Archive for the ‘resenshit’ category

Bukan Resensi : Demokrasi La Roiba Fih

September 2, 2009

Demokrasi-La-Roiba-FihSetelah lebih dari dua minggu berkutat dengan buku terbaru karya Cak Nun ini, barulah diriku bisa nge-klik satu frekuensi dengan yang ditampilkannya. Sebenarnya hampir tidak ada beda dengan gaya tulisan Cak Nun pada umumnya, yang menggunakan kalimat baku dengan kandungan renungan yang tidak baku, lebih dari sekedar subjek predikat objek dalam kalimat berita.

Jika sepintas membacanya, dalam ruang dan waktu yang paralel dengan kegiatan lain, barangkali kita akan menilainya sebagai memusingkan, biasa saja, atau malahan sebagai sampah. Dan barangkali kalimat : “numpang lewat”, “good posting”, “nice post”, “wah dalam banget”, “kunjungan…” , “demokrasi yang mantap…”, dan komentar sejenisnya akan berhamburan begitu saja saat kita mencoba fast reading buku ini.

(lebih…)

Soang Item

Juli 14, 2009

Sebenarnya resensi gobal-gabul ini sudah aku tulis pada 17 Maret lalu, namun entah kenapa aku merasa tulisan ini tidak layak aku publish karena gaya bahasanya bukan diriku banget. Selain dari panjangnya tulisan ini yang menyebabkan aku tidak terlalu berharap banyak bisa dibaca habis oleh para tamu delenger. Baru setelah Om Eoin komeng di Refleksi Pilpres yang menyambut siratan blackswan di postingan itu, aku tergerak untuk mempublishnya. Thanks, Om.

Ini tidak ada hubungannya dengan tempat tinggalku selama beberapa tahun di wilayah selatan Bandung, yaitu di Bojongsoang. Ini tak lebih hanya ketertarikanku pada pencerahan yang aku dapat tentang masalah ketidakpastian; menjawab akar penyebab pertanyaanku selama ini, sehingga seolah membuncahkan rasa “eureka!!!” ala Archimedes sembari telanjang kopat kapit.

Dalam setiap acara marketing baik itu seminar, ceramah, pelatihan, workshop, atau apapun namanya, sudah menjadi kebiasaan jika pembicara secara lugas bisa menguraikan detil demi detil landasan keberhasilan fenomenal suatu individu atau perusahaan. Sebut saja Microsoft, Google, JK Rowling, Obama, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk skala lokal sebut saja Slank, Djarum Black, dll. Pembicara dengan landasan keilmuannya -yang membuat strata sosialnya tampak lebih tinggi- mampu menjelaskan fenomena ini dalam suatu teori yang bisa membuat kita manggut-manggut manyun. Hebat. Fantastis. Dahsyat. Kata Rey Rey Reynaldi.

(lebih…)