang ditampilkannya. Sebenarnya hampir tidak ada beda dengan gaya tulisan Cak Nun pada umumnya, yang menggunakan kalimat baku dengan kandungan renungan yang tidak baku, lebih dari sekedar subjek predikat objek dalam kalimat berita.

Jika sepintas membacanya, dalam ruang dan waktu yang paralel dengan kegiatan lain, barangkali kita akan menilainya sebagai memusingkan, biasa saja, atau malahan sebagai sampah. Dan barangkali kalimat : “numpang lewat”, “good posting”, “nice post”, “wah dalam banget”, “kunjungan…” , “demokrasi yang mantap…”, dan komentar sejenisnya akan berhamburan begitu saja saat kita mencoba fast reading buku ini.


Secara garis besar, Cak Nun berbicara tentang fenomena yang sedang hangat di negeri ini. Mulai dari pemilu, demokrasi, reformasi, korupsi, hingga tentang musik, yang semua dikaitkan dengan tuntunan agama universal. Menariknya adalah, Cak Nun menempatkan dirinya pada posisi pro terhadap kejadian apapun yang sedang berlangsung, tentu saja dengan justifikasi yang menarik, out of the box, dan tidak meninggalkan satire yang selalu membuat pembaca merasa getir terhadap isu yang diangkat.

Berhubung diriku belum punya kapasitas untuk meresensi buku karya penulis level atas, sehingga ada kekhawatiran resensi yang kutulis nanti malah mengurangi nilai dari bukunya sendiri, diriku cuplikkan saja beberapa paragraf tentang sebagian isi buku ini.

Berikut sekilas Cak Nun bicara tentang demokrasi :

Al Quran boleh bilang bahwa dirinya la roiba fih, tak ada keraguan padanya. Tetapi menurut undang-undang di negeriku orang boleh meragukan Al Quran, tidak melanggar hukum jika meninggalkannya, bahkan terdapat kecenderungan psikologis empirik untuk menganjurkan secara implisit sebaiknya orang menolak dan membencinya.

Tetapi tidak boleh bersikap demikian kepada demokrasi. Demokrasi-lah la roiba fih yang sejati. Di dalam praktik konstitusi negeriku demokrasi lebih tinggi dari Tuhan. Tuhan berposisi dalam lingkup hak pribadi setiap orang, sedangkan demokrasi terletak pada kewajiban bersama, dan itu berarti juga kewajiban pribadi. Orang tidak ditangkap karena mengkhianati Tuhan, tetapi berhadapan dengan aparat hukum kalau menolak demokrasi.

Dan ketika bicara tentang korupsi :

Puluhan juta keluarga bisa hidup tanpa rasionalitas ekonomi, gaji tak cukup untuk makan keluarga tapi kredit motor, tak ada kerjaan tapi merokok sambil main catur, kalau ditanya bagaimana makan minum keluargamu, mereka menjawab : “Bismillah, Cak”. Ahli statistik di belahan bumi sebelah manapun tidak pernah mencatat makanan utama bangsa Indonesia adalah bismillah. Dan sesungguhnya apa yang terkandung di balik “bismillah” itu adalah kelonggaran-kelonggaran sistem budaya korupsi di berbagai celah kehidupan yang memungkinkan mereka tetap bisa survive.

Tidak gampang mengukur kadarnya sebagai “penyakit sistem” (struktural), sebagai “penyakit manusia” atau “penyakit budaya” suatu masyarakat yang berada dalam sistem yang sama. Artinya dari sejak dini kita sudah melakukan korupsi iman, ilmu, cara berpikir, sejatinya isi hati, setiap jenis perilaku dari yang sehari-hari kultural sampai yang kenegaraan dalam konstitusi dan birokrasi.

Begitulah sekilas bukan resensi buku Demokrasi La Roiba Fih karya Emha Ainun Nadjib.

Salam…

Explore posts in the same categories: resenshit

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

40 Komentar pada “Bukan Resensi : Demokrasi La Roiba Fih”

  1. KangBoed Says:

    pertamaaaaaaaaaaaaxxxxxxxzzzzzzz

  2. KangBoed Says:

    WAAAAAAKAAAAKAAKAKAKAK sungguh negeri KAYA RAYA tapi MISKIN segalanya

    ______
    ~noe~:
    betul
    miskin jiwa😐
    karena mereka ndak pernah bw ke kangboed.com sihhh…🙂
    penuh pencerahan…

    • KangBoed Says:

      waaaaaaaaaaah jarang jarang saya dapat pertamaaaxxxz di ruangan sahabatku mas NOE DELENGER.. senangnya hatiku
      salam sayang untukmu

      ______
      ~noe~:
      satu kebanggaan juga bagi diriku kalo kangboed bisa pertamax di sini.
      rencana mau tak undang begitu posting tapi sudah nyamper sendiri.
      datang tak dijemput
      pulang tak diantar…
      salam damai kangboed🙂

      • perigitua Says:

        kqkqkkq… di urutan nyang sebelumnya, sampeyan kok pasrah banget mas noe diklimaxx i karo kang boss… kqkqkkq…

        ______
        ~noe~:
        klo untuk kangboed, apa ajah deh…

  3. m4stono Says:

    kok komengnya jin botol semua……nais inpo gan…..qiqiqiqiqiqi

    ______
    ~noe~:
    sangar tenan og kang

  4. nenyok Says:

    Salam
    Lom nangkep betul apa intinya tp baca Caknun bicara demokrasi, keknya sebuah satire yang keren abis. aku pernah denger sebuah guyonan, katanya saking dijunjungnya demokrasi dan tidak boleh adanya penolakan krn ini satu2nya yang dianggap legal di muka bumi ini saat ini, mungkin asmaul husana mesti nambah satu yaitu klo Alloh Maha demokratis..wakakakakakak..*plis deh*😀
    *afwan klo komennya OOT*

    ______
    ~noe~:
    ney, aku copas maha demokrasinya ya…
    barangkali dibutuhkan pas tongkrong di cakruk🙂

    • nenyok Says:

      Salam
      Eh trims Mas, resensi ini menarik dan membuat tertarik cari dan baca bukunya..
      *mo ke bookshop online, doain mg dapet ya*

      ______
      ~noe~:
      selamat berpusing ria, ney🙂
      biasa bayar online pake apa?


  5. mampir, di tunggu kunjungan baliknya yaaaaa

    ______
    ~noe~:
    sudah…

  6. morishige Says:

    saya belum baca, mas noe. entah bakalan baca atau nggak saya belum tau.:mrgreen: karena itu saya baru bisa bilang “mantap, gan.”

    pernah waktu saya merekomendasikan bukunya Emanuel Kant “Menuju Perdamaian Abadi” kepada seorang kawan.
    belum sempat saya menyelesaikan promosi, dia udah balas begini, “sori nih bro. terus terang waktu liat judul buku ini gua udah mikir kalo semua yang di dalam sana bullshit.” saya langsung tertegun waktu dia bilang begitu.

    kalau nggak salah di La Politica saya pernah baca sebuah paragraf yang gagasan intinya: di dalam sebuah negera yang ideal, mutlak diperlukan keberadaan filsuf.
    ya, filsuf-filsuf macam cak nun ini lah. yang mikirin sesuatu yang ideal. biar pemerintah juga bikin kebijakan yang mengarah ke arah ideal.

    sekali lagi, “mantap, gan!”:mrgreen:

    ______
    ~noe~:
    setiap orang punya minat masing2. hanya kadang beberapa dari kita melampaui batas minat orang lain dengan sifat provokatif.
    salam untuk kawannya. bilang saja gini : judul kok dilihat, bukannya dibaca. makanya komennya OOT mirip para fast reader.

  7. nakjaDimande Says:

    HA..HA.HA.. bundo nyerah klo baca sketsa berbalut kritik tajam punya caknun.. banyak metafor yang mengharuskan bundo mengerahkan semua kecerdasan yg bundo miliki untuk memahaminya.. dan selesai baca biasanya bundo lemas dan masih saja belum ngarti..

    keadaan ini sama persis apabila bundo membaca halamannya delenger..! tapi tentu saja di halaman delenger bundo ga mau hanya bilang “nice posting” atau “numpang lewat” karena sang delenger tak pernah keberatan bila bundo komen sembarangan dan membolehkan komen” yang tidak cerdas dari bundo **terpaksa..

    hmm, tapi bundo suka puisi caknun, bundo suka sama anaknya.. karena namanya mirip sama noe.. hihi **dah ah.. tak baik terlalu OOT😀

    ______
    ~noe~:
    baca caknun : mengernyitkan dahi lantas manggut2, ringan, plong, dan menambah wawasan
    baca delenger : mengernyitkan dahi lantas geleng2, nepuk2 kepala, pusing 7 keliling, mblenger-kelenger😀
    dulu caknun terinspirasi namaku pas ngasih nama anaknya🙂

    • perigitua Says:

      eh iya.. bener.. baru nyadar aku, kenapa masih manggil cak nun bro.. mendingan pak e wae, kan lebih afdoll….
      kqkkqkqkkq… kaboorrrr***********

      cu……….

      ______
      ~noe~:
      caknun itu brand
      pak’e itu status🙂

  8. D Says:

    Aku baru aja beli bukunya weekend kemarin. Tapi Cak Nun memang luar biasa. Walaupun beliau selalu bilang dia hanyalah lantaran/mediator dari semua tulisan-tulisannya, dan Allah lah yang menuntunnya menulis semua itu.

    ______
    ~noe~:
    ah, d
    berarti diriku mendahului bikin resensinya. tapi tetaplah upload resensinya juga, sebagai perbandingan nantinya.

  9. bri Says:

    __ini lagi ngomongin politik ia…trs kpn geli2an?__
    _____salamkenal daribri..selamatberpuasa yg ke13ia bsk__

    ______
    ~noe~:
    lam kenal juga🙂

  10. perigitua Says:

    haddiirrr….
    malam2 mengunjungi sahabat tersayang… Apa kabar sahabat? smoga bahagia selalu menyertaimu….

    hhmmm… ini komenxx yang repot buatku bro…, kalo komenx review nya dah oke banget tuh…, cuplikannya dah mengena sekali…
    kalo muatan cak nun agak repot karena aku lom baca, mo beli juga repot harus ke bandung kayaknya, di purwakarta nggak ada tuh…
    cu…

    ______
    ~noe~:
    boleh pesen lewat diriku🙂
    fee 7% aja😀
    di gramedia harusnya ada lho

  11. guskar Says:

    he..he.. akhirnya dirimu bikin resensi juga.. (di postingan mana ya, dirimu pernah bilang lg baca la roiba fih ini)..
    diriku blm kelar baca buku itu noe… dan pasti akan makan waktu berbulan2..
    kadang klo lagi mood baik, buka2 slilit sang kyai… atau buku caknun yg lain.. bacanya ngacak gitu..
    asli…susah mmg bikin resensinya..
    eh.. di post terbaru, Meong jg mengutip buku cak nun🙂

    ______
    ~noe~:
    di komeng postingan pancasilanya gus mus.
    betul, kirain gampang. dulu dengan santainya mengkritik resensinya den mas. jiahaha…
    ternyata…

  12. bibit m Says:

    Cak Nun lagi mati kreatifitasnya … nyanyiin lagu2 agama lain (pdhl itu termasuk cara ibadah mereka) … meski syairnya diganti. Masak niru2 Malaysia yg pusing cari identitas …

    ______
    ~noe~:
    justru karena kreatifnya di luar batas

  13. genial Says:

    hebat manusia satu ini..
    saiia termasuk fans berat Cak Nun…🙂

    ______
    ~noe~:
    tapi tetap jangan dikultuskan🙂

  14. Iklan Gratis Says:

    Memang iya, tapi menurut para orang-orang yang sangat mementingkan agama, hukuman dari tumah atas yang nantinya akan menyusul akan sangat berat karena menghianati Tuhan, dibandingkan hukuman aparat di sebuah negara!
    Tapi kadang ada juga mereka yang merasakan hikmah besar dari menjalankan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an, walaupun bukti itu sulit dinalar!
    Iklan Gratis

    ______
    ~noe~:
    tumah itu apa ya?

  15. didta Says:

    woh panjang… jadi males baca😛
    mantep pak

    ______
    ~noe~:
    didta ternyata mahasiswa ya.
    kirain…

  16. muamdisini Says:

    tidak ada keraguan dalam demokrasi maksudnya yah…
    menjadikan demokrasi di atas segalanya bahkan melebihi Tuhan…
    statement seperti itu yang justru menjadikan saya ragu akan demokrasi…

    ______
    ~noe~:
    bukan sebaliknya, mas?
    statement seperti itu yang justru membantu mengungkapkan keraguan anda akan demokrasi…
    jangan dibolak balik.😛
    statement itu tidak mempengaruhi apa-apa lho, apalagi baru disimpulkan sepersekian detik setelah bw.


  17. sahabat
    blue senang dapat resensi dari buku buku yang memnga patut dibaca
    met menikmati sajian puasa yah
    salam hangat selalu

  18. endar Says:

    waduh saya nggak mudeng demokrasi mas… cuma heran saja kok bisa ya cak nun merangkai kata-kata menjadi kalimat yang enak untuk dinikmati

  19. itempoeti Says:

    itu kopiahnya cak nun kok di atasnya ada lubang kayak lubang koin buat celengan???😉

  20. kawanlama95 Says:

    Tulisan Cak nun memang selalu menari dan diulas dan ketika kita baca selalu energi berfikir kita keluar dan mencari makna dan apa yang dimaksud dari isi tulisan yang dibaca. sehinga dengan membaca tulisan cknun kita diajarkan untuk berfikir dan merenung. Salut dengan isi postingan ini.

  21. Zulhaq Says:

    saya kagum sama beliau, tapi nggak pernah membaca bukunya, aneh kan om?

  22. musafir Says:

    i love cak nun.

    Salam


  23. I value the article post.Really thank you! Great.


  24. Superb, what a weblog it is! This website gives valuable facts to us, keep it up.


  25. Usually I do not learn article on blogs, but I wish to say that this write-up very pressured me to check out and do so! Your writing style has been surprised me. Thanks, quite great post.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: