Hiatus Analitic

Belasan pemuda tampak sedang berkumpul di suatu pos ronda besar, bercakap ngalor ngidul yang sesekali diselingi dengan tertawa lepas tanpa batas etik tata krama feodal. Sejumlah motor yang diparkir di sekelilingnya berjumlah hampir sama banyaknya dengan para lelaki itu.

Kami yang sedang rehat makan dalam perjalanan menuju pantai karang tempat kami memancing hanya memandang dengan sekilas perilaku mereka. Tidak ada yang aneh dari mereka selain dari jumlah mereka yang banyak dan sensitivitas mereka terhadap angkutan kota atau bis yang menurunkan penumpang di pertigaan ini. Setiap kali angkutan itu menurunkan penumpang, aktivitas mereka seolah pause sejenak demi memperhatikan arah jalan si penumpang tadi. Setelah itu mereka asyik lagi mengobrol.

Diriku yang sedari tadi menyelidik keberadaan mereka sudah bisa menyimpulkan dari jenis gender, jumlah motor, jaket, serta pengharapan akan penumpang yang turun dari angkutan. Ya, mereka adalah tukang ojek. Lantas dengan kejumawaanku, keberitakan kesimpulan hasil pengamatan ini kepada rombonganku, bahwa mereka adalah tukang ojek.


Seorang kawan menukas cepat, “Dirimu terlalu rumit, bro. Tidakkah kau baca papan nama di pos itu?”

Seketika mataku mencari papan yang dimaksud, dan memang benar ada papan besar bertuliskan : Pangkalan Ojek!!!

“Kita pergi ngecamp untuk refreshing, tetapi bisnis proses pekerjaanmu masih kau bawa juga,” sindir yang lain seraya tertawa, diamini tertawaan kawan yang lain.

Ya, seringkali diriku terlalu rumit berpikir sehingga kadang-kadang pemecahan masalah yang diharapkan muncul menjadi jauh dari solusi nyata.

Beberapa waktu lalu, Bundo mrenges setengah berteriak : noeee… berhentilah menganalisa.

stop analitic

Atau Guskar yang dengan singkat menyentil : kok sampe kepikiran begitu…😛

stop analitic2

Meskipun masih dalam ranah celetukan segar, ini suatu reply komeng yang telak dan menyadarkanku akan rumitnya lingkar nalarku serta memunculkan beberapa ingatan silam.

Termasuk dalam satu klasikal psikologi, diriku satu-satunya yang memilih kurva keriting sehingga menyebabkanku dites melewati garis kapur yang digambar oleh instruktur dengan iringan riuh kawan-kawan untuk mengacau konsentrasiku. Menyebalkan.

Juga dalam cerita fiksi favoritku.

Seorang matematikawan dan sopirnya sedang terhenti dalam mobil yang dikendarainya karena serombongan domba sedang melintas menyeberang jalan.

“Anda tahu jumlah domba itu, Pak?” tanya sopir memecah kebekuan.

“101 ekor,” jawab matematikawan tegas.

“Bagaimana Anda bisa tahu sedemikian cepat?” tanya sopir keheranan.

“Mudah saja. Saya hitung total jumlah kakinya kemudian saya bagi empat,” jelas matematikawan itu.

Dan diriku di sini masih merenunginya.

Explore posts in the same categories: Ngomyang

69 Komentar pada “Hiatus Analitic”

  1. ~teteh~ Says:

    Aq lagii yg juaraa🙂

  2. guskar Says:

    kika dan lila, dua2nya pake kacamata sejak klas 1 sd dulu… mereka berdua akan bungkam ketika ditanya orang lain : kacamatanya minus berapa, dik? hanya mata mereka yg menatap ke arah saya, spy saya ikut membantu menjawab. lama2 saya capek juga, setiap kali ada pertanyaan seputar ukuran lensa, saya musti yg menjawab.
    kmdn anak2 saya ajari, ntar klo ditanya teman atau siapa pun langsung jawab sekenanya saja ya, misalnya minus 2 atau 3. hbs perkara.
    **komentar selanjutnya, biasanya berkisar : wow… karena sering baca sih… atau..oh..kok minusnya besar sekali ya… analisa yg bisa ditebak🙂

  3. Huang Says:

    ahh mas.. aku malahan dukung kamu kalo kamu suka analitik🙂

    do what you want to do lahh mas🙂

  4. nakjaDimande Says:

    noe, bundo sebenarnya cinta dengan segala analisamu itu, hanya saja bundo sering gagap untuk menangkap realita yang noe coba hadirkan **ini menyangkut IQ** dan kemudian gugup untuk menyuarakan sebentuk pendapat tanpa terlihat dan terdengar naif..

    tapi adanya, bundo sepenuh hati menerima noe dengan segala analisa itu.. mungkin seperti noe menerima bundo dengan segala kenaifan ini.. entahlah..
    **ehm.. cukup mengharukan komen bundo ini, kurasa..😛

    salam buat ~teteh~..

    • ~noe~ Says:

      🙂
      sangat mengharukan dan membuat diriku sangat tersanjung.
      ini sebetulnya cuma lagi cape saja, bundo.
      dan tidak ada kaitan langsung dengan komeng atau kejadian yang sudah lewat. hanya memang sedang kurenungi betapa banyak garis berkelok dalam otak sebelum menuju ke satu titik. bahkan cara merenungpun mungkin dengan analisis ruwet tersendiri🙂
      terimakasih untuk komentarnya. semoga sukses untuk anda (niru kalimat bersahajanya mbak agnes sekar🙂 )

  5. Den Mas Says:

    Kalau boleh jujur, setiap kali blogging, saya ingin membaca tulisan2 yang sederhana dan ringan2 saja. Tapi sering juga, ingin tulisan2 yang unik, yang tidak dipublish oleh media karena tidak sesuai dengan selera pasar. Blog kan sifatnya personal, ada semacam rasa this is my land and i am ruling this land pada diri penulisnya. Jadi personal yang jumawa, ada keakuannya. Seperti itu kan unik, dan tidak akan ada di media. So, keakuan itu menurut saya, harus tetep ada, supaya tetap membumi, tetap sederhana, tetap personal. Nah, keakuan kan tidak bisa direkayasa, jadi nggak perlu diambil pusing😀

    *ini analitis nggak yah :p

  6. ~noe~ Says:

    🙂
    sangat mengharukan dan membuat diriku sangat tersanjung.
    ini sebetulnya cuma lagi cape saja, bundo.
    dan tidak ada kaitan langsung dengan komeng atau kejadian yang sudah lewat. hanya memang sedang kurenungi betapa banyak garis berkelok dalam otak sebelum menuju ke satu titik. bahkan cara merenungpun mungkin dengan analisis ruwet tersendiri🙂
    terimakasih untuk komentarnya. semoga sukses untuk anda (niru kalimat bersahajanya mbak agnes sekar :-))

  7. perigitua Says:

    haddiirrrrrr….

    hihihi…, tambah asyik aja mas…🙂

    cu…

  8. D3pd Says:

    Saya mengucapkan, mohon maaf lahir dan bathin, selamat hari raya idul fitri 1430 Hijriah, 2 minggu saya mudik ke kampung halaman tercinta, ^_^…V terima kasih sobat miss you

  9. pakwo Says:

    salam bahagia, mohon maaf lahir dan bathin, analisis perlu asalkan jangan terlalu, karna bisa membuat kita ragu dalam mengambil keputusan

  10. kawanlama95 Says:

    ini jenis tulisan yang unik hmmm . selamat pagi . sebuah analisis terkadang agak jlimet ya pak

  11. Huang Says:

    mm.. kalo aku emank suka analitik, selalu berpikir tapi mas aku sulit untuk menyampaikannya dalam bentuk suara😦
    ini yang bikin aku stress akhir-akhir ini😦

    gagal trus dalam interview kerja..😦

    • ~noe~ Says:

      menulis membantu melancarkan pengeluaran ide dari otak ke verbal.
      kondisinya sama dengan yaitu susah sekali menyampaikan secara lisan. namun ketika setahun ngeblog ternyata ada pengaruhnya juga ke kecepatan kita berpikir konstruktif dan ujung2nya ke verbal.
      jangan menyerah, huang

  12. bocahbancar Says:

    Hah..??? Bukannya kebalik…. Yang diitung kakinya dulu..???? Oh tidakkk…Matematikawan memang cihuy hohohohohoho🙂

    Selamat pagi dan salam semangat selalu

  13. julie Says:

    tapi menurutku orang2 seperti kang noe itu unik
    apalagi buat aku yang sangat simple
    bisa memutuskan sesuatu begitu saja tanpa berpikir

    bagaimana ya rasanya menjadi orang yang analytic?

  14. arkasala Says:

    Pendek saja di sini mah : saya malah pengen bisa menganalis tapi gak mampu-mampu. Punya tipsnya ?
    Jujur, saya sependapat dengan pendapatnya DenMas.
    Salam Kang. Semoga Sukses Selalu.

    • ~noe~ Says:

      pada dasarnya kita semua bisa menganalisis lho kang yayat.
      namun kadang kriteria tentang analisis itu yang membatasi pikiran kita sendiri apakah kita sudah melakukan aktivitas analisis atau belum.
      kan tulisan kang yayat full analisis …

  15. muamdisini Says:

    tak apa mas noe…
    berkontempelasi dalam hidup kan tak ada salahnya…🙂
    menjadi anomali dalam lingkungan perlu agar ada keseimbangan…

  16. Wandi thok Says:

    Sing aku ngerti malah dadi tambah ngerti kok mas dolan neng kene. Nyambung ora yo. Hahaha hak.😆

  17. Wandi thok Says:

    Aku cuma mobilang, lanjutkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn aja mas, hahaha haaaaaaaaaakkkk😆

  18. Wandi thok Says:

    Aku bingung, kenangapa sopire ndadak takon kaya ngunu kui, nggo apa lho.🙄😆

  19. bibit m Says:

    Soal jml kambing tanya pak RW … dialah ahlinya krn sering bilang ‘wedhus’!

  20. Aldy Says:

    simpel terkadang baik, ribet ya memang ribet selalau tidak mudah.
    cuma ada kalanya kita memang harus berfikiran simple tetapi pada kondisi lainnya kita harus mampu menjelaskan sebuah permasalah dengan penuh perhitungan dan begian terkadang tidak simpel.

  21. idana Says:

    Aq tak pernah ambil pusing dgn segala analisa,berusaha simple aja😀


  22. Menganalisis itu susah,lebih baek yg simple aja! Tapi ya kalo perlu bgt bsa dilakuin..
    Salam


  23. hadapi masalah tanpa masalah..
    jangan bikin masalah deh biar gak ada analisa..
    jahahah…

    met pagi mas..
    dan met menjalankan ibadah puasa…🙂

  24. Zippy Says:

    Duh, bahasanya tinggi banget mas, wkwkwkkw….
    Ni otak gak mampu menelaah lebih jauh…
    Kalo soal domba itu, ya jelas benar donk…
    Hehehehe…😀
    Analisa yang akurat😀

  25. elmoudy Says:

    kalo gak salah mata kuliah kalkulus pasti dapet bagus ya Noe..
    analisa matematisnya kentel banget.. hahaaa

  26. Zulhaq Says:

    huahahaha, analisanya gam mampu di tiru oleh orang sinting he2. saya juga masih merenung, dengan hitung2annya matematikawan itu

  27. SQ Says:

    Hmm… Yang paling enak, saat prlu brpikir simpel, ya ckup singkat. Huhehe, kadang brpikir ribet tkutnya bs jd pnykt mas..
    Salam qolbu & slamat lebaran

  28. Pakde Cholik Says:

    Intinya, analisa sak karepmu, nulis yo sak karepmu wong ini blog2mu, Rak iyo tho cak. Yang penting jangan menyinggung rambu2 sebagai manusia beradab,berakhlak, beragama dan bernegara.

    Kita mau menulis ” ketika awan semakin marah, mataharipun langsung gemetar. Angin bahkan diam-diam menjauh, bersama telaga bergandengan menuju sebuah asa “. Ya boleh-boleh saja.

    Sekarang ambil cat sak gegem terus di campur pasir dan dilempar ke kanvas, lalu pantatnya nggesek-nggesek kanvas. Muncul gambar yang aut-awutan, lalu dengan bangganya lukisan itu kita kasih judul ” Mahawira”, di kasih figura dan dipajang harga Rp.117 juta. Yo boleh saja.Kalau ada yang beli ya berarti rejeki, dengan mondal hanya 50 ribu plus pantat agak panas.

    Halah nggladarah yo mas.
    Salam hangat dari Surabaya

  29. kawanlama95 Says:

    Selamat berbuka, semoga tetap sehat dan semangat selalu dalam romadhon di penghujung

  30. Abdi Jaya Says:

    orang yang suka berpikir rumit pasti orang yang tinggi inteligensianya.. dan membaca posting bang noe ini bagi saya perlu analisis biar mudeng

  31. dinoyudha Says:

    hh..nice post..bakal sering main ahh.. kayak si Arthur Conan Doyle…

  32. morishige Says:

    *sok nganalisis mode*
    ehm, berdasarkan analisis terhadap posting ini saya bisa menduga bahwa mas noe suka merenung sendiri…

    mehehehehe…:mrgreen:

    obrolan matematikawan dan sopirnya itu bener2… ehm, cerdas.🙂

  33. ~noe~ Says:

    @dinoyudha
    terimakasih. jadi bikin diriku merenung😛

    @shige
    betul.
    analisismu tepat. soale kalo merenung berdua atau berbanyak itu kurang syahdu🙂

  34. Nisa Says:

    pak noe.. masihkah berlarut dalam analisis🙂

    saya malah pengen bisa kaya begitu pak😀


  35. Artikelnya bagus dan informatif


  36. Informasinya menarik, saya tunggu artikel lainnya..

  37. Ben Says:

    owalah,, keren2,,🙂


  38. Waah keren aja mas,,! ane dukung adan mas

  39. nokiasolusi Says:

    ilmu yang bermanfaat

  40. Nisa Says:

    Lama tak kunjung, apa kabar pak?🙂


  41. Thanks , I’ve not too long ago been looking for info approximately this subject for any when and yours is definitely the very best I’ve identified out so far. Nonetheless, what about the bottom line? Are you currently good in regards to the supply?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: