Archive for the ‘Ngomyang’ category

Hiatus Analitic

September 14, 2009

Belasan pemuda tampak sedang berkumpul di suatu pos ronda besar, bercakap ngalor ngidul yang sesekali diselingi dengan tertawa lepas tanpa batas etik tata krama feodal. Sejumlah motor yang diparkir di sekelilingnya berjumlah hampir sama banyaknya dengan para lelaki itu.

Kami yang sedang rehat makan dalam perjalanan menuju pantai karang tempat kami memancing hanya memandang dengan sekilas perilaku mereka. Tidak ada yang aneh dari mereka selain dari jumlah mereka yang banyak dan sensitivitas mereka terhadap angkutan kota atau bis yang menurunkan penumpang di pertigaan ini. Setiap kali angkutan itu menurunkan penumpang, aktivitas mereka seolah pause sejenak demi memperhatikan arah jalan si penumpang tadi. Setelah itu mereka asyik lagi mengobrol.

Diriku yang sedari tadi menyelidik keberadaan mereka sudah bisa menyimpulkan dari jenis gender, jumlah motor, jaket, serta pengharapan akan penumpang yang turun dari angkutan. Ya, mereka adalah tukang ojek. Lantas dengan kejumawaanku, keberitakan kesimpulan hasil pengamatan ini kepada rombonganku, bahwa mereka adalah tukang ojek.

(lebih…)

Iklan

Catatan Kaki Posko

September 9, 2009

laporan posko”6,8 SR, pusat gempa 200 kilometeran tenggara Wonosari. Marai kagol arep turu.”

Begitu bunyi sms dari teteh jam 23:24WIB semalam.

Semoga tidak berakibat parah karena trauma akibat kegempaan tahun 2006 lalu belum lagi hilang.

Gempa semalam mengingatkanku kembali kepada bencana gempa Tasikmalaya yang tanpa terasa hampir seminggu berjalan. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke mana saja asal dijauhkan dari tempat yang berpotensi bencana. Tiada yang lebih menyedihkan selain kehilangan tempat berteduh sekaligus sanak saudara. Barangkali hanya rasa dan tindakan kesetiakawanan saja yang masih bisa menjadi motivasi para korban untuk tetap bertahan hidup dan merintis kehidupan baru.

Di bencana kali ini, ada perasaan kehilangan pada diriku saat hanya bisa mendengar dan melihat sekaligus melewatkan momen untuk bisa mengikat diri dalam satu rasa dengan mereka; berinteraksi dan saling mengisi kekosongan hidup untuk menjadi hikayat yang penuh makna.

(lebih…)

Mulyo, Muspro, lan Ciloko

September 4, 2009

“Anda masih bisa tertawa lepas,” sindir seorang bule.

”Emang kenapa, bro?” tanyaku, tentu saja dengan bahasa Tarzan. Aneh, bahkan Tarzan sendiri belum tentu mudheng dengan bahasa yang dibilang bahasanya.

”Orang Indonesia suka tertawa, bahkan dalam kondisi yang tidak patut untuk tertawa.”

Diriku terdiam sejenak. Mencoba merenungkan teguran dari si bule itu.

(lebih…)

Spiderman vs Superman part 2

Agustus 31, 2009

munyukBalik maning nang ndeso.

Terima kasih telah sudi menjawab dilema pertanyaan Spiderman vs Superman dari dua keponakanku.

Sebagian besar pendapat menempatkan wacana yang arif dalam menyelesaikan sengketa duel Spiderman dan Superman ini. Namun perlu diingat, tidak selalu sikap arif dan bijaksana ini bisa menyelesaikan masalah yang sudah kadung terjadi, khususnya kepada dua pihak yang berseteru. Sikap arif kadang-kadang lebih kepada solusi menggugurkan tanggung jawab individu terhadap permasalahan di lingkungan sekitar.

Ada dua pendapat yang out of the box. Yang pertama pendapat dari Guskar yang menyatakan “nggak ada tempat yg netral”.

Yang kedua datang dari si hantu Julie, yang menyatakan ”Yg menang tergantung judul episodenya. Kalo judulnya superman ya superman yg menang tp kalo judulnya spiderman artinya spider yg menang.”

Hehe…

(lebih…)

Selamat Jalan Mbah Surip

Agustus 4, 2009

Innalillahi…
Selamat jalan, Mbah Surip.

Semoga dirimu digendong dengan tenang menuju ke kehidupan yang hakiki dan sebenar-benarnya. Meninggalkan segala macam pernik-pernik kapitalis yang mengeksploitasi kebersahajaanmu, merenggut sisi eksentrikmu, untuk sekedar mereka sodorkan ke depan publik konsumerisme demi asupan materi bagi tangan-tangan mereka, yang dijadikan justifikasi untuk mengukur tataran keberhasilan manusia beradab.

Berjuta hikmah menanti untuk dieja. Manusia hanya bisa menunggu untuk ditata.

I love you full…

______________________________________________
INILAH.COM, Jakarta – Mbah Surip yang baru terkenal dengan tembang ‘Tak Gendong’ telah meninggal dunia. Pemilik uang Rp 82 miliar itu menghembuskan nafas terakhir pada 10.30 WIB.

“Meninggal pulul 10.30 WIB. Dibawa ke sini sudah meninggal,” kata Ibu Omega, bagian rekap medis di RS Pusdikkes, Jakarta Timur, saat dihubungi INILAH.COM, Selasa (4/8).

Belum jelas Mbah Surip meninggal karena apa. Dia meninggalkan 4 anak dan 4 cucu setelah 26 tahun menduda. [ana]

Profesional Delenger

Juli 28, 2009

Ada yang sedikit mengusik mataku saat running text di salah satu tipi swasta berbunyi : “MK dituntut profesional dalam menyelesaikan sengketa pilpres.”

Pada acara dialog dengan MK dalam sesi yang sama, textnya agak berubah menjadi : “Mengukur profesionalitas MK dalam penyelesaian sengketa.”

Ini sesuai dengan apa yang menjadi topik bahasan diskusi itu, yaitu tentang profesionalitas MK dalam menghadapi sengketa proses dan hasil pemilihan presiden.

Seingatku dulu, profesional adalah seseorang yang -dengan hasil kerja profesinya- menerima bayaran atas apa yang telah dilakukan sesuai dengan bidangnya.

Bedanya dengan amatir hanyalah di masalah duit.
Profesional menghasilkan duit dari aktivitasnya.
Amatir mengeluarkan duit untuk aktivitasnya.
Sebenarnya aktivitas kedua kelompok itu sama saja tergantung dari niat dan usaha masing-masing individu.

(lebih…)

576

Juli 27, 2009

Pancasila


1. Ketuhanan yang Maha Esa

bummmm…!!!

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

gusur… bongkar…!!!

3. Persatuan Indonesia

suku anu belum pantas anu…!!!

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

tolak hasil pemilu…!!!

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

demi wong cilik…!!!

(pas kampanye ajah)


——————————————————————–

terinspirasi puisinya Gus Mus jaman orba dor dor dor..
lagi ga punya ide posting 😦